
Semua orang yang merupakan pegawai restoran menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk Hiro. Hari ini restoran tutup lebih awal karena Kia ingin merayakan ulang tahun Hiro bersama dengan pegawainya, sama seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Tiup lilinnya ... tiup lilinnya ... tiup lilinnya sekarang juga ... sekarang juga ... sekarang juga." Nyanyian yang dinyanyikan oleh pegawai restoran dengan semangat.
Tak ada pesta mewah ataupun kue dengan tingging menjulang, hanya ada pesta kecil-kecilan yang dirayakan di restoran bersama pegawai mamanya. Itu saja, sudah membuat Hiro bahagia. Apalagi dengan kado yang ia terima tadi pagi. Kado yang sudah lama ia inginkan. Bahkan dengan tidak sabar, Hiro langsung meminta Bli Made untuk mengajarinya.
"Hiro, Om Wira dan Om Juna telfon." Kia menghadapkan kamera ponselnya agar menangkap gambar Hiro.
"Selamat Ulang Tahun!!!" Teriak tiga orang yang ada ditelfon. Tentu saja ,mereka adalah Wira, Juna dan juga Rena.
Satu persatu, mereka mengucapkan selamat dan memanjatkan doa untuk Hiro. Hiro terlihat lebih bahagia setelah tiga orang yang selalu bersamanya di setiap ulang tahunnya menelfon.
Tapi, kali ini mereka bertiga tidak bisa ikut hadir merayakan ulang tahun Hiro. Karena kesibukan mereka. Untuk jadi pengobat rindu, Wira, Juna dan Rena, sengaja berkumpul di restoran milik Kia yang ada di Jakarta, untuk melakukan panggilan Vidio Call. Hal tersebut, sudah cukup bagi Hiro dan tak mengurangi rasa bahagianya.
Hiro menutup panggilan Vidio call itu, saat melihat Marvin datang. Bocah itu berlari senang menyambut kedatangan Marvin.
"Om Marvin!" sambutnya dengan gembira.
"Terima kasih, Om!" Hiro memeluk Marvin.
"Sama-sama." jawab Marvin. " Lihat, hadiah yang Om bawa untuk mu." Marvin menoleh pada orang suruhannya untuk membawa kadonya lebih dekat.
"Lihat, Hiro!" Marvin menunjuk kado yang ada disampingnya.
Hiro, kaget saat melepaskan pelukan Marvin dan melihat kado yang Marvin bawakan. Begitupun dengan Kia.
"Marvin, bukannya tadi pagi, kamu sudah mengirim kado?" tanya Kia bingung.
Marvin juga bingung dengan pertanyaan Kia. Sementara Hiro hanya terdiam menatap hadiah yang Marvin bawakan.
FLASH BACK ON
"Selamat ulang tahun!" Kia menyambut pagi Hiro dengan ucapan pertambahan umur putranya itu. Hari ini Hiro berusia sembilan tahun.
Hiro yang baru bangun, tersenyum senang. Mamanya tak pernah lupa hari ulang tahunnya. Tidak masalah jika orang lain lupa, bagi Hiro mamanya saja sudah cukup.
"Ayo bangun! Mama sudah siapkan sarapan spesial buat jagoan, Mama."
Dengan senyum yang masih melekat di bibirnya, Hiro duduk bersandar di kepala ranjang. Kia langsung memeluk dan mencium putra semata wayangnya itu, seraya mengucapkan doa kebaikan untuk Hiro.
"Semoga bahagia." kalimat Kia diakhir doanya. Dan mengecup kening Hiro.
"Hiro juga ingin Mama bahagia."
"Tentu saja, kita berdua akan selalu bahagia. Karena kita akan menjaga satu sama lain." Mereka berpelukan kembali.
__ADS_1
Setelah selesai mandi, dan bersiap untuk sarapan terdengar suara ketukan pintu. Ternyata, Bli Made yang datang. Bli Made ini selalu datang lebih awal, karena dia juga Kia berikan tanggung jawab untuk membawa Kunci restoran.
"Ada apa, Bli?" tanya Kia saat membuka pintu.
"Ada paket datang, katanya hadiah untuk Hiro," jawab Bli.
"Cepat sekali," gumam Kia. "Hiro!" panggil Kia.
"Iya, Ma."
"Hadiah mu sudah datang."
"Dimana, Ma? dimana?" Hiro terlihat antusias.
Kia menunjuk Bli Made. " Tunjukkan, Bli."
Bli Made langsung mengajak Hiro keluar. Dia memperlihatkan sebuah benda yang masih terbungkus.
Dengan semangat, Hiro menghampiri kadonya.Membuka pembungkusnya dengan dengan tidak sabar. Matanya langsung berbinar, kala ia melihat kado yang selama ini ia inginkan. Sebuah motor cross untuk anak-anak. Ada kartu ucapan juga yang tergantung di stang motor itu.
Selamat ulang tahun, Hiro. Semoga kebahagiaan senantiasa membersamaimu dalam setiap langkahmu. Jadilah anak yang selalu membanggakan mama.
Selamat ulang tahun ... I love you.
Selain Kia, ada seseorang yang selalu memperhatikan Hiro, diam-diam.
FLASH BACK OFF
Dengan tatapan matanya yang bingung, Marvin mencoba mencari tahu maksud Kia.
"Kenapa kamu membawa kado lagi, bukannya tadi pagi kadonya sudah kamu kirim?"
Marvin semakin bingung. Karena kadonya pun baru ia beli siang tadi, bagaimana mungkin tadi pagi kadonya sudah terkirim.
"Ini kado dari ku, dan aku baru membelinya siang tadi. Sesuai pesananmu."
Kia langsung berpikir, jika bukan Marvin yang mengirim kado tadi pagi, lalu kado itu dari siapa?
Lain halnya dengan Kia dan Marvin yang nampak bingung. Hiro justru berlari keluar.
Dilihatnya seseorang yang baru saja pergi dengan motornya. Hujan yang turun dengan deras, mungkin jadi penyebab orang itu buru-buru pergi. Dengan langkah yang tak seantusias tadi Hiro kembali masuk, untuk kembali merayakan ulang tahunnya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
Satria POV
Hari ulang tahun putraku, untuk pertama kalinya aku bisa ikut ambil bagian di dalamnya. Meski semua kulakukan diam-diam.
Kedatanganku, memenuhi undangan Hendra waktu itu ternyata tidak buruk. Meski awalnya aku malas sekali untuk datang. Aku kurang suka berada di tempat yang penuh hingar-bingar. Tapi, karena rasa tak enak hati pada orang yang sudah menganggapku teman, aku datang juga.
Saat ku lihat seseorang bernama Marvin datang, yang tak lain adalah rekan bisnisku. Jujur aku tidak suka, sejak aku tahu kedekatannya dengan Kia. Tapi aku tetap bertahan disana, mendengar obrolan mereka tentang Kia dan Hiro. Hal yang membuat kupingku semakin panas saat mendengarnya.
Kupaksakan untuk tetap tenang, hingga kudengar pembicaraan yang mengatakan tentang ulang tahun putraku. Dan hadiah apa yang di inginkannya.
Kutunggu sampai mereka tak sadarkan diri, dan aku pergi dari sana. Sepanjang perjalanan, kuhubungi kenalanku yang ada di Bali. Yang memiliki, bisnis otomotif. Kupaksa ia segera mengirimkan mini motor cross besok pagi. Dan harus sampai tepat waktu.
Mungkin teman ku begitu jengkel, karena harus membuka show roomnya jam tiga pagi. Aku sendiri yang memilih motor itu untuk Hiro. Hadiah pertamaku untuk anakku. Meskipun aku tak bisa memberikannya langsung, tapi aku senang bisa melihat kebahagiaannya saat belajar menaiki motor barunya.
Rasanya begitu menyesakkan saat harus menahan diri untuk tak memeluknya. Aku ingin juga mengucapkan selamat atas hari kelahirannya. Mengucapkan syukur atas kehadirannya. Tapi, semua harus ku tahan. Aku harus lebih bersabar.
"Papa merindukanmu, Hiro," lirihku saat melihat Hiro dari kejauhan.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa untuk
👍Like, dan
🖊️Komen
Ya Readers terZEYENGGGG
Tengkyu💓💓💓sayang hee
__ADS_1