
Kia berjalan di depan Satria, dia berusaha mempercepat langkahnya agar bisa menyusul Hiro. Kia bisa melihat dari kejauhan, betapa senangnya Hiro. Terlihat Juna, dan Wira mengajaknya bercanda. Terlihat juga, Hiro yang kelelahan berjalan mendaki. Tapi Wira dan Juna, juga Rena memberinya semangat, agar Hiro kuat.
'Brug'
Kia kaget saat Satria memberikan ranselnya dengan kasar. Untung saja Kia sigap, jadi langsung bisa menahan beban ransel itu tak sampai jatuh. Kia menatap heran dengan Satria, yang langsung pergi meninggalkannya.
"Ish ...!!!" Gerutu Kia, dia mendelik menatap punggung Satria, yang mulai mengejar Hiro dan kawan-kawannya.
Mau tak mau, Kia, harus menggendong ranselnya sendiri. Dan bergegas menyusul yang lain.
Satria berusaha lebih cepat, untuk bisa menyusul Hiro. Hiro yang tengah berhenti, untuk mengambil nafas, dikagetkan oleh Satria yang melepas ransel kecil milik Hiro. Satria langsung melemparnya pada Juna. Juna sempat oleng, saat menangkap ransel milik Hiro karena tak siap.Tapi tak sampai terjatuh.
Tanpa berkata apapun, Satria menaikkan Hiro keatas bahunya. Dan berjalan mendahului semuanya. Semua yang tadi ikut berhenti menemani Hiro yang kelelahan, hanya bisa terbengong menatap Satria.
Hiro, yang awalnya takut berada di bahu papanya, perlahan mulai menikmati duduk diatas bahu Satria. Dia masih terdiam, tapi dia senang bisa digendong oleh Satria.
Satria yang sudah berjalan di depan, memutar tubuhnya melihat teman-temannya yang belum menyusulnya. Saat itulah, Hiro mulai berteriak memanggil-manggil.
"Ayo, Om ... Tante ... Mama ... Jangan menyerah!" Teriak Hiro, menyadarkan keempat orang yang dari tadi masih menatap tak percaya.
Wira, Rena, dan Juna menatap Kia yang sudah berhasil menyamai posisi mereka. Kia yang tahu maksud tatapan teman-temannya itu hanya bisa mengangkat kedua bahunya, dan terus berjalan meninggalkan ketiga temannya.
Setelah lelah dan berpeluh dalam menapaki jalan setapak, akhirnya sampai juga mereka ke tempat yang menjadi tujuannya. Sesuai perkiraan mereka, hari masih sore saat mereka tiba. Mereka bisa melihat sunset dari tempat mereka berdiri sekarang.
Para pria hanya beristirahat sebentar, untuk memulihkan tenaganya. Karena setelahnya, mereka harus segera membangun tenda. Istirahat mereka hanya singkat, namun sudah cukup untuk mengisi energi yang tadi terkuras. Ditemani senja yang nampak indah dengan pesona kemerahannya. Menyaksikan bagaimana, sang surya pulang ke peraduaannya. Berganti gelapnya langit, sebagai penanda malam telah tiba.
Setelah tenda berdiri, Rena mulai mengeluarkan bekal makanan yang tadi ia bawa. Hiro, Juna, dan Wira sedang berusaha membuat api unggun. Wira ingin menciptakan suasana camping yang sesungguhnya.
"Kak Juna, di mana tadi kakak menaruh tikarnya?" tanya Rena.
"Ada di tenda kamu," jawab Juna.
Mereka mendirikan tiga tenda, satu untuk Kia dan Rena. Satu untuk Wira dan Juna, dan satu lagi untuk Satria dan Hiro.
"Biar aku saja," sergah Satria, saat Rena hendak berdiri mengambil tikar untuk alas duduk sambil menikmati api unggun.
Tanpa permisi, Satria langsung membuka tenda milik Kia dan Rena. Kia yang kaget, segera menurunkan celana panjang yang tadi ia singkap ke atas.
"Ada apa!" tanya Kia kasar, saat melihat bahwa Satria yang baru saja membuka tendanya tanpa permisi.
Bukannya menjawab, Satria langsung masuk ke dalam, mendekat ke arah Kia, dan menyentuh kakinya. Sontak saja, Kia mencekal pergelangan tangan Satria.
__ADS_1
Pria itu justru tersenyum tipis, dan perlahan-lahan menaikkan celana Kia, yang tadi sempat Kia singkap. Kia tidak tahu apa yang akan Satria lakukan, tapi dia sudah waspada jika Satria berbuat macam-macam padanya.
Pandangannya mengikuti kemana sorot mata Satria diarahkan. "Lukamu harus di obati," ucap Satria menatap luka di kaki Kia. Luka gores, yang Satria duga, didapat Kia saat tadi terpeleset. "Dimana obatnya?"
Tanpa sadar, Kia menunjuk ranselnya. Satria pun langsung mencari keberadaan obat itu. Dengan telaten, Satria mulai membersihkan luka di kaki Kia. Tak ada yang bisa Kia lakukan, selain menatap pria yang sejujurnya sangat ia rindukan.
"Apa kamu merindukan ku?" Tatapan Satria tak beralih dari luka Kia.
"Aku sangat merindukan mu," sambungnya saat Kia hanya diam tak merespon.
"Aku ingin berjuang untuk pernikahan kita."
Kia tetap diam, dan Satria tetap fokus pada luka Kia.
"Aku tahu, banyak hal yang harus aku jelaskan. Dan aku akan melakukannya. Tapi untuk saat ini, yang harus kamu tahu adalah, aku sangat mencintai mu, dan aku akan berjuang untuk cintamu."
Kia menatap wajah tampan itu, mencoba menggali rasa untuk pria di depannya ini. Masihkah sama seperti dulu?
Dan, sialnya. Rasa itu masih ada, masih sama, untuk ayah dari anaknya ini.
"Aku hanya butuh persetujuanmu, dan aku yang akan berjuang." ucap Satria lagi.
Kia diam mematung, mencerna setiap perkataan Satria.
Satria menurunkan lagi celana Kia. "Biarkan aku berjuang untuk cinta mu dan Hiro." Satria menatap mata Kia.
Masih sama, Kia tak bersuara apapun.
"Aku mencintai mu." Satria mengecup singkat bibir yang dulu menjadi candu untuknya. Lalu mengambil tikar yang ada di belakang Kia, dan keluar dari tenda itu. Meninggalkan Kia, yang masih dalam kebisuan.
Kia mengusap bibirnya. Pikirannya membawanya pada kenangan masa lalu. Masa dimana ia pertama kali bertemu Satria, menerima tawarannya untuk menikah sirri, malam pengantinnya, saat pertama kali Satria menciumnya, hingga masa-masa dia harus terpuruk karena dipaksa pergi dari kehidupan pria itu.
"Ma ... ayo keluar! api unggunnya sudah jadi." Hiro melongok dari tirai yang menutup tenda.
Kia tersadar, dan ikut keluar bersama Hiro. Ternyata semua sudah berkumpul di dekat api unggun. Rena sedang asyik membakar sosis, dibantu Wira. Sedang Juna, sedang memainkan gitar sambil bersenandung. Satria yang tidak begitu akrab dengan Juna dan Rena, hanya duduk menyendiri memperhatikan ketiga orang itu.
Setelah makanannya siap, mereka memulai makan malam dengan beralaskan tikar. Suasana akrab langsung tercipta saat mereka mengisinya dengan canda tawa saat bermain game putar botol.
Keseruan terjadi, saat Juna yang terpilih dan harus mendapatkan hukuman, untuk makan saus ekstra pedas yang sudah dicampur b*ncabe, dan tidak diberi minum. Semua menikmati bentuk mulut Juna yang terlihat lucu saat kepedesan.
"Ih ... Om Juna, mukanya udah kayak tomat aja, awas lho ... nanti keluar asap dari telinganya," goda Hiro, yang disambut tawa oleh semuanya.
__ADS_1
Botol pun kembali diputar, kali ini giliran Satria yang terpilih untuk dihukum. Semua menatap Satria dengan rasa bersalah, kenapa tadi harus mengajaknya bermain game. Kalau orang ini yang kena hukuman, mereka semua tidak enak hati untuk menghukum Satria.
Namun karena sudah peraturan, Satria pun menerimanya. Dia mengambil saus dalam mangkok yang di ulurkan Rena, lalu mengambil sendok yang memang tadi sudah di siapkan satu-satu untuk setiap orang.
Satria mulai menyendok penuh saus dalam mangkok itu, dan memasukkannya kemulutnya. Namun, sebelum saus itu sampai ke mulut Satria, Kia yang duduk bersebelahan dengan Satria langsung mengambil alih sendok penuh saus itu dan memakannya. Kia menahan pedas dalam mulutnya.
Semua melongo, menatap apa yang Kia lakukan.
"Kenapa kalian menatap ku begitu?" tanya Kia.
"Yang dihukum Pak Satria, Ki." Rena berucap mewakili teman-temannya.
Kia memperhatikan satu persatu temannya, termasuk Satria. Satria bahkan tak berkedip menatap Kia.
"Dia tidak bisa makan pedas."
Jawaban itu rupanya belum bisa mengalihkan perhatian teman-temannya dari menatap Kia.
"Aku tidak ingin diantara kita ada yang sakit, nanti merepotkan kita semua. Ja---jadi, aku menggantikannya." sambung Kia.
Mereka semua pun akhirnya mengerti alasan Kia. Dan melanjutkan permainannya kembali.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupakan
👍Like
❤️Favorite
🖊️Komen
__ADS_1
Ditunggu juga vote-nya yak
Tengkyu💓💓💓sayang hee