Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.57


__ADS_3

FLASH BACK ON


Satria POV.


Aku tidak mengerti, kenapa Sarah begitu memaksaku untuk ikut sesi terapi juga pengobatan demi memulihkan ingatanku. Sarah memang pernah bercerita, bahwa aku mengalami kecelakaan dan kehilangan sebagian ingatanku. Tapi bagiku itu semua tidak masalah.


Namun, Sarah berusaha keras agar aku bisa mendapatkan kembali ingatanku. Tidak mudah memang, karena rasa sakit yang teramat sangat aku rasakan, ketika ku paksakan otakku untuk bekerja keras mencari memori yang hilang.


Aku bahkan pernah marah dengan Sarah, untuk apa aku harus mengingat sesuatu yang aku lupakan. Aku bahagia dengan kehidupanku sekarang, Sarah tak lagi pergi jauh dariku. Kini dia tinggal di sisiku, apalagi saat Naya lahir, kebahagiaan ku seolah lengkap. Akhirnya, aku bisa memiliki anak dengan Sarah, hal yang sejak dulu aku inginkan.


Aku tak ingin lagi mengingat masa lalu yang aku lupakan, karena kebahagiaan yang dulu aku impikan sudah aku dapatkan. Sarah dan Naya, mereka adalah hidupku, kebahagiaanku. Dan, aku tak menginginkan apapun lagi selain mereka. Bahkan ingatanku yang hilang pun, tak ku inginkan kembali. Biarlah yang hilang tetap hilang. Aku tak perlu mencarinya.


Hingga Sarah bercerita tentang penyakitnya, aku sungguh tak bisa menerima jika harus berpisah dengannya.


"Kamu tahu kan sekarang, kenapa aku ingin kamu kembali mengingat semuanya?" ucap Sarah padaku dengan menangis, karena aku benar-benar keras kepala, menolak untuk melanjutkan pengobatanku.


"Untuk apa aku harus mengingatnya, aku akan bersamamu. Aku akan tetap di sisimu hingga Tuhan memisahkan kita. Aku tidak ingin mengingat apapun yang telah hilang. Aku bahagia dengan hidupku sekarang," jawab ku sambil memeluk Sarah.


"Kenapa kamu tidak mengerti juga!" lirihnya dalam dekapanku. "Aku tidak ingin pergi dengan rasa bersalahku," lanjutnya dengan sesenggukan.


"Kamu tidak bersalah, kecelakaan itu bukan kamu yang menginginkannya," ucapku berusaha menenangkannya.


Sarah melepaskan pelukanku, dia menatap mataku dengan tajam. Dia bahkan menangkup kedua pipiku, agar aku tak berpaling dan mendengarkan setiap ucapannya.


"Dengarkan aku, yang akan aku ceritakan semua adalah kebenaran. Tidak ada yang aku sembunyikan, jadi kumohon dengarkanlah!" Sarah terlihat untuk tegar saat mengucapkannya.


Dia pun mulai bercerita tentang hubungan kami, yang sudah tidak harmonis lagi hingga aku menjatuhkan talak padanya. Dia bercerita tentang pertemuanku dengan seorang gadis bernama Zakiya, dan bagaimana akhirnya aku bisa menikahi gadis itu. Sarah juga menceritakan kembali tentang kecelakan itu, kecelakaan yang membuat ku kehilangan ingatanku dan melupakan gadis bernama Zakiya.


Sarah benar-benar berkata jujur, dia pun menceritakan bagaimana dia merawatku, hingga timbul keegoisan dalam dirinya untuk memilikiku kembali dan mengusir gadis bernama Zakiya dari hidupku. Membuat gadis itu pergi dengan terluka.


"Aku tidak tahu kalau saat itu dia pergi dalam keadaan hamil, dia mengandung anakmu." Sarah kembali menangis, terdengar penyesalan dalam kalimatnya.


Aku masih saja mendengarkan ceritanya, meski kepalaku mulai terasa sakit sejak Sarah bercerita tentang kejadian yang aku lupakan. Setiap cerita Sarah memaksa otakku bekerja untuk kembali menemukan memori yang hilang. Kutahan setiap rasa sakit yang mendera, demi mendengarkan sampai akhir cerita dari Sarah.


Sarah berdiri, dia mengambil ponselnya. Dia memperlihatkan foto-foto seorang gadis yang kata Sarah bernama Zakiya, yang tadi dia ceritakan. Gadis yang sudah aku nikahi. Sarah menggeser layar ponselnya, memperlihatkan foto anak laki-laki yang wajahnya begitu mirip dengan ku. Sarah bilang, dia adalah anakku.


"Kamu bohong, kan!" aku membentak Sarah, entah kenapa rasa sakit di kepalaku semakin tak tertahankan, dan aku tidak menemukan wajah yang Sarah perlihatkan dalam ingatanku.


"Aku tidak bohong, inilah kebenarannya. Dia istrimu, dan anak laki-laki itu adalah anakmu," Sarah berusaha meyakinkanku.


"Tidak! aku tidak mengingatnya sama sekali, kamu adalah istriku, dan Naya adalah anakku. Hanya kalian keluargaku, bukan mereka!" aku kembali membentak Sarah.


"Aku bukan lagi istrimu!" aku menatap Sarah nyalang, tidak kusangka kalimat itu keluar dari bibirnya. Dan yang lebih menyakitiku adalah ucapannya tentang status Naya.

__ADS_1


"Dan ... dan ... Naya, bukanlah anakmu!" Kulihat bibirnya bergetar mengatakannya, dia pun semakin keras menangis.


"Tidak ... kamu berbohong!" aku menolak pengakuan Sarah sambil memegangi kepalaku yang serasa mau pecah.


"Aku berkata jujur, dan inilah kenyataannya. Naya bukanlah anakmu, dia anak dari pria lain!" tegas Sarah.


Aku tak tahu lagi harus berkata apa, karena kepalaku benar-benar terasa sakit, dan mataku pun tiba-tiba terasa berat, kakiku lemas, hingga tak mampu lagi menopang tubuhku, saat itu kurasakan tubuhku limbung dan aku menutup mataku.


.


.


.


.


.


Sejak itulah, Sarah tak pernah berhenti mendukung kesembuhan ku. Pengobatan dan terapi yang diberikan, aku jalani dengan support dari Sarah. Hingga kudapatkan kembali ingatanku, ternyata tidak mudah, dan butuh waktu lama untuk ku bisa mengingat semuanya.


Setelah aku bisa kembali mengingat, Sarah mulai bercerita tentang keinginannya untuk menyatukan kembali aku dengan Kia. Meskipun begitu, aku tidak ingin meninggalkan Sarah dalam kondisi sakit, aku masih ingin menemaninya, jika diijinkan sampai ajal menjemputnya.


"Aku ingin menemanimu, juga Naya," ucapku pada Sarah.


"Aku tahu, tapi dia bisa menunggu," jawab ku dengan egois.


Ya ... aku akui, bahwa aku egois. Aku bahkan tidak tahu diri dengan mengatakan bahwa Kia bisa menungguku. Tapi, aku tidak ingin meninggalkan Sarah saat ini.


"Jangan buat aku semakin merasa bersalah, aku tidak ingin karma buruk menimpaku di sisa-sisa hidupku. Biarkan aku menebus kesalahanku."


Aku tak bisa lagi menolak saat Sarah berkata demikian. Ku setujui permintaannya. Akhirnya kami memutuskan untuk mengirim Naya pulang ke Indonesia lebih dulu, mengirimnya ke sekolah yang sama dengan anak laki-lakiku.


Aku pun berjanji pada Sarah akan menjaga Naya, karena bagiku, Naya tetaplah anakku.


FLASH BACK OFF


.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Hari ini pertama kalinya aku bertemu lagi dengan dia. Wanita yang pernah aku lupakan.


"Sarah," seruku, memanggil Sarah. Dia menoleh, bersamaan dengan orang yang menjadi alasanku kembali ke negara ini. Dia adalah Kia, tak sulit bagiku untuk mengenalinya sekarang.


Sarah tersenyum menatapku, sementara Kia justru terpaku menatap kehadiranku. Aku ingin menyapanya, tapi panggilan dari putriku, Naya, membuatku mengurungkan niatku.


"PAPA," teriak Naya memanggilku.


Aku pun berbalik, kulihat Naya berlari ke arah ku. Aku berjongkok dan merentangkan tanganku untuk bisa menangkap Naya. Dengan cepat putriku itu ku tangkap, dan berada dalam dekapanku. Kurasakan pelukannya yang bermakna rindu, karena sudah cukup lama kami tidak bertemu.


Aku juga melihat kehadiran bocah laki-laki, di belakang Naya, yang wajahnya seperti foto copy-ku. Pandangan kami beradu, namun terlihat tatapan yang membuatku bingung untuk mengartikannya. Dia tidak menatapku dengan tatapan orang yang pertama kali bertemu, tidak ada rasa ingin tahu. Tidak ada rasa suka, saat menatap papa dari temannya ini.


Hiro nama bocah itu. Dia tidak tahu bukan kalau aku adalah papanya juga, yang bocah itu tahu, aku adalah papa Naya, itu pun pasti dari panggilan Naya kepadaku.


Aku melepas pelukan Naya, dan ingin menyapa anakku, Hiro. Tapi, bocah itu lebih dulu pergi sambil menarik mamanya, bahkan tanpa berpamitan padaku ataupun Naya.


Aku menatap kepergiannya dengan berbagai tanya dalam otakku?


.


.


.


.


.


.


.


Dukung cerita ini yak, dengan ....


👍Like


❤️Favorite


🖊️Komen

__ADS_1


Mau vote juga boleh, biar banyak yang tahu cerita ini .... tengkyu💓💓💓sayang hee


__ADS_2