Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.63


__ADS_3

"Ayo dong Om, cepetan!" Paksa Hiro pada Wira.


Wira yang masih tertidur di bangku bambu, dengan malas membuka matanya. Karena sejak tadi, Hiro terus mengguncang tubuhnya agar terbangun.


"Ini jam berapa sih, Hiro? Om, masih ngantuk nih."


"Ini udah siang, Om. Makanya, Om buruan bangun! Kita semua udah siap-siap. Tinggal nunggu Om bangun aja."


Wira memaksakan dirinya untuk terbangun, masih dengan mata yang terpejam, dia mencoba untuk duduk. Tak bisa ditahannya saat ia menguap, karena dia benar-benar masih mengantuk.


"Kamu sudah mandi?" tanya Wira.


"Sudah, makanya Om Wira bangun, terus mandi! Habis itu kita berangkat. Katanya tempatnya jauh."


"Mama mana?"


"Mama ada di kamar sama tante Rena."


Menuruti kata bocah kecil yang mengusik tidurnya, Wira bangkit dan menuju kamarnya. Saat melewati kamar yang ditempati Kia, Wira sempat mendengar percakapan antara Kia dan Rena. Tak ingin tahu urusan orang lain, Wira segera berlalu.


Semua sudah siap dengan barang bawaan untuk mereka pergi camping. Hari ini, Wira mengajak Hiro dan teman-temannya untuk camping sebelum kembali ke Jakarta. Wira sudah menentukan pilihan, kemana mereka akan menghabiskan malamnya malam ini.


Hiro begitu antusias untuk pergi camping, karena ini akan jadi pengalaman pertama untuknya. Dengan sigap, anak kecil itu berusaha ikut membantu menaikkan barang-barang yang akan mereka bawa untuk camping.


"Pelan-pelan Hiro!" Juna memperingati Hiro yang berlari-lari mengikuti Juna, yang sedang memasukkan ransel-ransel besar itu.


"Semua sudah siap?" tanya Wira.


"SIAP!!!" jawab Juna dan Hiro kompak.


Mereka semua hampir masuk ke mobil, saat sebuah taksi berhenti di depan pagar rumah Wira. Kondisi pintu pagar yang terbuka, memudahkan semua orang untuk bisa melihat siapa yang baru saja turun dari taksi.


Semua mata menatap tak percaya, melihat seseorang yang baru saja tiba. Mereka bergeming, memandangi orang tersebut. Lain halnya dengan Wira, pria itu segera berlari menyambut atasannya yang baru saja tiba.


"Bapak ... kenapa tidak memberitahu saya jika Anda akan datang? Saya bisa menjemput Anda di bandara," ucap Wira menyambut kedatangan Satria.


"Kamu tidak keberatan saya datang, kan?"


"Tentu saja tidak. Saya senang Anda datang kemari, setelah sekian lama , ternyata Bapak masih ingat rumah saya."


Ini bukan pertama kalinya Satria datang ke rumah Wira. Sebelum menikah dengan Kia, Satria sudah pernah berkunjung ke rumah Wira.


Wira membawa Satria untuk masuk. Semua orang menatap canggung pada kedatangan Satria, terutama Kia.


"Om, kita jadi pergi nggak?" celetuk Hiro.


"Kalian mau pergi?" tanya Satria yang memperhatikan mobil yang sudah siap.


" I---iya, Pak." Satria menggaruk kepalanya yang mendadak gatal.


"Ayo Om, nanti keburu sore katanya mau lihat sunset." Hiro mengingatkan akan tujuan mereka.

__ADS_1


"Kami mau camping, Pak." Seperti tahu akan apa yang Satria tanyakan melalui sorot matanya, Wira menjawab pertanyaan Satria yang belum sempat Satria katakan.


"Bapak, mau ikut sekalian?" tawar Juna.


Sontak saja semua mata menatap Juna.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Satria, serius menanggapi basa-basi dari Juna.


"Bapak, mau ikut? Boleh, Pak." Tak ada pilihan lain selain mengiyakannya. Bagaimanapun, setelah sekian lama, Wira tetap menganggap Satria adalah bosnya.


"Halo, Hiro. Apa kabarmu?" tanya Satria.


"Baik," jawab Hiro singkat.


Jawaban singkat Hiro, membuat Satria jadi merasa canggung untuk melanjutkan pembicaraan dengan bocah itu. Mungkin Hiro masih marah, atau memang perasaannya saja, yang masih merasa bersalah.


"Sudah siap semuanya? Ayo kita berangkat!" seru Rena.


Semua masuk ke dalam mobil. Kali ini Wira yang menjadi supirnya, dia duduk di depan, ditemani Satria. Sementara Kia, Rena, Juna juga Hiro duduk dibelakang.


Kehadiran Satria rupanya tak mengurangi kegembiraan Hiro, sepanjang perjalanan anak itu begitu cerewet dengan berbagai pertanyaannya. Dan sesekali menggoda Juna.


"Pa, itu namanya pohon apa?" tanya Hiro.


Sebenarnya pertanyaan itu untuk Juna, namun justru Satria yang menoleh kala Hiro memanggil dengan sebutan papa. Dan Satria baru sadar, saat Hiro mengguncang lengan Juna saat merengek meminta jawaban, ternyata bukan dia yang Hiro panggil.


Juna sendiri seharusnya senang, karena dari dulu ia ingin sekali Hiro memanggilnya papa. Namun, karena ada Satria, panggilan itu adalah hal yang tak ia harapkan.


" Stttttt." Juna menempelkan jari telunjuknya dibibir. "Jangan berisik!" Juna mendelik.


"Katanya mau jadi papa Hiro, tapi ditanya nggak mau jawab!" ketus Hiro.


Satria kembali menoleh menatap Juna saat mendengar ucapan Hiro.


"Bercanda kok, Pak. Anak Bapak ini memang punya selera humor yang tinggi." Juna cengar-cengir sambil mengusap kepala Hiro.


Hiro yang tak suka dengan apa yang dilakukan Juna, mencebik kesal dan menepis tangan Juna yang ada di kepalanya.


Rena yang melihat, betapa mati kutunya Juna jadi senyum-senyum sendiri.


Kurang lebih dua jam perjalanan untuk sampai ke lokasi camping.Juna dan Wira, menurunkan tas ransel yang dibawa. Masing-masing mengambil tasnya dan mulai menggendongnya. Karena perjalanan masih panjang.


Saat Kia hendak menggendong tas ranselnya, Satria menahannya. "Biar aku yang bawa." Satria meraih ransel Kia, namun tak diijinkan oleh si empunya.


""Tidak usah, aku saja," tolak Kia.


Tanpa peduli penolakan Kia, Satria langsung menggendong ransel milik Kia. Dan menggandeng tangan Kia, untuk menyusul yang lain yang lebih dulu jalan.


Kia hanya bisa memandang tangannya yang digenggam oleh Satria. Pria itu langsung menarik Kia untuk segera berjalan.


Kata Wira, butuh waktu sekitar satu sampai dua jam untuk sampai ke puncak, dimana mereka akan mendirikan tenda. Wira sengaja memilih tempat pendakian yang tidak terlalu tinggi, dan aman untuk Hiro. Mereka berjalan kaki untuk sampai ke tujuan, melalui jalan setapak yang sudah dipetakan.

__ADS_1


Hiro terlihat senang menikmati perjalanannya, meski beberapa kali harus istirahat. Sementara Kia karena kurang hati-hati dia sempat terpeleset, dan jatuh. Untung saja, tidak ada luka serius.


"Kamu baik-baik saja, kan?" Tanya Satria yang membantu Kia untuk bangun.


Awalnya Kia menolak uluran tangan Satria, tapi karena pria itu memaksa, diterima juga bantuannya.


"Baru juga tangannya dilepas, langsung jatuh aja," cibir Satria.


Sedari tadi Satria memang menggandeng tangan Kia, dan baru melepasnya saat jalan yang di lalui sempit dan menanjak. Cibiran Satria membuat Kia melepaskan tangannya, dia tak ingin dibantu.


"Sudah, tidak usah berdrama. Cepat pegang tanganku, dan bangunlah!" Satria menyunggingkan senyumnya.


Kia tetap bergeming, menatap Satria kesal. Dia tidak suka diperlakukan seperti ini.


"Ayolah, dramamu akan membuat kita tertinggal lebih jauh." Satria masih menahan tangannya tetap terulur.


Kia menatap ke depan, benar saja, jarak Hiro dan tempatnya sekarang sudah cukup jauh. Mau tak mau, diraihnya kembali tangan Satria dan mencoba berdiri.


Satria menariknya dengan cepat dan kuat saat Kia menggengam tangannya. Saking kuatnya, hingga Kia tertarik ke tubuhnya. Mata mereka beradu, hidung mereka bahkan saling menempel. Nafas hangat itu, yang sudah lama tak Kia rasakan, kini kembali menyapu hangat kulitnya.


Satria tersenyum menang, melihat Kia yang seperti salah tingkah. Kia pun melepaskan tanganya, dan berpura-pura membersihkan celananya yang kotor. Melihat Satria yang tersenyum menyebalkan, membuat Kia berjalan lebih cepat dan meninggalkan Satria.


Ya Tuhan, ada apa ini?


Kia merasakan dejavu, dengan apa yang baru saja dia alami. Sikap menyebalkan Satria, senyum pria itu, tatapan matanya. Semua pernah ia rasakan sebelumnya.


Satria tersenyum sendiri, saat Kia meninggalkannya dengan degup jantungnya yang abnormal. Dia memegangi dadanya, merasakan debaran yang sudah lama tak ia rasakan.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih atas dukungan kalian semua readers terzeyeng, akoh tak akan bosan-bosan mengingatkan kalian untuk selalu:


👍Like


❤️Favorite


🖊️Komen


Jangan lupa yak, tekan favorite-nya sekali ajah kalau dua kali tar jadinya di unfavorite. Jangan Atuh😁


kasih Vote yang ikhlas yak, karena aku menerimanya juga ikhlas 😆

__ADS_1


Tengkyu💓💓💓sayang hee


__ADS_2