
Hari ini jadwal kuliah Kia hanya satu, karena dosen yang akan mengajar mata kuliah berikutnya berhalangan hadir. Sebelum berangkat ke restoran, Shila mengajak Kia untuk jalan-jalan di Mall sekalian makan siang.
Mereka memilih makan siang di area food court, karena banyak pilihan makanannya. Setelah memesan makanan, mereka memilih tempat duduk yang strategis untuk melihat lalu lalang orang yang melintas.
"Bagaimana pernikahan kamu?" tanya Shila sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya.
"Berjalan baik, dia bilang dia menyukaiku sejak lama," jawab Kia.
"Benarkah?" tanya Shila seolah terkejut. "Lalu, apa kamu mulai menyukainya juga?"
Kia mengangkat bahunya. "Entahlah, aku bingung harus menyebut apa tentang rasa untuk dia."
Dua orang waiters datang membawakan pesanan Kia dan Shila.
"Kalau kamu merasa tidak suka bila dia berdekatan dengan istri pertamanya, itu namanya cemburu." Shila menyesap jus alpukat pesanannya.
"Dan, bila kamu mulai merasa ada yang hilang saat ia tidak ada, dan ingin bertemu saat ia jauh itu namanya rindu." sambung Shila.
"Cinta itu perpaduan antara rindu dan cemburu," lanjutnya lagi.
"Aku nggak merasakan keduanya, malahan aku selalu kesal dengan sifat pemaksanya," jawab Kia.
"Hanya ada garis yang tipis antara benci dan cinta, dan itu sulit dibedakan. Bisa jadi apa yang kamu artikan benci itu justru disebut cinta." Shila tersenyum dengan ucapannya sendiri.
"Sok tahu banget sih!" cibir Kia, yang disambut dengan tawa oleh Shila.
Mereka mulai memakan pesanan mereka. Sambil makan Kia memperhatikan sekelilingnya. Tak sengaja, matanya menangkap seseorang yang terlihat mirip dengan Sarah yang baru saja keluar dari sebuah toko brand ternama dengan menggandeng mesra seorang pria, dan itu bukan Satria. Kia bisa pastikan bahwa pria yang digelayuti Sarah bukanlah suaminya.
Bukankah kemarin Satria bilang, Sarah sedang ada pemotretan di luar kota. Lalu kenapa sekarang Kia melihat Sarah jalan-jalan dengan pria yang sama dengan yang Kia lihat di restoran tempatnya bekerja kemarin.
Ah ... lupakan saja. Itu bukan urusannya, yang harus Kia pikirkan sekarang adalah bagaimana Kia bisa menemukan cara agar bisa secepatnya membebaskan Kakaknya.
"Kia!" seru Shila, yang dari tadi ternyata masih saja berbicara namun diabaikan oleh Kia yang sedang memperhatikan istri pertama suaminya.
"Eh ... i-iya, kenapa?" jawab Kia terbata.
"Ish ... nyebelin banget sih, aku tuh dari tadi ngomong sama kamu tapi kamu malah jelalatan kemana-mana." Shila mencebik kesal.
__ADS_1
"Maaf, aku sedang melihat toko di sana. Aku sedang berfikir kapan lagi aku bisa belanja di sana." Kia menunjuk toko dimana tadi Sarah keluar bersama seorang pria.
"Minta saja sama suami kamu."
"Kamu kan tahu, bahkan aku harus bekerja untuk punya uang sendiri."
Shila tertawa mengingat uang jajan sahabatnya itu.
"Shila, apa perusahaan Kakakmu sedang menjalin kerja sama dengan model Sarah Wilmar?"
Shila mengedikkan bahunya. "Entahlah, aku tidak pernah tahu urusan perusahaan."
Selesai makan siang Kia dan Shila jalan-jalan sebentar di Mall dan setelahnya Shila mengantar Kia untuk bekerja. Kali ini Kia menikmati pekerjaannya, dia sudah mulai terbiasa dengan yang namanya bekerja. Seperti sebelumnya, saat jam kerja selesai Kia dan Rena pulang dengan berbagi taksi.
Tapi kali ini Kia tidak pulang kerumahnya, tadi Satria menghubunginya untuk datang ke apartemen milik Satria yang dulu pernah Kia tinggali juga. Di apartemen, sudah ada Satria dan Wira yang menunggu di sana.
"Ada apa kita berkumpul di sini, kamu tidak berencana menikah lagi bukan?" ucap Kia saat baru masuk dan melihat suami juga asistennya sedang serius membicarakan sesuatu.
Satria juga Wira sama-sama mendongak dan tertawa mendengar apa yang baru saja Kia tanyakan. Satria langsung memberi isyarat pada Kia agar duduk di sampingnya. "Kemarilah." Satria menepuk sofa di sisinya.
"Aku punya petunjuk baru soal kasus Kakakmu, dari informasi yang didapat dari asisten rumah tangga Fira. Fira sering menelfon seseorang bernama Lily yang diakui sebagai adik oleh Fira, dan Wira sudah mendatangi panti asuhan tempat Fira berasal, pihak panti membenarkan kalau Fira mempunyai adik perempuan bernama Lily. Namun sejak kematian Fira dia sudah tidak pernah lagi mengunjungi panti atau pun sekedar memberi kabar."
Kia memperhatikan dengan serius informasi yang diberikan Satria. "Apa kalian punya fotonya?" tanya Kia.
"Kurasa, Lily ini cukup pintar. Dia sudah menghilangkan semua jejaknya. Dia meminta semua foto dirinya pada pihak panti, meminta pihak panti menghilangkan semua foto yang ada gambar dirinya."
"Jadi kita kehilangan jejak?"
"Tidak, Wira sudah menggambarkan sketsa wajahnya berdasarkan keterangan dari pengurus panti asuhan." Satria memberikan sketsa wajah yang dibuat Wira.
"Kamu yakin dia orang yang bernama Lily?" Kia meminta jawaban pada Wira.
"Ya, karena saya sudah mengkonfirmasi pada pengurus panti, dan beliau membenarkan hasil sketsa yang saya buat," jawab Wira sopan.
"Apakah ada kemungkinan, Lily orang yang sama dengan orang yang tertangkap kamera cctv?" tanya Kia lagi.
"Bisa jadi," jawab Satria.
__ADS_1
"Kalau benar Lily adalah orang yang ada di cctv, untuk apa dia memakai pakaian yang tertutup untuk menemui kakaknya. Dengan hoodie yang kebesaran, masker, topi yang menutupi wajahnya, bukankah itu aneh untuk seorang adik yang ingin bertemu kakaknya?" Kia mengungkapkan kecurigaannya.
"Itulah yang harus kita selidiki, aku bertambah yakin orang berhoodie hitam itu tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kasus pembunuhan Fira," ungkap Satria yang disetujui Wira dengan anggukan kepala.
Semua diam sesaat dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga Wira membuka suara untuk berpamintan.
"Saya rasa sudah terlalu larut, dan Anda membutuhkan istirahat. Untuk itu saya mohon pamit." Wira membereskan berkas-berkas serta laptopnya untuk kemudian dibawa pergi.
"Di mana kamu menemukan pria seperti dia?" tanya Kia yang seperti tak berkedip menatap kepergian Wira.
"Apa kamu tertarik padanya?" Satria memperhatikan ke mana arah pandang Kia.
"Orang yang menarik," jawab Kia yang masih menatap pintu meskipun Wira sudah keluar. "Tampan dan cerdas," puji Kia dihadapan Satria.
Satria menggeser tubuhnya untuk lebih dekat dengan istrinya, yang entah sadar atau tidak sudah menyulut api cemburu di hati Satria. Diraihnya dagu Kia agar beralih menatapnya. Kia hanya bertanya melalui matanya, tentang apa yang suaminya lakukan.
"Aku tidak suka kamu menatap pria lain seperti tadi."
"Seperti apa?" tanya Kia pura-pura tidak tahu.
"Seperti kamu menatap Wira, seolah Wira begitu membuatmu terpesona."
"Dia memang memesona, dia pria berkharisma dengan kepandaian dan sopan santunnya," jawab Kia jujur.
"Jadi aku tidak memesona?"
Kia menggeleng keras. "Apa pria yang memaksakan pernikahan itu memesona?" cibir Kia.
"Aku tidak pernah memaksa. Kamu yang datang sendiri padaku untuk aku nikahi," balas Satria.
"Aku tidak akan datang jika bukan karena terpaksa." Kia tak mau kalah.
"Terpaksa menikah denganku maksudmu?"
"Tentu saja!"
"Baiklah, aku memang suka memaksa." Satria langsung mendorong tubuh Kia ke sofa, yang membuat Kia memberontak, namun tenaganya tak cukup besar untuk melawan suaminya. Berbagai perlawanan ia lakukan tapi tetap saja Kia harus menyerah di bawah kungkungan Satria.
__ADS_1