Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.71


__ADS_3

Tiga Tahun Kemudian


"Will you marry me?"


Seorang pria berlutut, sambil membawa cincin ditangannya. Yang pria itu lakukan biasa-biasa saja saat ia melamar wanita pujaannya, tapi bedanya kali ini sang pria melamar sang wanita di bandara.


"Hentikan! Jangan bersikap konyol!" Kia berusaha mencegah aksi dari pria yang tengah melamarnya. Bukan apa-apa, tapi dia tak ingin jadi bahan tontonan, karena sekarang saja sudah banyak pasang mata yang tengah menatap acara lamaran itu.


"Will you marry me?" Bukannya berhenti dengan aksinya, pria itu justru mengulang pertanyaan yang sama.


Kia memegang kepalanya frustasi dengan apa yang dilakukan pria yang masih saja berlutut di depannya ini. Kia membalik badannya, mencari dimana putranya berada sekarang. Kia benar-benar butuh bantuan saat ini.


"Hiro!" panggil Kia saat melihat putranya itu duduk di kursi tunggu sedang bermain game.


Hiro hanya melambaikan tangan saja, sebagai jawaban ia tak mau ikut campur.


"Ya, Tuhan." Kia kembali berbalik menatap pria itu, sambil memegang pelipisnya, sekaligus berusaha menutupi wajahnya. Jujur saja, Kia sangat malu saat ini.


"Vin, please ... jangan lakukan ini," mohon Kia menahan malu.


"Terima aku, dan aku akan langsung pergi dari tempat ini." Pria bernama Marvin itu bersikeras tak mau berdiri sebelum ia mendapatkan jawabannya.


"Jawabanku tetap sama. Kita lebih cocok menjadi partner bisnis," jawab Kia dengan raut muka yang dibuat kesal.


Ini bukan pertama kalinya pria itu melamarnya. Bahkan, sudah tak terhitung lagi berapa kali pria bernama Marvin ini melamarnya, sejak hampir tiga tahun mereka kenal. Tapi sampai sekarang jawaban Kia tetap sama, menolak lamaran itu.


Marvin adalah pria yang Kia kenal, sekitar tiga tahun yang lalu, saat Kia baru saja pindah ke tempat ini. Marvin juga yang membantu Kia untuk mengembangkan bisnisnya. Marvino Alexander, pria berkewarga negaraan Singapura ini, sudah lama menaruh hati pada Kia. Dan berharap Kia menerima cintanya.


Dengan air muka yang nampak kecewa, Marvin menutup kembali kotak beludru berwarna biru itu dan memasukkannya ke kantong jasnya. Marvin berdiri dengan lemasnya, padahal ini bukan yang pertama. Tapi selalu tersisip rasa kecewa saat lamarannya ditolak oleh wanita yang ia harapkan untuk menjadi istrinya itu.


"Sampai kapan kamu akan menolakku, aku bahkan bisa jadi lebih baik dari pria multi fungsimu itu!" ucap Marvin kesal, mengingat kedekatan Kia dengan pria lain.


"Apa maksudmu dengan multi fungsi?"


"Iya ... pria yang selalu kamu anggap sebagai, teman, saudara, kakak, pengacara, rekan bisnis, dan, entah apalagi sebutan untuk pria itu," jawab Marvin sinis karena cemburu.


"Oh ...." Kia terkikik geli dengan jawaban Marvin. "Kurasa sebutan itu bagus juga." ucap Kia tertawa.


"Aku akan membuatmu menerima lamaranku suatu hari nanti!" ucap Marvin serius.


Tapi keseriusan Marvin, justru membuat Kia semakin geli saja. Kia kembali tertawa. "Kamu tahu benar, kenapa aku menolak mu. Kamu terlalu pecemburu, aku takut kamu tidak mengijinkanku untuk bertemu lagi dengan teman multi fungsi ku." jawab Kia bercanda.


"Aku tidak peduli dengan penolakanmu sekarang. Kamu tahu kan, aku adalah orang yang tidak tahu malu. Aku tidak akan menyerah sampai kamu menerima lamaranku." Marvin tersenyum bangga.

__ADS_1


"Sudahlah, hentikan ke konyolan ini. Sebentar lagi pesawat mu berangkat. Pergilah!" usir Kia.


Marvin melirik jam Rolex ditangannya, sepuluh menit lagi pesawatnya akan terbang. Dia lebih mendekat pada Kia. "Aku ingin bisa memelukmu suatu hari nanti, Ku mohon, terimalah lamaranku." Marvin menujukkan usahanya sekali lagi, dengan rautnya yang memelas.


"Sudah-sudah, jangan sampai kamu tertinggal pesawat, dan kehilangan investormu." ucap Kia memperingatkan.


Marvin menghembuskan nafasnya kasar. "Kalau bukan karena aku membutuhkan uang dari orang ini untuk pembangunan hotelku, aku akan tetap menunggu disini sampai kamu berkata 'Iya'."


Kia memutar tubuh Marvin agar pria itu segera pergi. "Tunggu-tunggu," sergah Marvin saat Kia berusaha mendorong tubuhnya untuk segera beranjak.


"Hiro!" panggil Marvin pada anak yang masih sibuk bermain game.


Dengan segera, Hiro menghampiri mama dan juga Marvin.


Tanpa diminta, Hiro langsung mengambil tangan Marvin dan menciumnya. "Tumben, cepat sekali dramanya selesai," cibir Hiro.


Sudah sering, Hiro menyaksikan drama lamaran Marvin untuk mamanya. Dan Hiro sudah tahu apa jawaban mamanya untuk Marvin. Karenanya, Hiro lebih memilih untuk tidak menonton drama yang sama berulang-ulang. Lebih baik main game.


"Ini semua pasti karena kamu, kamu kan yang tidak mau aku jadi papamu!" tuduh Marvin.


"Ini semua karena, Om Marvin menolak membelikan aku pesawat jet." gurau Hiro.


"Kamu pintar sekali membuatku jatuh miskin." Marvin mencebik.


"Kalian bisa melanjutkan pertengkaran kalian jika kamu kembali dari Jakarta." ucap Kia menengahi perdebatan antara anaknya dengan Marvin.


"Baiklah, aku akan pergi. Jaga Mamamu baik-baik, jangan sampai ada pria yang mendekatinya. Paham!"


Hiro tersenyum dan mengangguk malas atas perintah Marvin. Pria itu lantas mengusap kepala Hiro dan pergi meninggalkan Hiro juga Kia. Hiro dan Kia melambaikan tangan pada Marvin yang masih menatap mereka berdua.


Kia menyetir mobilnya, meninggalkan bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali. Sudah tiga tahun terakhir, Kia dan Hiro tinggal di Ubud, Bali. Sejak perpisahannya dengan Satria. Kia membawa Hiro untuk tinggal di Ubud, dan membangun bisnis restorannya di sana.


"Kasihan banget sih, Om Marvin. Udah ditolak berkali-kali tapi masih saja nekat." Hiro tertawa sendiri saat mengingat lamaran Marvin tadi.


"Kenapa kita nggak jodohin Om Marvin sama tante Rena aja, Ma," celetuk Hiro.


"Nggak ... ah, biar dia mencari jodohnya sendiri." Kia masih fokus dengan kemudinya.


"Dia udah nyari, tapi, Mama tolak terus." Hiro cekikikan.


"Mama kan ngikutin kemauan kamu, buat nggak nyari papa baru."


"Bukan nggak mau punya papa baru, tapi belum ada yang cocok."

__ADS_1


Kia dan Hiro langsung tertawa bersamaan.


"Kata Om Wira, Seminggu lagi dia akan kesini," ucap Hiro.


"Apa, Om Wira minta dijemput?"


Hiro mengangkat kedua bahunya, yang tak dilihat oleh Kia. "Nggak tahu, Om Wira belum ngasih kabar lagi."


Mereka terdiam untuk beberapa saat, sampai Hiro menyetel audio musik di mobilnya. Lagu The Best Day, milik penyanyi Taylor Swift, Hiro pilih untuk menemani perjalanan mereka.Lagu itu adalah lagu faforit ibu dan anak itu.


Ibu dan anak itu menyenandungkan lagu yang bercerita tentang rasa sayang seorang anak kepada ibunya.


"But I know I had the best day with you today."


Sampai pada lirik ini, Kia dan Hiro menyanyikannya bersama-sama dengan semangat.


Kia menikmati hidupnya berdua dengan Hiro, melihat kebahagiaan Hiro yang sekarang sudah berusia sembilan tahun, membuat Kia mampu bertahan dalam segala keadaan. Kia bahkan menepiskan ajakan menikah oleh beberapa pria, dan Marvin adalah salah satunya.


Bukan Kia tak mau menikah lagi, tapi untuk saat ini, Hiro adalah prioritasnya. Hiro, adalah dunianya.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih sudah mengikuti Kisah Kia sampai sejauh ini, Semoga para readers terZEYENG masih berkenan memberikan dukungannya lewat.


👍Like


🖊️ Komen


❤️ Favorite


Kalau mau VOTE juga boleh banget, saya terima dengan ikhlas 😁😁😁

__ADS_1


Tengkyu💓💓💓Sayang hee


__ADS_2