
Sesampainya di rumah, Satria sudah duduk di sofa ruang tamu sedang membaca macbooknya. Menunggu Kia.
"Apa kamu sedang menungguku," ucap Kia saat melihat suaminya yang sedang duduk di sofa.
"Dari mana kamu?!" Satria meletakkan MacBooknya di meja, dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Pertanyaan apa itu, bukannya kamu yang menyuruhku bekerja?!" ucap Kia berlalu pergi ke kamar meninggalkan Satria.
Kia meletakkan tasnya di atas meja, di samping lemari. Dia membuka lemari dan memilih baju yang nyaman untuk ia kenakan tidur. Sebelum berganti baju, Kia berniat membersihkan diri dulu. Kia pun membuka kancing kemeja yang ia kenakan.
Satria merasa diabaikan, karena bukan memberi penjelasan, Kia justru membalik pertanyaan. Emosinya seketika naik, pikirannya membuat ia teringat akan masa lalunya. Setelah beberapa saat Kia meninggalkannya sendiri di ruang tamu, Satria menyusul Kia ke kamar.
Dengan kasar Satria membalik tubuh Kia yang sedang melepas kancing bajunya.
"Kenapa kamu berbohong?!" ucap Satria dengan membentak.
"Apa maksudmu?" tanya Kia.
"Oh ... kamu mau bermain drama?!" Satria mendelik marah.
Dia mencengkeram rahang Kia dengan kasar, hingga Kia meringis kesakitan. Ini kali pertama dia melihat kemarahan yang menyeramkan di wajah pria itu.
"Aku tidak suka dibohongi, apalagi dikhianati!!!" Satria mengeratkan cengkeramannya yang makin membuat Kia meringis sakit.
"Dan aku tidak mentolerir pengkhianatan dalam bentuk apapun, dan jangan coba-coba selingkuh di belakangku, atau kamu akan menyesal!!!" ucapnya penuh ancaman dan kemarahan.
Dengan kasar Satria mendorong tubuh Kia hingga membentur lemari, ia mencium Kia dengan paksa. Kia berusaha menolak dengan memukul-mukul dada suaminya, namun cengkeraman Satria lebih kuat untuk ia lawan. Tangan yang tadi mencengkeram rahangnya, beralih ke tengkuk Kia. Pria itu semakin memaksakan ciumannya secara brutal.
Satria hanya melepaskan ciumnya untuk sekedar mengambil nafas, dan kembali mencium Kia dengan rakus. Tak peduli dengan penolakan gadis itu, dia bahkan menggigit bibir Kia agar mau membuka. Pria itu memaksa Kia untuk meladeni ciuman gilanya.
Satria seperti orang kesetanan, dia benar-benar memaksakan keinginannya pada Kia. Kia yang tak lagi bisa menolak, hanya bisa pasrah dan menangis dengan perlakuan Satria.
__ADS_1
Menyadari istrinya yang menangis ketakutan, Satria menghentikan aksinya. Dia melepas ciumannya. Seketika, Kia terduduk lemas bersandar pada lemari di belakangnya.
Kia merengkuh lututnya untuk menyembunyikan wajahnya, dia menangis di sana. Kia syok dengan apa yang baru saja ia alami, suaminya berubah menjadi seperti predator.
Satria menunduk ke bawah, melihat betapa ketakutannya istrinya itu akibat perlakuannya. Dia menjambak rambutnya sendiri, menyadari akan kegilaannya.
Satria pun berjongkok di depan Kia, mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh istrinya. Dia menyentuh bahu Kia yang nampak berguncang karena menangis. Namun, Kia langsung beringsut menggeser tubuhnya, kala tangan yang baru saja mencengkeramnya kembali menyentuhnya. Kia benar-benar takut.
"Maafkan aku," lirih Satria. "Maaf sudah membuatmu ketakutan," sambungnya masih dengan suara yang lirih.
Satria merengkuh Kia, meski Kia menunjukkan penolakan dengan tubuhnya. Satria tetap membawa tubuh Kia kedalam pelukannya, Dia mendekap erat tubuh Kia yang masih bergetar ketakutan. Dia mengecup pucuk kepala Kia dengan lembut.
"Maaf untuk semuanya, aku hanya takut kehilanganmu. Aku takut kamu meninggalkan aku untuk pria lain."
Kia hanya diam mendengarkan apa yang Satria ucapkan.
"Istri pertamaku, memilih mengkhianatiku dengan pria lain, dan itu membuatku takut kalau kau juga akan melakukan hal yang sama. Aku tidak ingin kehilanganmu, karena aku sudah lama menginginkanmu."
Apa yang pria ini ucapakan, apa aku salah dengar. Dia sudah lama menginginkanku, kita bahkan belum lama bertemu. Apa dia gila?
Satria kembali merengkuh Kia dalam dekapannya. "Ya, aku sudah lama menginginkanmu, dan kasus kakak mu hanyalah alasan agar aku bisa memiliki mu."
"Pertemuan pertama kita bukan di kantorku, tapi di rumah mu. Saat mendiang ayah mu masih ada. Saat itu untuk pertama kalinya aku terpesona padamu."
Kia melepaskan pelukan Satria, dan kembali menatap wajah pria di depannya itu.
"Apa kamu sedang mengarang cerita!" cibir Kia.
Satria tersenyum menyaksikan perubahan mimik wajah Kia. Belum lama tadi dia menangis ketakutan, sekarang sudah berubah kembali angkuh.
"Untuk apa aku mengarang cerita, aku bukan pria yang sembarangan memilih istri. Aku memilihmu karena aku sudah lama menginginkanmu. Kamu sungguh membuat ku terpesona saat itu, dan membuat ku berfikir kalau aku harus memiliki mu," jelas Satria.
__ADS_1
"Apa sekarang kamu yang berdrama?!"
"Apa yang harus ku buktikan jika aku benar-benar tak ingin kehilangan mu." Satria menatap lekat wajah Kia. Lalu pandangannya turun ke bawah, ke dada Kia yang hanya terbungkus bra.
Kia pun mengikuti kemana arah pandang suaminya itu. Karena cukup lama Satria tak mengalihkan pandangannya. Sadar akan bagian tubuhnya yang terbuka, Kia langsung menyilangkan tangannya di depan dada. Berusaha menutupi bagian yang sensitif untuk Satria lihat.
Mengabaikan pertanyaan Satria tadi, Kia langsung mendorong tubuh Satria hingga hampir terjengkang, dan bergegas berlari ke kamar mandi. Satri menyunggingkan senyumnya melihat raut malu di wajah istrinya.
Kia langsung menutup dan mengunci pintu kamar mandi begitu ia masuk. Ia memegangi dadanya, di mana jantungnya tiba-tiba berdegup di luar kebiasaan, seolah hampir keluar dari tempatnya. Kia menarik nafas dalam-dalam, berusaha menormalkan kembali ritme jantungnya yang abnormal.
Setelah merasa degup jantungnya kembali normal, Kia yang dari tadi berdiri bersandar pada pintu kamar mandi mulai melangkah mendekati wastafel. Dia melihat ke arah cermin, di mana bayangan dirinya menampilkan bibir yang bengkak akibat ulah sang suami.
Kia meraba bibirnya yang terasa perih.
"Auwww," Kia mengaduh sakit saat bibir bengkak itu ia sentuh.
"Dasar pria gila, bisa-bisanya dia menciumku paksa. Sakit banget lagi," gumam Kia. Kia kembali mengusap bibirnya lembut.
"Sembuh nggak ya besok pagi, bisa jadi trending topik nih di kampus kalau nggak normal ini bibir." Kia masih berbicara sendiri di depan cermin.
"Berasa di cium kudanil aja, sampai jontor ini bibir."
Kia masih mengusap-usap bibirnya yang bengkak, dan memikirkan kenapa Satria tiba-tiba bersikap kasar kepadanya. Apa Satria tahu kalau hari ini dia tidak datang bekerja dan berbohong padanya. Pria itu sungguh menyeramkan ketika marah.
"Kia, kamu baik-baik saja, kan? apa yang kamu lakukan di dalam?" teriak Satria yang baru saja mengetuk pintu kamar mandi.
Mendengar suara Satria, Kia jadi tersadar betapa lamanya ia di kamar mandi.
"Iya, aku baik-baik saja. Aku sedang mandi," jawab Kia dengan berteriak juga.
Tak ingin lebih lama lagi di kamar mandi Kia segera memulai aktifitas mandinya, agar suaminya itu tak kembali mengecek keadaannya.
__ADS_1