Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.9


__ADS_3

Semua orang yang tadi hadir di pernikahan Kia sudah pamit pulang. Kini kembali Kia berdua dengan Satria, entah kenapa malam ini rasanya sungguh berbeda. Padahal, ini bukan pertama kalinya Kia berdua saja di dalam kamar, tapi kenapa ada perasaan takut, atau ... entahlah. Kia sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan.


Bukan bahagia, tapi bukan juga kesedihan. Seolah ada beban yang tak bisa ia lepaskan. Sejak selesai ijab qobul tadi, Kia bertanya-tanya pada hatinya, menimbang segala rasa bersalahnya. Dia tak ingin diposisi ini, menjadi orang ketiga dalam rumah tangga wanita lain. Tapi dia tak punya pilihan, untuk membalas segala hutang budinya pada keluarga Keenan. Ia akan lakukan apapun untuk kakak angkatnya itu. Termasuk pernikahannya saat ini, ia melakukannya demi Keenan agar segera bebas dari tuduhan.


Setelah membersihkan diri dari segala make up, Kia duduk bersila di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Berusaha menepis semua kegundahan dalam hatinya.


"Kenapa kamu tidak bersiap untuk malam pertama kita?" tanya Satria yang baru saja keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.


"Jangan bilang kamu tidak tahu menahu soal malam pertama, karena aku yakin kamu tidak sepolos itu, mengingat dari banyaknya mantan mu," cibir Satria.


Pria itu kini duduk ditepi ranjang, menatap Kia yang mulai mengalihkan pandangannya dari layar ponsel pada suaminya.


"Memang kamu tahu berapa banyak mantanku?" tantang Kia.


"Panggil aku, Mas. Karena aku lebih tua dari kamu. Dan yang terpenting, karena aku adalah suami kamu sekarang."


"Apa harus?"


"Ya harus lah, mulai sekarang kamu harus patuh pada suamimu, mau pergi kemana pun dan dengan siapapun harus dengan ijin dari ku."


"Tap ...."


"Tidak ada bantahan!" Satria mendelik. "Sekarang bersiaplah, kita mulai malam pertama kita," titahnya pada Kia.


Kia menatap Satria dengan intens, yang membuat pria itu jadi salah tingkah.


"Kenapa? apa ada yang salah dengan ku?"


"Tidak ada, karena tidak akan ada malam pertama untuk malam ini?"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kamu kan bilang, kamu akan menangani kasus kakakku dan mulai mengumpulkan bukti jika kakak ku tidak bersalah setelah kita menikah. Dan kita sudah menikah, jadi kumpulkan dulu bukti untuk membebaskan kakakku, baru kamu minta malam pertama. Semakin lama kamu mengumpulkan bukti, semakin lama juga malam pertama mu!" ancam Kia.


"Apa kamu sedang membalas ku?"


"Tidak, kita harus adil dalam kesepakatan ini. Bukan kamu saja yang diuntungkan, aku juga harus dapat keuntungan yang sama. Bagaimana jika setelah aku berikan semua padamu tapi ternyata kamu tak menemukan bukti apapun untuk bisa membebaskan kakak ku. Rugi besarlah aku!"


Satria mendengkus kesal dengan pernyataan istrinya ini. "Kamu meragukan kemampuanku?"


"Tidak, tapi aku ingin bukti! Aku akan membiarkan mu menyentuhku jika kamu menemukan bukti-bukti itu. Kita bisa mulai kesepakatannya dari sekarang, misalkan untuk satu bukti yang kamu temukan, kamu boleh memeluk ku. Lalu selanjutnya, jika ada bukti baru kamu boleh menciumku. Begitu seterusnya sampai kamu bisa membebaskan kakak ku dan kamu dapat yang kamu mau," jelas Kia sambil tersenyum.


"Kamu pikir ini nyicil mobil? bahkan beli mobil saja meskipun nyicil sudah langsung bisa di naiki. Tidak perlu menunggu lunas."


Kia tertawa mendengar perumpamaan Satria. "Tapi ini mobil ku, aku yang menentukan aturan jual belinya. Kamu, baru boleh membawa dan menaiki mobil itu setelah kamu membayarnya cash," balas Kia.


Kia mendelik marah, setelah Satria melepaskan ciumannya. "Jangan berlagak seperti aku sudah mencuri ciuman pertamamu," cibir Satria karena melihat kemarahan Kia.


"Kamu memang sudah melakukannya, selama ini aku menjaga bibirku dengan baik. Dan kamu, dengan seenaknya kamu menjamah tanpa permisi," ucap Kia mengusap bibirnya yang bengkak karena gigitan Satria.


Satria tertawa lepas dengan drama ciuman ini. "Pantas saja kamu begitu amatir." ucapnya tak henti mencibir Kia. "Apa kamu mau mencobanya lagi, aku akan mengajarimu menjadi profesional," lanjutnya yang langsung dibalas Kia dengan lemparan bantal.


"Kamu tidur di sofa, aku tidak mau seranjang dengan mu!" usir Kia.


"Aku ini suamimu, mulai sekarang kita akan tidur seranjang." Satria langsung naik ketempat tidur dan merebahkan dirinya disana. Tak peduli dengan pengusiran Kia.


Kia tak bisa berbuat apapun selain menatap jengkel pada pria yang baru saja mengambil ciuman pertamanya. Dengan marah, Kia mengambil bantal dan pergi ke sofa.


🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


Kia menghampiri Satria yang tengah menikmati kopinya di meja makan. Dengan rambut acak-acakan Kia langsung duduk di depan Satria.


"Kemasi barang-barangmu sekarang!" ucap Satria yang langsung membuat mata Kia membuka lebar.


Ini masih pagi, tapi keributan sudah mau di mulai.


" Ke-kenapa? apa karena aku tidak memberikan malam pertama padamu, lantas kamu mau mengusirku, begitu?" tanya Kia panik.


Satria memperhatikan kepanikan Kia. "Kemasi barang mu dan bersiaplah untuk pergi dari apartemen ini," lanjutnya.


"I-iya, tapi kenapa? kenapa aku harus meninggalkan apartemen ini. Lalu aku harus tinggal dimana?" tanya Kia makin panik. Kalau dia diusir dari sini, dia harus tinggal dimana.Kia tidak mau lagi tinggal di rumah Shila. Kia takut jika kakak sahabatnya itu akan berulah lagi.


"Aku istrimu, aku berhak untuk tinggal disini. Sudah menjadi tanggung jawab mu untuk memberiku tempat tinggal. Karena itu bagian dari memberi nafkah," ucap Kia yang tak mau terusir.


"Kamu berani bicara soal tanggung jawab ku sebagai suami. Lalu, bagaimana dengan mu sendiri. Kamu bahkan tidak menjalankan kewajiban mu menjadi istri."


"I-itu, karena aku belum siap," jawab Kia terbata. " Kita baru saja menikah, dan pernikahan kita adalah penikahan tanpa cinta. Aku hanya butuh waktu untuk menerima mu, tapi aku janji akan berusaha jadi istri yang baik."


Biarlah berbohong, yang penting aku tidak boleh diusir dari sini. Ayo Kia lakukan apapun agar pria ini tidak mengusirmu.


"Janji macam apa yang bisa kamu berikan?"


"Aku akan menjadi istri yang baik dan patuh pada suami."


Satria menatap Kia tajam. "Aku, janji." Kia mengangkat dua jarinya untuk meyakinkan Satria bahwa dia benar-benar berjanji.


"Aku tunggu di bawah, segera berkemas-kemaslah, jangan sampai ada barang mu yang tertinggal. Aku beri waktu kamu lima belas menit!" Satria berlalu pergi meninggalkan apartemennya.


Kia jadi makin panik dengan sikap Satria. Nampaknya pria itu benar-benar serius akan mengusirnya. Tak ingin terdiam saja, Kia berlari ke kamar dan mulai berkemas. Tak ada waktu untuk mandi, karenanya Kia hanya mengganti baju saja. Dengan berlari, ia turun mencari keberadaan Satria sambil menyeret kopernya.

__ADS_1


__ADS_2