Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.39


__ADS_3

Malam tadi, Kia tak jadi membicarakan soal pertemuannya dengan Aditya Wilmar karena saat pulang Satria sudah lebih dulu tertidur. Mungkin suaminya itu kelelahan, dan karena itulah Kia tidak enak hati untuk membangunkan Satria untuk sekedar bercerita.


Hari ini Kia tidak ada jadwal kuliah, maka dari itu dia ingin mengajak Satria untuk sparring muay thai. Sudah lama ia tidak berlatih. Sejak kejadian dia tidak bisa tidur karena memikirkan Satria yang sedang bersama Sarah, kali ini ia ingin melatih kembali kemampuannya dalam ber-muay thai. Dan Kia meminta Satria untuk jadi lawan sparringnya.


Kia sudah siap dengan hand and angkle wrapnya, begitupun dengan Satria. Mereka melakukan pemanasan terlebih dulu sebelum memulai pertarungan latihan ini. Setelah selesai pemanasan Kia dan Satria saling memberi hormat layaknya pertarungan sungguhan di atas ring. Kia mulai memasang kuda-kudanya begitu juga Satria.


"Jangan hanya bertahan, karena aku tidak akan main-main dalam menyerang," ucap Kia memperingatkan.


"Ok." Satria tersenyum simpul.


Kia yang pertama kali melakukan serangan, dengan mengarahkan pukulan ke rahang Satria. Namun Satria masih bisa menghindar dengan membawa tubuhnya mundur. Kia terus mengarahkan pukulannya pada Satria, dia juga melakukan tendangan yang ia arahkan ke perut dan kaki Satria. Semua serangan Kia selalu bisa ditahan dengan baik oleh Satria.


Satria heran dengan istrinya ini, bukankah ini hanya latihan, tapi Kia menyerang seolah-olah ini pertarungan sungguhan. Satria bisa merasakan kalau istrinya ini benar-benar menggunakan kekuatannya untuk menyerangnya.


"Bagaimana jika kita harus berpisah," ucap Kia di sela-sela serangannya. Dan kekuatan Kia bisa ia rasakan saat Kia berhasil memukul rahang Satria, bersamaan dengan ucapan Kia yang membuat Satria kehilangan konsentrasi.


Saat sudah terkena pukulan di rahangnya, Kia langsung memegang kedua bahu Satria dan melakukan tendangan ke perutnya dengan lututnya. Satria tak bisa melawan kali ini, dia terjatuh.


Menyerah adalah keputusan yang Satria ambil, dia tidak bisa fokus dengan pertanyaan istrinya tadi dan ingin segera mencari tahu jawabanya. Yang pasti tidak dengan bertarung, dia ingin tenang membicarakan hal yang membuatnya takut.


Satria mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya. "Apa kamu ingin menjadi seorang janda?"


Kia hanya tersenyum menanggapi gurauan suaminya. Kia mengulurkan tangannya untuk membantu Satria berdiri. Satria menolak, dia justru menepuk sisi kosong di sampingnya sebagai tanda agar Kia duduk di sebelahnya.


Kia ikuti perintah suaminya itu, duduk sambil berselonjor kaki sekalian melakukan pendinginan.


"Apa maksud ucapan mu tadi?" tanya Satria yang mulai menatap Kia dengan serius.


" Aku hanya ingin tahu, bagaimana jika kita harus berpisah?" ucap Kia mengulangi.


"Alasan apa yang membuat kita harus berpisah?"


"Kurasa Sarah sangat ingin kembali rujuk dengan mu."

__ADS_1


"Siapa yang mengatakan semua itu?"


"Aku bertemu Aditya Wilmar, papa mertua mu." Kia menceritakan pertemuannya kemarin dengan Aditya Wilmar, dan menceritakan tentang permintaan Aditya agar meninggalkan Satria.


Satria kaget mendengar penuturan Kia. Tidak disangkanya ayah mertuanya itu sudah tahu tentang pernikahan keduanya.


"Dia bisa membebaskan Kakak ku tanpa kita harus repot mencari bukti," lanjut Kia.


"Jadi apa yang kau katakan pada Aditya saat dia meminta mu untuk meninggalkan aku?"


"Aku bilang aku tidak bisa melakukannya. Aku tidak ingin berpisah dari mu. Tapi ...." Kia ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Tapi ...?" tanya Satria.


"Tapi jika kamu yang melepaskan aku, aku akan pergi."


Satria langsung meraih tubuh istrinya, dan membawanya dalam pelukannya.


"Sudah siang, aku harus segera ke kantor. Tolong siapkan sarapan, aku akan segera mandi." Satria berdiri dan kali ini gantian Satria yang mengulurkan tangannya untuk membantu Kia bangun.


Kia menggeleng. "Aku ingin digendong."


Satria menautkan alisnya tak paham dengan permintaan istrinya. Minta digendong?


"Gendong aku masuk kedalam, baru aku mau menyiapkan sarapan untuk mu."


Tanpa bertanya lagi Satria langsung membungkuk didepan Kia. Istrinya itu dengan senang hati naik ke punggung Satria. Entah ide dari mana, saat digendong, dengan usil Kia meniup telinga Satria. Membuat suaminya itu merasakan geli sekaligus sensasi yang membuat bulu-bulu di tubuhnya berdiri karena hasrat yang terbangun.


"Hentikan!" Satria menggoyang tubuh kia yang ada digendongnya agar menghentikan aksinya.


Bukannya berhenti, Kia makin suka menggoda suaminya, ditiupnya lagi daun telinga Satria. Kali ini bahkan dengan menempelkan bibirnya di telinga suaminya itu. Satria makin tidak suka, dengan apa yang dilakukan Kia.


"Berhenti atau aku akan menjadikan mu sarapan ku lebih dulu!" ancam Satria.

__ADS_1


Kia menghentikan aksinya, dia diam sampai akhirnya masuk ke dalam rumah. Saat Satria hendak menurunkannya, Kia lebih dulu menggigit telinga suaminya itu.


"Itu balasan mu, karena sudah membentak ku." Kia langsung kabur ke kamarnya.


Satria tak mau kalah, dia juga langsung mengejar istrinya yang sudah berani memancing hasratnya. Kia kalah cepat dari Satria, karena dengan beberapa langkah saja Kia sudah tertangkap oleh suaminya.


"Kamu yang memulainya, jadi kamu juga yang harus menuntaskannya." Satria mengangkat tubuh Kia seperti memanggul karung beras.


"Aaarrrggg," pekik Kia.


Tak peduli dengan teriakan istrinya, Satria membawa Kia ke kamar dan melemparnya ke atas ranjang. Kia masih berusaha untuk lari, namun lengan kekar suaminya dengan sigap mengkungkungnya.


.


.


.


Satria tak jadi sarapan roti dan kopi, karena waktunya sudah habis untuk menyantap hidangan yang lain. Dia segera mandi dan bergegas untuk ke kantor. Dia membiarkan Kia yang kembali tertidur karena efek oksitosin dan prolaktin yang dihasilkan setelah olah raga suami istri.


Kia tertidur cukup lama dan terbangun saat ada panggilan masuk dari ponselnya, yang menghasilkan bunyi dering hingga mengganggu pendengarannya. Kia menarik selimutnya ke atas, mencoba meraih ponsel yang biasa ia letakkan di nakas.


"Hallo," sapa Kia tanpa melihat siapa yang sudah menelfonnya.


"...."


Kia langsung terduduk dengan tangan kiri memegangi selimutnya dan tangan kanannya memegang ponsel di telingannya. Kia syok, mendengar berita yang disampaikan oleh orang di seberang sana, yang tak lain adalah polisi.


Kia segera bangkit setelah menutup panggilan telfonnya. Berlari ke kamar mandi. Setelahnya, Kia berangkat dengan tergesa-gesa, tak peduli jika rambutnya masih basah. Kia sudah di tunggu ojek yang ia pesan sebelum ia mandi tadi.


Dengan celana jeans sobek-sobek di bagian lututnya, juga kaos oblong, Kia segera melangkah ke atas jok motor. Memberi perintah pada tukang ojek agar membawa motornya dengan cepat ke rumah sakit.


Hati Kia benar-benar kalut, dengan kabar yang tadi diterimanya. Sepanjang perjalanan Kia merapalkan doa agar semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2