Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.55


__ADS_3

Satu bulan sudah Naya, bersekolah di sekolah yang sama dengan Hiro. Banyak sisi positif yang Hiro dapatkan sejak berteman dengan Naya. Anak itu lebih bisa mengontrol dirinya, saat menghadapi celaan dari temannya. Naya selalu berhasil menenangkan Hiro agar tidak meladeni bullyan dari Vano.


Hampir setiap hari, Naya ikut Hiro pergi ke restoran milik Kia. Terkadang, Kia juga mengajak Naya pergi jalan-jalan di hari libur. Tentu saja atas seijin dari Opa-nya Naya. Meskipun sampai sekarang, Kia belum pernah sekalipun bertemu dengan Opa ataupun orang tua Naya. Ijinnya hanya diwakilkan lewat pengasuh, dan juga body guard Naya.


Bagi Kia tidak masalah jika harus mengajak Naya berlibur. Karena Hiro juga suka bila ada teman bersamanya. Dari hari ke hari, Naya semakin dekat dengan Kia. Begitupun dengan Hiro, usia mereka yang hanya terpaut dua bulan, membuat dua anak kecil itu lebih cepat akrab.


Seperti hari ini, selepas pulang sekolah, Naya mengatakan keinginannya untuk bisa mampir ke kedai ice cream langganan Hiro. Tempatnya berada di sebuah pusat perbelanjaan.


"Yakin mau ke kedai ice cream?" tanya Kia.


Naya mengangguk yakin.


"Ok, sekarang Naya ijin dulu ya sama Opa."


"Ok, Tante." Naya menghampiri pengasuhnya, dan memintanya untuk menghubungi Opanya, sebab Naya ingin meminta ijin.


Setelah pengasuhnya menghubungkan panggilan untuk Opanya, dan Naya mendapatkan ijinnya, Kia menggandeng tangan Hiro dan Naya di sisi kiri dan kanannya. Mereka berjalan ke parkiran, di mana mobil Kia tadi terparkir.


"KANAYA!" Seru seorang wanita berparas cantik dan berpenampilan anggun.


Terlihat raut Naya yang begitu berbinar saat menatap wanita yang baru saja menyebut namanya. Berbeda dengan Naya, Kia justru terperangah dengan sosok yang berdiri tak jauh dihadapannya.


Naya melepaskan tangan Kia, gadis kecil itu berlari dengan semangat menghampiri wanita cantik itu. "MAMA ...," teriak Naya dengan antusias.


Wanita cantik itu berjongkok dan merentangkan tangannya untuk bisa menangkap gadis kecil yang tengah berlari ke arahnya.


"Mama," lirih Naya dalam dekapan wanita yang ia sebut 'mama'.


"I miss you, Sweety."


"I miss yo too, Mom." Naya makin erat memeluk mamanya.


Sebuah pemandangan yang dramatis, layaknya adegan dalam film. Di mana, kisah seorang anak yang lama tak berjumpa dengan ibunya. Hiro mendongak, menatap Mamanya yang masih terpaku dengan pemandangan di depannya.


Batin Kia berkecamuk, menilai rasa dalam hatinya. Perasaan apa ini, sudah lama sekali tak ia rasakan. Bahkan ia sudah lupa dengan rasa seperti ini. Rasa yang begitu menyiksa, dan serasa hampir mencekiknya.


Panggilan Naya pada wanita yang ia kenali sungguh memilukan untuk ia dengar. Sarah dan Satria, mereka memiliki seorang putri?


Anak perempuan yang bahkan setiap harinya selalu bersamanya.


Kenapa harus seperti ini takdir hidupnya. Saat ia sudah memilih untuk pergi. Saat Kia dengan berat hati harus merelakan masa depannya dan juga anaknya. Di saat ia sudah mulai meyakinkan dirinya, bahwa hanya ada dirinya dan Hiro yang saling memiliki.


Kenapa di saat seperti ini, Tuhan justru mempertemukan lagi dia dengan penyebab rasa sakitnya.


Ada apa dengan semua ini, Tuhan?


Akankah, sekali lagi kebahagiaan akan Kau ambil dari ku?

__ADS_1


Rasanya ingin sekali, Kia meneriakkan tanya dalam hatinya.


Tapi, siapa dia?


Kia, hanyalah seorang hamba, yang tidak pantas mempertanyakan keputusan Sang Pencipta, apalagi berprasangka tidak baik.


Demi memuaskan rasa yang bergejolak dalam hatinya, Kia memilih untuk bersabar. Tidak ada yang tidak bisa ia lalui, karena setiap perjalanan sudah diatur oleh Sang Maha Pengatur. Itulah yang Kia yakini.


Dengan rasa sakit yang kini kembali terusik, Kia membawa Hiro pergi dari hadapan Sarah.


"Tunggu!" sergah Sarah sebelum Kia dan Hiro semakin jauh. Dengan sedikit berlari, Sarah menggandeng tangan Naya, menghampiri Kia dan Hiro.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Sarah setelah berhasil menyusul Kia.


"Baik," jawab Kia canggung.


"Ma, ini tante Kia dan ini Hiro." Naya mencoba memperkenalkan Kia juga Hiro, dengan menunjuk satu persatu dari mereka kepada Sarah.


Sarah tersenyum ramah pada Hiro. "Halo, kamu tampan sekali," ucap Sarah seraya melambaikan tangannya.


Hal itu dibalas Hiro dengan senyum malu-malunya.


"Ma ... Naya, Hiro, juga tante Kia mau pergi makan ice cream di tempat favorit kami. Mama, mau ikut?" tawar Naya.


"Apa temanmu mengijinkan?" Sarah melirik Hiro.


"I-iya," Hiro mendongak, meminta persetujuan Mamanya.


"Maaf, tapi aku sedang ada urusan, jadi kami tidak bisa ikut," tolak Kia.


Hiro langsung terlihat kecewa.


"Tapi, tante tadi sudah janji akan mengajak Naya makan ice cream," rengek Naya.


"Sayang, sekarang sudah ada Mama kamu, jadi, Naya makan ice creamnya sama Mama dulu, ya," bujuk Kia halus.


"Tadi tante sudah janji, ayo dong tante, jangan menolak." Naya masih merengek.


"Sayang ... Tante Kia sedang sibuk. Lain kali saja ya makan ice craem sama tante Kia." Sarah pun ikut membujuk Naya.


Tapi hasilnya, tetap Naya yang menang.


Tak ada pilihan lain, selain mengikuti Naya di kedai ini. Hiro dan Naya sangat menikmati ice cream mereka, semua bisa terlihat dari ekspresi yang ditampilkan kedua bocah itu. Mereka saling bercerita tentang ice cream pesanan mereka, bahkan saling bertukar ice cream untuk saling mencicipi.


Diantara kedua bocah yang tengah asyik menikmati ice cream sembari mengobrol, ada dua ibu yang dari tadi merasa canggung satu sama lain. Kia, hanya bisa menunduk saja, dan sesekali mengusap lembut rambut Hiro yang mulai panjang, tanpa ingin menatap wajah cantik dihadapannya. Kalau bisa, ingin sekali Kia menghilang di situasi seperti ini.


Sementara Sarah, dia berpura- pura sibuk dengan ponselnya, dan sesekali juga menjawab celotehan Naya. Tak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Sejak mereka memasuki pusat perbelanjaan ini, hingga akhirnya duduk berhadapan di kedai ice cream. Mungkin diantara keduanya bingung dan canggung, harus memulai dari mana pembicaraan mereka. Sebab hubungan mereka terlalu rumit untuk dibicarakan.

__ADS_1


"Ma, aku sudah menghabiskan ice creamnya, bolehkah aku main sebentar sebelum kita pulang?" ucap Naya meminta ijin.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama, ya. Mbak sumi akan menjaga kamu."


Naya mengangguk dengan persyaratan yang diajukan Mamanya.


Hiro menatap Kia dengan raut memohon. "Apa Hiro boleh ikut?" tanya Hiro ragu-ragu.


"Tentu saja. Boleh kan, Tante?" sahut Naya, sebelum Kia menjawab pertanyaan Hiro.


Sebenarnya Kia sudah ingin pulang, tapi tak bisa juga bila harus menolak Naya. Anggukan lah yang menjadi jawaban dari Kia.


Naya segera menarik tangan Hiro, dan disusul pengasuh serta body guard Naya. Mereka berlari menuju arena bermain.


Kini, tinggal Kia dan Sarah. Berdua. Entah apa yang akan terjadi saat alasan kebungkaman mereka telah pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Mohon dukungannya ya readers terZEYENG....


JANGAN LUPA!!!


👍Like


❤️Favorite


🖊️Komen


Vote-nya aku harapkan juga lho....😁😁😁


Tengkyu💓💓💓sayang hee

__ADS_1


__ADS_2