Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab. 69


__ADS_3

Setelah sedari tadi, Kia terlihat fokus pada ulang tahun Naya. Dirinya tersadar, kalau Hiro tidak ada lagi disampingnya. Dengan tergesa, Kia mencoba mencari Hiro. Disibaknya, keramaian pesta itu, untuk menemukan putranya. Hingga ia bertanya pada pelayan yang ia temui, adakah melihat Hiro.


"Maaf, apa anda melihat anak laki-laki yang tingginya segini." Kia menunjuk pinggulnya, kira-kira setinggi itu Hiro saat ini.


"Dia berlari keluar tadi," jawab seorang pelayan.


Segera, Kia pun berjalan keluar untuk menemukan Hiro. Sampai dipintu depan tidak nampak siapapun. Kia bertanya pada Security, yang akhirnya menjelaskan kalau Hiro sudah kembali ke dalam.


Ketakutan mulai Kia rasakan, kemana perginya Hiro. Kakinya seolah lemas, saat tidak menemukan Hiro. Tapi Kia tak ingin menyerah, dia kembali, mencoba lagi untuk mencari Hiro. Hingga langkahnya membawanya untuk berhenti dipinggir taman. Disitulah, Kia menangkap sosok anak kecil yang sedang menyendiri menatap langit malam. Hatinya mulai tenang, saat melihat Hiro sudah ia temukan. Dihampirinya Hiro.


"Hiro!" Panggilannya menyadarkan Hiro, yang sedari tadi menyendiri.


Kia duduk disamping Hiro, dan merentangkan tangannya agar Hiro mendekat. Dipeluknya dengan erat putra semata wayangnya.


"Kenapa kamu pergi?" Kia masih memeluk Hiro. "Mama takut, saat tahu kamu tidak disamping Mama," sambung Kia.


"Jangan pergi sendiri tanpa memberi tahu Mama."


"Apa mama akan sedih, jika Hiro sedih?"


Pertanyaan yang membuat Kia melepaskan pelukannya. Ditatapnya mata Hiro. "Apa kamu sedih?"


Hiro mengangguk.


"Apa Mama telah membuatmu sedih?"


Hiro kembali mengangguk.


Diraihnya lagi tubuh Hiro, didekapnya dengan erat, lebih erat dari sebelumnya. Kia menangis. "Maafkan, Mama. Yang tidak bisa memahami Hiro," lirih Kia dalam tangisnya.


"Bisakah kita kembali pada hidup kita yang dulu. Yang hanya ada kita. Hiro dan Mama."


Kia semakin menangis, dan semakin tak ingin melepaskan pelukannya. Ternyata, keinginan Kia agar Hiro bisa dekat dengan papanya, justru melukai bocah kecil itu. Kia tak memiliki niatan lain, selain agar Hiro mengenal papanya. Selama ini, Hiro tak pernah merasakan kasih sayang papanya. Dan Kia ingin Hiro merasakannya sekarang. Namun, semua keinginannya itu justru melukai Hiro.


"Kita tidak akan kembali." Kia memaksakan suara seraknya. "Kita akan memulai hidup baru kita. Hanya kita." sambung Kia menahan sesak didadanya.


"Apa kalian akan meninggalkan ku?" suara Satria membuat Kia dan Hiro mengurai pelukannya. Keduanya beralih menatap Satria.


Satria yang tadi melihat Kia pergi meninggalkan pesta, langsung mengikuti Kia. Dari tadi Satria berdiri dalam kegelapan, tak jauh dari tempat Kia dan Hiro. Hingga ia bisa mendengar semua percakapan Hiro dan Kia.


Satria mendekat, dia berjongkok di depan Hiro. Mengambil kedua tangan kecil itu, dan menggenggamnya erat. Dikecupnya tangan kecil itu bergantian, kanan dan kiri.


"Maafkan Papa, Hiro." Air mata Satria menetes pada tangan kecil dalam genggamannya. "Papa mohon, beri Papa kesempatan untuk jadi Papa yang baik untuk Hiro. Untuk bisa menjaga Hiro juga mama."

__ADS_1


Hiro terdiam dengan permintaan Satria, anak itu bingung harus menjawab apa. Disatu sisi, Hiro ingin bisa dekat dengan papanya. Dan sisi lain, Hiro tak bisa jika melihat papanya dengan Naya.


Tahu akan kebingungan Hiro, Kia mengajak Satria untuk berbicara berdua saja. "Bisa kita bicara berdua?" tanya Kia.


Kia berdiri, dan menjauh dari Hiro. Mau tidak mau, Satria mengikuti Kia. Mereka harus menjauh agar pembicaraannya tak terdengar oleh Hiro.


"Lepaskan aku," ucap Kia, tak ingin berlama-lama. "Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri dengan Hiro."


"Apa maksudmu?" Satria tahu benar maksud Kia, tapi tak memeprcayainya.


"Ceraikan aku, dan biarkan kami pergi."


Disaat itulah, gerimis mulai turun.


"Aku tidak akan melakukannya," tolak Satria. "Aku sudah bilang bukan, biarkan aku berusaha untuk pernikahan kita." kekeuh Satria.


"Tidak ada yang perlu dipertahankan, karena dari awal, cinta kita tidak sekuat yang kita bayangkan." Air mata Kia yang tadi sudah berhenti kini mulai menganak sungai kembali.


"Berikan aku kesempatan lagi," mohon Satria. Diapun mulai menangis.


"Aku mohon, demi Hiro." Kia benar-benar memelas. "Biarkan kami pergi." Air mata Kia makin tak terbendung, tak henti-hentinya mengalir.


Satria tidak tahan dengan permintaan Kia ini. Diapun memeluk Kia dengan erat. Namun Kia seolah mematung.


"Cukup aku jadi yang kedua, aku tidak ingin Hiro merasakannya," lirih Kia dalam dekapan Satria. Kia berusaha mematikan rasanya. Sesakit inikah mencintai, seolah harus menahan sembilu yang menyayat-nyayat hatinya.


"Dan berjanjilah, kamu tidak akan pernah mencari kami." ucap Kia, yang membuat Satria semakin erat memeluk Kia, rasanya dadanya yang tadi sudah sesak bertambah sesak. Tulangnya seolah akan remuk, saking kuatnya Satria memeluk tubuhnya.


"Jika Tuhan masih mentakdirkan kita untuk bersama, biarkan Tuhan mempertemukan kita dengan cara-Nya."


Satria melepaskan pelukannya. "Apa tidak ada pilihan lain selain perpisahan ini?"


Kia menggeleng keras. "Tolong aku, ini semua untuk Hiro."


Satria menunduk, dia terdiam dengan permintaan Kia.


gerimis yang tadi mulai turun, kini berubah jadi hujan. Langitpun seolah tahu, betapa pedihnya keputusan yang akan ia ambil ini.


"Baiklah." Satria berusaha menata hatinya. Mengumpulkan segenap kekuatannya untuk bisa mengucapkan kalimat perpisahan untuk Kia.


Hujanpun semakin deras, menjadi saksi perpisahan yang tak pernah Satria inginkan. Tapi inilah yang terbaik untuk saat ini, untuk Hiro, juga untuk Kia. Dia tak bisa egois, dengan menyakiti Hiro. Dan perpisahan ini, akan membuat Kia lebih mudah menjalani masa depannya, daripada hidup dengan status istri sirri.


Satria menarik nafasnya dalam. Memejamkan matanya, masih berharap semua ini hanya mimpi. Tapi tidak, rintik hujan menyadarkannya bahwa inilah kenyataan.

__ADS_1


Ditatapnya Kia dengan derai air mata. "Aku, Satria Anggar Buana, menjatuhkan talagh padamu Zakiya Alarice, mulai saat ini kamu bukan lagi istriku."


Kia tersenyum dengan menahan luka dihatinya. Sama seperti Satria, diapun tak mengingikan perpisahan ini, apalagi setelah enam tahun penantiannya. "Terima kasih, Mas." Panggilan yang selalu Satria inginkan sejak mereka menikah, dipanggil 'Mas' oleh Kia. Hari ini Kia wujudkan, dihari perpisahannya.


Kia pamit, meninggalkan Satria yang terpaku dalam dukanya.


"Kia, kamu tidak bisa melakukan ini?" Sarah mencegahnya, saat Kia akan pergi.


Sarah mendengar pembicaraan suami istri itu sejak tadi secara diam-diam. "Jangan buat aku semakin merasa bersalah."


"Aku sudah memaafkanmu, kamu bisa tenang. Karena semua ini terjadi bukan hanya karena kamu penyebabnya, tapi ... memang beginilah takdir yang harus aku jalani."


"Tidak Kia, ini tidak boleh terjadi. Aku mohon." Sarah masih berusaha agar Kia merubah keputusannya.


"Maaf, aku tidak bisa memenuhi keinginanmu untuk menjaga Naya. Berjuanglah untuk sembuh, dan besarkan Naya dengan cinta."


Kia tak lagi peduli dengan apapun permohonan Sarah, dia pergi menghampiri Hiro dan meninggalkan rumah penuh kenangan menyakitkan ini. Tak terhitung lagi banyaknya air mata yang ia tumpahkan hari ini. Tapi biarlah, karena setelah ini Kia harus menyongsong masa depan yang baru dengan Hiro.


Berdua ... hanya berdua.


Seperti yang Hiro inginkan.


.


.


.


.


.


.


.


Bagi penyuka sad ending, setuju nggak kalau ini endingnya???


Buat yang baca terima kasih atas dukungannya, jangan lupa


๐Ÿ‘ Like


๐Ÿ–Š๏ธKomen

__ADS_1


Mau ngasih vote juga boleh banget


Tengkyu๐Ÿ’“๐Ÿ’“๐Ÿ’“ sayang hee


__ADS_2