
Dengan tak sabar, Kia berlari masuk meninggalkan Satria menuju Villa itu. Pintunya tidak terkunci.
"Hiro!" panggil Kia. "Hiro! ini Mama, sayang." Kia berteriak lebih keras, agar Hiro tahu dia sudah datang.
Kia memeriksa setiap ruangan, mencari dimana Hiro berada. Dan menemukan Marvin berada di salah satu kamar.
" Marvin!" teriak Kia, saat melihat Marvin terduduk lemas dengan wajah yang babak belur, seperti habis dipukuli.
"Marvin!" Kia mendekat, mencengkeram bahu Marvin kuat. "Dimana, Hiro!" bentak Kia.
"Hiro, diculik," jawab Marvin lemas.
"Bukannya kamu yang menculik Hiro!"
Marvin terdiam. Dia malu pada Kia. Karena dialah, Hiro benar-benar diculik.
Marvin bercerita tentang niat awalnya membawa Hiro. Jujur, Marvin sangat kesal pada Hiro, saat anak itu pergi membawa Kia meninggalkan acara lamarannya. Dan kekesalannya bertambah, ketika dia bertemu seseorang di kantor Hendra. Orang itu bercerita tentang semua masa lalu Kia. Dan siapa mantan suaminya.
Kekesalannya berubah jadi kemarahan, saat Kia sendiri mengatakan bahwa dia tak bisa menerima Marvin. Karena masih menyimpan rasa untuk mantan suaminya, hal yang tak bisa ia lupakan dari mantan suaminya adalah keberadaan Hiro. Bukan hanya karena dia ayah dari Hiro, tapi Hiro sendiri adalah pengikat di antara keduanya.
Kemarahannya di perparah, ketika Satria menghajarnya. Dan meninggalkannya, tanpa bisa membalas, seperti pecundang.
Sebab itulah, Dia ingin menjauhkan Kia dari Hiro. Jika tak ada Hiro, mungkin Kia bisa menerimanya. Rencananya untuk membawa Hiro, ternyata diketahui oleh seseorang yang dulu menceritakan masa lalu Kia. Karena itulah, orang itu, membawa Hiro pergi.
Marvin yang tidak mau Hiro dibawa pergi, berusaha melawan. Tapi, kekuatannya tak seimbang, karena ada sekitar lima orang bersenjata yang mengancammya. Saat Kia baru sampai masuk tadi, orang itu ternyata belum lama pergi.
"Dimana Hiro?" tanya Satria yang menyusul masuk.
"Dia dibawa pergi orang yang tidak aku kenal. Mereka seperti para body guard." Nampak penyesalan di wajah Marvin.
"Aarggghhh!!!" Satria akan melayangkan tinjunya ke wajah Marvin, setelah mendengar pengakuan Marvin.
"Jangan!" Kia berusaha menahan Satria. "Hiro lebih penting dari semua ini," ucap Kia mengingatkan.
Satria menurunkan tangannya kembali, meredam amarahnya. Benar kata Kia, tidak ada untungnya juga mengahajar Marvin sekarang. Karena masalah Hiro tak bisa menunggu lama.
"Apa kamu punya petunjuk, kemana mereka akan membawa Hiro?" tanya Satria pada Marvin.
"Aku tidak tahu, tapi aku dengar seseorang membicarakan tentang daerah XXX."
Otak Satria langsung bekerja, mencari informasi tentang daerah itu. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi temannya.
"Ayo kita pergi!" Satria menarik tangan Kia.
"Aku, ikut!" teriak Marvin.
"TERSERAH!!!" jawab Satria. Tapi sejujurnya, Satria memang berharap Marvin ikut. Karena dia sudah bisa membaca alur dari penculikan ini. Dan dia membutuhkan Marvin untuk menjaga Kia.
Satria dan Kia pergi dengan motornya, dan Marvin mengikuti dengan mobilnya. Tak ada waktu untuk tidak memacu kendaraannya dengan kecepatan maksimal.
Dugaan Satria sangat tepat, Hiro dibawa ke sebuah bangunan villa tua di daerah yang terpencil. Tanah milik Aditya Wilmar. Ada beberapa body guard yang menjaga villa itu.
Dengan berani, Satria menerobos penjagaan para penjaga villa Aditya. Para tukang pukul itu tak terima dengan Satria yang berhasil masuk ke gerbang villa, yang memang masih terbuka. Karena mobil yang membawa Hiro sebelumnya baru saja masuk.
Perkelahian pun tak terelakkan. Satria turun dari motornya dan menghajar, satu persatu penjaga yang mengahalangi jalannya. Kia tak tinggal diam, meski sudah lama tidak berlatih, tapi ilmu bermuay thai-nya masih sangat ia kuasai.
'Bugh'
'Bugh'
__ADS_1
'Bugh'
Kia dan Satria seolah sedang berduet, melawan penjahat. Saat Satria terjatuh akibat pukulan lawan, Kia berhasil membantunya dengan menghalau pukulan berikutnya yang di arahkan pada Satria.
Kia menarik Satria untuk bisa berdiri kembali, dan beraksi melawan para penjahat. Enam penjaga itu berhasil mereka kalahkan. Marvin yang tadi ikut membantu melawan penjahat, sampai tertegun melihat aksi Kia. Tak disangka, wanita itu bisa bela diri juga.
Mereka bertiga akan masuk, sebelum seseorang membawa Hiro keluar dengan senjata yang mengarah ke kepala Hiro.
"Sudah cukup pertunjukannya!" ucap pria yang menawan Hiro.
Kia kaget, saat melihat pria yang berdiri disamping putranya itu. Dia adalah orang yang sama yang ia temui, sekitar sepuluh tahun yang lalu. Pria yang berpura-pura menjadi kekasih sahabatnya. Pria yang dulu menculik Shila.
Untung saja, saat itu Wira, Juna juga Rena berhasil menyelamatkan Shila. Hingga Shila bisa selamat dan sekarang hidup bahagia, bersama suaminya di Belanda.
"Kamu masih ingat aku bukan?" tanya pria itu.
"Kamu kenal dia?" Marvin juga bertanya pada Kia. "Dia adalah orang yang aku temui di kantor Hendra, dia juga yang menceritakan masa lalu mu pada ku. Dan memprovokasi aku untuk menculik Hiro," lanjut Marvin.
Kia menatap Marvin, kaget dengan cerita Marvin.
"Tentu saja dia mengenal ku, karena dia yang dulu memasukkan aku ke penjara. Dan membuat ku kehilangan kekasih ku!"
"Aku tidak suka bernostalgia, dengan orang yang tidak aku kenal. Sekarang lepaskan anakku!" ucap Satria yang tak ingin membicarakan masa lalu terlalu lama. Karena melihat wajah ketakutan Hiro.
"Ma ...," rintih Hiro, takut.
"Tolong lepaskan anak ku," pinta Kia.
Pria itu justru tertawa pongah. "Kau membuat ku kehilangan kekasih ku, bagaimana jika aku membuat mu kehilangan anakmu. Bukankah itu adil!"
"BERENGSEK!!!" Satria akan maju dan menghajar pria itu.
"Bos, ada panggilan dari bos besar," ucap salah seorang anak buah pria yang menyandera Hiro.
"Katakan!"
Anak buah pria itu berbisik pada bosnya.
"Aargh!" pekik pria itu kesal. "Kamu mau anak ini kan?"
Kia mengangguk.
"Imbalan apa yang di minta Aditya?" tanya Satria.
"Pintar juga kamu menebak, aku bahkan belum mengatakan siapa yang menelfon ku."
"Ikutlah anak buahku ke bandara. Dan aku akan melepaskan anak mu."
Satria tersenyum miring. " Apa aku terlihat bodoh!"
"Lepaskan anak ku, dan biarkan dia pergi."
"Aku akan melakukannya setelah kau ikut dengan anak buah ku."
"Dan aku tidak akan pergi sebelum aku melihat anak ku meninggalkan tempat ini!"
"Tidak bisa, Aku penjahatnya! aku yang membuat aturan. Kau pergi dengan anak buah ku, baru aku melepaskan anak mu!"
" Aku yang menentukan disini! Aku yakin, Aditya sangat menginginkan ku, jika aku tidak datang, bukan kepala kalian saja yang akan meledak. Aku pastikan, akan lebih buruk dari itu." Satria balik mengancam.
__ADS_1
"Argh ... dasar merepotkan!"
Satria tersenyum menang.
Pria itu menuruti Satria, melepaskan Hiro.
Hiro berlari, mendekap Kia. Begitu takutnya sampai-sampai wajah Hiro memucat.
"Bawa mereka pergi, jaga mereka." Satria berpesan pada Marvin.
Tak ingin mengulur waktu, Marvin mengajak Kia dan Hiro pergi. Kia serasa tak rela meninggalkan Satria sendiri. Apalagi setelah mendengar nama Aditya wilmar disebut. Kia seolah bisa memprediksi apa yang akan terjadi.
Kia menatap tidak rela pada Satria. Dan Satria menganggukkan kepalanya, agar Kia segera pergi dari tempat ini dan membawa Hiro ke tempat yang aman. "Percayalah," lirih Satria.
Dengan berat hati, Kia berjalan memasuki mobil Marvin sambil mendekap Hiro. Kia menoleh ke belakang, melihat Satria yang ia tinggalkan. Air matanya meleleh, karena tak bisa membantu Satria. Tapi dia harus percaya pada Satria.
Setelah mobil Marvin pergi dari gerbang villa, Satria menuruti permintaan anak buah Aditya. Dia ikut ke bandara, sesuai janjinya.
Sepanjang perjalanan, Satria mengingat pertemuannya dengan Aditya Wilmar dan juga Naya.
.
.
.
FLASH BACK ON
Satria mendapatkan undangan ke sebuah hotel dari orang yang tak ia kenal. Tapi seseorang yang menjemputnya, meyakinkan bahwa pertemuan ini tidak membahayakannya.
Sampai di sebuah hotel, Satria bertemu Naya. Putri yang sudah tiga tahun tak ditemuinya. Sejak Sarah meminta Satria untuk mengejar Kia. Bersamaan dengan saat itu juga, Sarah membawa Naya pergi. Sarah tak ingin membebani Satria dengan anak yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Sarah menutup akses untuk Satria mencari tahu keberadaannya dengan Naya.
Sejak tiga tahun terakhir, Satria benar-benar hidup sendiri. Hingga Tuhan mempertemukannya lagi dengan Kia, dan membuat semangat hidupnya seolah kembali berkobar.
Inilah pertemuannya kembali dengan gadis kecilnya. "Papa!" pekik Naya, anak itu belum melupakannya.
Dengan senyum hangat, Satria menyambut Naya dalam pelukannya. "I miss you, so," ucap Naya.
"I miss you too, my little girl."
Mereka pun bercengkerama, layaknya orang yang lama tidak berjumpa. Naya bercerita tentang mamanya yang sudah sembuh.
"Mama sudah tidak sakit lagi, mama sudah tidur dengan tenang," ucap Naya.
Satria tahu maksud Naya. Sarah, telah pergi. Meninggalkannya, meninggalkan Naya dan semua kenangannya.
"Satria," panggil Aditya.
Satria meminta Naya untuk bermain dengan pengasuhnya dulu. Dan menemui Aditya. Aditya menceritakan dengan lengkap kepergian Sarah, Dua bulan yang lalu. Aditya ingin, Satria lah yang merawat Naya. Karena Naya selalu menanyakan papanya itu. Waktu Sarah masih ada, Sarah selalu bisa mengatasi keinginan Naya untuk bertemu Satria. Setelah Sarah tiada, Aditya tidak bisa tahan dengan rengekan Naya, yang ingin bertemu Satria.
"Aku akan merawat Naya, setelah aku kembali pada Kia." ucap Satria.
"Aku hanya ingin kamu, bukan orang lain untuk merawat Naya!" ucap Aditya tegas.
"Tapi aku tidak bisa jika tanpa Kia dan anak ku," balas Satria.
"Satria!!!" Aditya Wilmar masih sama saja. Tak suka jika keinginannya di bantah.
Satria tahu benar sifat mantan mertuanya ini, karena itu dia tak ingin berlama-lama di hotel itu. Satria pamit pada Naya, dan pergi dari hotel itu.
__ADS_1
FLASH BACK OFF