Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.61


__ADS_3

Kia masuk dan membawa sisa pisang goreng yang tadi disuguhkan untuk Hiro. "Sedang apa, Bu?" tanya Kia saat melihat Bu Dirjo yang sedang sibuk dengan sayuran hijau yang ia pegang.


"Ini, nyiapin daun kates yang mau dimasak sama Simbok." Bu Dirjo mengangkat daun kates yang ia pegang, menunjukkannya pada Kia.


"Kia bantu ya, Bu?" Kia meletakkan piringnya di meja, lalu duduk di samping Bu Dirjo dan membantu memisahkan daun kates dari tangkainya.


"Nanti sore Wira pulang," ujar Bu Dirjo di sela-sela aktifitasnya. "Apa kamu sudah mau pulang ke jakarta?"


"Kia belum tahu, Bu. Kia belum tanya pada Hiro."


"Apa masalahmu dengan suami mu belum selesai?"


Kia menggeleng.


"Kenapa kamu tidak pisah saja?" Bu Dirjo berujar tanpa menatap Kia. "Seperti tawaran Ibu waktu itu, Ibu tidak keberatan jika kamu menjadi menantu Ibu."


Bu Dirjo terlihat biasa saja saat mengucapkannya, seolah ini bukan hal yang serius. Tapi justru Kia yang tercengang dengan ucapan Ibu dari pria yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri. Bukan kali ini saja, Bu Dirjo menawari Kia untuk jadi istri dari Wira. Bahkan sejak pertama kali Wira mengajaknya ke Jogja, dan memperkenalkan Kia dengan orang tua Wira, sejak itulah Bu Dirjo jatuh hati pada Kia dan Hiro, yang saat itu berumur dua tahun.


Bu Dirjo sudah tahu semua kisah tentang rumah tangga Kia, dan beliau tidak keberatan dengan masa lalu Kia. Kia sendiri yang belum bisa menerima tawaran itu. Kia pikir, dia masih terikat pernikahan dengan Satria. Jauh di lubuk hatinya, Kia masih berharap untuk bisa bertemu lagi dengan Satria.


Apapun yang akan terjadi, Kia akan berusaha untuk siap menerimanya. Sekalipun itu, bertemu untuk berpisah.


"Maafkan Kia, Bu. Kia belum bisa mengambil keputusan, karena saat ini dia sudah kembali." ucap Kia yang terdengar penuh beban.


Bu Dirjo meletakkan daun kates di tangannya. Memutar sedikit tubuhnya agar bisa mentap Kia. "Apa yang kamu harapakan dari pernikahanmu dengan dia?" tanya Bu Dirjo serius.


Kia terdiam, memikirkan tentang pernikahannya. Dulu saat ia memutuskan menikah, hanya satu harapannya, untuk membebaskan kakaknya, Keenan. Sekarang Keenan sudah tidak ada, jadi apa lagi yang ia harapkan dari pernikahan ini.


Apakah cinta?


Benarkah cintanya begitu kuat untuk mempertahankan pernikahannya?


Ah, rasanya tidak. Jika cintanya kuat, kenapa setelah Hiro lahir, dia tidak mencari Satria. Dia hanya pasrah menerima nasib, diusir dari hidup suaminya.


Begitupun sebaliknya, jika Satria juga mencintainya, kenapa setelah pulih ingatannya, pria itu tidak langsung menemuinya.


Kenapa, dia lebih memilih bersama Sarah.


Dan sekarang, tiba-tiba dia muncul dan mengacaukan perasaan Hiro.Jadi, apa lagi yang ia harapkan dari pernikahan ini.


Tak bisa menjawab pertanyaan Bu Dirjo, Kia akhirnya menggeleng.


"Ibu tidak tahu, apa yang Wira rasakan untuk mu. Tapi Ibu bisa melihat, betapa tulusnya anak ibu membantu mu dan Hiro." ucapan, yang langsung menyadarkan Kia, tentang betapa baiknya Wira, dan betapa jahatnya dirinya.


Wira sudah mengorbankan waktunya hanya untuk mengurusi dirinya dan Hiro. Pria itu, yang selama enam tahun terakhir selalu jadi tempat mengadu atas duka dan luka yang Kia rasakan. Sampai-sampai dia lupa dengan urusan pribadinya, yang sampai sekarang belum memiliki kekasih.


Kia hanya bisa menunduk dengan segala rasa bersalahnya. "Maafkan Kia, Bu."


"Ibu tidak menyalahkan mu, karena perkara hati tak bisa dipaksakan." Bu Dirjo menghela nafasnya.


"Ibu hanya mengutarakan perasaan seorang ibu yang memiliki anak laki-laki yang sudah waktunya berrumah tangga."


Kia terdiam.

__ADS_1


"Kamu tahu kehidupan di kampung? Bukan hanya anak gadis saja yang akan digunjing bila ia tak kunjung menikah, tapi, anak laki-laki pun sama. Dan, tak ada ibu yang ingin anaknya menjadi bujang lapuk."


Kia tak mampu lagi berkata-kata, karena hatinya kini dipenuhi segala rasa bersalah. Rasa bersalah, karena Kia tak pernah memikirkan Wira, atau sekedar bertanya tentang gadis impiannya.


.


.


.


.


.


.


Seperti kata Ibu Dirjo tadi, sore ini Wira akan datang. Hiro sudah menunggunya di teras dengan antusias sambil bermain rubik. Selain suka menggambar, anak kecil itu suka sekali dengan mainan berbentuk kubus itu.


"Om ... Wira!!!" pekik Hiro saat sebuah mobil sedan masuk ke pekarangan rumah Eyang Dirjo.


Hiro melompat kegirangan, saat melihat siapa yang turun dari mobil berwarna hitam itu. Tak ingin menunggu lama, Hiro pun berlari menghampiri orang yang ia rindukan.


"Om ...!" Hiro berusaha memeluk Wira.


"Halo jagoan." Wira mengacak rambut Hiro.


"Hiro kangen, Om."


"Oh ... ya, kira-kira, apa yang kamu kangenin dari Om?"


"Jadi kangen sama Om, karena ada maunya?"


Hiro meringis saja menanggapi godaan Wira.


"Hiro, nggak kangen Papa?" ucap seorang pria yang baru keluar dari mobil.


Dengan malas Hiro menatap pria itu. "ENG-GAK!" jawab Hiro ketus.


"Kalau sama Tante, kangen nggak?" tanya seorang lagi yang keluar dari sisi pintu yang lain, sambil melambaikan tangannya pada Hiro.


"Tante!!!" Hiro berlari menghampiri Rena.


Gadis muda itu langsung menggendong Hiro, dan mencium gemas pipi bocah kecil itu.


"Ih ... Tante, lepasin!" pekik Hiro, meronta. "Turunin Hiro, Tante! Hiro bukan anak kecil lagi!"


Tak mempedulikan penolakan Hiro, Rena terus saja menggoda Hiro dengan tetap menggendongnya dan menciuminya.


Beberapa kali Hiro meronta, baru diturunkan.


"Yang sudah besar, sudah nggak mau dicium lagi," goda Rena.


"Tante, apaan sih!" ketus Hiro.

__ADS_1


Juna berjalan memutar, menghampiri Rena dan Hiro yang dari tadi masih berdiri disamping mobil.


"Hiro nggak kangen sama Papa?" Juna menaik turunkan alisnya.


"Ish ... Om Juna apaan sih!"


"Papa kangen sama Hiro tau."


"Hiro bukan anak Om Juna!"


"Sebentar lagi kan jadi anak Om Juna." Tak bosan-bosannya bagi Juna menggoda Hiro.


Hiro mencebik marah, tangannya bersedekap memperlihatkan rasa kesalnya pada Juna.Sementara Juna makin menikmati, menggoda Hiro.


"Kalian mau berdiri disitu saja sampai malam?" sindir Wira.


Hiro kembali menghampiri Wira dan menggandeng tangannya untuk masuk bersama ke dalam rumah. Rena dan Juna pun, mengekorinya.


Bu Dirjo menyambut kedatangan putranya itu dengan gembira, ditambah lagi kehadirannya bersama Rena dan Juna. Sama seperti Kia, Rena dan Juna juga sering datang ke rumah Wira, di Jogja ini. Karena itu, Bu Dirjo sudah mengenal akrab teman-teman anaknya ini.


"Mbok, buatkan minuman buat Wira dan teman-temannya!" teriak Bu Dirjo.


"Njeh," sahut simbok dari dapur.


"Cepet ya, Mbok!"


Bu Dirjo pun mempersilahkan Rena dan Juna untuk duduk. Sambil menunggu minuman yang simbok buat datang, Bu Dirjo mengisinya dengan obrolan tentang perjalanan mereka dari jakarta. Tidak ada rasa canggung diantara mereka, yang ada hanya suasana kekeluargaan yang terasa hangat. Obrolan yang diselingi candaan dari Juna, yang tak pernah puas menggoda Hiro.


.


.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk selalu


👍Like


❤️ Favorite


🖊️Komen


Semua itu berarti sekali untuk semangat saya menulis bab baru ... jangan lewatkan untuk like dan komen yak, kalau ada poin nganggur boleh banget sumbangin😁

__ADS_1


Tengkyu💓💓💓sayang hee


__ADS_2