Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.87


__ADS_3

"Papa!" Naya menyambut Satria yang baru tiba di bandara.


Seperti biasanya, Satria pun membalas senyum manis Naya dengan pelukan hangat.


"Papa ikut Naya, kan?" tanya Naya lugu.


Satria tak mengiyakan, tapi tidak juga membantah. Dia hanya memberikan senyumnya pada gadis kecilnya.


"Naya ingin kita bersama-sama lagi, meskipun mama sudah tidak ada, Naya ingin ikut Papa."


"Naya, putri Papa yang cantik. Dimana pun kita nanti, entah bersama atau pun tidak. Naya harus selalu yakin, kalau Papa sayang sama Naya." Satria memberikan pemahaman pada Naya.


"Iya, Pa." Naya mengangguk paham.


"Papa bicara sama opa dulu, ya?"


Naya kembali mengangguk. Sebelum pergi, Satria mencium kedua pipi Naya, juga keningnya. Ada rasa tidak rela, dengan apa yang akan ia lakukan. Satria sadar benar, siapa Naya. Meski bukan darah dagingnya, tapi merawatnya dari bayi, membentuk ikatan batin tersendiri antara dirinya dan Naya.


"Apa lagi yang Anda inginkan?" tanya Satria, tak ingin berbasa-basi dengan Aditya Wilmar.


Saat ini mereka sedang berada di ruang tunggu VIP.


"Ikut kami kembali ke Jakarta, dan menjadi papanya Naya selamanya."


"Sampai kapan pun, saya tetap akan menjadi papanya Naya, meskipun kami tidak bisa tinggal bersama. Lagi pula, kenapa Anda masih saja menyembunyikan kebenaran ini pada papa kandung Naya. Saya rasa dia berhak tahu tentang Naya."


"Aku tudak suka, pria berengsek itu menjadi ayah dari cucuku. Aku hanya ingin kamu yang menjadi papanya Naya, karena kamu adalah menantu ku."


"Maafkan saya kali ini, saya tidak bisa lagi memenuhi keinginan Anda. Karena saya punya keluarga yang harus saya perjuangkan."


Aditya tak suka dengan apa yang Satria ucapkan. "Kamu sangat mengenal ku, bukan? Aku akan dapatkan apa yang aku mau."


"Dan saya juga tahu, bukti apa yang bisa membawa Anda untuk tidak bisa lagi bertemu dengan Naya." balas Satria tegas.


Satria mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan bukti-bukti kejahatan yang dilakukan Aditya.


"Jika saya membongkar semua ini, bukan hanya bisnis dan nama baik Anda saja yang akan hancur. Tapi, selamanya Anda tidak akan lagi bisa melihat Naya!" ancam Satria.


"SATRIA!!!" Aditya menggeram, melihat bukti-bukti yang akan menghancurkan dirinya. Itu pun diperlihatkan oleh menantu kesayangannya.


"Maafkan, saya. Tapi ini saya lakukan untuk melindungi anak saya. Sama seperti Anda yang begitu sayang dengan Sarah, dan bisa berlaku apapun untuk membuatnya bahagia. Seperti itu juga yang akan saya lakukan untuk melindungi anak saya." Satria menatap Aditya yang masih terlihat murka, tanpa takut sedikit pun.


"Terima kasih, untuk semua yang telah Anda lakukan untuk saya dan keluarga saya. Saya tahu, hutang budi saya tidak akan bisa saya lunasi. Tapi, saya sudah berusaha semampu saya. Dan sekarang, tolong bebaskan saya."


Satria masih berbicara dengan nada sehalus mungkin. Karena bagaimana pun, rasa hormatnya pada Aditya masih ia jaga.


"Jangan pernah mengusik anak saya, apalagi berniat untuk mencelakainya. Saya tidak akan sebaik saat ini, jika Anda mengulanginya." Satria langsung pergi meninggalkan ruang tunggu itu.


Naya yang melihat papanya pergi begitu saja tanpa mengajaknya, langsung berlari berusaha mengejar. "Papa ... tunggu Naya!" panggilnya.

__ADS_1


"Papa ...!" Naya menangis, meraung, saat Aditya memerintahkan anak buahnya untuk menahan Naya. Panggilan untuk Satria terus Naya suarakan, berharap Satria membawanya serta.


Satria terus berjalan, membuat telinganya tuli akan teriakan Naya. Berusaha mematikan rasa dalam hatinya.


"Maafkan Papa, Naya." batinnya bersuara. Dia harus tega saat ini. Karena dia tak ingin lagi mengorbankan Hiro.


"Papa ...." lirih Naya dalam tangisnya.


Hati Aditya seolah hancur, melihat Naya yang meraung. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk mewujudkan keinginan Naya. Dengan memaksa, Aditya membawa Naya kembali dari Bali.


.


.


.


.


.


Hari sudah malam, restoran pun sudah tutup. Satria tetap datang melihat restoran yang hampir selalu ia datangi. Untuk sekedar melihat dari kejauhan, orang yang ia sayang.


Satria berdiam di dalam mobil, cukup lama. Dia tak berani turun, karena rasa bersalahnya pada Kia dan Hiro. Karena dirinya lah, hari ini Hiro dalam bahaya. Dia ingin meminta maaf, tapi sebelumnya dia harus menguatkan hatinya. Jikalau, Hiro menolaknya.


Satria tergeragap, saat ada yang mengetuk kaca mobilnya. Dia pun langsung keluar.


Anak itu diam saja meski namanya disebut. Hiro lantas menggandeng Satria, membawanya masuk ke restoran.


"Satria," pekik Kia. Langsung menghambur memeluk Satria saat melihat seseorang yang dibawa Hiro.


Kia menumpahkan tangisnya, dalam dekapan Satria.


Marvin yang masih ada di sana, sejak mengantar Hiro dan Kia, hanya bisa pasrah melihat Kia yang masih mencintai Satria. Semua terlihat jelas di mata Kia.


"Sampai kapan kamu akan menangis? apa kamu tidak malu dengan Hiro dan Marvin?" goda Satria, menyadarkan.


Seketika Kia melepas pelukannya, dan mengusap air matanya. Dia menatap malu pada Hiro dan Marvin. Dia menangis, sampai lupa kalau ada orang lain selain dirinya dan Satria.


"Maafin Mama, sayang." Kia menatap Hiro.


"Apa Papa tidak akan pergi bersama Naya?"


Satria menggeleng.


"Akan di sini, dan menemani Hiro?"


"Iya." Satria mengangguk yakin.


"Janji."

__ADS_1


"Janji ... Papa janji."


Hiro memeluk Satria. Tidak seperti saat Kia memeluknya tadi, kali ini Satria justru canggung saat Hiro memeluknya.


"Berjanjilah, kalau Papa akan menyayangi Hiro lebih dari Naya." ucap Hiro.


"Maafkan Papa, Hiro. Karena Papa, Hiro harus diculik. Papa sayang sama Hiro, Papa akan berusaha menjadi papa terbaik buat Hiro."


Satria melepaskan pelukan Hiro. Dia menatap Kia serius.


"Aku tidak bisa jika harus seromantis Marvin. Tapi, aku ingin kita bisa menua bersama, saling menjaga di sisa usia kita. Mendidik Hiro bersama-sama," ucap Satria pada Kia.


Ini adalah lamarannya untuk Kia. Tidak ada romantis-romantisnya. Tapi ini lebih baik, dari pada dulu, waktu ia meminta Kia untuk jadi istrinya pertama kali.


Kia tersenyum haru, ia menatap Hiro. Meminta persetujuan dari anaknya itu.


Hiro memberikan jawabannya melalui senyuman dan anggukannya.


Kia pun tak tahan untuk memeluk Satria, lagi.


"Kamu belum menjawab lamaran ku." Satria melepas pelukan Kia.


Mereka saling menatap. "Jadi apa jawaban mu?" tanya Satria.


Bukan menjawab dengan kata, Kia lagi-lagi memeluk Satria.


"Kalau kamu diam, aku anggap pelukan ini sebagai persetujuan."


Kia tak peduli dengan apa yang dikatakan Satria, karena saat ini dia sangat bahagia. Dia kembali lagi dengan cintanya.


Satria melihat Hiro yang terus memperhatikan kedua orang tuanya. "Kemarilah." ajak Satria.


Mereka bertiga berpelukan dalam kebahagiaan. Yang disaksikan oleh Marvin. Ditahannya perasaaannya yang hancur, saat harus melihat orang yang dicintainya berpelukan dengan orang lain. Terlebih, wanita itu belum lama menolak lamarannya. Sekarang dia harus menyaksikan wanita yang dicintainya menerima lamaran pria lain.


Diam-diam, Marvin meninggalkan mereka bertiga yang larut dalam kebahagiaan


.


.


.


.


.


.


Tengkyu💓💓💓sayang hee

__ADS_1


__ADS_2