
Fira menatap kaget, bagaimana foto-foto itu ada di sana dan Keenan telah melihatnya. Rasa takut juga malu berkecamuk dalam hatinya.
"I-itu ...."
"Apa!" bentak Keenan. "Aku nggak nyangka, kalau kamu segila ini!"
"I-itu, itu tidak seperti yang kamu pikirkan. A-aku hanya menemukan foto-foto itu saja."
"Kamu pikir aku bodoh! Hilangkan semua foto ini, juga foto yang lain yang kamu simpan. Dan pergi dari rumahku, atau aku akan membunuhmu jika aku masih melihatmu di sini!" ucap Keenan dengan berteriak.
Keenan tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan, Keenan jadi merasa jijik dengan Fira yang menurutnya gila.
"Enggak!" Fira menggeleng keras. "Aku nggak akan pergi dari sini, aku cinta sama kamu." Fira berjalan mendekat kearah Keenan.
"Dan aku tahu, kamu juga cinta sama aku, kamu sendiri yang bilang di depan Papa dan Adikmu, kalau kamu sangat mencintaiku. Kita akan menikah, bukan?" ucap Fira dengan yakin tentang perasaan Keenan.
"Kamu bener-bener gila ya! aku nggak pernah cinta sama kamu, kamu sendiri bahkan tahu alasanku menjadikanmu kekasih bayaran untuk ku, aku mencintai orang lain!"
"BOHONG!!!" Fira menggeleng tidak percaya dengan ucapan Keenan.
"Kamu tidak pernah mencintai wanita itu, kalau kamu mencintainya, kenapa bukan dia yang kamu bawa pada Papamu, kenapa!" Pekik Fira.
"Kamu tahu kenapa, karena kamu cuma ingin main-main dengan wanita murahan itu." Fira menarik bibirnya keatas seolah meledek. "Yang sebenarnya kamu cintai itu cuma aku," sambungnya.
"Dasar gadis gila. Aku tidak ingin lagi berdebat. Sekarang kemasi barang-barangmu, jika besok aku masih melihat mu di sini, aku akan membunuhmu!" Keenan berlalu pergi meninggalkan Fira. Dia membanting pintu kamar Fira dengan keras.
Assisten rumah tangga yang dari tadi ternyata berdiri di depan pintu sampai terlonjak kaget saat Keenan keluar dengan marah.
__ADS_1
"Tuan, tunggu!!!" teriak Fira. Fira terduduk lemas di lantai, dia menangis.
"Kamu harus sadar Keenan. Aku yang kamu cintai, bukan ja lang itu, dia hanya mainan. Dia tidak pantas untuk mu. KEENAN!!!" teriak Fira dalam tangisnya.
Fira semakin meraung di dalam kamarnya. Dia benar-benar tidak rela jika harus pergi meninggalkan Keenan. Dia sudah melakukan banyak hal agar bisa mendapatkan Keenan. Fira bahkan meminta model itu untuk meninggalkan Keenan. Tapi apa yang dia dapat sekarang, dia justru yang terusir. Fira harus tersingkir. Fira tidak rela jika harus kehilangan Keenan.
Sehari setelah pertengkaran itu, Fira masuk ke kamar Keenan. Keenan memang sering pulang ke rumah itu, dan memiliki kamar sendiri. Kamar Keenan memang tidak pernah dikunci, karena itu Fira bebas keluar masuk kamar itu. Fira bahkan sering menghabiskan waktunya di kamar Keenan untuk memuaskan delusinya.
Fira menatap nyalang ke setiap sudut kamar yang selalu menjadi tempat faforitnya. Banyak hal yang ia khayalkan bersama Keenan terjadi di ruangan ini. Fira tersenyum saat matanya menatap ranjang Keenan, pikirannya membawanya pada hal yang mengingatkannya tentang apa yang sering ia lakukan di atas ranjang itu. Berkhayal tentang Keenan.
Fira kembali tersenyum saat menatap kamar mandi. Dia pun berjalan masuk ke dalamnya, Fira meletakkan ponselnya di dekat washtafel. Fira berjalan, dan dia berdiri di bawah shower, menirukan bagaimana saat Keenan membasahi diri di bawahnya, Fira pun tersenyum malu membayangkannya. Dia beralih, duduk di atas closet, sekarang entah apa yang ada dalam benaknya. Dia diam, seolah sedang berpikir serius.
Matanya melirik ke atas di mana ada pot kaktus kecil diletakkan sebagai hiasan. Fira tersenyum kembali, sedetik kemudian senyumnya hilang kala ponselnya berdering. Diangkatnya telfon dari private number.
Dia marah, atas apa yang didengarnya dari lawan bicaranya. Dia menutup telfonnya dengan kasar, lalu membantingnya. Fira berteriak sekeras mungkin sambil membuang semua perlengkapan mandi yang ada di samping washtafel.
Fira menatap gunting yang ikut terjatuh bersama perlengkapan mandi Keenan. Fira mengambilnya, dan dengan segala pikirannya yang tak masuk akal dia menusuk dirinya sendiri.
Di saat itulah, Keenan datang. Saat Fira sudah tergeletak bersimbah darah.
🍁FLASH BACK OFF🍁
"Lalu, kalau Kak Keenan bukan pelakunya. Kenapa kak Fira menulis nama Kak Keenan di samping jasadnya?" tanya Kia.
"Nama yang ditulis Kak Fira bukan menunjukkan pelaku penusukan, tapi nama itu adalah pasword untuk membuka laptop Kak Fira. Kakakku begitu terobsesi pada Kakakmu, hampir setiap hal dihubungkan dengan Kakakmu dan di dalam laptop itu, kakak ku menyimpan semua rahasianya. Perasaannya, dan kondisi psikologisnya yang tak sehat. Bahkan di dalam laptop itu juga, Kakakku menyimpan hasil rekaman kamera yang dipasangnya di kamar mandi Kakakmu." Rena menangis menceritakan kondisi kakaknya selama ini yang ia tahu dari catatan milik kakaknya.
"Kalau begitu, kamu punya bukti bukan saat kak Fira melakukan aksinya di kamar mandi. Dan itu akan membuktikan Kakakku tidak bersalah. Please ... bantu aku, Ren." Kia memohon.
__ADS_1
"Enggak!!! aku ingin Kakakmu tetap di sana! Dia harus bertanggung jawab atas kematian Kakakku."
"Bukankah kamu bilang, bukan Kak Keenan yang melakukannya?"
"Tapi dia tetap yang menjadi penyebab Kakakku melakukan tindakan itu, kalau saja Kakakmu memahami perasaan Kakakku, pasti Kakakku tidak akan mengambil keputusan itu. Tapi ...."
"Ren!" sela Kia. "Perasaan itu tidak bisa dipaksa."
"Ya tidak bisa dipaksa, tapi seharusnya Kakakmu juga tidak memberikan harapan untuk Kakakku dengan bersikap manis dan disalah artikan oleh Kakakku."
Kia bingung bagaimana lagi harus menjelaskan pada Rena tentang kakaknya. Kia menjambak rambutnya sendiri. Di saat bersamaan ponselnya berbunyi, segera Kia mengangkatnya setelah melihat bahwa telfon itu dari rumah sakit.
Kia diperintahkan segera datang ke rumah sakit karena kondisi Keenan memburuk. Tanpa pikir panjang, Kia segera berlari ke mobil, mengabaikan Rena yang dari tadi tak setuju untuk membantunya.
"Pak segera ke rumah sakit," ucap Kia pada Pak Hamid yang sudah menunggunya dari tadi.
Kia menutup pintu mobilnya, berbarengan dengan Rena yang masuk. Namun Rena memilih duduk di depan bersama pak Hamid.
Sampai di rumah sakit, Kia berlari menuju kamar perawatan kakaknya. Kia terlambat, saat membuka pintu kamar perawatan, kakaknya sudah tertutup kain putih. Kia berjalan lemas, mendekati kakaknya.
"Maaf Mbak, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun Tuhan berkehendak lain," ucap perawat yang bertugas menjaga Keenan.
Tak ada yang bisa Kia lakukan selain menangis di samping jasad kakaknya. Dia sudah korbankan dirinya agar bisa membebaskan Keenan, tapi ternyata kematian justru membebaskan Keenan terlebih dulu.
"Kak, bangun Kak. Aku sudah menemukan bukti kalau Kakak tidak bersalah. Aku sudah memenuhi janjiku, aku akan membebaskan Kakak." Kia mengguncang tubuh yang terbujur kaku itu.
"Kak ... bangun!!!" teriaknya diiringi isakan.
__ADS_1
Rena berdiri di ambang pintu, memandang temannya yang meraung di samping jenazah orang yang ia benci.