Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.6


__ADS_3

Kia membuka pintu setelah mendengar bunyi bel di apartemen Satria. Sebelumnya, ia sudah memastikan siapa yang datang bertamu malam-malam begini. Pasalnya ini sudah lewat dari jam sembilan malam. Tentu saja Kia harus memastikan tamu yang datang, dan ternyata, tamu itu adalah si pemilik apartemen, Satria.


Satria memberikan tas kerjanya pada Kia begitu Kia membuka pintu, ia sendiri langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Kia yang masih terdiam di tempatnya, memandangi punggung Satria.


Kia berdecap kesal melihat tas yang ada di tangannya. "Dia pikir aku ini siapa, enak saja menyuruhku membawa tasnya," gerutu Kia.


Tak urung dibawa juga tas itu ke kamar pemiliknya. Kia meletakkannya di atas sofa. Dan Kia sendiri kembali duduk bersandar di ranjang untuk melanjutkan acara menonton TV yang sempat tertunda karena harus membuka pintu.


Satria yang baru keluar dari kamar mandi, melihat Kia duduk berselonjor kaki, hanya menggunakan kemejanya yang nampak kedodoran. Ia langsung mengambil selimut dan melemparnya ke paha Kia.


Kia mendelik kaget, tiba-tiba dilempar selimut oleh pria yang jadi calon suaminya ini.


"Tutupi paha mu dengan selimut itu, kalau kamu ingin aman," ucap Satria agar Kia tak salah paham dengan sikapnya yang tiba-tiba melempar selimut. "Kecuali, kalau kamu ingin malam pertama kita dipercepat malam ini," sarkasnya.


Kia mendengkus kesal mendengar ejekan Satria. Ditariknya selimut itu sampai ke pinggang, agar semua bagian bawah tubuhnya tertutup.


"Mau kemana?" tanya Kia saat Satria mengambil bantal di sampingnya.


"Tidur di sofa," jawabnya sambil lalu.


Kia tak lagi mengajak Satria berbicara, karena Kia tahu Satria butuh istirahat. Hingga pagi menjelang, mereka tidur di tempat terpisah. Kia di ranjang, dan Satria di sofa.


Kia berdiri di depan kitchen set , sedang membuat teh. Satria yang baru saja bangun tidur, terpesona dengan pemandangan indah di depannya. Calon istrinya ini memiliki tubuh yang proposional, bisa dibilang sexy. Apalagi saat ini, saat Kia hanya mengenakan kemeja milik Satria. Yang kebesaran saat dikenakan Kia. Kia menggulung lengan kemeja itu sampai ke siku, dan paha mulus yang terpampang, menambah kesan sexy pada diri Kia.


Satria harus bersabar dengan pemandangan ini, karena Kia belum sah menjadi istrinya.


"Sedang apa kamu disitu!" tanya Kia yang melihat Satria seolah tak berkedip menatapnya. "Apa aku begitu mempesona, hingga biji mata mu hampir keluar saat menatap ku," cibir Kia.


Satria memutar bola matanya malas mendengar cibiran Kia.


"Buatkan aku kopi," ucap Satria lalu menunggu di meja makan.


Kia menoleh kearah pria yang memerintahnya tadi. "Aku bukan pembantumu," jawab Kia.

__ADS_1


"Tapi, kamu calon istri ku."


"Baru calon calon, kan? belum menjadi istri mu. Lagi pula aku tidak bisa membuat kopi," ucap Kia agar pria ini kesal padanya.


Satria tahu, gadis ini sengaja membuatnya kesal, dengan membantah perintahnya. Dengan malas, Satria bangkit dari bangkunya, menghampiri Kia yang masih berdiri didekat kitchen set.


"Perhatikan! karena aku akan menyuruhmu membuat kopi setiap pagi untuk ku," ucap Satria.


Pria itu mengambil panci dan mengisinya dengan air untuk di rebus. Lalu mengambil kopi dan gula dari dalam kabinet.


"Ambilkan cangkir itu," pintanya pada Kia yang berdiri dekat kabinet yang menyimpan cangkir di dalamnya.


Kia pun menurut dan mengambilkan satu cangkir untuk Satria.


"Perhatikan," ucapnya pada Kia saat menerima cangkir. "Satu sendok gula dan dua sendok kopi. Satu banding dua," ulangnya sambil menakar kopi dan gula.


"Jangan sampai lupa takarannya." Satria menuang air yang sudah mendidih ke dalam cangkir berisi kopi dan gula.


"Aku tidak suka membuat kopi dari air dispenser, akan lebih sedap jika airnya dimasak lebih dulu," jelas Satria yang sedang mengaduk kopi.


"Sekarang, siapkan aku sarapan."


"Aku tidak bisa," jawab Kia cepat, dan malah mengambil cangkir teh yang tadi ia buat.


Satria mendelik. "Lalu kamu bisa apa?"


"Bukankah aku sudah bilang sebelumnya, aku tidak bisa melayani. Karena aku terbiasa dilayani." Kia menyesap tehnya.


Satria mendengkus kesal dengan gadis yang akan menjadi istrinya ini.


"Kenapa? Kamu mau membatalkan pernikahan kita?" Kia tersenyum menyeringai. "Masih belum terlambat kalau ingin batal, dan kamu tidak usah merasa tidak enak hati. Karena aku akan dengan senang hati menerima pembatalan ini," sambungnya, kembali menyesap tehnya.


"Siapa bilang aku akan membatalkan pernikahan kita. Pernikahannya tidak akan pernah batal, justru aku akan mempercepatnya!" jawab Satria yang langsung mendapatkan semburan air teh dari mulut Kia.

__ADS_1


Kia segera menaruh kembali cangkir teh di tangannya dengan panik. "Ma-maaf, aku tidak sengaja. Kamu membuat ku kaget," ucapnya langsung berlari meraih tissu di meja makan, dan memberikannya pada Satria.


Dengan wajah marah, Satria mengusap wajahnya dengan tissu yang diberikan Kia. Satria berlalu pergi meninggalkan Kia sendirian di dapur.


Sementara, Kia jadi bingung harus berbuat apa, dia benar-benar merasa bersalah telah menyemburkan air teh ke muka Satria. Setelah mondar-mandir berfikir tentang apa yang harus ia lakukan untuk minta maaf, Kia memutuskan untuk menyiapkan saja sarapan seperti yang tadi Satria minta.


Kia menemukan roti dan juga selai, diolesinya beberapa lembar roti dengan selai dan ditatanya di atas piring. Saat selesai menyiapkan sarapan, Satria sudah keluar dari kamar dengan rapi. Tanpa berpamitan, ia pergi meninggalkan Kia.


Kia yang tahu Satria sedang marah, tak bisa mencegahnya untuk pergi. Akhirnya Kia sendiri yang memakan sarapan yang sudah ia siapkan.


🍁🍁🍁🍁


Kia sedang berada di sebuah cafe di dekat kampus, ia sedang menunggu Shila yang kemarin ia hubungi untuk mengantarkan baju juga ponselnya yang tertinggal dirumah Shila.


"Sudah lama nunggunya?" tanya Shila yang baru datang.


"Lumayan."


"Kamu serius, nggak mau tinggal di rumahku?" Kia menggeleng tegas.


"Tapi kenapa, kamu bahkan baru satu malam menginap di rumah ku?" tanya Shila penasaran.


"Setelah aku pikir-pikir, akan lebih baik jika aku bisa membebaskan kakakku."


"Maksud kamu?" pekik Shila.


"Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan pengacara itu, dan dia sudah memutuskan bahwa pernikahan kami akan berlangsung dalam waktu dekat," jelas Kia. Kia memang tidak berniat menceritakan apa yang sudah di lakukan Erik pada dirinya, karena Kia tahu betapa berartinya Erik untuk sahabatnya ini.


"Apa kamu sudah pikirkan matang-matang?ini pernikahan Sirri Ki, kamu tidak akan dapat perlindungan hukum jika terjadi sesuatu dalam rumah tanggamu. Belum lagi nanti kalau kamu punya anak, kasihan anak kamu."


"Aku sudah memutuskan dan memikirkannya, bagiku yang terpenting sekarang adalah kakakku keluar dulu dari tahanan."


Shila tak bisa berbuat apa-apa lagi dengan keputusan Kia, karena dia merasa dirinya sendiri takkan mampu membantu Kia.

__ADS_1


__ADS_2