
Kia sudah memakai piyamanya saat keluar dari kamar mandi, tadi ia meminta tolong Satria untuk mengambilkan piyama yang sebelumnya ia pilih. Sebelum insiden kemarahan Satria.
Kia mulai naik ke ranjang dan membungkus tubuhnya dengan selimut, tak menghiraukan Satria yang dari tadi menunggunya keluar dari kamar mandi. Satria yang duduk ditepi ranjang menarik selimut Kia hingga merosot.
"Apa mau mu?" tanya Kia ketus.
"Kamu masih berhutang penjelasan pada ku, dan sekarang kamu mau langsung tidur dan membiarkan aku dengan semua pertanyaan ku?" jawab Satria menatap Kia yang kini sudah merubah posisinya menjadi duduk.
"Apa yang harus aku jelaskan, bukannya kamu yang harus menjelaskan tentang ucapanmu tadi. Kamu bilang kamu ingin memiliki ku sejak lama, padahal kita baru saja kenal. Apa kamu seorang secret admirer yang berubah menjadi stalker. Dan sekarang menjadi seorang psycopath?"
"Ku lihat kamu menikmati sekali saat menyiksaku!"
Satria terdiam dengan segala tuduhan Kia, istrinya bisa berfikir sejauh itu karena perlakuan kasarnya.
"Apa aku terlihat sekejam itu?" Satria mulai naik ke atas ranjang. Dan hal itu membuat Kia berangsur mundur, hingga bersandar pada kepala ranjang. Kia bahkan menyilangkan kedua tangannya di dada seperti yang ia lakukan tadi saat menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka.
"Ma-mau apa, kamu?" tanya Kia gugup. "Kamu tidak lihat bibirku yang masih bengkak seperti habis dicium kudanil?" sambungnya sedikit ketakutan. Bagaimana jika suaminya ini memaksakan kehendaknya malam ini, Kia belum siap.
"Kamu sebut aku KUDANIL!" teriak Satria. "Yang benar saja, atas dasar apa kamu berani menyebutku kudanil?" tanya Satria tak terima.
"Memang benar, kan? apa kamu lupa bagaimana kamu tadi menciumku seolah akan melahap ku. Kamu bahkan melakukannya dengan rakus seperti akan menelanku bulat-bulat."
Satria menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepala. "Lupakan soal itu, sekarang jelaskan, dari mana dan dengan siapa kamu pergi. Kenapa kamu tidak berangkat ke restoran seperti yang aku perintahkan?"
Mendengar pertanyaan Satria, Kia mulai menurunkan tangannya yang menyilang di dada. "Apa kamu memata-mataiku? jadi kamu benar-benar seorang stalker?" tanya Kia.
"Hentikan pembicaraan tentang stalker dan secret admirer. Karena aku bukan bagian dari keduanya, aku memang mengagumimu sejak aku melihatmu di pesta ulang tahunmu yang ke-19. Tapi aku bukan orang gila hingga harus menjadi stalker," jelas Satria.
Kia mengingat kembali acara ulang tahunnya yang ke-19, saat itu ulang tahunnya dirayakan di rumahnya. Dia hanya mengundang beberapa teman dekat, dan Satria bukan kenalannya apalagi temannya. Lalu bagaimana ia hadir di pesta itu. Kia memutar kembali memorinya. Mengingat kapan ia bertemu dengan suaminya ini untuk pertama kalinya.
🍁FLASH BACK ON🍁
__ADS_1
Malam minggu adalah malam yang Kia pilih untuk merayakan pesta ulang tahunnya yang ke-19. Pesta ini tidak terlalu mewah karena Kia membuat konsep private party, hanya orang-orang terdekat saja yang ia undang untuk merayakan bertambahnya usianya.
Semua tamu sudah datang, dan mereka sedang menikmati jamuan sebelum acara inti dimulai. Kak Keenan bahkan mengundang salah satu DJ kenalannya untuk menambah kemeriahan pesta adik satu-satunya itu.
"Maaf Tuan, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda sekarang," ucap seorang pelayan dengan berbisik pada tuannya, yang tak lain adalah Surya Atmadja. "Namanya, Tuan Satria," lanjut pelayan itu.
Pelayan itu pun mengantar tuannya pada Satria yang sedang menunggunya. Satria tengah berdiri menatap tamu undangan yang sedang menikmati pesta itu.
"Selamat malam Tuan Satria, maaf sudah merepotkan anda malam-malam begini," ucap Surya Atmadja menyapa Satria.
Mereka pun berjabat tangan sebelum Satria menjawab sapaan sang pemilik rumah. "Selamat malam juga Tuan Surya, sudah jadi kewajiban saya untuk datang kapanpun anda membutuhkan saya," jawab Satria.
"Jadi, apa yang ...." ucapan Satria terputus ketika seorang MC memanggil bintang pesta ini, siapa lagi kalau bukan Zakiya Alarice.
Semua mata tertuju pada Kia yang berjalan anggun turun dari tangga yang memutar itu, dengan gaun berwarna peach yang begitu indah melekat pada tubuh gadis itu. Semua mata seolah terpukau akan kecantikan Kia yang terlihat menawan dengan dandanan yang pas.
Tak terkecuali Satria, dia seolah terperangah melihat betapa cantiknya gadis ini. Hingga pandangannya tak beralih sedetik pun dari menatap Kia.
"Ma-maafkan saya Tuan, saya hanya ...," jawab Satria tak enak hati.
"Tidak apa-apa, karena Anda bukan pria pertama yang terpesona akan kecantikan putri saya," sela Tuan Surya sambil tertawa.
"Anda bisa memilikinya jika Anda bisa menjaganya sebaik saya menjaganya selama ini," gurau Tuan Surya yang membuat Satria seketika menjadi malu.
"Kita akan bicarakan urusan kita, tapi tolong beri waktu untuk saya agar bisa menemani putri saya sebentar di hari bahagiannya." Tuan Surya menunjuk ke arah Kia yang sedang berdiri di belakang kue tart yang menjulang dengan tujuh susun kue.
Paham akan maksud dari Tuan Surya, Satria mengangguk dan mempersilahkan kliennya itu untuk meninggalkannya. Sementara itu dirinya diantarkan oleh pelayan untuk menunggu di ruang kerja Tuan Surya.
🍁 FALASH BACK OFF🍁
"Itulah pertama kali aku melihatmu dan terpesona akan dirimu," ucap Satria setelah menjelaskan kejadian setahun yang lalu.
__ADS_1
"Aku sudah menjelaskan bukan, jadi katakan kemana kamu pergi dan dengan siapa?" desak Satria.
"Untuk apa kamu bertanya? aku yakin mata-matamu sudah mengatakan semuanya padamu. Bukankah kamu menyuruh orang mengikutiku!" Mendengar pernyataan Satria tadi, yang tiba-tiba mengingatkannya tentang pengkhianatan, Kia yakin suaminya ini telah memata-matainya. Dan pasti orang suruhannya telah mengatakan tentang kejadian di Mall itu, saat Kia tanpa sengaja bertemu dengan laki-laki bernama Juna.
"Aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri, bahwa kamu mencoba melawan perintahku."
"Aku tidak bisa bekerja di sana, dan aku tidak mau. Karena itu aku kabur dari pekerjaan menyiksa itu!"
"Lalu siapa pria yang dengan berani membawamu pergi sambil merangkul pinggang mu? Apa dia kekasihmu!" tanya Satria mengintrogasi.
"Aku ingatkan lagi, aku tidak suka dengan pengkhianatan, jadi jangan coba-coba melakukannya!" ancam Satria lagi.
"Apa maksudmu ? enak saja menuduhku pengkhianat, nama pria itu Juna. Dia yang menolongku dari Boy. Aku yakin kamu pasti tahu siapa Boy, mengingat kamu saja tahu berapa mantanku!" jawab Kia mencibir.
"Baiklah, aku percaya padamu. Sekarang tidurlah."
Seperti perintah Satria, Kia kembali merebahkan tubuhnya, dia meraih selimut yang tadi ditarik Satria untuk menutupi tubuhnya. Tanpa disangka, Satria 'pun turut tidur di samping Kia. Dan langsung memeluk gadis itu paksa. Kali ini dibiarkan saja Satria memeluknya. Toh, percuma juga jika dia meronta karena Satria lebih kuat darinya.
"Aku bilang turuti apa kataku, tanpa banyak membantah. Besok Pak Hamid yang akan menjemputmu dari kampus dan mengantarkanmu ke restoran. Bekerjalah dengan baik di sana," ucap Satria mengelus kepala Kia.
Kia diam tak menjawab karena tak ingin memancing keributan. Dia berusaha tidur dalam dekapan Satria.
Beberapa waktu berlalu. Namun Kia tak bisa tidur, meski dari tadi matanya sudah ia pejamkan. Pelukan pria ini membuat jantungnya kembali berdegup kencang. Kia berusaha menggeser tubuhnya sedikit, karena makin lama ia merasa makin sesak dan tidak nyaman.
"Kenapa?" tanya Satria yang ternyata juga belum tidur, saat Kia menggeser tubuhnya.
"Aku tidak terbiasa tidur seperti ini," jawab Kia lirih.
Satria pun melepaskan pelukannya, dan Kia tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk langsung menggeser tubuhnya. Kia memutar tubuhnya membelakangi Satria.
"Kita tidur seperti ini saja," ucapnya yang langsung menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
__ADS_1
Satria tak bisa berbuat apapun kecuali tersenyum melihat tingkah Kia. Karena jujur, sejak tadi ia 'pun tersiksa.