
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, usia kehamilan Kia sudah memasuki masa hamil tua. Itu artinya tinggal menunggu saja kapan waktunya bayi dalam kandungannya keluar.
Malam itu, mendadak Satria merasakan punggungnya begitu pegal. Perutnya juga mendadak mulas, seperti ingin buang air besar tapi tak bisa. Satria bolak balik ke kamar mandi karena rasa mulas yang ia rasakan.
Rasa itu Satria rasakan dalam waktu yang tak sebentar, dimulai tengah malam sampai hari hampir pagi rasa mulas masih menyiksa perutnya. Belum lagi pegal yang ia rasakan di punggungnya, mungkin ia butuh massage untuk mengurangi rasa pegalnya.
Kia yang ingin tidur jadi tak tega melihat Satria yang bolak balik ke kamar mandi. Karena perutnya yang sudah membesar, Kia hanya bisa ikut menemani begadang dengan duduk saja di atas ranjang.
"Sakit banget, ya?" tanya Kia tak tega.
"Hemm." Satria mengangguk.
"Telfon dokter saja, atau kita ke rumah sakit," tawar Kia.
"Besok saja, aku tahan dulu."
"Ya sudah." Kia menggeser tubuhnya, ingin turun dari ranjang.
"Mau ke mana?" tanya Satria.
"Ke kamar mandi."
Dengan sigap Satria membantu istrinya, menuntunnya pelan ke kamar mandi. Sesaat ia abaikan rasa mulasnya, untuk menjadi suami SIAGA.
"Sayang!!!" teriak Kia dari kamar mandi.
Satria langsung masuk mendengar teriakan Kia. takut terjadi sesuatu.
"Ada apa?" tanya Satria panik.
"Aku mau melahirkan," jawab Kia.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu?" tanya Satria bingung.
"Aku sudah mengeluarkan bercak darah, itu tandanya aku akan melahirkan," jawab Kia yakin. Karena ini pengalaman keduanya, jadi Kia tidak panik. "Ayo kita ke rumah sakit, sekalian periksa perut kamu."
Satria kembali menuntun Kia dan memintanya menunggu di ruang tamu. Ia harus mengajak Hiro dan mengambil baju-baju Kia yang sudah Kia persiapkan sebelumnya jika sewaktu-waktu ia akan melahirkan.
Karena Hiro masih tidur dan tidak ada yang jaga Satria pun membangunkannya. "Hiro ... bangun, Nak." Satria mengguncang tubuh Hiro pelan agar anaknya itu tidak kaget.
"Kenapa, Pa?" tanya Hiro masih menutup matanya.
"Mama mau melahirkan, ayo kita antar ke rumah sakit," jelas Satria.
Mendengar mamanya akan melahirkan, yang berarti adik yang sudah ia tunggu-tunggu akan segera ia lihat, Hiro langsung bangun dengan semangat.
"Hiro ganti baju dulu, Pa."
"Tidak usah, kasian mama nunggu lama. Ayo!" Satria langsung menggandeng Hiro keluar dan membawa tas yang berisi baju ganti Kia.
Perutnya masih terasa mulas saat Satria menyetir mobil untuk mengantar istrinya ke rumah sakit. Bahkan rasanya semakin mulas saja, tapi Satria harus kuat. Ia harus menahan sakitnya karena istrinya membutuhkannya sekarang.
Benar saja, bercak darah yang keluar tadi adalah tanda-tanda melahirkan bagi Kia. Dokter meminta perawat menyiapkan ruang persalinan karena sekarang ini sudah terjadi pembukaan lima.
Perut Satria semakin mulas serasa tak tahan ingin buang air, tapi Kia meminta Satria untuk menemaninya di dalam ruang persalinan. Tak bisa menolak keinginan istrinya itu, Satria memilih menahan sakit perutnya. Besok saja ia periksakan setelah persalinan Kia selesai.
Tak menunggu lama dari pembukaan lima saat Kia baru datang, pembukaan bertambah dengan cepat seiring bertambah pula mulas yang Satria rasakan. Satria harus menahan mulasnya, dan memberikan dukungan untuk Kia.
Setelah perjuangannya, Kia kembali melahirkan seorang bayi. Tangis Satria pecah saat menyaksikan perjuangan istrinya untuk melahirkan buah hatinya.
Satria langsung mencium pucuk kepala Kia. "Aku mencintai mu, aku sangat mencintai mu. Terima kasih telah berjuang demi anak ku." ucap Satria lembut.
Kia tak bisa menahan tangisnya, ia terharu dengan apa yang Satria ucapkan. Kia sangat bahagia dengan semua ini, rasa sakit melahirkan seolah tak ia rasakan karena Satria memberinya kekuatan.
__ADS_1
Berkali-kali ucapan terima kasih keluar dari bibir Satria. Rasanya sampai kapan pun rasa terima kasihnya tak akan cukup untuk mengungkapkan betapa ia sangat bahagia atas perjuangan istrinya. Tak henti-hentinya rasa syukur ia panjatkan atas kelahiran anak keduanya.
Satria sangat bahagia hingga ia lupa dengan rasa mulas perutnya, tapi rasa mulas itu memang sudah hilang sejak bayi Kia lahir. Ia tak merasakannya lagi sejak tangis bayinya terdengar.
Perawat sedang membersihkan bayi mereka. Satria sendiri tak sabar untuk menjemput Hiro yang tadi ia titipkan pada perawat jaga. Segera ia menjemput putra pertamanya itu untuk melihat adiknya.
Setelah bayinya selesai di bersihkan, Satria menggendongnya. Hiro yang mengadzani adik yang di gendong papanya. Pemandangan yang sangat indah bagi Kia. Melihat kebahagiaan suami dan kedua anaknya.
Dalam hati, Kia bersyukur untuk semua ini. Keyakinannya terbukti, inilah hadiah indah yang Tuhan siapkan untuk kesabarannya. Untuk pengorbanannya. Tak ada hal yang Tuhan ciptakan sia-sia, selalu ada hikmah dan pengajaran bagi yang mau berusaha dan bersabar.
Semoga Tuhan selalu menjaga keluarga mereka dalam kebahagiaan.
.
.
.
.
.
Terima kasih telah membaca cerita ini hingga akhir. Semoga ada sedikit pelajaran yang bisa di ambil. Maaf kan jika masih banyak kekurangan.
Maaf untuk typo dan penulisan yang masih berantakan.π Saya akan berusaha memperbaikinya pelan-pelan.βοΈπ
Setelah cerita ini, saya membuat kisahnya Hiro. Bantu support yak, supaya aku bisa tetap berkarya, karena tanpa support dari pembaca terZeyeng aku gak punya semangat nulis. Yang ingin tahu adiknya Hiro cewek apa cowok, Kuy lah ke novel baru aku.π€
Kisah Hiro judulnya Aku Bukan Cinderella, udah publish 8 bab. Aku tunggu support kalian di kisahnya Hiro.
TENGKYUπππSAYANG HEE
__ADS_1
πππππ