
Sudah satu minggu Kia dan Hiro pergi ke kota ini, ke Yogyakarta. Kia sengaja membawa Hiro pergi, sejak kejadian di sekolah waktu itu. Saat Hiro berlari, setelah mendengar kebenaran dari Sarah.
FLASH BACK ON
Kia mengejar Hiro, begitupun dengan Satria. Bocah itu langsung masuk ke mobil Wira, dan meminta Wira membawanya pergi dari tempat itu. Kia berhasil menyusul Hiro lebih dulu, sebelum mobil milik Wira dijalankan.
Sebelum masuk ke mobil, Kia membalikkan badannya, menatap Satria yang tadi mengikutinya mengejar Hiro. Kia menggelengkan kepalanya pada Satria, sebagai tanda, agar Satria menjauh, tidak lagi mengikuti mereka. Terkadang, menjauh adalah cara untuk melindungi. Untuk saat ini, meminta Satria menjauh adalah pilihan yang dirasa tepat untuk melindungi Hiro.
Mobil pun melaju, meninggalkan Satria yang terpaku ditempatnya. Menatap kepergian anak dan istrinya. Satria paham betul maksud Kia melarangnya untuk mengikuti Hiro, meskipun dia sangat ingin. Tapi, semua demi kebaikan putranya, dia tak boleh memaksakan keinginannya.
Rencana yang sudah ia susun rapi, harus ambyar, ketika Sarah mengungkapkan kebenaran di saat Hiro belum siap menerima kenyataan. Tadinya, Satria ingin lebih dulu dekat dengan Hiro, dengan bantuan Naya. Agar saat bocah itu tahu tentang kebenaran tentang siapa dirinya, bocah itu bisa menerimanya dengan hati yang terbuka.
Siapa yang sangka, jika Tuhan ingin kebenaran terungkap lebih awal dari bibir Sarah. Meski rencananya berantakan, tapi Satria yakin, inilah jalan terbaik. Dia tak harus berpura-pura, seperti rencana awalnya.
Sekarang, saatnya berjuang untuk mendapatkan cinta dari putranya itu. Akan lebih sulit dari rencana awalnya, tapi tidak hal yang tidak mungkin. Jika hari ini Tuhan menghendaki kebenaran dirinya terungkap, itu artinya Tuhan sudah menyiapkan jalan untuk ia sampai pada tujuannya lebih awal.
FLASH BACK OFF
.
.
.
.
.
"Sayang, Mama buatkan pisang goreng buat kamu." Kia meletakkan sepiring pisang goreng hangat di atas tikar yang digelar di gazebo milik Bu Dirjo.
Di rumah Bu Dirjo inilah, Kia dan Hiro menginap. Bu Dirjo sendiri adalah ibu dari Wira. Kia sengaja membawa Hiro pergi untuk menenangkan putranya, dan tempat yang Kia pilih adalah rumah Wira, di Jogja. Selain tempatnya yang meneduhkan dan menenangkan, karena berada di wilayah pedesaan, Kia dan Hiro sudah mengenal akrab keluarga Wira. Mereka bahkan sering menghabiskan liburan di tempat ini.
Saat ini Hiro sedang menggambar di gazebo, tempat yang selalu jadi favoritnya saat berkunjung ke rumah Bu Dirjo, yang bisa dipanggil Eyang oleh Hiro.
Kia mengambil satu pisang goreng dan menyuapkannya pada Hiro yang masih terlihat sibuk menggambar. "Lagi gambar apa?" tanya Kia yang melirik gambar Hiro.
"Gambar kapal," jawab Hiro sambil mengunyah pisang gorengnya.
Kia kembali menyuapkan pisang goreng di tanganya hingga habis, sambil menunggui Hiro yang masih menggambar.
"Kapan kamu ingin masuk sekolah lagi?" Kia mengambil tisu dan mengusap tangannya yang habis memegang pisang goreng.
"Aku tidak ingin lagi sekolah di sana."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin lagi bertemu orang itu." Hiro menghentikan gerakan pensilnya. "Dan juga, Naya." Hiro menatap Kia.
"Ada apa dengan Naya?"
"Bukankah karena Naya, orang itu tidak pernah menemui Hiro. Apa karena dia lebih sayang Naya daripada Hiro, karena itu dia tidak pernah datang untuk bertemu Hiro?"
Tak disangkanya jika Hiro punya pemikiran seperti itu.
__ADS_1
"Hiro, kamu percaya sama Mama, kan?" Kia menatap serius pada Hiro.
Hiro pun mengangguk, karena memang begitulah selama ini. Mamanya adalah orang yang sangat ia percaya.
"Papa sangat sayang sama Hiro."
Hiro menatap tidak percaya akan ucapan mamanya, meski diawal dia sudah berkata akan mempercayai mamanya.
"Ada alasan, kenapa papa selama ini tidak bisa menemui Hiro." Kia menjeda penjelasannya, karena untuk menjelaskan pada anak seusia Hiro memang harus pelan-pelan.
"Hiro tidak tahu bukan kalau selama ini papa sakit?" Kia berhenti lagi.
"Mama bilang selama ini papa kerja jauh," tanya Hiro.
"Maafkan Mama sudah berbohong, Mama harus mengatakan itu, karena Mama tidak ingin Hiro khawatir." Kia menatap Hiro, mencari tahu dari sorot matanya bahwa bocah itu mengerti penjelasannya.
"Papa harus dirawat di luar negeri, dan Mama tidak bisa menemani. Karena saat itu, Mama juga harus merawat Hiro." Kia terdiam sejenak.
"Dan Mama Naya lah, yang selama ini membantu Mama untuk merawat papa Hiro. Karena saat itu, Mama Naya memang tinggal di luar negri, tempat papa Hiro dirawat."
Hiro memperhatikan Kia dengan intens.
"Percayalah, papa sangat sayang dengan Hiro." Kia mengambil tangan Hiro dan menggenggamnya, mencoba meyakinkan Hiro.
"Apa Hiro tahu, kalau selama ini yang membelikan Hiro mainan, membayar sekolah Hiro, membelikan baju untuk Hiro. Itu semua papa yang berikan, papa tak pernah lupa dengan Hiro. Papa hanya belum bisa menemui Hiro karena papa sedang sakit. Itu saja."
Kia tidak berbohong soal ini, meski Satria hilang ingatan, Satria tak pernah sekalipun tak menafkahi Kia, sejak Kia menjadi istrinya. Melalui Wira tentunya, seperti sebelumnya. Asisten Satria itu, memegang akses tabungan Satria untuk memberikan uang bulanan pada Kia seperti pesan Satria sebelum hilang ingatan.
Kia menggeleng.
"Percayalah, papa sangat sayang dengan Hiro."
Untuk saat ini, biarlah cerita ini yang Hiro tahu. Kia hanya ingin Hiro tak membenci papanya. Soal apa yang sebenarnya terjadi dan kerumitan hubungan antara dirinya, Satria dan Sarah, biarkan waktu yang akan menjawabnya, seiring tumbuh dewasanya Hiro kelak.
"Jangan membenci papa, jangan juga membenci Naya ataupun mamanya."
"Hemm," jawab Hiro datar.
Kia mengecup tangan Hiro yang tadi ia genggam. "Mama sayang sama Hiro, Mama juga ingin Hiro sayang sama papa, sama Naya, sama tante Sarah."
"Om Wira?" celetuk Hiro.
"Tentu saja, Om Juna dan Tante Rena juga."
"Enggak ah ... kalau Hiro sayang sama Om Juna, nanti Om Juna pengen jadi papa Hiro."
Kia tertawa sambil mencubit gemas hidung mancung Hiro. "Bisa aja kamu."
"Apa kita akan tinggal dengan Papa?"
"Ehm ... mungkin tidak untuk saat ini. Tapi, kalau Hiro mau tinggal dengan papa, Mama akan mengijinkan."
Hiro terdiam dengan jawaban Kia. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Hingga teriakan Bu Dirjo terdengar oleh gendang telinga mereka.
__ADS_1
"Hiro ... Hiro ... kamu di mana, Nang?" panggil wanita yang sudah sepuh itu dari dalam rumah.
Sontak Hiro mengalihkan pandangannya mencari sumber suara.
"Eyang manggil kamu. Sana, temui Eyang!"
Segera Hiro berlari ke dalam rumah untuk menemui wanita yang sudah Hiro anggap seperti nenek sendiri.
"Ada apa, Eyang?" tanya Hiro dari balik tubuh Bu Dirjo.
"Kamu mau ikut Mbah Nardi ke sawah nggak, katanya mau lihat Mbah Nardi ngusir burung?"
"Iya, Eyang. Hiro mau."
Mbah Nardi adalah adik dari Bu Dirjo, yang diberikan tanggung jawab untuk mengelola sawah milik keluarga Wira.
"Itu, di tunggu Mbah Nardi di depan, naik motor saja katanya, sekalian mau di ajak keliling kampung."
"Benar Eyang?" tanya Hiro girang.
"Yo!"
Bu Dirjo mengantar Hiro ke depan, di mana Mbah Nardi sudah menunggu Hiro.
"Di ... Nardi, ojo awan-awan leh mu muleh. Mesak ke Hiro ndak kepanasen."
(Di ... Nardi, jangan siang-siang kamu pulangnya. kasihan Hiro nanti kepanasan)
"Njeh, Mbak Yu."
(Ya, Mbak)
Mbah Nardi segera menstater motornya setelah Hiro naik ke jok belakang. Terlihat wajah Hiro yang sumringah, saat duduk di bonceng Mbah Nardi. Terbayang serunya mengusir burung2 yang ada hinggap di tangkai padi.
.
.
.
.
.
Jangan lupa untuk selalu dukung karya ini ya
👍Like
❤️Favorite
🖊️Komen
Tengkyu💓💓💓sayang hee
__ADS_1