Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.82


__ADS_3

Pagi ini, Kia mulai dengan menelfon Juna. Untuk menanyakan, perkembangan restorannya, yang sempat mengalami kemunduran. Semua rencana yang mereka bahas waktu Juna berkunjung ke Bali, benar-benar dilaksanakan. Dan, membuahkan hasil yang memuaskan.


Restoran Kia, mulai bangkit kembali. Mulai ramai kembali, meskipun belum seramai seperti sebelumnya. Tapi sudah lebih baik.Hal yang membuat Kia lebih bersemangat menjalani harinya.


Cuaca cerah hari ini, semakin menambah cerah senyumnya. Karena restoran ramai oleh pengunjung, setelah beberapa hari, hujan menahan pelanggannya untuk tetap di rumah.


Hari yang sangat sibuk untuk Kia. Malam harinya, Kia bersama Hiro menghadiri pesta ulang tahun Marvin, yang dirayakan secara intimate di rumahnya. Hanya teman-teman terdekat saja yang diundang.


"Selamat ulang tahun," ucap Hiro yang datang dengan membawa kado yang cukup besar.


"Besar sekali kado mu, apa kamu memberikan aku mobil-mobilan?" goda Marvin.


"Bukan, itu kado dari mama. Hiro mana mau ngasih kado ke Om Marvin." Hiro menyerahkan kado yang tadi ia bawa kepada Marvin, dan langsung melenggang masuk dengan cueknya.


Kia hanya nyengir, menanggapi sikap putranya pada Marvin. Dia pun berlalu masuk, namun saat melewati Marvin, Kia menepuk bahu Marvin, agar Marvin bersabar dengan sikap putranya itu.


Marvin mendengkus, dengan sikap Hiro. "Untung, aku cinta mati sama mama kamu." gumam Marvin.


Yang datang kebanyakan orang dewasa, hanya Hiro satu-satunya anak kecil disana.


"Ma, apa pestanya akan sampai larut malam?" tanya Hiro yang sudah duduk dengan membawa minumannya.


"Mungkin, tapi kita tidak akan ada disini sampai pesta selesai. Mungkin sampai Om marvin memotong kuenya," jawab Kia. "Kamu mau makan?" tanya Kia.


Hiro mengangguk.


Kia segera berdiri untuk mengambilkan makanan dan segera membawanya pada Hiro. "Makanlah," ucap Kia.


Hanya Hiro yang makan, sementara Kia duduk menemani Hiro disamping anak itu. Kia mengedarkan pandangannya, menatap ke setiap sudut ruangan, yang di isi oleh orang yang kebanyakan tidak Kia kenal. Namun, matanya menangkap satu sosok yang ia kenali, sedang duduk sendiri membawa gelas di tangannya.


Pada saat yang sama, orang yang ia lihat juga tengah memperhatikannya. Orang itu, melambaikan tangannya pada Kia. Membuat Kia jadi salah tingkah, dengan segera Kia memutar arah pandangnya.


"Mama, kenapa?" tanya Hiro yang melihat mamanya bertingkah aneh.


"Ah ... tidak apa-apa," jawab Kia berusaha tenang.


Seorang MC, meminta perhatian para tamu. Karena akan memulai acaranya. Hiro menghentikan makannya, ikut memperhatikan apa yang MC katakan.


Sementara Kia, kembali mencuri pandang pada seseorang yang duduk sendiri di kursi paling ujung. Sialnya, orang itu masih saja menatapnya. Hingga pandangan mereka beradu kembali. Dengan cepat Kia berpura-pura melihat ke arah lain. Orang itu langsung terkekeh sendiri melihat sikap Kia.


"Ish ... memalukan! bisa kegeeran tuh orang," rutuk Kia dalam hati.


Saking sibuknya dengan pikirannya sendiri, sampai-sampai Kia tidak sadar jika dari tadi Hiro memanggilnya.


"Ma, ayo!" ucap Hiro.


"Kemana?" tanya Kia bingung.

__ADS_1


"Itu, Om Marvin manggil kita."


Kia melihat ke arah Marvin yang berdiri di samping Mc, sedang melambaikan tangannya pada Kia dan Hiro.


"Ayo, Ma!" ajak Hiro.


Tanpa tahu apa tujuan Marvin memanggilnya, Kia menurut saja untuk datang menghampiri Marvin.


"Terima kasih untuk bersedia menunggu," ucap Marvin pada tamu yang hadir.


Ternyata tidak ada acara tiup lilin dan potong kue seperti yang tadi Kia katakan pada Hiro. Lalu untuk apa Marvin, mengundangnya ke podium?


Belum juga pertanyaan itu bertengger lima menit di otaknya. Kia sudah mendapatkan jawabannya.


Marvin tiba-tiba berlutut di depan Kia, disaksikan semua tamu yang hadir dan juga Hiro. Kia dan Hiro, tidak heran sama sekali dengan sikap Marvin ini. Dan sudah bisa menebak, apa yang akan dilakukan Marvin. Tapi, yang tidak Kia sangka, Marvin melakukannya di depan koleganya.


"Marvin! apa yang kamu lakukan, bangunlah!" bisik Kia, dengan menekan suaranya dan menyamarkannya dengan senyum palsunya.


Marvin tak mengindahkan ucapan Kia. Dia justru tersenyum, melihat Kia yang begitu panik.


"Marvin! please!" mohon Kia dengan mendelik.


Tapi Marvin tetap tak peduli.


Kia memijat pelipisnya, frustasi dengan Marvin, yang nekat dengan apa yang dilakukannya.


"Aku sudah lama jatuh hati padamu, mungkin love at the first, itu nyata adanya. Karena aku merasakannya, saat pertama kali aku melihatmu di bandara." Marvin tersenyum mengingat kenangannya bertemu Kia dan Hiro untuk pertama kalinya. Karena sejak pertemuan itu, Marvin selalu berusaha untuk bisa dekat dengan Kia. Membantu Kia dalam mengembangkan restorannya, adalah salah satu modus yang ia lakukan, untuk menarik simpati Kia.


"Aku tak pernah melupakan pertemuan pertama kita, hingga, setiap pertemuan kita selama tiga tahun terakhir ini. Jika kamu bertanya, kapan saja, dan dimana saja, kita bertemu selama tiga tahun terakhir, aku akan dengan cepat menjawabnya. Karena tak satupun yang aku lupakan dari semua pertemuan kita." Marvin tersenyum kembali, mengingat betapa konyolnya dirinya ,betapa tergila-gilanya ia pada janda satu anak ini.


"Marvin! hentikan! Jangan bodoh!" Kia masih berusaha mencegah Marvin meneruskan aksinya.


Kia tahu, Marvin mendengar setiap ucapannya Tapi, pria yang sedang berlutut ini, tetap saja bergeming.


"Kamu tahu, aku memang bodoh. Kalau aku pintar, mungkin, aku sudah menyerah saat pertama kali kamu menolakku."


Semua tamu undangan tertawa mendengar pengakuan Marvin.


"Aku mencintaimu ... Zakiya Allarice. Aku mohon, terimalah aku, untuk jadi bagian dari hidupmu." Marvin merogoh saku jasnya, mengeluarkan kotak beludru berwarna biru. Isinya adalah cincin, yang sudah sering kali Kia lihat.


"Menikahlah denganku." ucap Marvin tulus.


Semua tamu terdiam, khidmat. Menunggu jawaban dari Kia untuk Marvin.


Dari semua tamu, ada seseorang, yang sedari tadi menahan egonya. Tepatnya, sejak Marvin mulai berlutut di depan mantan istrinya. Tangannya mengepal kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Dia benar-benar tidak tahan melihat acara ini.


"Marvin, please ... jangan lakukan ini." Kia sungguh bingung harus berbuat apa. Biasanya, ia dengan tegas menolak Marvin. Dimanapun itu tempatnya. Tapi kali ini, ada rasa tidak tega, jika harus mempermalukan Marvin.

__ADS_1


Kia menoleh pada Hiro, yang ada disampingnya. Karena tak tahu lagi, siapa yang bisa menolongnya dari situasi ini.


Hiro mengangkat kedua bahunya. Anak itu menyerahkan semua pada mamanya. Tidak ingin ikut campur urusan orang dewasa.


Mungkin, Kia terlalu lama berpikir. Hingga tamu yang hadir ikut memberikan supportnya dengan berteriak. "Terima ... terima ... terima."


Hal itu, bukan membantu Kia mengambil keputusan. Tapi, makin membuatnya bingung. Kebingungannya bertambah, kala matanya menatap mata Satria, yang sedari tadi memperhatikannya. Kia tak tahu arti dari tatapan Satria, pria itu dengan tenang menatap pertunjukan yang diperankan olehnya .


Kia kembali menatap Marvin. "Marvin ... please, jangan lakukan ini," mohon Kia sekali lagi.


"Please, Kia. I love you so much, be my future wife." Marvin tak ingin menyerah kali ini, dia berusaha mendesak Kia, agar memberikan jawaban di depan tamu-tamunya.


Kia membuang nafasnya frustasi. Kia bingung dengan apa yang harus ia lakukan.


Kembali, Kia menatap Satria yang masih dengan tenang melihat kearahnya. Hiro, yang dari tadi memperhatikan mamanya, mengikuti juga kemana pandangan mamanya ditujukan.


Tanpa mengatakan apapun, Hiro menarik Kia pergi dari pesta Marvin. Semua tamu yang tadi bersemangat memberi dukungan, langsung terdiam dengan sikap anak kecil di hadapan mereka.


Kia selamat, dari lamaran Marvin. Tapi, tidak tahu, apakah ia harus senang dengan semua ini. Karena, Kia yakin. Apa yang ia lakukan sekarang ini, pasti melukai Marvin.


.


.


.


.


.


.


.


Hai Readers terZeyeng. Apa kalian udah upgrade Noveltoon kalian? Karena sekarang Noveltoon punya banyak kategori rangking, untuk kalian bisa dukung author favorit kalian.


Tidak hanya rangking vote, tapi ada juga rangking hadiah, rangking terpopuler, dan rangking karya baru.


Kuy ... yang belum upgrade Noveltoonnya. Buruan upgrade, biar bisa ngasih hadiah ke author favorit kalian. Yang tentunya buat support author untuk tetap semangat berkarya.


Kalau udah upgrade, jangan lupa dukung karya ku yak 😁


👍Like, dan


🖊️Komen, kalian selalu aku tunggu.


Tengkyu💓💓💓Sayang hee.

__ADS_1


__ADS_2