Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.48


__ADS_3

"Dasar bodoh!!!" Teriak Sarah pada Micky setelah dia melempar cermin dengan botol parfum setelah mendengar kabar bahwa Satria telah kabur dari kamarnya.


Micky hanya bisa menunduk takut melihat kemarahan Sarah. Dia menyesal telah dikelabuhi oleh Kia yang menyamar menjadi pelayan hotel.


🍁FLASH BACK ON🍁


Setelah berhasil kabur dari bandara, Kia, Rena dan Juna pergi ke rumah Juna. Di sana Kia menghubungi Wira untuk meminta bantuan.


Dengan cepat Wira tanggap akan masalah yang Kia hadapi. Wira pun memutuskan untuk mengajak Kia ke hotel, tempat Satria dan Sarah akan mengadakan pesta. Dan meminta dua anak buahnya untuk membantu Rena dan Juna membebaskan Shila, bagaimanapun Kia tak bisa mengabaikan sahabatnya itu. Mereka berbagi tugas, Kia sendiri akan membebaskan Satria, dan Rena dibantu Juna dan anak buah Satria akan pergi membebaskan Shila.


Dan di sinilah malam ini Kia berada, di sebuah hotel berbintang. Kia datang dengan tujuan untuk membawa suaminya kembali.


"Kamu siap?" tanya Wira yang sudah berhasil membawa Kia masuk tanpa ada yang curiga.


Kia mengangguk yakin. Kini dia sudah ada di hotel tempat Satria dan Sarah akan melangsungkan pesta untuk merayakan hari jadinya yang ke delapan. Dengan seragam pelayan, rambut yang disanggul rapi dengan harnet serta soflens dan kaca mata serta menambahkan tompel di pipinya untuk membantu penyamarannya, Kia akan berusaha membawa pergi suaminya.


"It's show time," ucap Kia tersenyum pada Wira dan disambut Wira dengan senyuman meyakinkan akan misi mereka yang akan berhasil. Dengan langkah pasti Kia berjalan menuju kamar di mana Satria diawasi oleh bodyguard Aditya. Sementara Wira mengurus urusan yang lainnya.


Dengan memperlihatkan identitasnya sebagai pelayan hotel pada dua bodyguard yang berdiri di depan pintu, dengan mudah Kia dibukakan pintu untuk masuk. Kia mengangguk hormat pada kedua bodyguard itu sebagai ucapan terima kasih.


"Permisi," ucap Kia saat memasuki kamar.


Micky yang sedang memperhatikan Satria memakai jas langsung menoleh mendengar suara pelayan hotel begitu pun dengan Satria.


"Siapa kamu?" tanya Micky curiga.


"Saya pelayan hotel ini." Kia kembali menunjukkan identitasnya. "Saya disuruh Nona Sarah untuk memberikan jas ini pada Tuan." Kia memperlihatkan jas yang ia pegang.


Micky menatap Kia curiga. "Untuk apa? aku sudah membawa jas untuk Tuan Satria dan Nona Sarah sendiri yang memilih." Kembali Micky mengamati Kia.


"Ah ... i-itu, Nona Sarah berubah pikiran katanya jas yang tadi kurang bagus dan tidak cocok dengan gaun Nona Sarah. Jadi Nona ingin menggantinya," jawab Kia.


Entah kenapa, Micky justru semakin curiga. Dia menatap Kia tak percaya.


"Anda boleh menghubungi Nona Sarah untuk mengkonfirmasi," lanjut Kia untuk menghilangkan kecurigaan Micky.

__ADS_1


Micky pun berbalik untuk mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di atas meja. Tak ingin berlama-lama dengan sandiwaranya, Kia langsung memukul dengan keras bagian belakang leher Micky yang langsung membuat Micky pingsan.


Melihat Micky yang diserang tiba- tiba Satria langsung siaga. Namun, dengan cepat Kia memeluk Satria. Sikap aneh wanita berpakaian pelayan ini membuat Satria berusaha melepaskan pelukan Kia.


"Ayo kita pergi." Kia melepas kaca matanya dan juga tompel di pipinya.


Melihat bahwa pelayan di depannya adalah istrinya, Satria langsung memeluk Kia. Dengan cepat Kia mendorong tubuh Satria.


"Kita harus cepat keluar, sebelum Sarah mengerahkan semua anak buah papanya."


Satria pun mengangguk mengerti maksud Kia. Mereka memang harus segera pergi. Kia berteriak setelah mengatakan rencananya pada Satria.


Dua bodyguard yang berdiri di depan pintu langsung masuk saat mendengar teriakan Kia. Satria yang sudah siap di balik pintu langsung memukul dua bodyguard itu seperti yang dilakukan Kia pada Micky. Namun tak seperti harapan mereka, salah satu bodyguard itu ternyata lebih kuat hingga pukulan Satria tak membuatnya pingsan. Bahkan bodyguard itu melakukan serangan balik, mau tak mau perkelahian pun terjadi.


Melihat Satria diserang, Kia tak tinggal diam. Kia mengambil botol minuman yang ada di atas meja dan memukulkannya hingga pecah ke kepala bodyguard itu. Darah langsung mengucur dari kepalanya, dan bodyguard itu limbung saat Satria menambahkan tendangan keras ke perutnya.


Kia menarik tangan Satria dan membawanya berlari dari sana. Sampai di parkiran, Kia melemparkan kunci motor pada suaminya, yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Satria.


"Kita pergi dari sini," ujar Kia.


Dengan sigap Satria dan Kia duduk di atas motor sport berwarna merah, dengan Satria yang mengemudikan motornya.


Micky mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Satria. Tak ada. Otaknya langsung bekerja mengaitkan setiap kejadian sebelum ia pingsan. Micky segera bangkit dan berlari ke kamar Sarah untuk memberitahu perihal kaburnya Satria yang dibantu oleh Kia.


Sarah pun segera menghubungi papanya, dan memberitahu tentang Satria yang kabur. Dengan satu kali komando, anak buah Aditya bergegas mengejar dan mencari Satria.


Kia meminta Satria mengarahkan motornya ke bandara, Wira sudah menyuruh orang untuk mengurus keberangkatan Satria dan Kia keluar kota untuk beberapa saat. Setidaknya untuk menghindari Sarah dan Aditya sambil memikirkan langkah apa yang akan mereka ambil.


🍁 FLASH BACK OFF 🍁


Tamu undangan sudah memenuhi ballroom hotel tempat akan berlangsungnya acara. Di kamarnya, Sarah berdiri mondar-mandir sambil mengumpat tentang kebodohan asistennya.


"Kalau Satria tidak kembali, dan acaraku jadi berantakan. Aku pastikan kamu tidak akan ada lagi di dunia ini," ancam Sarah.


Seketika Micky menelan ludahnya yang terasa seperti kerikil yang mengganjal di tenggorokannya, susah. Dan ancaman Sarah berhasil membuatnya bergidik ngeri, Nonanya ini tak pernah main-main dengan ucapannya.

__ADS_1


Terdengar ketukan pintu dari luar. Micky segera membukanya, ternyata pelayan hotel yang di kirimkan papanya. Meminta Sarah untuk segera turun, karena acara sudah akan dimulai. Tapi, bagaimana bisa?


Satria bahkan belum kembali. Namun pelayan tadi mengatakan agar Sarah mengikuti perintah papanya. Dengan enggan Sarah pun turun ke ballroom digelarnya pesta. Sarah langsung menemui Aditya.


"Pa, bagaimana Papa bisa memintaku hadir di pesta ini tanpa Satria? bahkan akad nikah kami belum terlaksana.


Bagaimana kerja anak buah Papa? menangkap satu orang saja tidak bisa!" ucap Sarah kesal.


Aditya lebih mendekat pada putrinya itu. "Kita tunda dulu akad nikah kamu, yang penting sekarang kita selesaikan pesta ini. Papa yakin anak buah papa bisa membawa Satria hadir di pesta ini. Tersenyumlah, dan sambut tamu-tamu yang hadir. Jangan biarkan mereka tahu masalah yang kita alami, jika kamu masih ingin mempertahankan karirmu."


Sarah mengikuti apa kata papanya, ia kembali menampilkan bakat aktingnya. Bersikap ramah dan selalu tersenyum pada setiap tamu yang hadir, dan mengatakan kalau suaminya sedang ada diperjalanan karena baru datang dari luar kota dan pesawatnya mengalami keterlambatan.


MC pun mulai membuka acara. Sambil menunggu Satria datang, untuk mengulur waktu tim Sarah sudah menyiapkan film perjalanan cinta Sarah dan Satria. Ada layar LED yang besar agar tamu bisa menyaksikan betapa harmonis dan bahagianya pernikahan Sarah dan Satria.


Semua tamu tercengang, begitupun dengan Sarah dan Aditya saat film mulai diputar. Yang tersaji di layar besar itu bukan Sarah dan Satria, tapi Sarah dengan pengusaha muda yang bernama Saverik Reonald. Terlihat kemesraan mereka dalam film itu.


Tak ada yang bisa Sarah lakukan selain pergi dengan amarah, menuju ruang pengendali agar menghentikan film itu untuk diputar.


.


.


.


.


.


Satria terus memacu kuda besinya agar cepat sampai di bandara. Karena penerbangannya sebentar lagi.


"Ada yang mengikuti kita," teriak Kia setelah menoleh kebelakang dan melihat beberapa orang berpakaian serba hitam dengan mengendarai motor berada tepat di belakang mereka.


Satria melirik ke spion motornya, memastikan ucapan Kia. Benar saja motor di belakangnya seakan memacu kendaraannya lebih cepat agar bisa menyusul Satria. Satria menambah kecepatannya agar tak terkerjar sambil sesekali melirik spion untuk melihat anak buah Aditya.


Satria kaget, dia tak sempat untuk menghentikan laju motornya yang berada pada kecepatan di atas rata-rata. Meskipun dia sempat mengerem, namun truk kontainer di depannya yang akan menyeberang terlalu dekat untuk dihindari.

__ADS_1


"Awas!!!" teriak Kia.


Suara motor yang beradu dengan body kontainer, dan juga teriakan Kia menjadi suara terakhir yang Satria dengar.


__ADS_2