Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.72


__ADS_3

"Surprise!!!"


Teriakan Juna dan Rena, membuat Hiro dan Kia terkejut melihat keberadaan teman-temannya itu disini. Ada Wira juga bersama mereka. Padahal baru saja tadi diperjalanan, Hiro dan Kia membicarakan akan kedatangan Wira minggu depan. Tapi, siapa sangka jika setibanya mereka dari bandara untuk mengantar Marvin, Wira sudah ada di restorannya. Dan Wira, juga mengajak Rena serta Juna.


"Om Wira!" Hiro langsung berlari menghampiri Wira.


"Halo, jagoan!" sapa Wira, mengangkat tangan kanannya untuk tos dengan Hiro.


"Katanya mau datang minggu depan, kok sudah ada di sini?" tanya Hiro.


"Tadinya memang begitu, tapi dua orang ini bikin rusuh di kantor Om, dan minta keberangkatan Om dipercepat."


Hiro melirik Juna.


"Halo, calon anak Papa," sapa Juna dengan percaya diri.


"Yakin, Om Juna masih mau jadi papanya Hiro. Saingannya banyak lho, Om." Ucap Hiro. "Belum lama tadi mama abis dilamar Om Marvin," sambung Hiro.


"Yang bener, mana tuh orang!" Juna celingak-celinguk mencari keberadaan Marvin. Juna memang sudah tahu kalau tak akan mudah mendapatkan Kia, karena semakin lama, semakin banyak saja saingannya. Salah satunya, ya Marvin. Juna bahkan sudah beberapa kali bertemu Marvin saat ia berkunjung ke Ubud. Juna bahkan menganggap Marvin adalah saingan yang harus diperhitungkan. Kalau soal tampilan, Juna berani bersaing. Tapi, jika soal harta, Juna jauh tertinggal.


"Nggak ada, Om. Kan baru aja aku sama Mama nganter om Marvin ke bandara."


"Oh ... dia pergi. Syukurlah, kita bisa menikmati liburan keluarga ini dengan tenang. Ya ... hitung-hitung gladi resik lah, sebelum kita benar-benar jadi keluarga." Juna menaik turunkan alisnya, meminta persetujuan Hiro.


"Hiro mah, OGAH!!!" anak itu langsung berjalan ke belakang melewati dapur restoran. Karena di belakang restoran inilah, Hiro dan Kia tinggal.


Kia dan semuanya tertawa saja melihat sikap Hiro, yang sedari dulu tidak pernah akur dengan Juna.


"Ayo kita masuk!" ajak Kia pada ketiga tamunya. Biasanya mereka akan memilih untuk menginap di rumah Kia, daripada menyewa kamar hotel.


Wira, Rena, juga Juna segera mengikuti kemana tadi Hiro menghilang.


"Bli, tolong bawakan koper-koper teman saya ke rumah ya," ucap Kia meminta bantuan karyawannya di restoran.


"Siap," jawab pegawai restoran itu.


Rumah yang tak terlalu besar, namun sudah cukup membuat Kia dan Hiro nyaman tinggal di dalamnya. Kia sengaja menambah bangunan untuk ia tinggali di belakang restoran miliknya. Kia pikir, untuk menghemat waktu dan tenaga untuk pulang pergi. Untungnya, Hiro anak yang tidak begitu rewel, yang pasti dimana ada mamanya, Hiro sudah bisa senang dan nyaman.


"Minum dulu," ucap Kia mempersilahkan tamunya untuk minum setelah pegawainya mengantarkan minum dan beberapa camilan. Hanya ada Wira dan Rena yang duduk di sofa yang diperuntukkan untuk tamu ini. Tapi ini bukan khusus ruang tamu, ini hanyalah sebuah ruangan yang diperuntukkan untuk berkumpul. Di sini juga, Hiro bermain PSnya. Seperti yang dilakukannya sekarang bersama Juna.


"Bagaimana restoran di Jakarta?" tanya Kia.


"Tuh, tanya aja sama Managernya," jawab Rena.


Namun, yang dimaksud belum sadar diri juga. Masih asyik menyenangkan Hiro, yang ia sebut sebagai calon anak tirinya.

__ADS_1


"Hei!!!" Rena melempar bantal sofa ke kepala Juna agar pria itu sadar, kalau sedang dibicarakan.


"Apaan sih, Ren!" Juna menoleh sambil mengusap-usap kepalanya.


"Tuh, laporan! kamu kan managernya!" ketus Rena.


"Ya, ampun Ren. Begitu saja harus aku yang laporan, kamu kan udah jadi asisten aku. Kamu kerja dong, jelaskan laporan bulan kemarin." Juna tak mau diganggu karena sedang asyik main dengan Hiro.


Rena mencebik kesal. Lagi-lagi Juna memanfaatkannya. "Sebenarnya ...." Rena menjeda kalimatnya, karena yang akan ia sampaikan bukan kabar baik.


Kia menatap Rena dengan serius, menunggu temannya itu melanjutkan kalimatnya.


"Sebenarnya ... kondisi restoran kita sedang tidak baik. Bulan kemarin semakin menurun," ucap Rena hati-hati.


"Jadi, apa kalian sudah mengevaluasi lagi, adakah sesuatu yang salah dalam restoran kita?"


"Seperti yang aku bilang kemarin di telfon, restoran baru itu sampai hari ini masih memberikan diskon, dan itu sangat berimbas untuk usaha kita." Juna yang menjawab pertanyaan Kia, dia yang tadinya sibuk bermain, merasa punya tanggung jawab untuk memberikan laporan yang Kia minta.


Kia nampak berpikir sejenak. "Apa kita tidak bisa memberikan diskon juga?"


Juna dan Rena menggeleng bersamaan.


"Kita sudah mencoba memberikan diskon kemarin, dan hasilnya ... omset kita menurun. Sementara biaya untuk membeli bahan-bahan kwalitas premium tidak bisa lagi ditawar," jelas Juna.


"Jadi, solusi apa yang kalian usulkan?"


"Kalau menurutku, kita tetap akan mempertahankan kwalitas makanan yang kita jual. Mungkin kita masih bisa memberi diskon, tapi tidak sebanyak kemarin. Kembali lagi seperti waktu awal kita buka, kita gencarkan promo, agar lebih banyak lagi orang yang tahu," tutur Juna.


"Mungkin merenovasi restoran juga bisa kita lakukan. Karena aku lihat, tampilan restoran dari pesaing kita sangat eye catching, dan ada spot-spot selfie di dalamnya. Kamu tahu kan, sekarang jamannya media sosial. Dimana banyak orang yang suka posting apa saja yang mereka lakukan, atau mereka makan. Dan tempat yang menarik jadi tujuan untuk mereka." Ucap Rena menambahi.


Kia memikirkan apa yang teman-temannya katakan.


.


.


.


.


.


Jakarta


"Selamat malam, atas nama bapak Marvino alexander."

__ADS_1


"Silahakan, Pak." Seorang pelayan mengantarkan tamu yang sudah membuat janji dengan Marvin.


"Selamat malam," sapa seorang pemuda, dia pun menjabat tangan Marvin.


"Selamat malam, Pak," jawab Marvin terkejut, karena bukan orang ini yang ia tunggu. "Mari silahkan duduk." Marvin mempersilahkan.


"Sebelumnya, perkenalkan. Saya Daniel, saya yang akan membicarakan investasi yang anda tawarkan. Karena beliau sedang sibuk." Ucap seorang pria muda yang bernama Daniel.


"Saya Marvin," jawab Marvin.


Merekapun membicarakan soal investasi yang Marvin tawarkan. Setelah berbicara banyak tentang proyek yang akan dikerjakan, serta keuntungan yang ditawarkan. Sampailah mereka pada kesepakatan, Marvin mendapatkan investor untuk pembangunan hotel barunya.


Daniel pun pamit undur diri setelah pembicaraan itu selesai.


Marvin belum mau beranjak dari duduknya. Di mengeluarkan kembali kotak beludru berwarna biru dari saku jasnya. Memandanginya dengan tatapan tak percaya, bahwa selama hampir tiga tahun, cincin itu selalu setia menemaninya. Menunggu jari manis yang bersedia mengenakannya.


"Kia ...." Gumamnya. "Sampai kapan kamu akan menolak ku. Apa pria itu lebih baik dariku, hingga kamu tak bisa membuka hati untukku?"


Marvin masih menatap kotak beludru itu, sampai terdengar bunyi pesan masuk di ponselnya.


"Bagaimana urusanmu, lancar kan?"


(My future wife)


Marvin tersenyum, menatap pesan dari Kia. Senyumnya semakin lebar, kala ia menatap nama yang ia tulis untuk menandai nomor ponsel Kia.


.


.


.


.


.


.


Jangan lupa untuk


๐Ÿ‘ Like, dan


๐Ÿ–Š๏ธ Komen, Yak!!!!


Tengkyu๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“sayang hee

__ADS_1


__ADS_2