Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.88


__ADS_3

Kia terus tertawa, melihat bagian bawah tubuh Satria. Pria yang kembali menyandang status sebagai suaminya. Di hari pernikahannya, ada incident kecil saat mau berangkat ke kantor KUA. Yang membuat Satria harus mengganti celananya dengan sarung.


Tadi, Satria berangkat ke rumah Kia, agar bisa berangkat bersama ke kantor KUA. Sampai di sana, tanpa sengaja, Kia menumpahkan minuman yang akan ia suguhkan. Karena tidak ada celana pria di rumahnya, Kia meminjamkan sarung yang ada di moshola restorannya.


Wira, Juna, dan Rena, mereka semua langsung ke kantor KUA dari bandara. Satria sebenarnya menolak, saat disuruh mengenakan sarung. Tapi, karena waktu untuk ke kantor KUA sudah mepet, bahkan mereka akan terlambat jika harus pergi beli celana dulu, Kia memaksakan Satria untuk mau memakai sarung. Dan hal itu terlihat aneh untuk Kia.


"Hentikan tertawamu!" Satria melirik Kia dengan tajam.


Bukannya berhenti, tapi justru semakin ingin tertawa. Tawa yang ditahan. "Aku senang membuatmu marah," jawab Kia santai.


"Baguslah, karena aku juga senang membuat mu menderita. Tertawalah, karena mulai sekarang kamu adalah istriku, dan aku punya waktu sepanjang hidupku untuk menyiksamu." Satria berkata seolah dia benar-benar serius.


Bukan takut, Kia justru ingin melepaskan tawanya.


"Kalau begitu, berusahalah!!!" Kia menggerakkan tangannya, selayaknya orang memberi semangat.


"Hei!!! kalian bisa diam tidak, aku sudah lelah mencari angle yang pas untuk memfoto kalian. Dari tadi bergerak terus!" gertak Rena kesal.


"Sudah, lakukan saja tugasmu. Jangan marah-marah terus, ingat ... kamu masih gadis," ucap Kia sengaja membuat Rena makin kesal.


"Justru itu, aku sekali pun belum pernah. Kamu sudah dua kali!" sungut Rena.


Juna datang merangkul Rena. "Kurasa nasib kita sama, bagaimana jika kita yang senasib ini saling melengkapi?" Juna menaik turunkan aliasnya, menggoda Rena.


Rena makin kesal dengan ucapan Juna, dia mendelik tajam dan memberikan kameranya setengah melempar pada Juna. "Kamu saja yang foto." Rena berlalu, meninggalkan pasangan yang baru saja selesai ijab qobul beberapa saat yang lalu. Juna yang tak siap menerima kamera yang diberikan Rena, kewalahan menangkap kameranya.


"Ren, tunggu!!!" Juna akan pergi menyusul Rena, namun suara Satria menghentikannya.


"HEI!!! jangan pergi dulu, selesaikan tugasmu memfoto kami."


"Anda sudah mengambil masa depan saya, dan saya tidak ingin kehilangan teman hidup saya lagi karena anda!" Juna tak peduli dengan Satria. Kamera yang ia pegang, ia serahkan pada Satria. Dengan menaruhnya paksa di tangan Satria.


"HEI!!" teriak Satria, tak terima dengan perlakuan Juna.


Juna tak peduli, dia terus berlari mengejar Rena.


"Wira," panggil Satria saat Wira lewat di depan mereka.


"Ambil gambarku dengan Kia," ucap Satria memerintah.


"Maaf, Pak. Saya bukan asisten Anda lagi. Silahkan menyuruh orang lain," jawab Wira santai, lalu berlalu.


Kia kembali tertawa melihat suaminya di abaikan teman-temannya.


"Ya sudah, ayo pulang. Tidak usah berfoto." Ajak Satria.

__ADS_1


"Tidak bisa, kita harus foto dulu. Aku juga ingin memajang foto pernikahanku di ruang tamu rumah ku," sungut Kia.


"Biar Hiro yang foto." Hiro yang dari tadi memperhatikan mama dan papanya, mengambil kamera dari Satria.


Dengan segala pose yang diatur Kia, Hiro berhasil memotret Papa dan Mamanya. Satria yang tak terlalu suka berfoto, hanya bisa pasrah mengikuti kemauan istrinya. Mereka meminta orang yang tengah melintas, untuk mengambil gambar saat ingin foto bertiga.


Setelah dari kantor KUA, mereka merayakannya dengan berpesta di restoran milik Kia. Tidak ada pesta resepsi, hanya sekedar syukuran saja. Itu pun, hanya dihadiri oleh pegawai restorannya, dan teman-teman Kia dari Jakarta. Sementara Marvin, dia sudah ijin tidak bisa hadir. Mungkin Marvin ingin menghindari acara ini. Tapi kali ini, Kia benar-benar bahagia. Meskipun tanpa perayaan.


Malam harinya, Rena mengusulkan untuk pesta barbeque. Dan, terlaksana. Semua sudah diatur, di mini garden rumah Kia.


"Kak Juna, tolong ambilkan minuman yang ada di kulkas," pinta Rena.


Rena sedang menyiapkan daging dan sosis untuk dipanggang. Sementara Hiro dan Wira menyiapkan pemanggangnya, Satria juga ikut bergabung bersama Wira.


"Biar aku saja." sahut Satria, karena melihat Juna sedang sibuk membantu Rena.


Satria masuk ke dapur untuk mengambil minuman yang Rena minta. Saat melewati kamar Kia, Satria menghentikan langkahnya. Dari pintu yang sedikit terbuka, Satria bisa melihat Kia yang sedang mengeringkan rambutnya.


Diletakkannya begitu saja minuman yang ia ambil ke atas buffet. Tanpa permisi, Satria langsung masuk ke kamar Kia. Dipeluknya Kia yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Kia sedikit kaget saat tiba-tiba ada lengan melingkar di perutnya. Namun dibiarkan saja, saat terlihat sosok Satria dari cermin.


Bahu Kia, ia gunakan untuk menopang dagunya. Aroma sabun langsung menguar, memenuhi indra penciumannya. Dan hal itu membuat Satria tidak tahan untuk mengecup leher Kia.


Setelah sekian lama, Kia kembali merasakan tubuhnya meremang. Diputarnya tubuh istrinya, untuk bisa saling menatap. Fokus Satria pada bibir merah muda istrinya. Dinikmatinya rasa manis dalam setiap cecapan. Ia kembali merasakan candu, dari bibir istrinya. Tangannya bergerak, menarik perlahan tali bathrobe Kia.


"Ya, Tuhan!!!" pekik Juna langsung menutup kedua matanya dengan telapak tangan.


"Maaf, Pak. Bukan salah saya jika saya melihat. Bapak tidak menutup pintunya." Juna berusaha membela diri.


"Mau apa kamu masuk ke kamar istri saya?" tanya Satria ketus.


"Saya disuruh Rena menyusul Bapak, karena Bapak lama sekali ambil minumannya. Takutnya, Bapak tidak tahu di mana Kia menyimpan minumannya."


Satria jadi ingat tujuannya tadi masuk ke rumah. Dengan kesal Satria keluar kamar, mengambil minuman yang tadi ia tinggal di atas buffet, dan memberikannya pada Juna dengan menghentak.


"Ish ... dasar menyebalkan!" rutuk Juna pada Satria yang telah pergi lebih dulu.


"Lain kali kunci pintunya!!! Ada Hiro yang belum cukup umur!!!" teriak Juna dengan sengaja, agar Satria mendengarnya.


Tapi, nyatanya bukan hanya Satria yang dengar, Kia pun mendengar teriakan Juna. Kia menahan malu, di dalam kamarnya. Bagaimana bisa ia seceroboh ini. Benar kata Juna, ia harus berhati-hati karena ada Hiro yang harus ia jaga.


.


.


.

__ADS_1


.


"Apa semua sudah siap?" tanya Satria.


"Ya!" jawab Hiro dengan semangat.


"Sayang ... ayo cepatlah, kita harus segera berangkat!" teriak Satria memanggil Kia.


"Iya, sebentar. Aku sedang menyiapkan ini." Kia keluar dengan membawa box makanan, untuk bekal perjalanan mereka.


Setelah berpamitan pada pegawai restorannya, dan menitipkan restorannya untuk di kelola sementara oleh Rena, Kia dan Satria segera berangkat. Satria yang merencanakan semua ini, untuk menebus masa-masa yang ia lewatkan bersama Hiro dan Kia.


Satria akan membawa Kia dan Hiro untuk melakukan perjalanan ke kota-kota di Indonesia dengan mobil, semacam touring. Hiro sangat suka aktifitas outdoor. Dengan begitu, akan banyak waktu yang bisa ia habiskan dengan Hiro. Dan perjalanan ini, sekaligus menjadi honeymoon untuknya dan Kia.


Mereka menyetir bergantian. Sepanjang perjalanan, senyum tak lekang dari bibir mereka bertiga. Hiro terlihat bahagia dengan perjalan ini.


.


.


.


.


KIA POV.


Hari yang aku nanti-nantikan telah tiba. Aku bisa berkumpul dengan suami dan anakku. Aku sungguh bahagia melihat senyum di bibir Hiro. Aku tahu, Hiro tak pernah benar-benar membenci papanya. Karena aku percaya dengan pengajaran ku selama ini. Aku selalu mengajarkan Hiro untuk bisa memaafkan.


Dan aku melihatnya sekarang. Bagaimana Hiro, bisa menerima Satria dengan tulus.


Karena tidak semua kesalahan milik Satria. Jika menilik jauh kebelakang, aku mungkin lebih punya andil besar dalam kesalahan ini. Aku yang sedari awal salah, dalam menata niat pernikahan.


Tujuan ku menikah, bukan karena cinta, apalagi mencari ridho Tuhan. Aku hanya memperturutkan keinginanku, hasrat ku untuk membalas budi. Hingga aku melupakan, sakralnya sebuah pernikahan.


Sampai akhirnya, Tuhan mengijinkan ku untuk merasakan perpisahan. Agar aku mengerti arti sebuah hubungan. Tuhan, menyadarkan ku tentang cintaku untuk Satria. Mengajarkan ku tentang arti merindu. Semua rasa itu, adalah hikmah dari perpisahan.


Tidak ada manusia yang tak pernah melakukan kesalahan. Tapi dari kesalahan, kita bisa belajar memperbaiki diri. Karena setiap hal yang Tuhan ciptakan tidak akan pernah sia-sia. Melainkan ada pembelajaran dibaliknya.


TAMAT


________________________________________________


Terima kasih untuk semua yang sudah berkenan mendukung karya ini, dengan Like, Komen, dan juga Vote.


Kisah Satria dan Kia sudah berakhir ya, rencana aku mau lanjut ke kisah Hiro. Tapi dengan judul yang berbeda.

__ADS_1


Karena aku belum bikin covernya, jadi jangan di unfavorite dulu ya. Nanti akan ada pemberitahuan kalau akoh udah up.


Tengkyu💓💓💓sayang hee


__ADS_2