Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.43


__ADS_3

Sudah tiga hari Shila tidak masuk ke kampus. Siang ini Kia berniat menjenguk Shila, karena ponsel sahabatnya itu tidak bisa dihubungi.


"Maaf Pak, saya mau bertemu Shila," ucap Kia pada penjaga di rumah Shila.


"Non Shila belum pulang, Non," jawab pak Kardi, yang merupakan satpam di rumah Shila.


"Memang Shila ke mana?"


"Belum pulang kuliah, Non."


Kuliah?


"Sekarang Non Shila kalau pulang malem-malem terus, Non. Sejak punya pacar."


Shila punya pacar?


"Non Kia mau nunggu di dalem?" tanya pak Kardi.


Kia menggeleng. "Enggak usah Pak, saya balik aja. Mau kerja soalnya." Kia pun pamit dan pergi dari rumah Shila. Banyak pertanyaan mengisi otaknya sekarang.


Shila sudah punya pacar? bagaimana bisa dirinya tidak tahu. Terus, satpam rumahnya bilang Shila pergi kuliah. Kenyataannya, sudah tiga hari Shila ijin karena sakit.


Semua itu pertanyaan yang ada dalam pikiran Kia. Ah ... mungkin Shila belum ingin memberitahunya tentang pacarnya, setiap orang berhak atas kehidupan pribadi mereka. Mau bercerita atau menyimpannya dulu, yang penting sekarang Kia tahu bahwa Shila baik-baik saja.


🍁🍁🍁🍁


Hari minggu pagi, Kia sudah bersiap dengan Rena yang semalam menginap di rumahnya.


"Tolong angkat semua barang yang di dalam ya Pak," pinta Kia pada pak Hamid supir dari Satria. Kemarin Kia menghubungi Wira agar mengirim pak Hamid, karena pagi ini Kia akan melakukan kunjungan ke panti asuhan bersama Rena.


"Iya, Mbak." Seperti perintah Kia, Pak Hamid pun segera mengangkut barang-barang yang akan Kia berikan untuk anak-anak di panti asuhan.


"Udah siap belum, Ren?" teriak Kia pada Rena yang masih berada di kamar.


"Iya, bentar lagi." Rena memasukkan barang-barangnya ke dalam tas ranselnya dan segera menghampiri Kia yang ternyata sudah siap di dalam mobil.


"Tolong kunci pintunya," teriak Kia.


Perjalanan yang cukup jauh, dan terasa menyenangkan buat Kia. Sepanjang jalan Kia bercerita tentang kondisi kakaknya, juga menceritakan tentang Fira kekasih kakaknya yang meninggal tidak wajar. Sementara Rena hanya jadi pendengar setia tanpa berniat menimpali ataupun bertanya, mungkin dia juga bingung harus menanggapi seperti apa tentang cerita Kia.


"Akhirnya sampai juga," gumam Kia.

__ADS_1


Kini mereka sudah sampai didepan sebuah panti asuhan bernama 'KASIH BUNDA'.


"Kamu ... sering kemari?" tanya Rena.


Kia menggeleng. "Belum pernah, ini pertama kalinya," jawab Kia jujur.


"Kenapa panti asuhan ini yang dipilih, bukan kah ini terlalu jauh?"


"Terkadang, panti asuhan yang jauh dari kota besar jarang sekali tersentuh donatur dan aku memilih panti asuhan ini setelah mendapat rekomendasi dari temanku, bahwa saat ini panti ini sedang membutuhkan bantuan."


"Apa kamu sering melakukan kegiatan seperti ini?" tanya Rena lagi.


"Tidak juga, tapi saat ini aku butuh melakukannya."


Rena tak mengerti maksud ucapan temannya itu.


"Ada yang bilang, jika kita berbagi kebahagiaan maka Tuhan akan membahagiakan kita juga. Sejujurnya, aku ingin meminta doa dari anak-anak di sini, semoga Kakakku segera pulih dan segera bebas dari tuduhan kepadanya," lanjut Kia, menjawab pertanyaan Rena.


"Ayo masuk, pasti pengurus panti sudah menunggu kita. Begitu juga dengan anak-anak," ajak Kia.


Rena tiba-tiba memegangi perutnya. "Ma-maafkan aku, aku ingin ke toilet sebentar. Tiba-tiba perutku mulas," ucap Rena. Dia pun langsung pergi meninggalkan Kia juga pak Hamid sendirian.


Kia hanya bisa menatap ke mana Rena pergi. Tak ingin terlalu lama memperhatikan punggung Rena, Kia segera meminta bantuan pak Hamid untuk membawa barang-barang bawaannya. Kia membawa sembako, peralatan sekolah serta beberapa baju untuk anak-anak juga makanan ringan dan mainan untuk menyenangkan anak-anak di panti asuhan ini.


"Terima kasih Mbak Kia, semoga Allah membalas kebaikan Mbak Kia dengan memudahkan segala urusan Mbak Kia, memberikan keberkahan rezki untuk Mbak Kia," doa Bu Hasna setelah menerima bantuan dari Kia.


Kia tersenyum, mengamiini.


"Permisi," ucap seseorang yang masuk dengan hoodie kebesaran dan masker yang menutupi mulutnya, juga topi hoodie yang ia pakai di kepalanya.


Bu Hasna juga Kia bingung menatap orang ini, tidak ada yang tahu siapa orang dengan dandanan aneh ini.


"Maaf ada perlu apa ya, saya sedang ada tamu saat ini," ucap Bu Hasna.


"Sa-say ...." Orang itu berdehem untuk mengatur suaranya. "Saya temannya Kia," ucapnya.


"Oh ...," ucap Bu Hasna.


Kia masih bingung menatap Rena temannya, untuk apa Rena menggunakan hoodie di siang hari yang terasa gerah ini. Lalu, masker, tadi pagi dia baik-baik saja bukan?


"Kalau begitu, ayo kita temui anak-anak. Pasti mereka sangat suka dengan hadiah yang kalian bawa." Bu Hasna membimbing mereka untuk ke mushola, di mana anak-anak sudah berkumpul di sana.

__ADS_1


"Kamu kenapa? kok aneh begini?" bisik Kia yang berjalan bersama Rena di belakang Bu Hasna.


"Perutku mules, badanku tiba-tiba meriang, jadi aku pakai ini untuk menghangatkan tubuhku biar nggak mules lagi. Kalau masker ini, kan kita datang dari jauh, buat jaga-jaga aja biar nggak bawa virus dari luar. Anak-anak kan rentan."


Kia paham sekarang.


Bu Hasna, Kia, juga Rena disambut dengan tawa kebahagiaan anak-anak yang sudah mendapat bocoran bahwa hari ini mereka akan mendapat hadiah dari orang yang mengunjungi panti. Satu persatu anak maju dan menerima hadiahnya, lalu bersalaman dengan Kia juga Rena.


"Kak Li ...," ucap seorang anak dengan ragu, sambil menatap mata Rena. Mencoba mencari kebenaran apakah benar yang sedang bersalaman dengannya saat ini adalah orang yang dikenalnya.


Rena langsung mendorong pelan anak itu, karena di belakangnya sudah mengantri anak yang lain untuk bersalaman.


Semua anak sudah menerima hadiahnya, terlihat raut bahagia pada wajah polos mereka. Aura kebahagiaan anak-anak, menular pada Kia, yang merasa bahagia melihat senyum di bibir para malaikat-malaikat kecil itu.


Sebelum berpamitan, Bu Hasna meminta anak-anak untuk berdoa bersama-sama, mendoakan semoga apa yang menjadi hajat dikabulkan Allah SWT.


"Ki, aku ke kamar mandi sebentar ya?" bisik Rena.


Kia mengiyakan. "Aku tunggu di mobil ya," ucap Kia.


Rena pergi setelah berpamitan pada bu Hasna. Rena pergi ke kamar mandi di mana tadi dia memakai masker dan hoodienya. Di sana Rena melepas Hoodie juga maskernya.


"Kak Lily," pekik seorang anak yang tiba-tiba memeluk Rena dari belakang.


Rena yang kaget sontak memakai maskernya kembali, lalu menoleh ke arah anak tadi.


"Kak, Caca kangen sama Kakak," rengek gadis kecil itu.


"Eh ... kamu kenapa? kamu salah orang, aku bukan Lily, namaku Rena," jawab Rena meyakinkan anak itu.


"Enggak, Caca tahu. Kakak ... kak Lily, kakaknya Caca." Sekarang anak itu justru menangis.


"Bu-bukan, kamu salah orang," tepis Rena.


Anak itu menggeleng keras, dan semakin keras juga menangisnya. Tak tahan melihat anak itu, Rena berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan anak yang berusia sekitar enam tahun itu. Seketika anak itu memeluk Rena kembali.


"Caca kangen, Kak ... Caca kangen," ucap anak itu berulang-ulang dalam dekapan Rena.


Rena pun jadi ikut menangis. "Iya ... Kakak juga kangen Caca," ucap Rena menenangkan.


Anak itu melepaskan pelukannya. "Caca nggak mungkin salah mengenali kakak Caca sendiri," lirih gadis kecil itu. Dengan berani, Caca membuka masker Rena. Senyumnya langsung mengembang saat mengenali wajah didepannya. Caca kembali memeluk Rena, lebih erat dari sebelumnya.

__ADS_1


"Jangan pergi lagi, Kak," pinta Caca.


Rena hanya mengangguk untuk menyenangkan hati gadis kecil bernama Caca.


__ADS_2