Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.84


__ADS_3

Beberapa hari lamanya, Marvin menghilang. Lebih tepatnya, dia sedang menata hatinya kembali. Dan selama itu juga, Kia tak pernah berhenti berusaha menghubungi Marvin. Meski tak ada hasil apapun. Sungguh, Kia didera rasa bersalah pada Marvin.


Hingga, tanpa sengaja mereka bertemu di sebuah mini market. Kia yang sedang membeli camilan untuk Hiro, merasa mengenali suara seseorang yang sedang membeli rokok.


"Marvin." Kia menepuk bahu Marvin dari belakang.


Marvin yang kaget, spontan berbalik melihat siapa yang memanggilnya.


"K-Kia." Marvin terlihat gugup melihat Kia. Ini bukan seperti Marvin. Marvin selalu percaya diri di depan Kia, tapi kali ini, dia bersikap canggung seperti orang asing.


"Aku duluan, ya." Marvin menerima uang kembaliannya, dan bergegas pergi.


"Tunggu!" Kia meninggalkan belanjaannya dan menyusul Marvin.


"Marvin!" Kia berlari.


Marvin segera masuk ke mobilnya. Dan Kia, tanpa pikir panjang ikut naik bersama Marvin. Marvin melirik Kia yang ada disampingnya. Mobilpun melaju, tanpa Kia tahu kemana Marvin membawanya.


"Marvin!" panggil Kia. Marvin diam, tetap fokus pada jalanan.


"Marvin!" kali ini Kia sedikit berteriak, agar orang disampingnya melihatnya.


Tapi Marvin tetap tak peduli, dan terus memacu mobilnya. Hingga sampai di tempat yang asing bagi Kia. Tempat yang sepi.


Kia menoleh keluar jendela. "Dimana ini?"


Marvin tak menjawab, dia keluar dan membanting pintu mobil dengan keras. Tentu saja, Kia mengikuti Marvin yang keluar.


"Marvin!" panggil Kia untuk kesekian kalinya.


Marvin berdiri di tepi jurang. Dari atas sini bisa terlihat ombak yang berkejaran menuju pantai.


"Marvin!" Kia mulai kesal di abaikan. Dia memutar tubuh Marvin agar bisa berhadapan dengannya.


"Marvin, please." Kia memohon. "Jangan seperti ini."


Marvin tetap diam.


"Ok, aku minta maaf. Kamu tahu bukan. Aku belum siap untuk memulai semuanya. Dan, Hiro." Kia bermenjeda ucapannya.


"Aku tidak bisa mengabaikannya." lanjut Kia, berusaha menjelaskannya pada Marvin.


"Aku menyayangi mu, sebagai teman."


"Tapi aku mencintaimu." Marvin menatap tajam Kia.


"Marvin, jangan perlakukan aku seperti ini. Jangan membuatku semakin merasa bersalah dengan sikapmu padaku."


Marvin masih menatap Kia, memperhatikan ucapan wanita di depannya ini.


"Aku merasa tidak pantas untuk mu. Karena, hatiku terikat dengan seseorang, dan itu akan menyakitimu," jelas Kia.


"Aku bisa menerimamu apa adanya, bahkan dengan hati yang tidak utuh. Kamu cukup memberiku kesempatan, dan aku yang akan merubah semuanya." jawab Marvin yakin.


"Itu tidak akan mudah, karena ada Hiro diantara kami."

__ADS_1


Marvin tersenyum getir. "Tidak mudah bukan berarti tidak bisa, bukan?"


"Marvin, mengertilah!"


"Kenapa harus aku yang mengerti! Kenapa bukan kamu yang mencoba mengerti aku!"


Marvin meraup tubuh Kia, dan mendekapnya erat.


"Aku mencintaimu," bisik Marvin.


Kia meronta, tidak suka dengan perlakuan Marvin.


Bukannya dilepaskan, Marvin justru semakin erat memeluk Kia. Susah payah Kia berusaha, mendorong tubuh kekar Marvin, namun sia-sia.


'Bugh'


Sebuah pukulan melayang ke rahang Marvin, setelah tubuhnya ditarik paksa dari belakang oleh seseorang. Karena tak siap, satu pukulan saja sudah membuat Marvin tersungkur.


Tanpa bicara apapun, pria itu menarik tangan Kia paksa, dan membawanya pergi dengan motornya.


Marvin mengusap darah segar yang mengalir disudut bibirnya. Menatap pilu Kia, dan seseorang yang ia kenal.


Melihat orang yang baru saja memukulnya, mengingatkan ia pada seseorang yang ia temui di kantor Hendra. Seringai licik langsung tersungging di bibirnya yang berdarah.


.


.


.


.


.


Saat tahu, bahwa pria yang satu mobil dengan Kia adalah Marvin. Hati Satria memanas. Tapi dia tidak bisa tiba-tiba datang dan menghajar Marvin habis-habisan, meskipun hal itu sangat Satria inginkan.


Akhirnya, dia hanya bisa memperhatikan diam-diam apa yang mereka lakukan. Sampai, pada saat Marvin memeluk Kia paksa, dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. Ditariknya paksa Marvin, saat masih memeluk Kia. Dan langsung menghajarnya. Lalu membawa Kia pergi, tanpa penjelasan.


Satria mengantar Kia sampai ke restoran. Sepanjang jalan tadi, tak ada pembicaraan sama sekali antara keduanya.


"Terima kasih," ucap Kia. Berlalu masuk meninggalkan Satria.


"Mama, kok lama banget sih beli camilannya?" tanya Hiro, saat Kia masuk ke restoran.


"Maaf, tadi Mama ada urusan mendadak."


"Terus, mana camilan Hiro?"


Kia lupa, dia tadi langsung meninggalkan keranjangnya untuk bisa menyusul Marvin.


"Maaf, sayang. Mama belum sempat beli. Kamu, minta dibikinin camilan dulu ya sama mbak Yanti." Kia mengusap kepala Hiro. Lalu pergi ke rumahnya.


Hiro, anak yang cukup peka dengan perubahan sikap mamanya. Dia berlari keluar, dan melihat motor Satria yang baru saja meninggalkan area parkir restoran.


Kia langsung mengunci pintu kamarnya setelah ia masuk. Dia membanting tubuhnya di ranjang. Kia menangis. Menangisi Marvin. Menangisi sikapnya yang sudah melukai Marvin.

__ADS_1


Selama ini, Kia sudah berusaha untuk tidak menyakiti siapapun. Terlebih jika itu urusan hati. Kia bahkan, sudah dengan tegas menolak Marvin, dan meminta pria itu untuk mencari pendamping hidup yang lain. Tapi Marvin benar-benar keras kepala. Hingga sekarang, dia merasakan sakit yang sesungguhnya karena ditolak.


Tak ada keraguan sama sekali, tentang perasaan Kia terhadap Marvin. Karena perasaannya sudah sangat jelas, Marvin bukanlan pilihannya.


Satria, pria itu masih menjadi pemilik hatinya. Tuan dari cintanya.


Mungkin dia bodoh. Bahkan setelah tersakiti, dia masih saja mengharapkan pria itu. Tapi, hati tak bisa didustai. Selama ini, dia selalu berusaha menepis rasa untuk ayah dari putranya itu.


Tapi Sang Maha pemilik, tetap menautkannya pada pria yang sama. Dia tak berdaya, atas segumpal daging dalam tubuhnya.


Sang Maha pembolak-balik hati, lebih berkuasa atasnya. Mentahtakan nama Satria disana.


Dan membuatnya terpaku, pada seorang saja.


Kia semakin menangis. Kenapa kisah cintanya jadi serumit ini. Dulu, menolak pria, memutuskan hubungan tanpa sebab, membuat pria patah hati, adalah hal yang biasa baginya. Kia bahkan melakukannya tanpa rasa bersalah.


Lalu, kenapa sekarang?


Menolak seseorang, menjadi sebuah beban baginya.


"Ma ...." Panggil Hiro, mengetuk pintu kamar Kia.


Mendengar suara Hiro, Kia segera menghapus air matanya. Dan segera membuka pintunya.


"Ada apa, sayang?" tanya Kia, bersikap seolah semua baik-baik saja.


Hiro memperhatikan sungguh-sungguh wajah Kia. Mencari tahu apa yang terjadi.


"Mama, baik-baik saja?"


"I-iya, Mama baik, sayang. Ada apa?"


"Jangan bersedih, Hiro selalu ada untuk Mama." Hiro memeluk Kia, memberikan keyakinan, bahwa Kia tidak sendiri.


Kia terharu dengan sikap Hiro. Anak kecil yang ia lahirkan sembilan tahun lalu, kini sudah tumbuh menjadi pelindungnya.


Demi Hiro, Kia terus berjuang. Terus bertahan, dan terus rela berkorban. Termasuk mengorbankan perasaannya pada Satria. Kia tidak bisa kembali bersama Satria, jika Hiro tak menginginkannya.


Itulah sebabnya, dulu Kia meminta perpisahan pada Satria. Demi Hiro-nya.


"I love you, mom." lirih Hiro dalam pelukan Kia.


Kata yang selalu membuat Kia tak tahan untuk menangis, karena Hiro yang mengucapkannya.


"Love you too." Kia mengecup kepala Hiro.


Berpelukan adalah cara untuk saling menguatkan. Dan inilah cara Kia dan Hiro, saling menguatkan satu sama lain.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Tengkyu💓💓💓sayang hee


__ADS_2