
Sepulangnya dari Jogja, Kia, mengajak Hiro untuk menjenguk Sarah di rumah sakit. Kia sudah meminta tolong pada Wira sebelumnya, untuk menanyakan di rumah sakit mana Sarah dirawat.
Dan siang ini, Kia sudah berada di ruang perawatan VVIP, kamar perawatan Sarah.
"Apa kabarmu?" Sapa Kia pada Sarah yang terbaring lemah di atas ranjang perawatan.
"Sudah lebih baik," jawab Sarah lirih. Wanita yang dulu terlihat segar dan menarik itu, kini terlihat lebih kurus dan pucat. Mungkin ini efek dari sakit yang Sarah derita.
"Hiro, kemarilah!" Kia menoleh pada Hiro yang berdiri dibelakang Kia.
Anak kecil itupun mendekat. "Beri salam pada Tante Sarah," pinta Kia.
Hiropun menurut. Dengan langkah kecilnya, Hiro berjalan mendekati Sarah, meraih tangan Sarah dan mencium punggung tangan Sarah.
Sarah tersenyum melihat Hiro. "Apa kabar Hiro?" tanya Sarah dengan senyumnya.
"Baik, Tante," jawab Hiro datar.
Sarah merasakan nada ketidaksukaan Hiro padanya. Sarah mengerti, kemarin Satria menceritakan tentang kebersamaannya dengan Hiro, saat camping bersama. Dan, Sarah memaklumi sikap Hiro saat ini padanya.
"Duduklah," ucap Sarah mempersilahkan.
Kia dan Hiro belum sampai duduk saat suara Naya terdengar memenuhi ruang rawat Sarah. "Mama!" pekik Naya, yang baru saja masuk ke ruang rawat Sarah bersama Satria di belakangnya.
Kia dan Hiro, menoleh ke arah pintu masuk, dimana Naya dengan semangat memanggil mamanya. Sementara Sarah menyambut putrinya itu dengan senyum bahagia.
"Hiro!" pekik Naya lagi, kali ini karena ia melihat keberadaan Hiro di ruangan mamanya. Naya berlari kecil dari pintu masuk dan langsung memeluk Hiro. "Kamu kemana saja, kenapa lama sekali tidak sekolah. Teman-teman menanyakan mu." cerocos Naya, yang masih mengenakan seragam sekolahnya ,karena memang Naya baru pulang sekolah.
Hiro melepaskan pelukan Naya dengan canggung. Yang dilihat oleh Sarah, Kia, juga Satria.
"Kenapa?" tanya Naya bingung saat Hiro melepaskan pelukannya. "Aku merindukan mu, Hiro. Apa kamu tidak merindukan aku?" tanya Naya polos.
Hiro hanya diam saja menatap Naya.
"Sayang, Naya tanya, apa kamu nggak rindu sama Naya?" Kia mengulangi ucapan Naya.
"Apa masih lama kita disini?" tanya Hiro yang tak peduli dengan pertanyaan Naya.
"Memang kamu mau kemana, Hiro?" kali ini Satria yang bertanya.
"Mama janji kan, kita akan makan ice cream hari ini." Hiro tak menjawab pertanyaan Satria, dia justru menatap Kia.
__ADS_1
"Iya ... Mama janji, tapi tunggu sebentar ya." Kia mengusap kepala Hiro.
"Mau makan ice cream sama Papa?" tanya Satria lagi.
Hiro kembali menatap mamanya, dan Kia mengangguk agar Hiro ikut dengan papanya.
"Hiro sama Papa dulu ya, makan ice cream sama Naya juga." ucap Kia.
Tak ingin mengiyakan tapi tak ingin juga menolak, entah kenapa Hiro lebih memilih sikap diam saat berhadapan dengan Satria.
Satria menggandeng tangan Hiro juga Naya, untuk keluar dari ruangan Sarah. Naya terlihat begitu senang dengan ajakan makan ice cream ini, sementara Hiro bersikap datar-datar saja.
Setelah kepergian Satria dengan kedua anak kecil tadi, Sarah berusaha untuk duduk. Kia bukan tak punya hati, melihat Sarah yang kesusahan untuk bangun, Kiapun membantu Sarah dengan menyangga tubuh Sarah, agar Sarah bisa lebih mudah untuk bangun. Kia meletakkan bantal, untuk Sarah bersandar.
"Terima kasih." Sarah melepaskan pegangannya dari tangan Kia. "Duduklah, Kia!" pinta Sarah.
Kia, menyeret sebuah bangku dan meletakkannya di sisi ranjang Sarah. Kiapun duduk disana, menatap Sarah yang terlihat ingin berbicara padanya.
"Terimalah Satria untuk kembali pada mu." Sarah membuka percakapannya.
"Dia tidak bersalah dalam hal ini. Aku yang sudah membuatnya menjauh darimu, aku juga yang sudah memisahkannya dari putramu." Sarah menghela nafasnya.
"Satria sangat mencintaimu, dia tidak pernah mengkhianatimu sedikitpun.
"Aneh bukan?"
"Bahkan saat ia hilang ingatanpun, dia tak bisa menerimaku. Padahal aku sudah menanamkan dalam pikirannya tentang hubungan kami. Mungkin akalnya bisa menerima, tapi tidak dengan hatinya. Dan yang pasti, karena Tuhan menjaganya ... melindunginya."
Sarah terdiam sejenak. Mengenang saat-saat ia merayu Satria. Sarah adalah wanita normal, wajar saja jika ia menginginkan Satria, apalagi dia sudah berniat untuk membangun kembali rumah tangganya dengan Satria, meskipun dengan kondisi Satria yang kehilangan ingatannya.
"Ini sulit dipercaya bukan? bahkan aku juga tak mempercayainya, kalau Satria akan menolakku. Tapi, siapa yang bisa melawan kuasa Tuhan, jika Tuhan sudah berkehendak, hal yang tak mungkin terjadi jika dinilai dari akal manusia, tetap akan terjadi."
"Tuhan sudah menjaga Satria untuk mu. Jadi, aku mohon, terimalah ia kembali. Biarkan dia menjadi papa yang seperti seharusnya untuk Hiro." ucap Sarah yang terdengar memohon.
Dari tadi hanya Sarah yang berbicara, karena Kia hanya mendengarkan, tanpa ingin menyela.
"Aku sudah mendapatkan apa yang seharusnya ku dapatkan. Dan aku juga ingin Satria mendapatkan kebahagiaannya." Sarah bergerak, dia membenarkan posisi tubuhnya yang sedikit melorot.
"Bagaimana dengan Naya?" tanya Kia pada akhirnya.
"Naya ... bukanlah anak Satria," jawab Sarah menahan sakit. Sakit karena kenyataannya, Satria bukanlah ayah dari Naya.
__ADS_1
Kia ingat, dulu Sarah pernah bercerita tentang kehamilannya, yang Sarah ketahui sebelum kecelakaan itu terjadi.
"Naya anak kak Erik?" tanya Kia to the point.
Sarah mengangguk.
"Apa kak Erik tahu?"
Sarah menggeleng.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya pada kak Erik? bukankah dia berhak tahu tentang anaknya?"
"Aku sudah lama tak menjalin hubungan ataupun komunikasi dengannya. Lagipula, aku dan dia tidak terikat dalam suatu hubungan yang serius, kami hanya bersenang-senang. Dan jika aku hamil, itu adalah kesalahanku sendiri." Sarah terlihat menahan amarahnya, mengingat kebodohannya.
"Bagaimanapun juga, kak Erik harus tahu tentang keberadaan Naya. Terlepas dari hubungan kalian di masa lalu, apakah karena cinta atau hanya bersenang-senang. Naya anak perempuan, dia membutuhkan papa kandungnya jika dia dewasa kelak. Dan Satria tak akan bisa menggantikannya." ujar Kia.
Sarah tersadar dengan ucapan Kia. Benar apa yang dikatakan Kia, Naya akan membutuhkan Erik suatu hari nanti.
"Aku akan memikirkannya nanti, untuk saat ini aku hanya ingin melihat cintamu bersatu kembali dengan Satria." Sarah sungguh berharap Kia dan Satria bisa bersama lagi. Dia akan pergi dengan tenang, jika sudah melihat hubungan yang ia hancurkan bisa kembali utuh.
"Aku tidak bisa berjanji, karena waktu sudah berubah, dan perasaanpun juga bisa berubah."
"Tapi aku bisa melihat, cinta kalian tak pernah berubah, satu sama lain."
Kia langsung terdiam. Benarkah yang diucapkan Sarah, bahwa cintanya untuk Satria masih bisa terlihat. Sampai detik ini, Kia memang tak pernah membuka hatinya untuk pria lain. Selain statusnya yang masih menjadi istri Satria, dia juga hanya ingin fokus pada Hiro.
.
.
.
.
.
Aku mengarapkan dukungan kalian para readers terZeyenggggg ... yang udah selalu dukung terima kasih, dan yang belum dukung atau sering lupa, nih ... aku ingatkan kembali, setelah baca jangan lupa untuk selalu:
👍Like
❤️Favorite
__ADS_1
🖊️Komen
Tengkyu💓💓💓sayang hee