Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.85


__ADS_3

Kia panik. Dia tak tahu harus menghubungi siapa. Dia sudah mencari Hiro kemana-mana. Tapi tak ditemukan.


Kia berusaha menelfon Marvin, karena di kota ini, hanya Marvin yang dekat dengannya. Tapi sayang, nomor Marvin tidak bisa dihubungi.


"Ayo, Bli. Kita lapor polisi saja." Ajak Kia, pada Bli Made.


Tadi, Kia menjemput Hiro ke sekolahannya. Karena restoran sedang ramai, Kia jadi sedikit terlambat menjemput Hiro. Tapi, setelah sampai sekolahan, Hiro justru sudah pulang. Begitu, yang dikatakan oleh security sekolah yang melihat Hiro. Katanya, Hiro pulang dengan Omnya. Hiro bahkan terlihat cukup dekat dengan orang itu.


"Tidak bisa, Bu. Polisi tidak akan bertindak sebelum kasus hilangnya Hiro ini sampai pada waktu satu kali dua puluh empat jam."


"Lalu, apa kita akan menunggu selama itu!" Kia berteriak pada Bli Made.


"Hiro hilang, Bli. Kita harus cari dia!" Kia tak tahan lagi untuk tidak menangis.


Ini pertama kalinya, ia tak melihat Hiro setelah pulang sekolah. Kia sangat takut terjadi sesuatu pada putra semata wayangnya.


"Satria ... aku harus menghubungi Satria. Dia pasti bisa membantu ku." Masih dengan keadaan panik, Kia berusaha mencari ponselnya.


Kia mencari nomor telfon Satria di ponselnya. Ternyata, tidak ada. Kia sudah menghapusnya, saat ia memutuskan pergi dari hidup Satria. Makin bingung saja, Kia.


"Bli, tolong Kia, Bli. Ayo kita cari Hiro lagi." Kia terisak.


Menuruti kia, Bli Made dan Kia akan kembali mencari Hiro. Beruntung, saat Kia sampai di parkiran, dia melihat Satria. Tak pikir panjang, Kia berlari ke arah Satria yang baru saja mematikan mesin mogenya.


"Satria," Kia memeluk Satria erat. Menumpahkan tangisnya kembali.


Satria yang tidak tahu apapun, bingung dengan apa yang Kia lakukan. " Hei ... ada apa?" tanya Satria halus.


Kia melepas pelukannya. "Hiro ... Hiro menghilang." Kia menangis lagi.


"Tunggu ... tunggu ... tunggu. Apa maksud mu?"


Kia bercerita tentang kejadian saat ia menjemput Hiro. Dan kepanikannya, karena tak menemukan anak itu.


Dengan segera, Satria menghuhungi teman-temannya yang ada di Bali. Meminta bantuan mereka untuk mencari Hiro.


Satria mengajak Kia masuk kembali ke restoran, mencari tempat yang tenang untuk Kia. Di sana, Satria bertanya pelan-pelan tentang kronologis kejadiannya. Yang dijawab Kia dengan iringan air mata.

__ADS_1


Kia tak punya musuh, karena tak terlalu banyak orang yang Kia kenal di kota ini. Persaingan bisnis pun, rasanya agak sulit di percaya. Karena lokasi restoran Kia berada, cukup jauh dari bisnis yang sama.


Lalu, siapa yang sudah menculik Hiro?


Kecurigaan, Satria hanya tertuju pada satu orang. Tapi, apa itu mungkin?


"Sejak kejadian aku memukul Marvin, apa orang itu pernah menemuimu, lagi?" tanya Satria.


Kia menggeleng saja.


"Apa dia menghubungi mu?"


Menggeleng, lagi.


"Apa kamu, yang menghubunginya?"


"Tidak,"


" Kenapa, dari tadi kamu tanya tentang Marvin. Apa kamu mau menuduhnya?"


"Lalu kita harus bagaimana!" tanya Kia emosi.


"Kita cari Marvin."


Kia dan Satria bergegas menacari Marvin ke kantornya, karena ini masih jam kantor. Tapi, pegawainya bilang, Marvin pergi sebelum jam makan siang tadi, dan belum kembali.


Kia mengarahkan Satria untuk mendatangai rumah Marvin. Hasilnya sama saja, Marvin belum pulang sama sekali sejak berangkat ke kantor tadi pagi.


Kia semakin bingung, dengan perginya Marvin dan menghilangnya Hiro secara bersamaan. Tapi, apa mungkin, Marvin akan menculik Hiro. Untuk apa? Untuk alasan apa, Marvin menculik Hiro?


Semua tanya yang menggiring opini bahwa Marvin terlibat dalam hilangnya Hiro, mulai berputar di otaknya. Tapi, hatinya menyanggahnya. Tidak mungkin Marvin melakukan itu, karena Marvin sangat menyayangi Hiro. Setidaknya begitulah yang Kia lihat.


"Kita harus kemana lagi?" tanya Kia frustasi.


"Tenanglah, kita akan mencari Hiro, lagi." jawab Satria mencoba menenangkan.


"Tapi kemana?" Kia kembali menangis. "Kita bahkan tidak punya petunjuk."

__ADS_1


Satria terdiam. Dia sedang berpikir, dan merunut kejadian yang terjadi. Dimulai dari, saat Kia menjemput Hiro. Security bilang Hiro pergi dengan seseorang yang Hiro kenal, bahkan terlihat sangat akrab. Ciri-ciri orang yang disebutkan security, sama persis dengan ciri-ciri Marvin. Sekarang pun Marvin pergi entah kemana.


"Kemana Marvin biasanya mengajak Hiro pergi?"


"Marvin suka mengajak Hiro, ke pantai. Karena Hiro suka belajar surfing dari Marvin," jawab Kia.


Tempat pertama yang mereka tuju adalah pantai, dimana Marvin suka mengajak Hiro bermain surfing. Sampai disana, Kia dan Satria berpencar mencari keberadaan Marvin dan Hiro. Hampir setengah jam, mereka berkeliling mencari Hiro. Namun, tak ketemu.


Tempat kedua, adalah sebuah pusat perbelanjaan. Marvin juga sering mengajak Hiro ke tempat itu. Setelah berkeliling mencari, bahkan, Satria sampai meminta ijin untuk melihat cctv dari pusat perbelanjaan itu, hasilnya sama saja. Tidak ada gambar yang menunjukkan Marvin dan Hiro datang ke tempat itu.


Lalu kemana Marvin membawa Hiro pergi?


Apa motif dari penculikan ini?


Kia membuka ponselnya, berharap Marvin atau siapapun yang sedang bersama Hiro menghubunginya. Namun tidak ada sama sekali.


Satria pun sama, dia juga menghubungi teman-temannya lagi. Yang tadi ia mintai tolong untuk mencari Hiro. Tapi tak ada yang bisa menemukan Hiro.


Satria mengajak Kia kembali dulu, sambil memikirkan langkah apa yang akan mereka ambil. Satria tidak bisa tergesa-gesa dalam memutuskan tindakan.


Dengan langkah lemas dan pasrah, Kia menurut saja pada Satria. Karena saat ini, yang bisa ia harapkan untuk membantunya hanyalah, mantan suaminya itu, Satria.


Sebelum mereka menaiki motornya, ponsel milik Satria berdering. Dilihatnya, nama salah seorang teman Satria yang bekerja di kepolisian. Orang itu mengabarkan, bahwa dari pantauan cctv yang dimulai dari sekolah Hiro. Hiro dibawa oleh seorang pria dengan sebuah mobil sport berwarna merah. Dan arah terakhir yang terpantau, mobil itu mengarah ke daerah XXX.


Satria menceritakan percakapannya dengan temannya pada Kia. Dan Kia langsung menangkap, daerah itu.


"Marvin punya villa disana!" ucap Kia.


Satria langsung naik ke atas motornya, begitupun dengan Kia. Satria tak sabar lagi, dia memacu kuda besi itu, secepat yang ia bisa.


Di belakang, Kia tak henti-hentinya merapal doa. Berharap semoga Tuhan, menjaga Hiro, semoga tak terjadi apapun dengan putranya.


Motor terus melaju, menuju tempat yang Kia arahkan. Karena lokasinya cukup jauh, butuh waktu yang lama untuk bisa sampai.


Nampaknya, mereka belum terlambat. Karena, saat sampai di villa milik Marvin, mobil sport warna merah masih terparkir disana.


Rasa lega langsung memenuhi hati dan pikiran Kia. Dia akan bertemu kembali dengan putranya. Dengan tak sabar, Kia berlari meninggalkan Satria menuju villa itu.

__ADS_1


__ADS_2