
Malam harinya setelah kedatangan Wira, Rena, juga Juna, mereka mengadakan pesta jagung bakar. Maklumlah, di kampung, jadi bukan barbeque party, melainkan pesta jagung bakar. Yang, memang sengaja memanfaatkan bahan yang ada. Karena tadi sore, Pak Nardi sudah memanen jagung manis dari sawah.
Wira sedang sibuk dengan pak Nardi, membuat arang menjadi bara. Hiro dan Juna sedang mengupas jagung, sementara Rena menyiapkan bumbu untuk jagung bakarnya.
Juna menggoda Hiro dengan memasang rambut jagung di bawah hidungnya, agar terlihat seperti kumis. Hiro tertawa melihat kelucuan yang dihasilkan dari kelakuan absurd Juna. Tak hanya itu, setelahnya, Juna memindahkan kumis palsunya pada Hiro, membuat Hiro tertawa menahan geli.
Kia yang baru keluar membawa nampan berisi camilan, merasa bahagia melihat betapa senangnya Hiro, dikelilingi orang-orang yang selalu menjaga dan membahagiakannya. Kia meletakkan camilan yang ia bawa diatas meja didekat tempat yang akan digunakan untuk santai menikmati jagung bakar.
"Letakkan di situ saja, Mbok!" Kia menunjuk sisi kosong di atas meja, tempat ia meletakkan camilan.
"Njeh, Mbak." Simbok mengikuti arahan Kia, dan meletakkan minuman yang ia bawa berdampingan dengan camilan yang tadi dibawa Kia.
"Sudah jadi belum?" tanya Kia yang mendekati Wira.
"Sebentar lagi."
Kia meninggalkan Wira dan membantu Rena yang sedang menyiapkan sosis.
"Bumbunya sudah, Ren?" Kia berdiri di samping Rena.
"Sudah, kok." Rena menunjuk mentega dan saus yang sudah ia letakkan dalam mangkok.
"Sini, aku bantu tusuk sosisnya." Kia meraih tusuk sate juga sosis yang akan ia tusuk, untuk memudahkan membakarnya nanti.
"Arangnya sudah siap!" Teriak Wira memberitahu.
Dengan semangat Hiro membawa jagung yang tadi ia kupas pada Wira. Rena pun menyusul dengan membawa bumbu dan sosis yang tadi ia siapkan. Juna mengambil alih tugas Wira untuk membakar jagung, ditemani Hiro dan Rena.
"Mama duduk saja, biar Hiro dan Om Juna, yang bakar jagungnya," ucap Hiro, saat Kia hendak mendekat.
"Benar, kamu duduk saja, sayang. Biarkan Papa dan anak kesayangan Papa ini yang menyiapkan jagung bakar istimewa untuk mu," goda Juna yang disambut cengiran oleh Kia.
Tapi lain halnya dengan Hiro, bocah itu langsung mencapit perut Juna dengan dua jarinya. Membuat Juna mengaduh. Bukannya merasa kasihan, semua tertawa dengan kelakuan Hiro dan Juna.
"Ough-ough-ough, sakit, Hiro!" pekik Juna. "Tega banget sama Papa." Juna mengusap perutnya, bekas cubitan Hiro.
"Biarin! Biar Om Juna tahu, kalau Hiro nggak mau jadi anak Om Juna!" ketus Hiro.
"Belum tahu, enaknya jadi anak Om Juna," ucap Juna menyombong.
"Memang apa, enaknya jadi anak kamu?" sarkas Rena.
"Jelas enak lah, aku kan punya restoran, bisa makan enak, gratis lagi tiap hari," jawab Juna percaya diri.
Rena mencebik. "Nggak sadar diri banget sih, itu punya Kia, mamanya Hiro!"
Juna terkikik. "Kalau aku jadi Papanya Hiro, restoran itu jadi milikku juga."
Rena langsung menoyor kepala Juna. Yang diikuti suara tawa dari semua yang melihat kekonyolan Juna.
"Sudah-sudah, mau bercanda terus apa bakar jagung. Nanti arangnya keburu jadi abu, jangungnya nggak ada yang matang," sergah Wira.
__ADS_1
Mereka pun kembali fokus untuk membakar jagung juga sosis yang sudah di bumbui.
Kia memutar langkahnya, menunggu di bangku dimana tadi ia meletakkan minuman dan camilannya. Tak lama setelah ia duduk, Wira menyusulnya, duduk bersebrangan dengan Kia.
"Bagaimana kabar mu?" tanya Wira memulai percakapan.
"Lebih baik." jawab Kia lugas.
"Bagaimana dengan Hiro?"
"Selama disini, dia tidak pernah menyinggung soal papanya. Baru tadi pagi dia mengatakan apa yang ia rasakan."
"Kemarin, bapak Satria menemui ku, menanyakan keberadaanmu dan Hiro."
Kia terlihat kaget mendengar apa yang Wira katakan.
"Aku belum memberitahunya, karena aku belum meminta ijin dari mu," sambung Wira.
"Aku bingung, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika bertemu dengannya lagi."
"Apa kamu masih ingin bersamanya?"
Kia mengangkat bahunya. "Kamu lihat, Hiro bahagia tanpa Satria. Dia tidak membutuhkan Satria." Kia menatap Hiro yang sedang membakar jagung bersama Juna dan Rena sambil bersenda gurau.
"Bagaimana kamu tahu dia tidak membutuhkan papanya?" Wira menatap Kia. " Hiro anak yang cerdas, apa kamu tahu selama ini anak itu menyembunyikan perasaannya. Kerinduannya pada papanya, dan kesedihannya saat teman-temannya mengatainya."
Kia beralih, mengarahkan pandangannya pada Wira.Menatap terkejut atas apa yang baru ia dengar.
"Ya, Hiro tidak pernah ingin kamu tahu, karena Hiro tidak ingin menambah kesedihanmu. Hiro pernah bercerita, kalau dia melihatmu menangis di tengah malam, sambil memandangi sebuah foto.
Mata Kia mulai berkaca-kaca, mendengar cerita Wira.
"Anak itu selalu berusaha untuk menjagamu, melindungimu dari kesedihan." Wira tesenyum, melirik Hiro, mengingat ucapan bocah kecil yang selalu bilang akan jadi pelindung untuk mamanya itu.
"Dia selalu berusaha bersikap semua baik-baik saja, tapi bukan berarti dia tidak membutuhkan papanya."
Kia masih menjadi pendengar setia. Namun, air matanya mulai keluar.
"Dia hanya ingin melindungimu." Sekali lagi Wira mengucapkannya.
"Lalu, kenapa dia marah saat melihat Satria. Dia seolah membencinya?"
"Bagaimana dia tidak membencinya, kalau yang dia lihat, papanya lah yang membuat mamanya menangis."
Kia mengerti maksud ucapan Wira. Mungkin Hiro anak yang cerdas, tapi dia tetaplah anak-anak. Seperti anak pada umumnya, mereka tak akan suka melihat mamanya menangis, apalagi melihat orang yang menyebabkan mamanya menangis.
"Mama!" Hiro membawa piring berisi jagung bakar juga sosis yang sudah matang pada Kia dan Wira.
Buru-buru Kia mengusap air matanya yang tadi sempat menetes, agar tak terlihat oleh Hiro.
"Sudah matang ya?" tanya Kia yang langsung memasang senyum di bibirnya.
__ADS_1
"Mama cicipi dulu, ini Hiro yang bakar lho," ucap Hiro bangga.
"Sama papa Juna juga bakarnya!" Seru Juna menimpali.
Hiro menoleh, dan mempertontonkan mata elang yang siap menerkam mangsa. Dari tempat membakar jagung, Juna yang melihat tatapan tajam Hiro, langsung angkat tangan. Bukan karena takut, tapi senang, karena berhasil menggoda bocah yang selalu menolak untuk dijadikan anaknya itu.
Rena pun, membawa jagung dan sosis yang sudah selesai dibakar ke meja, dan menikmatinya bersama Hiro, Wira , juga Kia. Mereka nampak asyik menikmati jagung bakar mereka.
"Hei ... kenapa kalian makan lebih dulu? ini masih ada yang belum di bakar, selesaikan dulu, baru kita makan sama-sama." protes Juna melihat teman-temannya makan jagung hasil bakarannya, tanpa mengajaknya.
"Kamu saja yang selesaikan, itu bagianmu. Kita makan duluan!" ledek Rena.
Dengan kesal, Juna memberikan kipas yang ia pegang pada Pak Nardi, dan menghampiri teman-temannya.
"Mana bagianku?" tanya Juna.
"Kamu tidak lihat, kalau jagungnya sudah pas untuk kita berempat. Tadi aku sudah bilang, kamu selesaikan saja sendiri bakar jagungnya, dan itu adalah bagianmu." jawab Rena.
Juna melihat kosong piring di meja, dan melihat jagung yang ada di tangan Wira, Kia, Rena, juga Hiro.
"Kalian keterlaluan! kalian bahkan tidak menungguku." Juna menatap kesal pada semuanya. Tapi tak dihiraukan.
"Hiro, kenapa kamu nggak bantuin papa, malah kamu kasih jagungnya buat orang ini." Juna menunjuk Wira.
"Karena Hiro lebih suka Om Wira, dari pada Om Juna."
Makin kesal saja Juna mendengar jawaban Hiro, dan makin keras Wira dan Rena mentertawakan.
Malam ini malam yang penuh kebahagiaan untuk Kia. Kia benar-benar merasa beruntung, memiliki teman seperti Rena, Juna, juga Wira. Teman yang selalu ada untuknya, juga Hiro. Kia tak bisa membalas kebaikan mereka dengan apapun, selain doa, semoga Tuhan membahagiakan mereka dengan kehidupan yang diberkahi.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupakan untuk selalu :
👍Like
❤️Favorite
🖊️Komen
__ADS_1
Semua dukungan kalian sangat berarti untuk ku😁
Tengkyu💓💓💓sayang hee