Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.41


__ADS_3

Keenan akhirnya dipindahkan ke ruang perawatan atas permintaan dari Kia, dan Satria yang akan bertanggung jawab atas biaya perawatannya. Pasalnya, Kia ingin perawatan yang terbaik untuk kakaknya. Dia lebih memilih menanggung biaya perawatannya sendiri.


Sementara itu, tadi sore Shila sudah pulang di jemput oleh supirnya. Kini, Kia sedang di kamar perawatan Keenan bersama suaminya. Tadi setelah pulang kantor Satria langsung menyusul Kia ke rumah sakit.


"Kita harus segera mendapatkan bukti untuk membebaskan kakakku, aku tidak mau dia semakin lama di sana," ucap Kia dalam dekapan Satria.


"Aku sedang berusaha."


"Satria." Kia melepaskan diri dari suaminya. Matanya menatap tajam mata di depannya. "Ayo kita berpisah."


Satria sontak tertegun dengan ucapan Kia yang tiba-tiba mengajaknya berpisah. "Aku tidak suka bercanda seperti itu," jawab Satria datar.


"Aku tidak bercanda. Jika kita berpisah, kakakku akan bebas, tanpa kita perlu bersusah payah mengumpulkan bukti. Dan teman-temanku juga akan aman."


"Kenapa kamu hanya memikirkan teman-temanmu, kenapa kamu tidak memikirkan perasaan ku juga! Aku mencintaimu, aku akan berusaha menyelesaikan semuanya."


"Apa waktu bisa menunggu hingga saat itu tiba? siapa yang akan menjamin tentang masa depan dan keselamatan kakak ku, juga teman-temanku?" mata Kia sudah berkaca-kaca.


"Perasaan kita belum terlalu jauh. Kita bisa memulai lagi hidup baru kita. Mungkin jodoh kita hanya sampai di sini," ucapnya dengan berat, tidak disangka perpisahanlah yang harus ia usulkan.


"Jangan bodoh dengan berpikir untuk berpisah dengan ku, selama aku masih menginginkanmu. Selama itu juga kamu akan tetap bersama ku!" jawab Satria tegas.


"Kalau begitu keluarkan Kakakku dari penjara, dan urus perceraianmu dengan Sarah!" Kia juga menjawab dengan nada sama.


Satria terdiam dan tertunduk.


"Tidak bisa bukan? akui saja, kalau kamu masih mencintainya! Itu akan membuat ku lebih mudah untuk pergi." Air mata yang tadi tertahan akhirnya lolos juga.


"Dari awal, aku tidak pernah ingin egois. Karena tujuan ku adalah membalas hutang budi ku pada keluarga Surya Atmadja, aku bahkan merelakan diriku untuk menjadi istri sirrimu hanya untuk tujuan itu." Kia mengalihkan pandangannya, tak sanggup jika harus menatap mata suaminya.


Satria yang dari tadi tertunduk mendengarkan Kia bicara, kali ini harus mengangkat kepalanya. Dia menatap Kia yang tak menatapnya. "Apa hanya sebatas itu arti pernikahan kita bagi mu? tidakkah tumbuh sedikit cinta selama kita bersama?"

__ADS_1


Kia menggeleng. Tentu saja ia berbohong!


Dan Satria hanya tersenyum getir, tak ingin lagi melanjutkan pembicaraan ini. Dia langsung bangkit dan pergi meninggalkan Kia sendiri di kamar rumah sakit.


Kia pun membiarkan saja Satria pergi tanpa ingin menatapnya. Mungkin suaminya butuh waktu untuk mengambil keputusan, Satria bukan orang yang impulsif, dia selalu memikirkan tentang baik buruknya langkah yang ia akan ambil.


Kia menangis. Tangis yang tak bisa ia suarakan, dan hal itu membuat dadanya semakin sesak. Ini masalah pertama dalam rumah tangganya. Dan dia memilih menyerah pada ujian pertamanya.


Kia ingin sekali meraung melampiaskan tangisnya, kala masa-masa yang ia lalui bersama Satria terlintas dalam ingatannya. Bak film yang diputar, Kia ingat dengan jelas setiap adegannya. Bagaimana pertama kali ia bertemu suaminya, perasaan saat untuk pertama kalinya tinggal bersama, hari pernikahannya, ciuman pertamanya, bahkan, sampai tadi pagi mereka masih menikmati hubungan mereka sebagai suami istri. Semua memori itu terekam jelas dalam otaknya. Kia membekap mulutnya sendiri agar suara tangisnya tak lolos terdengar.


Cinta?


Sampai sekarang, Kia masih belum sadar apakah perasaan ini bisa disebut cinta. Namun, membayangkan perpisahan serasa menyakitkan baginya. Dia terus menangis dalam kesendiriannya. Tidak disangkanya, pernikahan yang baru seumur jagung itu harus kandas.


.


.


.


Kia membuka pintu rumahnya, terasa gelap dan sepi. Satria mungkin tidak pulang kemarin. Kia duduk sebentar di tepi ranjang. Dia menoleh, melihat ranjang yang masih berantakan. Karena, saat kemarin dia pergi, dia belum sempat merapikannya. Kia mengusap wajahnya kasar, berusaha untuk tidak kembali menangis.


Diapun segera menyiapkan dirinya untuk ke kampus.


🍁🍁🍁🍁


Satria melempar sebuah map di depan Sarah. Sarah hanya menatap sinis map di depannya, tanpa ingin bertanya. Karena Sarah sudah menduga apa isi dari map itu.


"Tanda tangani surat cerai itu!" ucap Satria dingin.


"Untuk apa aku harus menandatangani surat itu? Karena tidak lama lagi kamu akan kembali menikahi ku," jawab Sarah dengan percaya diri.

__ADS_1


"Jangan pernah bermimpi!"


"Kamu yang bermimpi, untuk bisa berpisah dengan ku!" Sarah menyeringai. "Kamu tidak akan pernah beranjak dari sisiku, jadi jangan bermimpi untuk meninggalkanku!"


"SARAH!!!" pekik Satria. "Aku sudah muak dengan sikapmu, jadi jangan paksa aku berlaku kasar!"


"Apa! apa yang akan kamu lakukan? mencekikku, menyakitiku, atau ingin membunuhku. Kamu tidak akan pernah bisa melakukannya!" Sarah kembali tersenyum angkuh.


"Kamu tahu kenapa ... karena kamu hanya seorang pelayan yang rela mati untuk tuannya, kamu adalah PECUNDANG!"


"SARAH!!!" Satria mengangkat tangannya yang ia arahkan ke pipi Sarah, namun dia berhenti ketika melihat Aditya datang.


"Ayo, kamu mau menamparku bukan? tampar aku!" teriak Sarah menantang.


"SARAH!!!" teriak Aditya. Dengan cepat Aditya berjalan menghampiri putrinya itu dan langsung menampar Sarah dengan keras.


Sarah memegangi pipinya yang terasa panas akibat tamparan sang Papa. "Apa yang Papa lakukan?" tanya Sarah bingung dengan tindakan papanya.


"Jaga bicaramu! Satria adalah suamimu, dia bukan pelayanmu! Minta maaf ... minta maaflah pada Satria!!!" titah Aditya.


Sarah menatap marah pada Satria juga Papanya. Dia tidak menuruti perintah Aditya, Sarah justru pergi meninggalkan Satria, juga Aditya dengan marah.


"Maafkan Sarah, Satria. Kamu tahu bukan kalau dia tidak ingin berpisah denganmu."


"Anda tahu soal permasalahan kami, tapi kenapa anda diam. Saya tidak bisa lagi bertahan dengan Sarah."


"Kenapa tidak bisa?" Aditya tersenyum tipis. "Kamu adalah menantuku, dan selamanya status itu akan sama. Jangan buat orang tuamu bersedih karena kamu tidak bisa memenuhi janjinya untuk membahagiakan aku dan Sarah."


"Nikahi Sarah, lagi!"


Aditya pun berlalu dari Satria. Meninggalkan Satria dalam kebisuannya. Ini bukan sekedar permintaan, tapi perintah yang terselip ancaman di dalamnya. Satria tahu benar, siapa mertuanya itu, dan apa saja yang bisa Aditya perbuat untuk memenuhi keinginannya.

__ADS_1


Keenan salah satu buktinya, dia bahkan menyakiti orang lain untuk menekan Kia agar meninggalkannya. Dia memang terikat janji pada orang tuanya, janji yang dulu dia ucapkan dengan yakin. Sekarang janji itu justru jadi ujian untuknya.


__ADS_2