Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.40


__ADS_3

Dengan berlari setelah turun dari ojek, Kia mencari dimana meja informasi. Kia menanyakan kepada petugas yang berjaga disana, dimana dia bisa menemui kakaknya. Petugas itupun mengarahkan Kia untuk pergi ke UGD.


Dan benar saja, ada beberapa polisi yang terlihat sedang berjaga didepan UGD. Kia menghampiri petugas polisi itu untuk menanyakan kebenaran berita yang ia terima tadi.


Nyatanya benar, Keenan dibawa ke rumah sakit ini karena terlibat perkelahian dengan napi lain, yang berujung pengeroyokan. Saat ini, Keenan tengah di rawat intesif di UGD, sambil menunggu laporan medisnya keluar.


Kia diijinkan masuk untuk melihat kondisi kakaknya itu. Tanpa membuang waktu, Kia langsung masuk dan diantarkan oleh seorang perawat, dimana Keenan dirawat. Saat horden dibuka, terlihat Keenan terbaring tak sadarkan diri dengan muka penuh lebam.


Kia berdiri di samping kakaknya, memperhatikan betapa mengenaskan kondisi wajah Keenan.bDengan pelipis yang sobek, bibir pecah, bahkan sudah membengkak, kebiruan di pipi kiri dan kanannya. Mungkin perkelahian itu tidak langsung diketahui oleh sipir penjara, melihat kondisi Keenan yang babak belur seperti habis dihajar beramai-ramai dalam waktu yang tak sebentar.


Kia menangis sambil memegang tangan kakaknya itu. Dia tak habis pikir, kalau kakaknya akan mengalami hal buruk di penjara. Dia harus segera mencari bukti yang akan menyatakan kakaknya tidak bersalah. Seperti pengakuan kakaknya, bahwa Keenan datang saat Fira sudah terluka.


Namun ada hal yang memberatkannya dan membuatnya dijadikan tersangka. Sehari sebelum Fira tewas, Keenan menemui Fira di rumah yang Keenan beli untuk Fira. Mereka bertengkar hebat di sana, dan pertengkaran itu disaksikan oleh asisten rumah tangga Fira.


Asisten rumah tangga itu bahkan mendengar Keenan melontarkan ancaman akan membunuh Fira jika Fira tak mau menurut. Tapi menurut pengakuan Keenan, itu hanya sekedar ancaman. Dan Keenan tidak pernah berniat untuk mewujudkannya. Namun apa daya, saat sehari setelah pertengkaran itu, Keenan menemukan Fira tergeletak di lantai kamar mandi. Sedang meregang nyawa, dengan gunting yang tertancap di perutnya.


Keenan panik melihat banyak darah keluar dari perut kekasihnya. Tanpa pikir panjang, Keenan bermaksud mencabut gunting itu, dan disaat yang bersamaan asisten rumah tangga Fira masuk berniat mencari majikannya.


Sontak saja sang asisten kaget, melihat Keenan memegang gunting penuh darah dan saat beralih menatap Fira, majikannya itu tengah kesusahan bernafas. Spontan, asisten rumah tangga Fira berteriak histeris.


Keenan bertambah panik, saat asisten rumah tangga itu dengan cepat menuduhnya telah membunuh majikannya. Asisten itu pun berlari keluar karena takut, sekaligus berniat mencari bantuan. Keenan sendiri juga merasa takut dengan teriakan asisten rumah tangga itu, yang bisa memancing warga untuk datang. Dan, kalau dia tidak menyelamatkan diri, bisa-bisa dia akan jadi bulan-bulanan warga.


Tak bisa berpikir lagi, pikirannya yang kalut membawanya pergi menjauh dari rumah itu. Saat asisten itu kembali bersama warga dan juga polisi, mereka menemukan Fira sudah tidak bernyawa. Lebih mengejutkan lagi, saat Fira sendiri menulis nama Keenan dengan darahnya sebelum meninggal.


Hal itulah yang membuat Keenan jadi tersangka. Meskipun berulang kali ia membantahnya. Tapi Keenan tak memiliki bukti apapun untuk menopang keterangannya.


Meskipun semua orang menyalahkan Keenan atas kematian Fira, namun Kia percaya, bukan Keenan pelakunya. Kia tahu bagaimana Keenan mencintai Fira. Karena selama Kia mengenal Fira, kekasih kakaknya itu selalu memuji Keenan dihadapannya.


Dan sekarang, saat Kia harus melihat kondisi kakaknya yang begitu memprihatinkan, Kia semakin tidak tega. Dia harus segera mengeluarkan kakaknya dari penjara, Kia tidak ingin melihat kakaknya semakin buruk kondisinya.

__ADS_1


Seorang perawat memanggil Kia untuk bertemu dengan dokter. Dengan didampingi oleh polisi, Kia menemui dokter yang menangani kasus kakaknya. Kia semakin hancur, saat dokter menyatakan kondisi Keenan dalam keadaan koma. Trauma berat di kepalanya, menyebabkan pendarahan yang berakibat pada hilangnya kesadaran Keenan.


Tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas, kepalanya mendadak pusing, perutnya jadi mual seakan-akan diaduk didalamnya. Baru saja Kia bertekat untuk lebih cepat mencari bukti, agar kakaknya segera bebas. Tapi, malah mendapat kabar kakaknya mengalami koma dan tidak bisa dipastikan kapan akan terbangun.


Kepala Kia semakin berat, perutnya pun semakin tak karuan. Kia sudah tidak tahan, diapun limbung dan terjatuh di ruangan dokter.


Saat terbangun, Kia sudah ada diruang perawatan, perutnya yang tadi mual berganti dengan rasa melilit karena lapar. Kia tadi belum sempat sarapan, dan sekarang sudah lewat dari jam makan siang. Kia duduk untuk mencari tasnya, ternyata ada di atas nakas, di samping ranjang perawatan. Diraihnya tas itu dan dikeluarkannya ponsel dari dalam tasnya.


Ada beberapa panggilan tak terjawab dari suaminya, dan beberapa pesan singkat yang masuk. Kia membuka pesan dari Satria yang menanyakan apakah dia sudah sarapan atau belum. Pesan kedua, menanyakan keberadaan Kia dan dengan siapa.


Kia membalas kedua pesan dari suaminya itu, dan mengatakan bahwa ia sedang di rumah sakit menjenguk Keenan. Kia kembali menscroll layar ponselnya, ada pesan dari nomor tak dikenal. Namun, Kia bisa menebak siapa pengirim pesan itu dari isi pesan yang Kia baca.


Aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku. Sekarang hanya peringatan, bisa jadi besok atau lusa, kakak mu hanya tinggal nama. Atau mungkin teman-teman mu yang akan jadi tumbal keegoisan mu.


Kepala Kia kembali berdenyut, setelah membaca pesan ancaman yang dikirimkan Aditya Wilmar. Dia membuktikan kekuasaannya, dengan menyerang Keenan yang berada dalam tahanan.


"Mbak, sudah sadar?" tanya perawat yang baru saja masuk. "Apa mbak merasa pusing atau mual, mungkin?" lanjutnya.


Kia menggeleng. Dia tidak ingin lebih lama lagi tidur di ranjang rumah sakit ini. Masih banyak yang harus ia lakukan, dan tentunya bukan sekedar tiduran di rumah sakit.


"Saya baik-baik saja sus, apa boleh saya keluar sekarang. Saya lapar, ingin cari makan."


"Iya mbak, kalau sudah baikan mbak boleh keluar sekarang."


"Terima kasih, sus."


Kia pun pergi meninggalkan ruang perawatan dan mulai mencari letak kantin. Dia benar-benar butuh tenaga saat ini.


Sebelumnya Kia ingin melihat Keenan terlebih dulu yang masih ada di UGD. Disana, Kia justru bertemu Shila yang sedang panik mondar-mandir di depan pintu UGD.

__ADS_1


"Shila, ngapain kamu disini?" Kia menepuk bahu Shila.


Bukannya menjawab, Shila malah memeluk Kia erat, sambil menangis.


"Kamu kenapa?" Kia mengusap punggung Shila untuk menenangkan.


"Ki, aku dalam masalah," lirih Shila dengan ketakutan.


"Tenang." Kia masih berusaha menenangkan Shila. "Masalah apa maksud kamu?"


"Aku nabrak orang, Ki. Dan sekarang dia lagi dirawat di dalam." Shila menunjuk UGD di belakangnya.


"Kok bisa?"


Shila menceritakan bagaimana tadi, dia yang biasanya diantar supir, tiba-tiba ingin mengendarai mobilnya sendiri. Saat baru saja keluar dari komplek rumahnya, mendadak ada ibu-ibu yang tiba-tiba menyebrang jalan. Karena panik, dia membanting setirnya ke kanan tanpa melihat ada motor yang melaju kencang dari arah belakang. Hingga motor itu terjatuh beserta pengemudinya.


"Maaf, siapa yang bertanggung jawab pada korban kecelakaan yang baru saja masuk?" tanya seorang perawat.


"Sa-saya mas," jawab shila takut-takut pada perawat laki-laki itu.


"Mari ikut saya." Perawat itu mengajak Shila dan Kia untuk bertemu dokter.


Shila merasa lega setelah mendengar penjelasan dokter bahwa korban yang ia tabrak hanya luka ringan. Setelah itu, Shila mengajak Kia untuk menemui korban, untuk meminta maaf.


"Ma-maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ucap Shila gugup.


"Tidak apa-apa, yang penting kamu mau bertanggung jawab," jawabnya tersenyum miring.


Kia merasa pria ini bukanlah pria baik, dilihat dari caranya menatap Shila dan Kia secara bergantian dengan tatapan melecehkan.

__ADS_1


__ADS_2