
Kia kaget saat Satria mengutarakan keinginannya untuk mempercepat pernikahan mereka. Kia pikir apa yang diucapkan pria itu tadi pagi hanya bercanda, ternyata dia benar-benar serius. Seserius tatapannya saat ini yang sedang menatap Kia.
"Kenapa harus secepat ini, kita bahkan belum saling mengenal?" tanya Kia pada Satria yang duduk satu sofa dengannya namun berhadap-hadapan.
"Bukankah aku pernah bilang semakin cepat kita menikah, secepat itu juga aku akan mulai melakukan penyelidikan untuk mengumpulkan bukti tentang kakakmu," jelasnya.
"Dan kita juga tidak perlu banyak waktu untuk saling mengenal, semua bisa kita lakukan saat kita sudah menikah," sambungnya.
"Katakan dengan jujur, apa yang membuatmu ingin menikahi ku secara sirri," tanya Kia dengan tatapan serius.
"Aku sudah bilang sebelumnya bukan, aku ingin perhatian dan juga anak. Kenapa sirri? karena aku masih terikat pernikahan dengan seseorang."
"Hanya itu?"
Satria mengangguk.
Kia pun tertawa keras. Sementara Satria menatap bingung pada Kia, dia tidak tahu apa yang Kia tertawakan.
"Apa aku terlihat bodoh untuk menerima alasanmu, aku yakin ada sesuatu yang kamu tutupi dari ku," Kia menatap tajam pada Satria.
"Sejujurnya aku tak memiliki alasan khusus kenapa aku memilihmu. Tapi, kecantikanmu membuatku ingin menikahimu," jawab Satria sambil tersenyum menggoda.
Kia memutar bola matanya malas, dengan jawaban Satria yang seperti rayuan gombal.
"Baiklah, tidak peduli apa alasanmu saat ini. Sekarang katakan, seperti apa istri sah mu?" tanya Kia.
"Apa kamu perlu tahu?"
"Tentu saja! Aku harus tahu siapa istri pertamamu. Karena aku tidak mau tiba-tiba saja ada yang datang kepadaku, lalu marah-marah dan menyebut ku pelakor, atau mungkin dia akan menghujani ku dengan uang sambil berteriak agar aku meninggalkan mu. Bisa jadi juga dia akan menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan ku."
"Kamu terlalu banyak bermain media sosial," cibir Satria.
"Tapi aku tetap harus tahu, siapa istri pertama mu, siapa namanya, dan seperti apa orangnya?" desak Kia.
__ADS_1
"Untuk apa kamu tahu, aku tidak berniat mempertemukan mu dengan istri pertamaku, apalagi untuk membuat kalian saling akrab," tolak Satria.
"Aku harus tahu siapa istri pertamamu, agar aku bisa menghindar bila bertemu dengannya. Karena aku juga tidak berniat untuk saling mengenal dengan istri pertama mu!" Kia mencebik kesal.
Melihat Kia yang mencebik kesal, Satria mengambil sebuah majalah yang ada di rak bawah meja. Di majalah itu terpampang foto seorang model terkenal bernama Sarah wilmar. Satria memberikan majalah itu pada Kia, yang diambil Kia dengan bingung.
"Dia istri pertamaku," ucap Satria, yang membuat Kia langsung menjatuhkan majalah itu dan menutup mulutnya kaget. Namun, sedetik kemudian dia tertawa keras, mentertawakan pengakuan calon suaminya.
"Apakah kamu sedang halu!" cibir Kia dengan tawa meledek.
Satria menggeleng. "Kalau Kamu punya istri secantik dia tapi masih mau menikahi aku, apa itu namanya tidak bersyukur?" Kia menunjuk wajah pada majalah yang ia pegang tadi.
Satria mengambil majalah yang terjatuh tadi. "Menurutmu, siapa yang lebih cantik, kamu atau dia?" tunjuk Satria pada wajah istrinya yang terpampang di majalah.
Mendengar pertanyaan yang membandingkan dirinya dan istri pertama dari calon suaminya ini, jiwa narsis Kia langsung berkobar.
"Ehm ... tentu saja aku yang lebih cantik!" jawab Kia percaya diri.
Selama ini Kia selalu membanggakan parasnya yang cantik dan tubuhnya yang mampu membuat kaum Adam terpesona. Dia bukan seorang model, tapi dia rajin merawat tubuhnya untuk terlihat menawan.
"Hei ... kamu bercanda kan?! tidak mungkin dia istrimu!" teriak Kia.
Kia berlari menyusul Satria, namun pria itu lebih dulu masuk ke kamar mandi. "Katakan kalau kamu tidak serius," teriak Kia yang berdiri di depan kamar mandi yang tertutup.
Tidak ada sahutan di sana, hanya terdengar suara air yang mengucur. "Kamu bercanda, kan?" teriak Kia lagi karena tidak mendapat jawaban.
Kia menggedor pintu kamar mandi, sengaja. Agar orang yang di dalam menjawab pertanyaannya.
Saat Kia hendak menggedor pintu lagi, Satria membuka pintunya dari dalam. Tangan Kia hampir memukul wajah Satria jika yang punya wajah tidak menahannya dengan tangannya.
"Ma-maaf," ucap Kia tak enak hati.
Satria lalu menurunkan tangan Kia yang ada di depan wajahnya, dan kembali berlalu dari Kia. Satria naik ke atas ranjang, lalu menarik selimutnya sampai kepinggang.
__ADS_1
"Kamu belum menjawab pertanyaan ku, kamu tidak serius, kan? kalau Sarah Wilmar adalah istrimu?" desak Kia yang ikut naik ke atas ranjang.
"Untuk apa aku bercanda." Satria mengambil foto dari laci nakas yang ada di samping tempat tidurnya. Dia memberikan foto pernikahannya dengan model terkenal Sarah Wilmar.
Kia terperangah dengan foto yang dilihatnya, terdiam tak bisa berkata-kata. Bagaimana bisa seorang pria yang sudah memiliki istri seperti Sarah Wilmar, masih tetap mencari yang baru.
"Dia pasti sangat sempurna bukan?" tanya Satria menyadarkan Kia dari keterdiamannya.
"Dia memang cantik, dia bahkan memiliki semua yang diimpikan lelaki untuk seorang istri." Satria terdiam sejenak.
"Tapi kecantikannya telah melalaikan tugasnya untuk menjadi seorang istri. Kamu tahu berapa kali aku bisa bertemu dengannya dalam setahun?" tanya Satria.
Kia pun menggeleng. "Sebulan sekali," jawab Kia menebak.
Satria tersenyum getir. "Tidak, bahkan dalam setahun aku tak pernah melihatnya. Kalau aku beruntung mungkin bisa dua atau tiga kali dalam setahun."
"Kenapa?" tanya Kia tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya.
"Dia berkarir di luar negri dan aku di sini."
"Kita bukan hidup di jaman batu. Kalau soal jarak, dalam hitungan jam kita bisa terbang kemana pun yang kita mau," ujar Kia.
"Ini bukan soal jarak, tapi memang dia tidak ingin lagi bertemu dengan ku untuk hal-hal yang dia anggap tidak penting."
"Lalu kenapa kamu tidak bercerai saja, biarkan dia bebas dan kamu bisa memulai hidup yang baru," tanya Kia lugu.
"Ada beberapa hal yang tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana."
"Jika ada yang sederhana, kenapa harus dipersulit?"
"Mungkin dengan mempersulit akan ada banyak hal yang terjaga," jelas Satria, pria itu kini tengah tersenyum manis pada Kia yang heran dengan penjelasannya. Kia tidak mengerti maksud dari ucapan Satria.
"Tidurlah, ini sudah malam. Atau, kamu mau menemaniku tidur di sini." Satria menepuk sisi ranjang yang kosong.
__ADS_1
Kia mendelik. "Jangan mimpi!" tukasnya yang langsung berdiri dari ranjang, meletakkan foto yang tadi ia pegang dengan asal dan berganti menyahut bantal dan berlari ke sofa. Kia bahkan kehilangan niatnya untuk tahu maksud dari ucapan Satria.
Satria tersenyum geli, melihat Kia yang berlari seolah takut akan terjadi sesuatu.