Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.34


__ADS_3

Kia membuka lockernya untuk menaruh seragam sekaligus mengambil tasnya. Saat ia akan mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya ada kertas memo yang terjatuh, memo yang ia dapat dari buket bunga milik Sarah Wilmar.


"Ternyata aku simpan di sini," gumam Kia sambil berdecap. Kia membaca ulang pesan yang tertulis di sana.


"SR." Kia memikirkan siapa pemilik nama berinisial SR yang telah mengirimkan pesan pada istri pertama suaminya itu.


"Kia, ayo!" ajak Rena yang menyadarkan Kia dari menatap memo milik Sarah.


"Ah ... iya, aku kunci lockernya dulu." Setelah mengunci locker miliknya Kia mengikuti langkah Rena untuk keluar menunggu taksi.


Kia dan Rena segera masuk ke taksi online yang tadi sudah mereka pesan. Saat naik ke mobil, Kia memperhatikan dari kaca belakang ada orang yang mengikuti mobil yang mereka tumpangi. Kia pun meminta sopir taksi agar mempercepat lajunya, untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak. Dan seperti dugaannya, saat taksinya melaju cepat, motor di belakangnya juga semakin cepat mengejar.


"Nampaknya ada yang mengikuti kita." Kia menoleh lagi kebelakang, dua orang yang tadi ia curigai sedang mengawasinya, sekarang tengah mengikutinya dengan motor.


Rena pun ikut menoleh. Benar saja, dua orang pria yang berboncengan itu tengah memacu motornya untuk mengejar taksi yang dirinya tumpangi. Kia memberi instruksi pada supir taksi agar mempercepat lagi laju mobilnya, dan merubah jalur yang biasa mereka lewati.


Aksi kejar-kejaran itu berhenti saat taksi yang ditumpangi Kia dan Rena bisa melewati lampu merah, sementara motor kedua orang tadi terhalang oleh beberapa mobil di depannya di saat lampu rambu lalu lintas itu berwarna merah.


Kia menghembuskan nafas lega saat melihat tak ada lagi yang mengikuti mereka. Meski harus mengambil jalan yang lebih jauh, tapi Kia bisa mengantar Rena dengan selamat.


🍁🍁🍁🍁


Kia menceritakan kejadian yang semalam ia alami bersama Rena.


"Apa kamu sudah memberi tahu suamimu?" tanya Shila.


"Belum, dia tidak pulang semalam. Mungkin nanti jika dia pulang aku akan memberitahunya."


"Tapi untuk urusan apa ada orang yang mengikuti mu dan Rena?"


"Entahlah, aku juga belum memastikan. Diantara kami, siapa yang menjadi incaran mereka."


"Kurasa kalau Rena tidak mungkin, karena dia hanya gadis biasa yang aku yakin tidak memiliki musuh. Kalau kamu?" Shila berhenti sebentar.


"Bisa jadi, itu orang suruhan istri pertama suami mu, Sarah Wilmar. Bukankah dia orang yang sangat mampu melakukan ini semua?"

__ADS_1


Kia jadi memikirkannya, sejak bertemu pertama kali dengan Sarah. Wanita itu seolah tak menyukainya, hal itu dibuktikan dengan Sarah yang membuat masalah untuknya. Dia diberhentikan dari pekerjaannya sebelumnya karena Sarah. Lalu saat bertemu lagi, Sarah seolah dengan sengaja menumpahkan minuman ke bajunya dan menunjukkan rasa ketidak-sukaannya. Apa mungkin Sarah sudah tahu hubungannya dengan Satria?


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Shila mengagetkan.


"Mungkin dugaan kamu benar, Sarah sedang mengincarku."


"Sebaiknya segera beritahu suamimu, agar kamu aman." Shila mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya karena mendengar bunyi panggilan di ponselnya.


"Siapa?" tanya Kia setelah Shila mematikan panggilan.


"Saverik Reonald." Shila langsung memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas.


"Siapa saverik Reonald?"


"Ya kakak ku lah, kak Erik."


"Namanya Saverik Reonald?"


"Iya." Shila membereskan kembali buku-buku yang bercecer di atas meja kantin dan mengajak Kia untuk segera masuk kelas.


Kalau inisial pada pesan memo itu adalah Saverik Reonald atau SR. Jadi apa hubungan Sarah dengan kak Erik? Tidak mungkin kan hanya teman?


"Kia ... masuk kelas nggak sih. Bengong aja!" Shila memukul bahu Kia agar temannya itu sadar akan jadwal kuliahnya. Kia segera menyambar tasnya dan mengikuti Shila yang sudah meninggalkannya.


🍁🍁🍁🍁


Disebuah gedung perkantoran, di sebuah ruang direktur, Sarah sedang duduk bermanja di pangkuan si pemilik ruangan.


"Aku tidak mau tahu bagaimanapun caranya, kamu harus membantu ku untuk menyingkirkan wanita itu," ucap Sarah dengan suara mendayu-dayu.


"Apa imbalan untuk semua yang akan ku lakukan. Karena kurasa wanita itu bukan wanita sembarangan, buktinya suami mu lebih memilihnya." Erik terkekeh, mentertawakan wanita yang sedang bermanja di pangkuannya.


"Jaga bicara mu!" Sarah berdiri karena tersinggung dengan ucapan Erik.


"Baiklah, maafkan aku. Jadi apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


Sarah memberitahukan apa rencananya, dan apa yang harus Erik lakukan untuk menyingkirkan madunya itu.


🍁🍁🍁🍁


Hari ini Kia tidak berangkat ke restoran, sengaja ingin bertemu suaminya. Kia sudah menunggu Satria dari tadi untuk makan malam, Kia sudah menyiapkan makan malam yang sudah ia pesan dari luar. Sampai sekarang Kia masih belum pandai memasak, jadi dengan senang hati dia harus membeli makan malamnya.


Kia berlari dengan semangat saat mendengar bunyi bel, Kia merapikan dress yang ia kenakan sebelum membuka pintu untuk suaminya.


Satria menatap aneh saat pintu terbuka, ditatapnya Kia dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tatapannya berhenti pada senyum manis yang tersungging di bibir istrinya.


"Apa kamu mau pergi?" tanya Satria.


"Tidak, memang kenapa?"


"Hanya heran dengan baju yang kamu kenakan." Satria masih memperhatikan istrinya dengan dress selutut berwarna merah.


Kia menatap tubuhnya sendiri. "Oh ... bukankan kita akan malam bersama?" Tadi siang Kia memang sengaja membuat janji makan malam dengan suaminya. "Kita belum pernah makan malam romantis, aku ingin melakukannya sekarang. Karena kita tidak bisa makan di luar bersama, jadi aku sudah menyiapkan semua di rumah." Kia menggandeng Satria menuju ruang makan yang sudah ia siapkan sedemikian rupa agar nampak seperti makan malam romantis.


"Apa kamu sendiri yang menyiapkan?" Satria terperangah melihat ruang makan sederhananya berubah menjadi ala-ala cafe, dengan lampu temaram, lilin dan bunga di atas meja, bahkan suara lembut dari penyanyi asal korea FROMM yang berjudul 'In Your Light' mengalun lembut mengisi seluruh ruangan.


Kia mengambil tas kerja Satria dan meletakkannya di bangku. Kia menuntun Satria untuk berdansa bersamanya. Diposisikannya lengan suaminya pada pinggangnya, Kia sendiri langsung mengalungkan lengannya pada leher suaminya. Kia mulai menuntun langkah Satria untuk hanyut dalam lantunan lagu yang diputar.


"Jika kisah ini tak bisa sampai pada akhir yang kita harapkan, aku ingin membekas dalam ingatan mu," lirih Kia dalam dekapan Satria.


Satria menatap Kia, mencoba bertanya apa maksud dari ucapannya.


"Hubungan kita terlalu rapuh," ucap Kia mencoba menjawab pertanyaan yang tak Satria ucapkan.


"Kenapa kita tidak membuatnya jadi kuat, hingga meski badai datang kita bisa tetap saling berpegangan."


"Apa itu mungkin?"


"Kita akan membuatnya jadi mungkin."


Meski hanya seuntai kalimat rasanya mampu membuat Kia merasa lebih siap. Jika nanti kisah pernikahannya benar-benar diuji, Kia sudah siap menghadapi.

__ADS_1


__ADS_2