Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.73


__ADS_3

Setelah mengantar Hiro ke sekolah, Juna langsung menyusul Kia dan yang lainnya yang sedang sarapan. Tanpa ijin, Juna langsung mencomot satu croissant dan mencelupkannya pada kopi miliknya.


Rena yang melihat kelakuan Juna langsung menampilkan ekspresi jijik. "Kenapa sih harus kayak gitu makannya. Dimakan biasa aja kenapa?" tegur Rena, yang tak suka cara makan Juna.


"Ini croissant siapa?" tanya Juna, mengacungkan croissantnya.


"Ya, croissant kamu lah!" jawab Rena kesal.


"Ya sudah! croissant ... croissant aku, kopi-kopi aku. Jangan bawel!" Juna sengaja mengacungkan croissantnya ke arah Rena, kemudian memakannya dengan cara yang dibuat menjengkelkan bagi siapapun yang melihatnya.


"Kapan sih kalian akurnya?" tanya Kia melihat kelakuan kedua temannya.


"ENGGAK AKAN!!!" jawab Rena dan Juna bersamaan.


"Ciyeee ... udah kompak, nih." Goda Kia.


"Apaan, sih!" Rena mendelik tajam menatap Kia.


"Ih ... sory ya! nggak mau aku sama dia. Kamu kan tahu, hatiku cuma untuk kamu, My sweet hearth," ucap Juna mencoba merayu Kia.


"Idih ... siapa juga yang mau sama orang kayak kamu. Kamu nggak denger kemarin, kalau Kia habis dilamar sama Marvin, kamu belum amnesia kan untuk tahu siapa itu Marvino Alexander!" bukan Kia yang menjawab tapi justru Rena, sementara itu Kia hanya senyum2 saja.


"Kalau, Kia terima itu bos hotel, kenapa nggak dari dulu diterima. Kamu tahu artinya?" Juna menatap Rena serius. "Itu artinya, Kia sedang menunggu lamaranku," sambung Juna percaya diri.


Semua yang sedang sarapan itu, tertawa mendengar kepercayaan diri Juna.


"Kamu yakin! terus, kenapa kamu nggak buru-buru lamar Kia, dia bahkan sudah jadi janda selama hampir tiga tahun?" cecar Rena.


"Ngapain sih, bawa-bawa status janda segala." Kia tak terima.


"Sory, Ki. Ini orang emang kepedean banget, bikin aku jadi illfeel." Rena mengekspresikan wajahnya seolah mau muntah.


"Jangan gitu bangetlah, Ren. Nanti jodoh, lho." Kia langsung tertawa.


"Ih ... amit-amit." Rena mengetuk meja tiga kali. "Dari pada sama manager ini, mendingan aku sama Pak Wira saja."


"Memangnya, Pak Wira mau sama kamu!" ejek Juna.


"Sudah-sudah, nanti nggak selesai-selesai sarapannya," tukas Wira agar pertengkaran Juna dan Rena berhenti.


Dengan mencebik, Rena menatap Juna kesal.


"Memang benar yang dikatakan Hiro kemarin?" tanya Wira pada Kia.


"Ya," jawab Kia singkat.


"Kamu terima?" Wira penasaran juga.


"Iya, kamu terima nggak, Ki?" Rena menimpali.


"Kamu, nggak terima kan?" tanya Juna was-was.

__ADS_1


Kia memperhatikan wajah-wajah temannya yang sedang menunggu jawabannya dengan penasara.


"Kasih tahu nggak, ya?" Kia sengaja menggoda teman-temannya ini.


"Kasih tahu dong, Ki. Biar kita bisa siap-siap untuk acara nikahan kamu," jawab Rena.


"Nggak akan ada pernikahan antara Kia dengan muffin itu!" sungut Juna.


"Marvin, Kak Juna! Bukan muffin, Dia bukan pastry." ucap Rena mengoreksi.


"Sama saja, entah Marvin, entah muffin. Keduanya nggak akan bisa, merebut Kia dariku."


"Ih ... kok kamu yang sewot!" ucap Rena.


"Sepertinya aku mendengar pembicaraan tentang pernikahanku dengan Kia?" suara seseorang yang baru saja tiba mengalihkan fokus mereka pada sosok tampan yang kini berdiri dibelakang Kia.


"Hai," Rena melambaikan tangan dengan malu-malu ke arah Marvin.


Wira langsung menyalaminya, karena dia duduk bersebelahan dengan Kia. Sedang kan Juna, ikut menyalami juga tapi dengan ekspresi tidak ikhlas.


"Kok, kamu bisa ada disini? Bukannya kemarin baru sampai Jakarta. Memang urusan kamu sudah selesai?" tanya Kia yang melihat Marvin sudah berdiri di belakangnya.


"Chatmu membuat aku ingin cepat kembali dan melihatmu. Aku ambil penerbangan pertama agar bisa lebih cepat menemuimu," jawab Marvin sok romantis.


"Kamu chat dia!" tanya Juna kaget.


"Y-ya, chat biasa aja," jawab Kia gugup. Takut temannya berprasangka yang tidak-tidak.


"By the way, kali ini apa peranmu menemui calon istriku!" kalimat ini Marvin tujukan untuk Wira. Marvin memang sangat cemburu dengan kedekatan Wira dengan Kia, begitu juga kedekatan Wira dengan Hiro.


"As a lawyer, friend or bisnis partner?" sambung Marvin, menjelaskan.


Wira masih saja belum paham maksud pertanyaan Marvin.


"Hei!!! Apa kalian bertiga benar-benar tidak punya perasaan! Kalian memperebutkan Kia di depanku yang masih jomblo ini!" hardik Rena karena melihat ketiga pria yang ada di depannya.


"Sudah, tidak usah dipikirkan." ucap Kia memutus percakapan yang seharusnya tak terjadi ini. Karena memang tidak ada apapun antara Kia dengan Marvin, atau dengan Juna dan Wira.


Kia lantas berdiri dan memberikan tempatnya pada Marvin. "Aku buatkan kopi." Kia masuk ke dalam rumah, dan meninggalkan teman-temannya di luar. Mereka memang sarapan di mini garden, di depan rumah Kia yang tak seberapa besarnya. Meskipun berada dibelakang restoran, namun Rumah Kia di desain sangat unik, dengan mini garden di depannya. Di bawah pohon kamboja itulah, tempat faforit Kia untuk sarapan, sekaligus berjemur kalau tidak musim hujan.


.


.


.


.


.


Jakarta

__ADS_1


"Apa semua sudah beres?"


"Sudah, Pak." Jawab Daniel pada atasannya.


"Jadi, kapan kamu akan kesana untuk meninjau proyek kerja sama itu?"


"Lusa saya akan kesana, Pak." Marvin mengeluarakan suratdarindalam tufk ada undangan untuk Anda dari pak Marvin." Daniel menyerahkan sebuah surat undangan untuk atasannya.


"Kita baru melakukan kesepakatan kontrak, dan aku sudah mendapatkan undangan grand opening? Apa dia Bandung Bandawasa, yang bisa membangun hotel dalam semalam?" pria itu terkekeh sendiri dengan ucapannya.


Daniel juga ingin tertawa, tapi dia masih menjaga sopan santunnya di depan atasannya. Karena itu, Daniel hanya bisa tersenyum tipis menahan ucapan tidak masuk akal bosnya.


"Ini bukan undangan grand opening hotel, Pak. Tapi pembukaan Night club, milik pak Hendra," jelas Daniel.


"Oh ... baiklah, atur saja jadwalku. Kurasa aku juga butuh liburan. Hampir tiga tahun terakhir, aku bekerja keras."


"Baiklah, Pak."


Danielpun permisi, dan meninggalkan ruangan bosnya.


Kini, tinggal sang bos yang sendirian diruangannya. Dia mengambil sebuah foto, dari dalam laci kerjanya. Ditatapnya, sebuah foto yang dulu ia ambil diam-diam. Sekarang, hanya foto ini yang ia miliki. Dia tak tahu, dimana dan bagaimana kabar kedua orang dalam foto di tangannya.


Dia menepati janjinya, untuk tidak mencari keberadaan mereka. Dan menunggu sampai Tuhan yang akan mempertemukan mereka kembali.


Rindu ... ya, dia sangat rindu dengan kedua orang dalam foto itu. Disetiap harinya, dia bahkan selalu berdoa agar diberi kesempatan untuk bisa bertemu dan melihat lagi orang yang ia kasihi.


Pria itu menitihkan air matanya, kala mengingat bagaimana cara mereka berpisah.


"Maaf," lirihnya dalam tangis. Dia kembali menatap sedih gambar dalam foto itu. Cukup lama.


"Kita pasti akan bertemu lagi," lirihnya yakin.


Dia mengusap air matanya, mencoba membangun keyakinan dalam hatinya. Bahwa nanti, Tuhan akan mengijinkan ia untuk bisa menebus kesalahannya.


.


.


.


.


.


.


Terima kasih untuk dukungannya ... lope ...lope ... lope ... buat semua yang udah


👍Like, dan


🖊️Komen

__ADS_1


Yang belum, buruan dukung yak ... tinggal klik doang😁😁😁


Tengkyu💓💓🙏sayang hee


__ADS_2