Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.79


__ADS_3

Hujan turun dengan lebat, beberapa hari sejak ulang tahun Hiro, hampir setiap hari turun hujan. Restoran juga tidak begitu ramai seperti biasanya, selain ini bukan hari libur, nampaknya cuaca juga berpengaruh.


"Hiro, ayo masuk. Di situ dingin," panggil Kia.


Hiro sedang berdiri di samping pintu masuk restoran, menatap keseberang jalan.


"Sedang apa kamu di sana?" Kia merangkul Hiro yang baru saja menghampirinya.


Hiro menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Tidak apa-apa."


"Itu mau diantar kemana?" tanya Kia pada salah satu pegawainya.


"Ada yang delivery order, Bu. Tapi, masih menunggu Bli Made."


"Memang Bli Made kemana?"


"Sedang mengantar pesanan juga."


"Lalu, Anton di mana?"


"Sedang cuti, Bu."


Kalau menunggu Bli Made datang, pasti kelamaan, nanti makanannya keburu dingin. Sementara pegawai yang ada, tinggal chef, dan Mira yang tidak bisa naik kendaraan. Kalau musim hujan begini, meski pengunjung restoran tidak banyak, tapi delivery order justru ramai.


"Ya sudah, biar saya saja yang antar." Kia pikir demi menjaga nama baik restorannya, untuk layanan antar tepat waktu, dia sendiri yang harus mengantarnya. Toh, selama ini Kia juga tidak pernah malas mengerjakan pekerjaan apapun yang pegawainya kerjakan.


"Tapi ini hujan, Bu. Kita tunggu Bli saja, atau kita suruh Mbak Yanti yang antar pesanan ini."


"Jangan, kalau menunggu beli terlalu lama. Kalau menyuruh mbak Yanti, kasian, dia sedang kurang enak badan. Biar saya saja. Saya siap-siap dulu."


Setelah selesai bersiap-siap, Kia pamit pada Hiro agar membantu pekerjaan Mira jika membutuhkan bantuan selama Bli Made belum datang. Karena sudah terbiasa, tidak ada masalah sama sekali dengan Hiro.


Karena hujan, Kia memilih menggunakan mobil untuk mengantar pesanan makanannya. Kia memacu mobilnya dengan hati-hati, karena hujan yang turun sangat lebat. Ternyata, rumah orang yang memesan makanan tidak terlalu jauh dari restoran.


Sebelum keluar, Kia mengambil payung yang tadi sudah dia siapkan. Dengan payung di tangannya Kia menerobos derasnya hujan. Tangan kanannya membawa pesanan pelanggan. Ditekannya bel, untuk memanggil pemilik rumah.


"Ting-tong ... ting-tong"


Sudah tiga kali Kia menekan bel, namun tidak ada sahutan, apalagi yang membuka pintu. Kia sudah hampir menyerah, saat terdengar derit pintu dibuka.


Kia yang tadinya sudah berbalik badan, kembali memutar arah. Dilihatnya seseorang dengan wajah pucatnya berdiri lemah, di ambang pintu. Kia terpaku di tempatnya, menatap wajah pucat di depannya. Bukan karena takut, tapi karena tak percaya. Ini kali ketiga, wajah itu muncul di hadapannya secara tak sengaja.


Kia sampai memundurkan langkahnya, mencoba mencari kesadarannya. Pria itu, adalah Satria. Pria yang sedang berdiri di depannya, pria yang memesan makanan di restorannya, adalah Satria.


"Maaf," ucap Satria lemah, seraya terbatuk.


"I ... ini, pesananmu," jawab Kia lirih, seraya mengulurkan pesanan Satria. Tangan Kia gemetar, entah karena dinginnya udara, atau pria di depannya ini yang membuatnya jadi grogi seketika, saat melihatnya. Padahal ini bukan yang pertama, Kia melihat Satria kembali.


"Tunggu sebentar." Satria menerima pesanannya, dan kembali masuk. Terdengar beberapa kali, suara batuk dari dalam.


Sudah ada lima menit, tapi Satria belum kembali membawa uangnya. Suara batuk yang tadi ia dengar sudah tidak terdengar lagi.


"Sebenarnya, dimana orang itu mengambil uangnya. Kenapa lama sekali!" gerutu Kia.

__ADS_1


Menurut Kia, tidak mungkin butuh waktu lebih dari lima menit hanya untuk mengambil uang ke dalam rumah. Yang Kia perhatikan, rumahnya juga tidak terlalu besar. Kecuali orang itu tidak punya uang, tapi berpura-pura mengambil uang.


Kia tersenyum geli, dengan pikirannya sendiri. Rasa grogi saat pertama melihat Satria tadi, perlahan hilang dengan pikirannya yang absurd.


Lama juga rupanya, menunggu uang Satria. Kia jadi tidak sabar. Dia pun memberanikan diri untuk masuk, bagaimana pun dia harus dibayar atas makanan yang sudah diantarkannya.


"Permisi," lirih Kia saat memasuki rumah Satria.


Tidak ada sahutan, tapi Kia tetap melangkah masuk.


Kia dan Satria sama- sama kaget, saat berpapasan di depan kamar Satria.


"Ma-maaf, aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya terlalu lama menunggumu." Kia menundukkan kepalanya, karena merasa lancang.


Satria menatap aneh pada Kia, yang beberapa kali menundukkan kepalanya sebagai bentuk permintaan maafnya. Kalau dirinya tidak sedang sakit saat ini, rasanya ingin sekali mengerjai wanita ini. Sudah lama sekali, dia tidak melakukannya.


Satria, memegang kedua bahu Kia, agar Kia menghentikan aksinya. Mata mereka saling beradu, tubuh mereka juga sangat dekat. Tapi Kia dan Satria sama-sama sadar tentang status mereka sekarang.


"Maaf," ucap Satria melepas tangannya dari bahu Kia.


"Ah ... iya."


Mereka berdua saling terdiam. Rasa canggung langsung tercipta diantara keduanya.


"Berikan bayaran atas pesananmu sekarang, dan aku akan pergi," ucap Kia kembali gugup.


"Maaf, tapi aku tidak menemukan dompetku. Aku lupa, di mana terakhir kali aku meletakkannya. Karena sudah dua hari ini aku tidak keluar rumah," jawab Satria.


Kia memperhatikan wajah pucat Satria. "Apa kamu sakit?" tanya Kia spontan.


Dengan spontan juga, Kia memegang dahi Satria. Rasa panas langsung terasa di kulitnya saat menyentuh dahi Satria.


"Sudah minum obat?"


Satria menggeleng.


"Dimana kamu taruh obat-obatannya?"


"Tidak ada obat disini."


Mendengar jawaban Satria, Kia langsung pergi keluar. Dia mencari obat didalam mobilnya.


"Cuma ada obat demam. Biarlah kurasa ini lebih baik daripada tidak sama sekali." Kia kembali masuk ke rumah Satria.


Satria sudah duduk di sofa ruang tengah. Wajahnya masih pucat. Terlihat juga bahwa dia sedang menahan hawa dingin malam ini.


"Kamu sudah makan?" tanya Kia yang datang membawa obat.


Satria hanya menggeleng.


Kia baru ingat, bagaimana bisa dia tanya seperti itu. Makanan yang baru ia antar saja masih terbungkus rapi.


"Tunggulah." Kia pergi mengambil makanan pesanan Satria tadi dan membawanya ke dapur.

__ADS_1


Saat membuka makanannya, Kia langsung membuang nafas kasar. "Dia sakit, tapi memesan makanan seperti ini, kenapa tidak pesan yang berkuah," gumam Kia. Yang Kia lihat, dalam pesanan Satria adalah Ayam betutu.


Kia membuka lemari pendingin di dapur Satria. Ada beberapa sayuran yang bisa ia masak menjadi sup. Kia menyanggul rambutnya dengan dengan sumpit yang ia ambil dari tempat sendok. Lalu mulai mengambil sayuran, dan memprosesnya.


Dari sofa ruang tengah, Satria bisa dengan jelas melihat apa yang dilakukan Kia. Tanpa sadar, senyum tipis terukir di bibirnya.


"Cantik," gumamnya tanpa sadar.


Satria terus memperhatikan setiap hal yang Kia lakukan. Sampai Kia selesai dengan aktifitasnya di dapur, Satria langsung merebahkan tubuhnya disofa dan menyelimuti kakinya dengan selimut tebal.


"Makanlah dulu." Kia membawa nampan berisi sup panas yang baru ia masak.


Satria terbangun pelan-pelan. "Apa aku boleh minta bantuanmu lagi?" tanya Satria.


"Katakan."


"Tolong suapi aku." Satria mengucapkannya begitu halus, agar tidak menimbulkan salah paham.


"Apa kamu tidak bisa makan sendiri?"


"Aku merasakan kedinginan, aku tidak ingin melepas selimutku ini." Satria menarik selimutnya sampai ke leher. Dan memperlihatkan kedua tangannya yang memegangi selimut tersebut agar tidak melorot.


Kia memutar bola matanya malas, sedikit mencebik karena kelakuan Satria. Tapi, diturutinya juga apa yang Satria mau. Kia mengambil mangkok sup itu, dengan hati-hati ia menyupai Satria.


"Minumlah obatnya." Kia mengambil obat yang tadi ia bawa, dan memberikannya pada Satria selesai menyuapinya makan. "Di mobilku hanya ada obat demam, besok kalau keadaanmu sudah membaik, kamu bisa priksakan batukmu ke dokter." Kia mengulurkan gelas untuk minum Satria.


Sebelum pulang, Kia mengembalikan semua peralatan makan Satria ke dapur dan membereskannya.


"Pindahlah ke kamarmu, udara di luar sangat dingin," ucap Kia.


"Bantu aku." Satria berusaha berdiri.


Tanpa bantahan, Kia membantu memapah Satria ke kamarnya. Sekaligus pamit pulang.


Satria tersenyum senang, mengingat kejadian yang baru ia alami. Tuhan sangat baik padanya. Sakit yang ia rasakan pun seperti berkah baginya.


.


.


.


.


.


.


Maafkan aku yang belum bisa crazy up, tapi aku tetap mengucapkan terima kasih untuk semua readers setia cerita ini. Terima kasih banyak atas dukungannya. Terima kasih untuk.


👍Like, dan


🖊️Komennya.

__ADS_1


Tengkyu💓💓💓Sayang hee


__ADS_2