Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.44


__ADS_3

"Jangan pergi lagi, Kak," pinta Caca.


Rena hanya mengangguk untuk menyenangkan hati gadis kecil bernama Caca.


"Janji ya, Kak," pinta Caca lagi.


"Iya, Kakak janji. Tapi kamu juga harus janji sama Kakak. Jangan panggil Kakak dengan nama Lily lagi, ok!"


Gadis kecil itu menatap Rena bingung, kenapa kakaknya ini tidak mau dipanggil dengan namanya. Bukankah namanya Lily, tapi tidak mau dipanggil Lily.


"Kamu nggak usah bingung, pokoknya ikuti kata Kakak, kalau kamu masih mau jadi Adiknya Kakak," jelas Rena yang seolah tahu kebingungan Caca.


Caca, si gadis kecil itu pun mengangguk.


"Kenapa, kenapa nggak mau dipanggil Lily, bukankah itu namamu?" Kia yang sedari tadi mendengarkan percakapan antara Rena dengan Caca secara sembunyi-sembunyi akhirnya menampakkan diri di depan Rena.


Rena kaget melihat kehadiran Kia yang mendadak muncul di depannya. Dia jadi gugup, takut kalau Kia mendengar semua obrolan antara dirinya dan Caca tadi.


"Nama kamu Sarena Lily, bukan? kenapa tidak mau dipanggil Lily. Bukankah sejak kecil itu nama panggilanmu?"


Rena semakin kaget saat Kia mengungkapkan tentang dirinya. Apakah ini tandanya Kia sudah tahu siapa dia sebenarnya?


"Maksud kamu apa sih, Ki?" Rena masih berpura-pura tidak tahu maksud Kia.


"Kamu dan juga Kakakmu dibesarkan di panti asuhan ini, bukan?"


Rena berdiri sambil menggandeng Caca.


"Dan anak kecil ini adalah anak yang dekat sama kamu sejak ia masuk ke panti ini, dan sudah menganggapmu sebagai kakaknya sendiri, bukan begitu?" Kia menunjuk Caca.


"Aku makin nggak ngerti kamu ngomong apa?" tepis Rena.


"Kamu tidak pernah lagi datang kemari sejak Kakakmu meninggal. Kamu adik dari Kak Fira, kekasihnya Kak Keenan, Kakakku. Adik dari Safira Rose, benar begitu, kan? Sarena Lily!" ucap Kia sedikit menaikkan intonasinya.


Rena pergi meninggalkan Caca juga Kia. Caca jadi menangis karena merasa akan ditinggal oleh Rena, sementara Kia makin kesal karena Rena tak mengakui siapa dirinya.


Kia menyusul Rena, setengah berlari untuk mengejar Rena. Kia mencekal tangan Rena, saat bisa menyusulnya.


"Ren, tunggu dulu!" Rena berusaha lepas dari cekalan Kia, namun Kia mencengkeram dengan kuat pergelangan tangan Rena.


"Lepasin!" pekik Rena.


"Enggak, aku nggak akan lepasin kamu, sebelum kamu berjanji akan membantuku." Kia tetap menahan Rena meski temannya itu meronta, berusaha untuk lepas.


"Aku tidak mengerti maksudmu, bagaimana aku bisa membantumu!" sanggah Rena.


"Jangan bohong! kamu tahu maksudku. Kamu adalah salah satu saksi kunci dalam kasus kematian Kak Fira, bukan? kamu adalah orang yang juga melihat bagaimana Kak Fira bersimbah darah."


Rena mengenang masa itu, masa di mana ia melihat kakaknya sendiri tergeletak tak berdaya dengan bersimbah darah. Rena meneteskan air matanya, tak sanggup mengingat kejadian menyakitkan itu.


"Aku bukan Lily, dan aku tidak mengenal siapa Safira!" Rena masih membantah meski air matanya membuktikan hal sebaliknya.

__ADS_1


"Kalau kamu bukan Lily, dari mana kamu tahu letak toilet saat kita baru datang tadi. Padahal aku baru pertama kali mengajakmu kemari. Jangan lagi membantah, aku sudah tahu semua tentang kamu!" Kia tak mau kalah, dia tetap berusaha menyudutkan Rena agar mengaku.


Rena dan Kia saling tatap, Rena menatap tidak suka pada Kia. Sementara Kia menatap dengan tatapan memohon agar Rena mau membantunya.


"Please, Ren. Bantu aku, bantu aku untuk membebaskan Kakakku." Kia memohon.


Rena tersenyum sinis. "Kakakmu itu pantas ada di sana!" teriak Rena.


Kia langsung melepaskan cekalannya. Dia menatap Rena yang hancur saat harus mengingat kasus kakaknya.


"Kenapa kamu bicara begitu? Kakakku tidak bersalah dalam hal ini. Kakakku bukan pelakunya." Kia pun hampir menangis saat ini.


Rena semakin geram mendengar pembelaan Kia pada Keenan, kekasih kakaknya.


"Aku nggak akan pernah biarkan dia bebas, dia harus merasakan sakit yang kakakku rasakan!"


"Tapi kamu tahu bukan kalau kakakku bukan pelakunya?"


Rena tertawa jahat. "Kakakmu memang bukan pelakunya, tapi dia menjadi penyebab kematian Kakakku."


"Apa salah Kakakku, sampai dia harus dihukum atas perbuatan yang tidak dia lakukan!"


Rena menatap Kia dengan marah. "Kesalahan Kakakmu adalah memanfaatkan Kakakku!"


"Apa maksud mu? memanfaatkan!"


Rena tak ingin terpancing, dia kembali pergi meninggalkan Kia.


"Ren, tunggu dulu!" Kia kembali harus mengejar Rena.


"Nggak akan aku lepasin sebelum kamu bercerita apa maksud kamu, Kakakku memanfaatkan Kakakmu?"


"Ya, dia pria berengsek yang sudah memanfaatkan keluguan Kakakku!"


Kia menatap Rena tidak mengerti.


🍁 FLASH BACK ON 🍁


Saat itu, untuk pertama kalinya Safira Rose yang merupakan gadis lugu, minta ijin kepada Bu Hasna pengurus panti untuk mencari pekerjaan. Dia pun pergi ke kota, berusaha mencari kerja. Gadis polos dengan dandanan yang terkesan culun itu, melamar pekerjaan di sebuah perusahaan properti, sebagai Office girl.


Fira, begitu panggilannya. Bingung saat harus mencari dimana ruang HRD berada, dengan tingkat percaya diri yang hampir tidak ada, Fira berjalan dengan menunduk. Tanpa sengaja Fira menabrak seseorang, hingga membuat map yang berisi kertas yang tak Fira mengerti, jatuh berceceran.


"Ma-maafkan saya," ucap Fira masih menunduk takut. Dengan sigap Fira memungut setiap kertas yang tercecer, mengumpulkannya menjadi satu.


Si pemilik kertas tak mengatakan apapun, dia hanya melihat bagaimana gadis berkaca mata di depannya ini terus memungut kerta-kertas itu.


"Maafkan, saya," ucap Fira lagi saat mengulurkan semua kertas yang telah ia ambil.


Si pemilik kertas tetap diam tak mau mengambil, apa yang Fira sodorkan. Cukup lama Fira menunduk sambil menahan kertas-kertas yang ada ditangannya yang terulur. Fira semakin diliputi perasaan takut, akhirnya dia memberanikan diri untuk mendongak, menatap orang di depannya.


"Bawa semua kertas itu ke ruanganku." orang itu lantas berjalan meninggalkan Fira.

__ADS_1


"Huh?" Fira bingung menatap kepergian pria yang tadi ditabraknya. Namun dengan cepat Fira menyusul orang itu sambil berlari.


Setelah memasuki lift bersama dengan pria tadi, sampailah Fira di ruangan orang yang ia ikuti.


"Letakkan di sana berkas itu." pria itu menunjuk meja kerjanya.


Setelah menaruhnya sesuai permintaan yang punya berkas, Fira akan langsung keluar.


"Apa tujuan kamu ke sini? rasanya aku belum pernah melihatmu di sini."


Fira langsung berhenti mendengar pertanyaan pria itu. Mungkin pria ini bisa memberitahunya di mana kantor HRD.


"Ma-maafkan saya, Pak, tapi, bolehkan saya bertanya. Di mana kantor HRD?" tanya Fira takut-takut.


"Kamu mau melamar pekerjaan?"


"Iya." Jawab Fira dengan mengangguk.


Orang itu memperhatikan Fira dari atas hingga bawah dan kembali lagi keatas.


"Kamu mau kerja sama saya?"


Melihat tatapan aneh dari pria di depannya barusan, Fira jadi merasa lebih takut untuk menjawab 'Iya'.


"Jangan takut, aku tidak akan memberikan pekerjaan yang aneh." pria itu berusaha meyakinkan Fira.


"Jadilah kekasih pura-puraku di depan Papaku," tawar pria itu.


Fira yang polos makin tidak mengerti, mana ada pekerjaan seperti itu.


"Duduklah, kita akan bicarakan ini." pria itu meminta Fira untuk duduk, karena sedari tadi pembicaraan mereka dilakukan dengan berdiri.


Demi rasa kesopanan, Fira menurut saja. Pria itu memperkenalkan dirinya, namanya Keenan. Dia menjabat sebagai CEO di perusahaan itu. Dia memberi tahu pada Fira jika Fira menerima Keenan sebagai kekasih bohongannya, Fira akan mendapatkan imbalan yang setimpal. Fira akan diberikan rumah, gaji bulanan, juga akan mendapatkan kesempatan untuk kuliah dengan Keenan yang menanggung biayanya.


Awalnya Keenan tidak memberi tahu apa alasan dia mencari kekasih pura-pura. Namun seiring waktu, Fira sendiri tahu bahwa Keenan mempekerjakan Fira untuk menutupi skandal percintaannya dengan seorang model terkenal. Dan juga, Fira adalah tipe wanita yang disukai papa Keenan. Karena itulah beberapa kali Fira dibawa Keenan untuk bertemu papanya.


Siapa yang sangka, Fira yang polos kemudian jatuh cinta pada Keenan. Hal yang dari awal sudah Keenan tekankan bahwa dilarang untuk saling jatuh cinta. Fira hanya bisa memendam rasanya sendiri, dia hanya bisa mengagumi Keenan dari jauh. Dan keadaan itu diperparah dengan kondisinya yang mengidap Erotomania. Perhatian dan kebaikan Keenan selama ini, disalah artikan oleh Fira. Bahwa Keenan sebenarnya juga menyukai dirinya sama seperti Fira menyukai Keenan.


Namun semua itu hanya delusi yang dialami Fira, karena kenyataannya Keenan berlaku baik pada Fira agar Fira tetap bertahan untuk jadi tirai skandalnya agar tak tersibak. Semakin lama, Erotomania Fira semakin parah, dia bahkan mengambil foto Keenan diam-diam. Fira juga menyimpan foto-foto Keenan dalam kondisi vulgar.


Hingga suatu hari saat Keenan datang ke rumah itu untuk mencari Fira, dia menemukan sendiri foto-foto dirinya saat di kamar mandi berserakan di atas kasur, di mana Fira sedang terlelap.


Tentu saja Keenan marah besar saat itu, melihat foto dirinya yang tak pantas dilihat oleh siapa pun. Dengan kasar Keenan menarik seprei di mana Fira tertidur di atasnya, untuk membangunkan gadis itu. Keenan sangat marah hingga tak berniat berlaku lembut saat membangunkan Fira. Fira tersentak saat seprei alasnya tidur ditarik dengan kasar, dia berusaha untuk segera bangun.


"Tu-tuan, ada apa? kenapa anda masuk ke kamar saya?" tanya Fira gugup. Fira selalu berbicara formal jika berdua dengan Keenan dan bersikap mesra jika di depan umum.


"Apa ini!" tunjuk Keenan pada foto-foto dirinya yang sudah berserakan di bawah.


Fira menatap kaget, bagaimana foto-foto itu ada di sana dan Keenan telah melihatnya. Rasa takut juga malu berkecamuk dalam hatinya.


"I-itu ...."

__ADS_1


catatan:


Erotomania adalah kondisi psikologis dimana seseorang memiliki delusi bahwa orang lain yang ditaksirnya menyimpan perasaan yang sama terhadapnya.


__ADS_2