
Sejak hari itu, Kia hanya bisa mengawasi Satria dari jauh. Karena sejak saat itu, saat Kia membuat Satria mengalami guncangan akibat dipaksa untuk mengingat siapa dirinya, Sarah menempatkan penjagaan yang ketat untuk Satria. Dan berpesan pada pengawal-pengawalnya untuk melarang Kia menemui Satria.
Dia masih belum ingin pulang ke Indonesia. Setiap harinya Kia habiskan untuk menunggui Satria di depan mansion mewah itu. Sudah seperti stalker saja hidupnya. Memata-matai suami sendiri, adalah hal menyakitkan untuk seorang istri.
Kia selalu setia menunggu di depan gerbang besar rumah itu, tak peduli panas ataupun hujan. Namun, tak sekalipun Satria menyapanya. Meski pria itu melihat keberadaannya beberapa kali saat keluar rumah.
Entah apa yang dikatakan Sarah pada suaminya itu tentang dirinya. Satria bahkan tak sedikit pun merasa iba, saat suatu hari, dirinya melihat Kia berlari mencari perlindungan dari hujan. Padahal saat itu, dirinya baru saja kembali dari berpergian bersama Sarah. Dari dalam mobil, Satria melihat Kia berlari-lari menuju sebuah pohon yang berada tepat diseberang mansion Sarah untuk berteduh.
Pria itu hanya melihat saat Kia mengusap wajahnya yang basah karena air hujan, tapi tak berniat untuk memberinya perlindungan. Kia hanya bisa menatap pilu, menyeka air matanya yang tak bisa dibedakan mana air mata dan mana air hujan, karena sudah bercampur menjadi satu.
Takdir macam apa ini?
Kenapa dia harus mengalaminya?
Salah apa yang sudah ia perbuat? Pertanyaan-pertanyaan yang kini hadir dalam otaknya, membuatnya semakin ingin menangis saja.
Melihat Satria, yang terlihat selalu bahagia dengan Sarah. Membuat Kia tak pernah berselera makan. Hingga rasa mual sering kali menghinggapinya. Keadaan Kia yang kehujanan dan kelaparan saat itu membuat kondisi Kia jadi drop.
Sepulang dari mansion Sarah, Kia mengalami demam. Mau tidak mau, Wira membawanya ke rumah sakit. Di sanalah, dilakukan cek kesehatan untuk Kia. Karena Wira khawatir akan kondisi Kia yang jarang makan dan semakin kurus saja.
"Makanlah." Wira berusaha menyuapkan bubur ke mulut Kia.
Tapi si sakit ini tak mau membuka mulutnya.
__ADS_1
"Kamu harus makan, kamu tidak bisa menyakiti dirimu sendiri dengan mogok makan. Kamu harus punya tenaga untuk menjadi seorang stalker," candanya agar Kia tersenyum.
Gurauan itu tidak berhasil, Kia masih tetap bungkam dengan ekspresi datarnya.
"Bukan hanya dirimu saja yang harus dijaga, tapi ada kehidupan baru yang harus kamu perjuangkan."
Kata-kata itu mampu membuat Kia mengalihkan fokusnya pada pria yang selama ini membantunya di negeri orang ini. Kia menatap tak mengerti pada Wira.
Wira meletakkan mangkok bubur dan juga sendok di atas nakas. Tangannya menyentuh perut Kia yang datar.
"Ada kehidupan di sini."
"Apa maksudmu?" tanya Kia datar.
Wira mengambil berkas laporan hasil tes laboratorium yang tadi ia letakkan di atas sofa setelah menemui dokter, dan memberikannya pada Kia.
Akhirnya senyum terukir di bibir Kia, ada rasa haru saat tahu dirinya tengah mengandung benih dari pria yang ia cintai.
Pria yang Kia cintai? kata itu membuat senyum yang tadi terukir, musnah seketika.
Kini Kia bingung, haruskah senang atas kehamilannya ataukah sedih. Karena saat ini pria yang ia cintai itu, tak lagi mengingatnya.
"Jadi mulai sekarang, jangan hanya memikirkan tentang dirimu sendiri. Jaga juga calon anakmu," ucap Wira mengingatkan.
__ADS_1
"Kenapa dia harus ada di saat yang tidak tepat. Di saat orang yang mengharapkan kehadirannya, justru tak mengingat apapun. Bahkan tak ingat kalau dia pernah mengharapkan benihnya tumbuh dalam rahimku!" emosi Kia membuatnya kembali menitihkan air mata.
"Tidak ada yang tidak tepat, semua yang terjadi adalah hal yang semestinya terjadi. Karena rencana Tuhan selalu tepat untuk hambanya. Kehadiran anakmu juga hal yang tepat, dia hadir untuk menggantikan ayahnya. Tuhan tidak ingin kamu sendirian." Wira berusaha memberi penghiburan.
Kia semakin tenggelam dalam tangisnya, kata-kata Wira benar-benar membuatnya ingat akan kesalahannya. Salah, karena lupa akan kuasa dan kebesaran Tuhan. Lupa, bahwa hidup ini tidak terjadi dengan sendirinya, tapi ada Dzat Yang Maha Mengatur. Tidak ada yang luput dari kuasa Tuhan.
Wira membuat Kia sadar, tentang arti hadirnya bayi dalam rahimnya. Kia pun berjanji akan menjaga anak itu dengan baik, karena Kia sangat berharap anaknya bisa membawanya kembali pada Satria.
Sepulang dari rumah sakit, Kia masih melakukan hal yang sama. Mengawasi Satria dari jauh, berharap bisa bicara langsung dengan pria itu dan memberi tahu tentang anak mereka yang sedang bertumbuh di rahimnya. Namun, setiap kali ada kesempatan, Sarah selalu jadi penghalang di antara mereka. Sarah tak membiarkan Kia mendekati Satria.
Hal yang selalu membuatnya sakit dan menangis adalah melihat, saat Sarah bersikap mesra pada Satria dengan sengaja di depan Kia. Hal itu selalu sukses membuat Kia kehilangan nafsu makannya, bahkan sampai lupa kalau bukan hanya dirinya saja yang butuh makan tapi juga anaknya.
Berulang kali Wira selalu mengingatkan agar Kia menjaga bayinya. Bukan Kia tak mau, deraan stres membuatnya tak bisa makan dan lebih banyak menangis. Semua itu justru berimbas pada bayinya, beberapa kali Kia mengalami perdarahan. Sehingga dokter harus memberinya penguat kandungan. Berat badannya bukannya bertambah, tapi justru menurun.
Semua faktor itu membuat Wira memutuskan untuk membawa Kia kembali ke Indonesia. Wira meyakinkan Kia, akan lebih baik jika untuk saat ini Kia tidak memikirkan Satria dan fokus pada kehamilannya. Awalnya, Kia menolak. Dia ingin dekat dengan Satria, meski hanya bisa melihat dari jauh. Seperti Kia yang keras kepala, Wira pun memaksakan keinginannya itu demi kebaikan Kia dan bayinya.
Dan mulai hari itu, Kia berusaha ikhlas untuk tidak egois dengan cintanya. Anak yang ia kandung juga membutuhkan cintanya. Dengan berat hati, Kia meninggalkan Singapura. Dia memulai kehidupan barunya, dengan anaknya.
Dengan bantuan Wira, tentu saja.
🍁FLASH BACK OFF🍁
Enam tahun sudah berlalu, sejak kepulangannya dari Singapura saat itu. Dan bayi yang ia kandung sudah berusia lima tahun sekarang. Kia melahirkan bayi laki -laki yang ia beri nama Hiro Putra Buana. Kia sengaja mengambil nama belakang Satria, karena bagaimanapun Satria berhak memberikan namanya untuk putra mereka.
__ADS_1
Hiro tumbuh menjadi anak yang cerdas dan kuat. Seperti namanya, Hiro selalu ingin jadi pelindung untuk mamanya. Entah dari mana bocah itu belajar, tapi Hiro tak pernah ingin menujukkan kesedihannya pada Kia. Karena Hiro merasa, dia hanya memiliki Kia, sebagai mamanya. Hiro tak ingin melihat kesedihan di mata mamanya, yang dikarenakan dirinya.
Hal itu bukan membuat Kia senang, tapi justru takut akan kondisi kejiwaan Hiro yang seolah dipaksa dewasa sebelum waktunya.