Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.17


__ADS_3

Pagi harinya Kia kembali berangkat ke kampus diantarkan oleh suaminya. Kia biasa berhenti lumayan jauh dari kampus, itu semua untuk menyembunyikan statusnya. Hari ini, Shila sudah menunggu di mobil dengan supirnya. Kia beralih dari mobil Satria menuju mobil Shila.


"Kenapa bibir kamu?" tanya Shila begitu Kia masuk ke dalam mobil.


"Digigit kudanil," jawab Kia asal.


Shila yang tahu maksud dari sahabatnya itu langsung tertawa keras. "Serius, kudanil?! tapi kalau kudanilnya macam Pak Satria pasti nggak bisa nolak," cibir Shila.


Kia langsung menepuk paha Shila keras hingga Shila mengaduh, dan berganti Kia yang mentertawakan kesakitan Shila.


"Teman nggak nggak ada akhlak!" gerutu Shila.


Tak lama, mobil Shila pun sudah sampai di area kampus dan kedua sahabat itu segera turun. Mereka berjalan menuju gedung fakultasnya.


"Mau kabur lagi hari ini?" tanya Shila saat sampai di kelas mereka.


"Enggak." Kia meletakkan tasnya di meja dan segera duduk bersebelahan dengan Shila.


"Udah ketahuan?" tebak Shila.


Kia mengangguk lemas, mengiyakan pertanyaan Shila.


"Apa dia memata-matai mu?" tebak Shila lagi, mengingat siapa suami dari sahabatnya ini. Tak mungkin kalau dia akan membiarkan Kia bebas tanpa pengawasan.


"Jadi kamu akan kembali bekerja nanti?"


Lagi-lagi Kia mengangguk malas. "Aku tak punya pilihan, dia benar-benar ingin aku bekerja di sana sebagai dishwasher. Mungkin dia ingin menyiksaku."


Shila berpikir tentang apa yang Kia ucapkan tentang suaminya. "Kurasa tidak," ucap Shila kemudian.


"Kurasa dia punya tujuan tertentu hingga ingin sekali kamu bekerja di sana." sambung Shila.


"Ya, dia bilang dia ingin aku punya teman baru dan pengalaman baru," jawab Kia polos.


"Tidak, menurut ku ada misi saat dia menyuruhmu untuk bekerja di sana."


Kia langsung memperhatikan Shila dengan serius. "Misi apa maksud mu?"


"Entahlah." Shila mengangkat kedua bahunya.


"Misi yang hanya dia yang tahu, tapi kurasa kamu harus melakukan apa yang dia perintahkan. Dengan begitu kamu akan tahu apa misinya," jelas Shila.

__ADS_1


"Apa ini permainan detektif?" sindir Kia pada temannya yang sangat suka kisah tentang detektif.


"Mungkin saja, mengingat siapa dan apa profesi dia."


"Tapi, misi macam apa yang dilakukan seorang dishwasher?"


"Aku juga tidak tahu, tapi menurut ku nikmati saja pekerjaanmu sebagai dishwasher."


"Kenapa kamu berpikir begitu? kebanyakan baca komik detektif conan kamu tuh," cela Kia.


"Just feeling."


Kia memikirkan perkataan Shila. Selain cantik, temannya ini termasuk mahasiswi yang cerdas. Ditambah lagi hobinya yang suka membaca kisah detektif conan. Mungkin benar kata Shila, bahwa Satria suaminya memiliki tujuan tertentu kenapa dia menyuruh Kia bekerja di sana. Satria tidak pernah bilang apa alasannya menyuruh Kia bekerja, tapi dia selalu berlindung pada kalimat bahwa dia adalah suami Kia, dan Kia harus patuh pada perintah suami.


Sore hari, seperti yang kemarin Satria bilang, Pak Hamid supir pribadi Satria sudah datang menjemput Kia untuk langsung mengantar Kia ke restoran tempatnya bekerja.


Sesampainya di restoran, Kia langsung menuju tempat ganti dan meletakkan tasnya di locker yang kemarin sudah ditunjukkan oleh Beny, si leader. Kia juga mengganti bajunya dengan seragam dishwasher ala restoran tempatnya bekerja.


Setelahnya Kia menuju tempatnya bekerja, di sana sudah ada Rena dan juga Beny yang sedang sibuk mencuci piring.


"Selamat sore, apa aku terlambat?" sapa Kia pada kedua teman barunya.


Beny menoleh dengan raut yang nampak marah. "Jam berapa sekarang? masih berani bertanya apa kamu terlambat atau tidak. Aku akan melaporkan mu pada manager agar gajimu dipotong!" ancam Beny.


Dia langsung mengambil alih pekerjaan Beny dan membiarkan leadernya itu istirahat sebentar.


"Hai, apa kabar?" sapa Kia pada Rena yang dari tadi hanya diam mendengar Beny dan Kia berbicara.


"Baik," jawab Rena lugas tanpa menoleh pada Kia apalagi menghentikan aktifitasnya.


Rena selalu diam sepanjang bekerja, dia tidak bicara jika tidak ditanya. Rena pun menjawab hanya sekedarnya saja.


Saat mereka sedang beristirahat dan Rena berada di toilet, Kia memberanikan diri bertanya pada Beny tentang Rena.


"Ben, kamu sudah lama bekerja disini?" tanya Kia.


"Babe, just call me babe," sela Beny.


"Iya--iya, Babe, kamu sudah lama kerja di sini?" ulang Kia.


"Kenapa?" Beny mengambil cemilan yang ada di meja, yang ia bawa entah dari mana.

__ADS_1


"Hanya ingin tahu pengalaman kerjamu, kenapa kamu bisa mahir dalam mencuci piring." Kia berusaha memuji Beny.


Menurut pengalaman Kia, tipe orang seperti Beny lebih senang jika dipuji. Namun, pujian Kia bukannya tidak berdasar, Beny benar-benar mahir dalam mencuci piring.


"Aku sudah lima tahun bekerja di restoran ini sebagai dishwasher. Hal itu membuat ku jadi terampil dalam hal mencuci piring. Kenapa, apa kamu mau minta diajari?" jawab Beny membanggakan dirinya sendiri.


"Tentu saja aku harus belajar, agar aku tidak memecahkan piring lagi. Aku tidak mau gajiku dipotong karena aku sering memecahkan piring."


Beny terus saja makan mendengar Kia berbicara.


"Apa Rena juga sudah lama bekerja di sini?"


"Lumayan, sudah hampir satu tahun Rena di sini."


"Kenapa dia tidak pernah bicara pada ku, apa dia tidak suka dengan kehadiran ku di sini?"


"Kurasa bukan itu, karena sebelum ada kamu, Rena sudah berubah menjadi gadis pendiam. Aku juga tidak tahu apa penyebabnya. Padahal sebelumnya dia gadis yang ramah dan ceria, tapi sekarang dia jadi gadis pendiam."


"Apa kamu pernah mencari tahu apa penyebab Rena berubah? apa mungkin dia putus cinta?"


"Itu tidak mungkin, dia tidak punya pacar sama sekali."


"Lalu kenapa dia bisa berubah? apa dia ...." Belum selesai dengan kalimatnya Kia sudah melihat Rena kembali dari toilet, hingga ia menghentikan perkataannya. Tidak enak bukan jika dia ketahuan sedang membicarakan Rena di belakang.


Kia pun berpura-pura bersikap biasa saja, tidak ingin menyinggung soal Rena. Hingga jam bekerjanya habis, Kia dan Rena hanya diam tanpa bicara dan fokus pada piring yang ada di tangan mereka.


"Aku pulang dulu, ya," pamit Kia yang diangguki oleh Beny dan Rena. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, Kia berjalan sebentar ke arah perempatan jalan di mana pak Hamid sudah menunggunya.


Sampai di rumah, keadaan masih gelap. Mungkin Satria belum pulang. Kia langsung menuju ke kamarnya, dan membersihkan diri sebelum tidur.


Kia membuka ponselnya saat ia sudah naik ke atas ranjang. Ada pesan dari Satria bahwa malam ini ia tidak pulang ke rumah yang ia tempati bersama Kia, tapi dia pulang ke rumah istri pertamanya.


Kia langsung meletakkan ponselnya di nakas, dan mulai menarik selimut. Kia menatap langit-langit kamarnya, entah kenapa tak ada pria itu rasanya sepi sekali. Biasanya sebelum tidur, ada saja yang mereka ributkan.


Kia tak bisa memejamkan mata, apalagi saat pesan Satria yang mengatakan kalau istri pertamanya itu sudah pulang tadi siang, dan meminta Satria untuk menemuinya. Pikiran Kia tentang sepasang suami istri yang sudah lama tidak berjumpa, dan akan menghabiskan malam bersama membuat Kia semakin gelisah.


Ada rasa aneh di dadanya kala membayangkan adegan rindu yang terpendam.


"Ish ... Kia, please jangan mikir yang engak-enggak. Mereka suami istri, wajar saja jika mereka melepas rindu. Lagi pula kamu sendiri tidak mau memberikan haknya sebagai suami. Kamu tak pantas disebut istri," rutuk Kia dalam hati.


Kia semakin gelisah saat malam yang hampir masuk waktu pagi tak membuat matanya terpejam juga. Dia memutar tubuhnya, menatap ke samping di mana malam sebelumnya Satria tidur di sampingnya. Dia meraba seprai yang kosong itu, lalu berpikir tentang apa yang dilakukan suaminya itu saat ini, yang tengah berdua dengan istri pertamanya.

__ADS_1


Kia menarik selimutnya hingga kepala, membungkus seluruh tubuhnya. Berharap ia tak lagi berpikir macam-macam dan segera tidur.


__ADS_2