
Tidak sia-sia usaha Hiro, Mbak Yanti dan Bli Made tadi pagi. Hasilnya langsung bisa dirasakan, restoran hari ini jadi ramai. Hampir semua meja penuh. Inilah alasannya, kenapa, meskipun sudah hampir tiga tahun berdiri, restoran milik Kia ini masih melakukan promosi-promosi. Entah itu melalui media sosial, maupun menyebar brosur seperti yang Hiro dan Mbak Yanti lakukan tadi pagi.
Di jam makan siang ini, semua pekerja restoran sibuk melayani tamu yang datang. Kia dan Hiro pun ikut membantu agar tamu bisa dilayani dengan cepat. Lelah, pasti mereka rasakan. Tapi melihat banyak tamu yang datang, itu sebanding dengan rasa lelah yang dirasakan.
"Hiro!" panggil Kia, yang melihat Hiro berdiri mematung, menatap keluar.
"Ah ... iya!" jawab Hiro cepat, saat sadar dirinya dipanggil.
Hiro segera berjalan menemui mamanya, meninggalkan seseorang yang dari tadi ia perhatikan dari dalam.
"Bawakan buku menu untuk tamu yang baru datang disana." Kia menunjuk salah satu meja.
"Siap!" Hiro segera melaksanakan perintah Kia.
Hari ini berjalan lancar, semua tamu yang datang bisa dilayani dengan baik tanpa ada komplain sama sekali. Semua pegawai restoran juga sudah pulang. Kia sudah mengantar Hiro untuk beristirahat di kamarnya.
Kini, dia sedang duduk di sofa depan televisi, bukan untuk menonton tivi, tapi untuk memeriksa pekerjaannya. Dengan serius Kia menatap layar laptop yang dipangkunya. Melihat angka-angka yang berjejer rapi di sana.
Hari yang sangat melelahkan. Satu jam berlalu dengan cepat. Mata Kia mulai lelah menatap layar yang cahayanya cukup menyilaukan. Kia membuka kaca matanya, dan meletakkannya di atas meja. Dipijitnya tengkuk leher yang terasa kaku, sambil menggerakkan kepalanya. Kia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul satu dini hari. Pantas saja sedari tadi, dia sudah menguap terus.Matanya menatap sekeliling, dan berhenti pada sebuah kalender yang diletakkan disamping buffet. Ada angka yang dilingkari pada kalender itu.
Dengan rasa kantuk yang ia tahan, Kia menghampiri kalender itu. Otaknya langsung menangkap makna dari angka yang dilingkari. Kia meraih ponsel yang ada di atas meja, lalu menekan nomor untuk menghubungi seseorang.
"Hallo," jawab orang diseberang, setelah Kia menunggu beberapa saat.
"Hallo, kamu dimana?" tanya Kia, karena terdengar bunyi yang sangat bising.
"Aku di tempat Hendra." jawab orang itu dengan berteriak.
Kia langsung tahu, tempat apa yang dimaksud. Pantas saja, orang yang ditelponnya berbicara dengan berteriak. Karena orang itu sedang ada di club. Suara bising itu pastilah berasal dari musik yang dimainkan untuk mengiringi orang yang sedang berdisko.
"Ya sudah, kalau kamu sedang sibuk."
"Tidak-tidak, aku tidak sibuk. Kamu ingin bicara apa? Aku akan menjauh." Marvin berpamitan pada teman-temannya, untuk berbicara di telfon sebentar.
Dia mencari tempat yang agak sepi, agar pembicaraannya bisa terdengar jelas dengan Kia. Setelah Kia mengatakan tujuannya menelpon Marvin, Marvin langsung kembali pada teman-temannya.
"Maaf," ucap Marvin yang kembali duduk. Lalu mengambil gelasanya dan meneguk isinya hingga tandas.
"Siapa yang menelpon?" tanya Hendra.
"Biasa," jawab Marvin singkat.
Satria yang ikut bergabung disana, menatap Hendra bingung.
__ADS_1
"Ada apa malam-malam begini telfon?" tanya Hendra lagi.
"Hiro mau ulang tahun, Kia ingin memberikan kejutan hadiah untuknya. Dia memintaku untuk mencarikan hadiah motor cross untuk anak-anak," jelas Marvin.
Hendra mengangguk paham. "Sebeneranya, sampai kapan kamu akan menunggunya. Dia terlihat tidak punya perasaan sama sekali padamu." ujar Herman.
"Aku tahu, aku juga menyadari hal itu. Entah kenapa aku ingin sekali bertemu dengan mantan suaminya yang berengsek itu!" ucap Marvin geram.
"Apa hubungannya, perasaan Kia dengan mantan suaminya?" Herman terlihat ingin tahu.
Sementara Satria hanya diam memperhatikan.
"Aku tidak tahu ada masalah apa pada masa lalu mereka, tapi aku yakin, mantan suaminya itu adalah orang yang berengsek. Karena dia penyebab Kia, tidak mau membuka hatinya kembali untuk pria lain. Mungkin mantan suaminya begitu menyakitinya, hingga ia trauma dengan suatu hubungan pernikahan.
Aku bersumpah, aku akan menghajarnya habis-habisan jika aku bertemu dengan pria berengsek itu!"
"Uhuk ... Uhuk ...." Satria langsung terbatuk mendengar ucapan Marvin. Tiba-tiba saja minuman yang ia minum membuatnya tersedak.
"Kamu baik-baik saja, Sat?" tanya Hendra.
"Maaf Pak, saya tidak seharusnya membicarakan masalah pribadi saya." ucap Marvin. Dia baru menyadari kalau ada orang lain selain Hendra yang tahu tentang ceritanya, ikut mendengar masalah pribadinya.
Hendara adalah teman Satria, dan Marvin pun sama. Tadi Hendra sengaja mengundang keduanya untuk dipertemukan. Mumpung Satria sedang ada di Bali, karena mereka sama-sama memiliki bisnis di bidang pariwisata. Siapa tahu saja bisa bekerja sama. Ternyata, Marvin sudah mengenal Satria lebih dulu sebelum dikenalkan, bahkan sudah menjalin kerja sama.
Marvin, manggut-manggut.
Hendra bercerita tentang kisah cinta Marvin yang sudah ditolak oleh wanita yang sama selama hampir tiga tahun.
"Hentikan! Kamu pikir kisah cintaku untuk konsumsi publik!" Marvin mendelik menatap Herman yang masih saja terus bicara, seolah mengolok-olok kisah cinta temannya ini.
"Jangan percaya, kisahku akan berakhir indah. Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan wanita pujaanku!"
Satria memperlihatkan senyum palsunya, dia tidak suka mendengar pernyataan Marvin, tapi dia tidak bisa memperlihatkannya pada orang-orang di depannya ini.
"Baiklah, kami akan menunggu kabar baiknya. Kuharap Kia benar-benar jatuh cinta padamu, bukan karena kasihan melihatmu bertahun-tahun mengemis cintanya." Ledek Hendra.
"Cih! Mengemis, aku bukan pengemis. Aku hanya menunjukkan ketulusanku. Aku bisa menerima dia dan juga Hiro," jelas Marvin.
"Tapi, jika kali ini kamu ditolak lagi, lebih baik kamu menyerah. Mungkin dia bukan jodohmu, atau mungkin dia masih mencintai mantan suaminya dan ingin kembali bersama." ucap Hendra, sembari meneguk minumannya.
"Aku adalah jodohnya, dan aku akan memaksa dia jadi jodohku. Kamu tahu kan, aku tergila-gila padanya tiga tahun terakhir. Bahkan karena dia, aku tidak pernah lagi menyentuh wanita-wanita yang kau tawarkan."
"Aku bisa melihatnya, kalau kamu benar-benar gila. Jatuh cinta pada janda." Hendra tertawa keras, mentertawakan Marvin.
__ADS_1
"Dia bukan sembarang janda, dia adalah janda istimewa." Balas Marvin yang mulai tak sadar.
Dia kembali menenggak minumannya. Begitupun dengan Herman.
Satria hanya jadi penonton dan mendengarkan pembicaraan antara dua orang yang terlihat mulai hilang kesadaran itu.
"Kia ... Aku mencintaimu," racau Marvin.
"Cinta itu bullshit!" kali ini Hendra yang meracau.
Mereka sudah mulai kehilangan kesadaran, tapi masih saja meracau tak jelas.
Melihat kelakuan Marvin yang berulang kali menyebut nama Kia, membuat darah Satria mendidih. Tapi, tak ada yang bisa ia lakukan pada orang mabuk ini. Diambilnya ponsel yang ada di depan meja lalu pergi meninggalkan kedua orang mabuk ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Support cerita ini selalu ya ZEYENGG!!!
👍Like, dan
🖊️Komen
Tengkyu💓💓💓sayang hee
__ADS_1