Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.30


__ADS_3

Disebuah Gedung mewah, akan berlangsung acara peluncuran sebuah brand cosmetic. Semua orang yang datang adalah tamu-tamu penting, mulai dari kalangan pengusaha dan juga artis.


Pesta dengan dekorasi mewah itu juga dihadiri banyak awak media yang meliput. Para tamu sudah mulai berdatangan karena acara akan di buka pukul delapan.


Semua nampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Begitu juga Kia dan Rena, mereka berdua sibuk menata makanan yang akan jadi hidangan para tamu. Kia akhirnya ikut menjadi additional waiters bersama Rena.


Suasana yang tadi tenang tiba-tiba berubah riuh saat para wartawan berebut untuk mengambil gambar dari artis yang baru saja datang. Artis yang akan jadi bintang malam ini, yang menjadi brand ambassador dari produk yang akan di launching.


"Siapa sih yang datang," bisik Kia pada Rena sambil menata kue.


"Sarah Wilmar, model yang jadi brand ambassadornya, " jawab Rena dengan berbisik juga.


Tiba-tiba saja perasaan Kia jadi tidak enak mendengar nama Sarah disebut. Kia memang sudah tahu dari awal kalau Sarah akan datang, karena posternya sudah dipajang hampir di setiap sudut ruangan ini. Namun jika harus melihatnya langsung, membuat suasana hati Kia jadi tidak baik.


Kia mempercepat kerjanya, dia ingin segera keluar dari ruangan ini karena tidak mau bertemu dengan istri pertama suaminya itu, anggaplah Kia menghindar karena memang itu yang Kia inginkan.


Saat kembali ke ruangan tempat teman-teman waitersnya berkumpul, mereka sedang heboh membicarakan ketampanan suami dari Sarah Wilmar. Selama ini Satria jarang terekspose media, karena Satria kurang suka hingar bingar dunia entertainment. Namun kali ini, Sarah Wilmar muncul bersama suaminya. Hal yang sangat jarang sekali terjadi.


Penasaran melihat suaminya bersama Sarah, Kia pun mengintip dari jauh saat Sarah menggandeng mesra lengan Satria memasuki ruangan, tempat berlangsungnya acara. Hatinya berdenyut nyeri, menyaksikan kemesraan yang ditampilkan Sarah dan Satria.


"Permisi Nona, ada kiriman bunga untuk Anda," ucap seorang pelayan yang membawa sebuket bunga untuk Sarah. Dengan tersenyum Sarah mengambil buket itu, mencium aroma harum dari bunga dan tersenyum tipis pada Satria.


Ada pesan di buket bunga yang ia bawa.


Selamat datang kembali Sarah, aku merindukan mu.


~SR~


Sarah langsung melempar buket bunga itu setelah membaca pesannya. Seketika banyak pasang mata menatapnya, dan Sarah langsung mengendalikan dirinya untuk kembali tersenyum.


"Ada ulat di buket bunganya," ucap Sarah lirih menatap Satria. Sarah langsung memerintahkan pelayan yang membawa bunga tadi untuk mengambil dan membuangnya.


Pelayan itu pun menuruti perintah Sarah untuk membawa buket bunga itu pergi. Saat berjalan melalui Kia, pelayan itu menyuruh Kia membuang bunga itu.

__ADS_1


"Tolong kamu buang ya, kata Nona Sarah ada ulat di buket itu."


Kia menerima buket itu dan membawanya pergi, saat akan membuang buket itu ada pesan yang masih menempel. Kia terkejut saat membuka pesan itu.


"Kia, jangan bengong aja. Ayo kita bertugas, tamu undangan sudah banyak yang datang, acara juga sudah dimulai," ajak Rena.


"I-iya." Kia mengambil pesan yang ada di buket lalu memasukkannya ke dalam saku roknya dan bergegas menyusul Rena untuk melanjutkan tugasnya.


Kia menyaksikan bagaimana Sarah menjadi pusat perhatian, kecantikannya, tutur bahasanya, membuat semua orang yang hadir memuji-muji Sarah. Setelah selesai dengan pidatonya, Sarah kembali menghampiri Satria.


Kia ingin pergi saja melihat kemesraan keduanya. Saat sudah memutar tubuhnya untuk pergi agar tak bertemu langsung dengan Sarah dan Satria, Juna justru menyuruhnya untuk melayani Sarah yang tengah memanggilnya.


"Kamu saja, Jun," tolak Kia.


"Nggak bisa Kia, aku sedang sibuk ini. Udah sana bawa minuman mu." titah Juna.


Dengan malas Kia menghampiri Sarah dan Satria sambil membawa nampan minumannya.


"Kamu mau ini, Sayang," ucap Sarah manja.


"Sayang ...." Sarah mengguncang lengan Satria.


"Eh ... iya," jawab Satria tergeragap.


"Ini minumnya." Sarah memberikan gelas dengan air berwarna merah di dalamnya kepada Satria.


Dia pun mengambil satu gelas untuknya sendiri. Kia sudah akan pergi saat Sarah memanggilnya. "Tunggu ...," panggil Sarah.


Kia menoleh kembali pada Sarah, dan di saat yang bersamaan Sarah dengan sengaja menumpahkan minumannya ke baju Kia.


"Maaf ..., " ucapnya seolah menyesal.


Tak ada yang Kia lakukan kecuali tersenyum menerima perlakuan Sarah. Kia langsung pergi meninggalkan pasangan yang sedang diperbincangkan malam ini.

__ADS_1


Kia menaruh nampannya di meja sebelum ia ijin pada Juna untuk mengganti bajunya yang basah. Untung saja Kia membawa baju seragam double atas saran Rena, untuk mengantisipasi kejadian seperti ini.


Kia mengambil tasnya yang ada di ruang tunggu yang disediakan khusus untuk waiters. Dia akan mengganti bajunya di toilet, meski di ruangan itu pun sepi karena semua sedang bertugas.


"Kenapa tidak bilang kalau kamu ada di tempat ini juga." Suara Satria membuat Kia mengurungkan niatnya.


Suaminya ini sudah berdiri di belakangnya saat ini.


Kia memutar tubuhnya. "Aku tidak tahu kalau kamu dan istri mu itu akan ada di sini juga." Rasanya malas sekali melihat Satria saat ini.


"Untuk apa kamu mengikuti ku, nanti istrimu itu mencari mu," sindir Kia.


"Dia sedang sibuk dengan kolega-nya," jawab Satria.


"Tadi aku perhatikan kamu begitu akrab dengan pelayan laki-laki itu. Apa dia menyukai mu?"


Satria makin mendekat, mingikis jarak antara Kia dan dirinya. "Aku sudah sering kali bilang bukan, aku tidak suka kamu dekat dengan pria mana pun selain aku," ucap Satria mengintimidasi.


"Dia rekan kerja ku, dan kami hanya mengobrol. Apa itu tidak boleh?" jawab Kia dengan sinis.


"Kamu membelanya?" Satria makin mendekat dan Kia makin mundur.


"Aku tidak membelanya, aku hanya bicara apa adanya."


Satria tersenyum menyeringai. Dia semakin mendekat hingga Kia tersudutkan. Tanpa peduli di mana ia saat ini, Satria langsung menyambar bibir Kia.


"Hummp." Suara yang keluar dari bibir Kia, bermaksud agar di lepaskan. Kia bahkan memukul-mukul dada Satria. Namun suaminya yang lupa diri itu justru menciumnya semakin dalam.


Kia yang masih menyimpan kewarasannya terus memukul mukul dada suaminya, Kia tidak ingin tertangkap basah oleh orang sedang berciuman dengan Satria, yang orang ketahui sebagai suami Sarah.


Tak mendapatkan hasil dengan pukulannya, Kia menginjak dengan keras Kaki Satria dan menendang tulang keringnya. Meskipun menyakiti Satria tapi cara itu berhasil membuat Satria melepaskan bibirnya.


Satria mengaduh memegangi kakinya yang di tendang Kia. Tanpa rasa peduli, Kia meninggalkan Satria sendiri. Kia pergi ke toilet untuk mengganti bajunya.

__ADS_1


Tanpa keduanya ketahui, sedari tadi sejak Satria masuk ke dalam ruang tunggu waiters, ada sepasang mata yang mengamatinya dengan sembunyi-sembunyi seolah tanpa kedip. Rasa marah bercampur cemburu, saat melihat adegan antara suaminya dengan wanita lain.


Matanya menatap penuh amarah pada wanita yang telah menggantikan posisinya. Hal yang ia inginkan, kini suaminya berikan untuk wanita lain.


__ADS_2