
Mereka bertiga belum sampai mengelilingi Indonesia, tapi sudah harus kembali ke Bali. Karena kondisi Satria, yang tidak memungkinkan untuk diajak melanjutkan touring mereka. Satria mengalami mual-mual yang tidak wajar. Saat dilakukan pemeriksaan semua baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda dari suatu penyakit.
Hingga saat mereka bertemu dengan seorang nenek penjaga villa yang mereka sewa, ada ucapan dari nenek itu yang membuat Kia harus memeriksakan dirinya. Tuhan, memberikan kepercayaan lebih cepat dari yang mereka duga. Dari hasil pemeriksaan, dokter menyatakan jika Kia tengah hamil.
Hal yang membuat Satria dan juga Hiro sangat bahagia, karena akan ada anggota baru dalam keluarga mereka. Alasan itulah, yang membuat Satria memutuskan untuk kembali saja ke Bali. Ia ingin bisa menikmati, menjadi suami SIAGA. Melihat, bagaimana bayinya bertumbuh di rahim wanita yang ia cintai. Dokter juga menyarankan untuk Kia bisa istirahat saja, dan tidak melanjutkan perjalanan panjang mereka.
Di kehamilan kedua ini, Kia merasa semua baik-baik saja. Mulai dari moodnya yang stabil, Kia juga tidak mengidam yang aneh-aneh. Benar-benar kehamilan yang membahagiakan. Hari-harinya dipenuhi dengan tawa dan kebahagiaan. Namun, Satria yang harus menggantikannya, merasakan betapa tersiksanya morning sickness, tak bisa makan nasi dan membenci aroma-aroma yang menyengat. Bukan Kia yang mengalami ngidam, tugas ngidam itu sudah digantikan oleh Satria.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Kia selesai memijat tengkuk Satria yang baru saja ingin memuntahkan isi perutnya namun tak bisa.
Hal yang menjadi agenda rutin Satria sejak seminggu kembali ke Bali. Paginya dimulai dengan siksaan di perutnya.
Satria mengangguk. Tak lama ia kembali membuka closetnya dan berusaha memuntahkan isi perutnya, lagi. Kia yang masih setia menunggu terus memijat tengkuk suaminya untuk membuatnya lebih baik.
Satria terduduk lemas di atas closet, setelah mual-mual yang ia rasakan. Dia mengusap mulutnya dengan handuk yang diberikan Kia.
"Ayo keluar, aku akan ambilkan air hangat," ucap Kia.
"Kamu duluan," jawabnya pada Kia.
Satria menghela nafasnya, mencoba menahan siksaan mual yang ia rasakan sesaat setelah Kia keluar dari kamar mandi. Rasa bersalah seketika menghampirinya, saat ia mengingat bagaimana dulu Kia berjuang mempertahankan Hiro tanpa dirinya.
Tak terbayangkan, Kia mengalami hal yang sekarang ia alami saat ini sendiri tanpa dirinya sebagai suami. Tanpa dukungan darinya, tanpa perhatian darinya. Air matanya seketika lolos. Betapa bersalahnya ia pada istrinya. Jika saja Kia bukan wanita yang kuat, pastilah Hiro tak akan hadir di antara mereka.
"Sayang, apa masih mual?" teriak Kia dari kamar.
Dengan keadaan masih lemas, Satria berjalan keluar dari kamar mandi dan menghampiri Kia yang sedang menata sarapannya di atas meja. Satria langsung mengecup kepala istrinya yang tengah membungkuk itu.
"Kenapa?" tanya Kia bingung dengan sikap Satria.
__ADS_1
"Aku mencintai mu," ucapnya lirih.
Kia menegakkan tubuhnya mendengar ucapan cinta dari Satria. Ia hanya bisa tersenyum dan memeluk suaminya. "Aku juga sangat mencintai mu," jawab Kia.
Kembali, Satria mengecup pucuk kepala Kia. "Kita akan tetap seperti ini, kan. Sampai nanti kita tua." bisiknya lembut.
Kia mengangguk dalam dekapan Satria.
"Maaf untuk semua yang telah terjadi," ucap Satria masih tak melepas pelukannya.
"Aku tak menemanimu saat Hiro ada dalam kandungan mu. Aku tak bisa menjaga mu dan merawat mu di masa-masa sulit kehamilan mu," lanjutnya.
Kia terdiam dalam pelukan Satria, mendengarkan apapun yang suaminya katakan.
"Sekarang aku merasakan betapa beratnya kamu menjalani hari-hari mu selama kehamilan mu tanpa aku. Maaf ... maaf untuk semua yang tak bisa kulakukan saat itu." Terdengar nada penyesalan yang teramat dalam dari ucapan Satria.
"Jangan seperti itu, jangan terlalu menyalahkan dirimu seolah kamu menyalahkan Tuhan atas takdirnya. Aku menerimanya, karena aku percaya semua tidak terjadi begitu saja, melainkan atas ijin Tuhan."
Entah dari mana Kia belajar kata-kata bijak itu. Namun, memang seperti itulah yang Kia rasakan dulu. Yang membuatnya kuat adalah keyakinannya. Bahwa hidupnya berjalan bukan atas kemauannya, melainkan atas kehendak Sang Pencipta. Jika dirinya harus mengalami kepedihan, Kia juga yakin Tuhan telah menyiapkan hadiah yang indah untuknya. Tak akan ada hal yang kebetulan, semua sudah diatur oleh Sebaik-baik Pengatur.
Sebab itulah, dengan mudah Kia memaafkan Satria, menerimanya kembali untuk jadi bagian dari hidupnya. Bukan karena ia tak punya harga diri, karena setelah tersakiti ia masih saja kembali pada orang yang sama. Tapi, ia yakin seperti itulah jalan hidupnya.
Ia yakin pada Siapa yang telah menggerakkan hatinya untuk kembali pada orang yang sama. Kepada-NYA juga Kia serahkan takdir hidupnya.
"Terima kasih telah memaafkan ku, terima kasih telah menerima ku kembali."
Tiga bulan lamanya, Satria harus mengalami yang namanya morning sickness. Dia pun sudah belajar berdamai dengan keadaannya. Setiap hari, ia mulai belajar menikmati siksaan mual untuk mengawali harinya. Ia yang tak bisa makan nasi mulai mencari alternatif makanan lain agar membuatnya tetap sehat dan tak jatuh sakit.
Jika ia tak menyukai aroma sesuatu, ia cukup menghindar saja. Usianya sangat berpengaruh pada kondisi psikisnya dalam menghadapi yang namanya ngidam. Sesekali ia juga sangat ingin merasakan nikmatnya rujak. Padahal sebelumnya, Satria pria yang tak suka rujak. Sejak kehamilan kedua Kia, ia baru tahu, kalau rujak itu rasanya sungguh menakjubkan. Asin, asam, manis, semua rasa komplit dalam satu suapan. Bahkan membuat Satria ketagihan dengan rasanya.
__ADS_1
Untunglah, setelah trimester pertama keadaannya mulai kembali normal. Rasa mual-mual yang menyambut paginya mulai hilang. Selera makan pun sudah mulai kembali seperti sebelumnya.
Satria pun, sudah mulai bisa melakukan aktifitasnya seperti semula. Dia bekerja, tapi dari rumah, karena perusahaan induknya berdiri di Jakarta. Dan di sana ada Daniel yang ia beri kuasa untuk menghandle semuanya. Hanya untuk urusan yang penting saja, Satria datang ke Jakarta.
Setiap pagi, Satria selalu jadi cheff untuk Hiro dan juga Kia. Meski harus menahan bau-bau yang belum sepenuhnya bisa ditolerir oleh indera penciumannya. Setelahnya Satria menjadi supir, untuk mengantar Hiro, yang kembali bersekolah. Terkadang kalau restoran sedang ramai, Satria bisa juga menjadi pelayan. Wajah tampan Satria, rupanya masih cukup berpengaruh untuk menarik pengunjung.
"Puas kamu ... seneng, kan jadi pusat perhatian!" sindir Kia pada suaminya.
Kia kesal saat melihat Satria menjadi pusat perhatian para ibu-ibu muda yang mengadakan arisan di restoran miliknya. Hari minggu memang selalu Satria manfaatkan untuk full membantu di restoran. Sejak kehadirannya yang ikut menjadi waiters, banyak grup arisan ibu-ibu yang menyewa tempat untuk pelaksanaan arisan.
"Kamu, cemburu?" tanya Satria.
"Untuk apa aku cemburu. Apa kamu tidak bisa membedakan antara cemburu dan juga tidak suka!" ketus Kia.
"Iya tidak suka itu cemburu?" goda Satria.
"Aku bukan cemburu, sejak kamu ikut jadi waiters di sini mereka lebih sering menanyakan mu dari pada daftar menu baru. Itu kan gila!"
Satria tertawa puas melihat wajah jutek Kia. Wajah cantik istrinya saat marah seperti hiburan tersendiri baginya, apalagi di saat-saat ia sedang menanggung tugas mulia menggantikan istrinya mengidam. Wajah cantik Kia bertambah berkali-kali lipat kadar kecantikannya saat hamil terlebih saat cemburu.
Jangan lupa untuk beri dukungan lagi yak.
👍 like
🖊️Komen
Dan Votenya.
Tengkyu❤️❤️❤️Sayang hee
__ADS_1