
Pagi harinya Satria mengantarkan Kia ke kampus, dan berpamitan akan menjemput Sarah di bandara.
"Kamu yakin Sarah keluar kota?" tanya Kia sebelum keluar dari mobil.
"Dia bilang begitu," jawab Satria seolah percaya saja.
"Apa kamu akan menerima Sarah kembali jika dia mengajakmu rujuk?" tiba-tiba saja Kia ingin tahu apa yang akan suaminya ini lakukan jika benar istri pertamanya mengajaknya rujuk.
"Kenapa bertanya begitu?"
"Aku tidak tahu, jujur saja aku takut jika kamu kembali pada Sarah."
"Kamu sudah mulai jatuh cinta padaku?" goda Satria.
"Bukan, aku takut saat kamu memilih kembali pada Sarah saat itu aku sedang hamil. Kita tidak pernah pakai pengaman selama ini," ungkap Kia jujur dengan isi pikirannya.
"Aku akan bertanggung jawab atas mu juga anak kita jika kamu benar-benar hamil." Satria mengusap perut rata Kia. "Apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil?"
Kia menggeleng.
"Jangan khawatir, aku tidak ingin kembali dengan Sarah. Aku hanya belum menemukan cara yang tepat untuk meninggalkannya tanpa melukai siapa pun."
Kia mengerti maksud Satria, suaminya ini masih berat meninggalkan istri pertamanya karena rasa hutang budinya pada ayah Sarah, dan janjinya pada kedua orang tuanya. Sama seperti dirinya yang merasa berhutang budi pada keluarga Keenan, hingga Kia mau melakukan apapun untuk bisa membalas hutang budi itu.
Satria mengecup pucuk kepala Kia untuk memberi ketenangan pada istri keduanya itu.
Mobil Satria mulai melaju meninggalkan Kia di pinggir jalan. Menuju arah bandara untuk menjemput Sarah. Cukup jauh arah dari kampus Kia ke bandara, dan sampai di sana Sarah sudah menunggunya. Tak ingin berlama-lama Satria langsung membawa Sarah pulang ke rumah Aditya Wilmar. Papa mertuanya begitu bahagia melihat kedatangan anak dan menantunya bersamaan.
__ADS_1
"Maaf Pa, Satria mau langsung ke kantor saja ada meeting siang ini," ucap Satria setelah mengantar Sarah masuk.
"Kalian baru datang, bagaimana kalau kita makan siang terlebih dulu, lagi pula meeting kamu pasti setelah jam makan siang, bukan?" ajak Aditya Wilmar.
Sarah memberi isyarat agar Satria menerima tawaran papa mertuanya dan disetujui dengan anggukan Satria pada Aditya.
"Aku merindukanmu." Sarah memeluk Satria di depan Aditya, yang tak mungkin ditolak Satria.
"Kalian bisa meninggalkan aku di sini, waktu makan siang masih satu jam lagi." ucap Aditya, yang memahami kalau putri dan menantunya butuh waktu untuk melepas rindu. Sarah memang terlihat banyak berubah di mata Aditya. Dulu Sarah tak pernah menunjukkan rasa cintanya pada Satria, tapi sejak penuturannya yang ingin berubah dan menjadi istri yang baik, Sarah sering menunjukkan betapa cintanya Sarah dengan Satria.
Dengan senang hati Sarah menarik tangan Satria ke kamarnya. Tanpa penolakan, diikutinya permainan Sarah. Satria langsung menghempaskan tangan Sarah begitu sampai di kamar. Sarah hanya tersenyum dengan perlakuan Satria. Bukan menyerah, Sarah justru mendekat untuk merapatkan tubuhnya dengan Satria, tangannya bergerak menyusuri dada bidang Satria dari bawah ke atas hingga melingkar di leher Satria.
Bibirnya mulai mendekat untuk bisa menjangkau bibir Satria. Namun belum sampai bibir mereka bertemu, Satria mendorong tubuh Sarah. Tidak kasar, namun cukup melukai harga diri Sarah sebagai wanita. Pria yang dulu memuja dirinya, kini untuk kesekian kalinya menolak dirinya.
Di saat banyak pria menginginkannya, Sarah justru ditolak oleh pria yang berstatus suaminya secara hukum itu. Meski ditolak, Sarah bukan wanita yang mudah menyerah. Dulu dia yang mengendalikan pria di depannya ini, dan sekarang pun Sarah inginkan hal yang sama.
"Hentikan semuanya," ucap Satria yang semakin membuat Sarah terhina.
"Lihat aku." Sarah membuka sendiri kancing bajunya dan menurunkannya hingga menampakkan tubuh atasnya yang hanya berbalut baju dalam. Satria justru mengalihkan pandangannya.
"Apa tubuh jalang itu lebih bagus dari tubuhku!" teriak Sarah bermaksud menghina Kia dengan membandingkan tubuhnya dengan istri kedua suaminya itu.
Satria mencoba menatap Sarah. "Dia bukan jalang, tapi dia istriku." Satria menekan kata istri untuk membuat Sarah sadar akan siapa dia sekarang.
Mendengar jawaban Satria, Sarah tersenyum getir, air mata Sarah tak bisa lagi terbendung. Suaminya dengan sengaja menunjukkan statusnya dan status wanita yang ia sebut sebagai jalang.
Dengan harga diri yang terluka Sarah turun dari atas tubuh Satria, dia menangis sejadi-jadinya. Ini bukan saja menyakiti Sarah, tapi juga Satria. Namun dia harus bisa membuat Sarah sadar, bahwa statusnya sekarang tak lagi sama. Dengan berat hati Satria meninggalkan Sarah, membiarkan sarah dengan tangisnya.
__ADS_1
Satria turun kebawah untuk menenangkan dirinya yang merasa bersalah pada Sarah. Dapur adalah tujuannya, dia ingin segelas air untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Setelah mengambil minum, Satria berjalan ke belakang menuju taman. Dilihatnya ayunan yang dulu sering ia gunakan untuk bermain dengan Sarah ketika Sarah masih kecil. Sarah akan tertawa kegirangan saat Satria mengayunnya dengan cepat.
Pandangannya beralih pada pohon mangga,yang cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Pohon itu membawa Satria pada kenangan masa kecilnya, di mana dia akan sembunyi di atas pohon saat bermain petak umpet dengan ibunya. Dia selalu melakukan hal yang sama saat Sarah mencarinya untuk mengajaknya bermain boneka.
Permainan yang tak pernah Satria sukai, karena Sarah akan menjadikannya boneka dan mendandaninya dengan segala make up yang Sarah punya hingga Satria terlihat seperti badut. Hal itu membuat ia harus bersembunyi di atas pohon mangga agar tak bisa ditemukan Sarah. Banyak sekali kenangan di rumah ini, kenangan bersama orang tuanya, juga kenangan masa kecil bersama Sarah.
Satria berjalan mendekati pohon mangga penuh kenangan itu. Dia berdiri, mendongak ke atas menatap dahan yang dulu ia gunakan untuk bersembunyi. Satria menutup matanya, mencoba memahami perasaannya saat ini. Perasaan bersalah dan marah, itu yang ia rasakan sekarang. Merasa bersalah karena telah membuat Sarah menangis, dan marah jika ingat apa yang dilakukan Sarah pada calon anaknya.
Ditariknya nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan untuk memberikan efek tenang. Matanya menangkap tumpukan paket yang teronggok di tempat yang tak jauh dari pohon mangga itu.
"Den Satria, apa ada yang bisa Mamang bantu?" tanya tukang kebun bernama Parmin itu.
"Tidak, saya cuma kangen sama tempat ini, Mang," jawab Satria yang memang sudah akrab dengan Mang Parmin si tukang kebun.
"Bawa apa itu, Mang?" Satria melirik pada paket yang di bawa mang Parmin. Paket yang sama dengan paket yang teronggok seperti sampah.
"Oh ... ini, ini paket dari penggemarnya non Sarah Den."
"Kenapa di buang?"
"Tidak tahu Den, non Sarah bilang setiap ada paket disuruh langsung buang saja. Soalnya dulu waktu non Sarah baru pulang, dapat paketnya itu isinya boneka yang dilumuri darah," jawab Mang Parmin mengingat kejadian saat pertama kali Sarah mendapat paket berisi boneka berlumur darah. Nonanya itu langsung berteriak histeris. Sejak saat itu setiap mendapat paket Sarah tak ingin membukanya dan langsung meminta mang Parmin untuk langsung membuangnya. Seperti yang dilakukannya sekarang.
"Coba saya lihat." Satria mengambil paket dari mang Parmin dan membuka isinya. Ternyata isi dari paketnya adalah sebuah piyama berwarna pink muda, dan ada pesan di sana.
Piyama ini akan sangat cantik bila kamu yang menggunakannya.
SR
__ADS_1
Tidak ada yang aneh dengan paket ini, mungkin Sarah tidak suka hadiah dari penggemarnya karena menganggap pemberian mereka tidak sesuai seleranya. Satria memberikan kembali paket itu pada Mang Parmin dan pergi meninggalkan kebun belakang itu.