
Pada akhirnya drama untuk datang ke pesta ulang tahun Naya berakhir, setelah sebelumnya Kia harus berusaha ekstra keras untuk membujuk Hiro, karena anak itu tidak mau datang ke pesta Naya.
"Ayolah, Hiro jangan cemberut. Kamu harus tersenyum, ini adalah hari bahagia Naya, dia temanmu sekaligus saudaramu. Jadi tolong tersenyumlah," bujuk Kia pada Hiro. Anak itu seolah terpaksa ikut mamanya pergi ke pesta Naya ini, hingga ia tak berniat menutupi perasaannya. Wajah datar tanpa senyum sudah Hiro pasang sejak tadi.
"Aku akan menjemput kalian, tepat saat acara selesai," ucap Wira yang memang mengantarkan Kia dan Hiro. Bukannya Wira tidak diundang, tapi ada pekerjaan yang tak bisa ia tinggalkan.
Sebenarnya, tadi Satria sudah menawari Kia, akan mengirim supir untuknya. Tapi Kia menolak, dan lebih memilih diantar oleh Wira.
Hiro sudah memegang handle pintu, saat Wira menghentikannya. "Hei, jagoan! apa aku harus membeli senyummu agar kamu mau tersenyum?" goda Wira.
Bukan Hiro yang tertawa mendengar candaan Wira, tapi malah Kia yang tertawa.
"Ayolah, jagoan! jangan pasang muka robotmu disini. Itu tidak keren," sambung Wira.
Tak ingin menanggapi Wira, Hiro langsung membuka pintu mobil dan keluar dari sana. Wira terkekeh melihat sikap Hiro yang seperti orang dewasa jika marah.
"Terima kasih, ya." Ucap Kia sebelum menyusul Hiro.
"Hiro," panggil Kia.
Hiro berhenti untuk menunggu mamanya yang tadi ia tinggalkan. "Bawa ini." Kia meletakkan kado yang sudah ia persiapkan tadi pada tangan Hiro. Berharap Hiro yang menyerahkannya. Tapi Hiro tak mau menerimanya, dia mengembalikan lagi kado itu pada Kia.
"Aku tidak mau membawa kado itu. Mama saja!" Hiro mengembalikan kadonya pada Kia, dan berjalan dengan santai.
"Ish ... anak ini!" gerutu Kia, tapi tetap menyusul Hiro.
Banyak pelayan yang berdiri berjejer untuk menyambut tamu dan mengantarnya ke tempat acara. Ini adalah rumah Aditya Wilmar, kakeknya Naya. Rumah yang begitu mewah dan megah, tempat Naya merayakan ulang tahunnya. Kia tersenyum ramah pada pelayan yang menyambutnya, dan mengantarkannya ke dalam.
Kia berjalan sangat pelan, memperhatikan rumah yang pernah ia datangi ini. Rumah yang tidak akan ia lupakan. Disinilah, untuk pertama kalinya, dengan berani Kia menantang Aditya Wilmar demi Satria, demi suami, demi pernikahannya. Dan sebab itulah, ia kehilangan kakaknya, juga suaminya. Aditya Wilmar membuktikan kata-katanya, bahwa ia mampu melakukan apapun demi kebahagiaan putrinya.
"Kita sudah sampai Nona, silahkan nikmati pestanya," ucap pelayan itu saat tiba di tempat acara.
"Nona ... nona!" panggil pelayan itu untuk menyadarkan Kia.
"Oh ... maaf." Kia tersenyum malu.
"Kita sudah sampai, silahkan menikmati pestanya." Pelayan itupun berpamitan dan pergi.
__ADS_1
"Kenapa Mama melamun?"
"Ah ... tidak, Mama hanya kagum dengan rumah ini," bohongnya pada Hiro. "Ayo kita cari Naya?" Kia menggandeng tangan Hiro untuk mencari Naya.
Sepanjang langkahnya, Kia mengangumi pesta meriah yang di buat untuk anak berusia enam tahun. Taman belakang rumah keluarga Aditya, disulap dengan sangat indah untuk pesta bertema princess itu.
Sarah melambaikan tangannya, saat matanya menangkap kedatangan Kia dan Hiro. Kia membawa Hiro pada Naya yang berdiri dengan papa dan mamanya.
"Hiro!" pekik Naya saat melihat Hiro. Naya memeluk Hiro dengan senang. "Akhirnya kamu datang juga, aku sudah menunggu mu dari tadi. Kata Mama aku tidak akan tiup lilin sebelum kamu datang," cerocos Naya dengan polosnya.
"Selamat ulang tahun, Naya." Kia menyerahkan kadonya pada Naya, dan mencium pipi anak itu.
"Hiro, beri salam pada Papa dan Tante Sarah."
Hiro meraih tangan Satria lalu menciumnya, begitu juga yang ia lakukan pada Sarah.
"Apa kabar, Hiro?" sapa Satria.
"Baik," jawab Hiro sekedarnya. Entah kenapa anak itu belum bisa menerima kehadiran Satria, apalagi akrab dengannya. Padahal Satria selalu berusaha untuk bisa dekat dengan putranya itu.
Aditya yang berada tak jauh dari mereka, langsung mendekat saat melihat tamu istimewa putrinya sudah datang.
Satria menyadari ketidak sukaan Kia tentang pembicaraan Aditya, langsung menyela. "Ayo kita mulai acaranya," sela Satria, tak ingin Aditya mengungkit luka lama Kia.
Satria meminta pada MC acara untuk segera memulainya. Pestapun dimulai, dari acara pembukaan, hingga acara yang ditunggu-tunggu oleh Naya, tiup lilin. Semua terlihat bahagia, menyanyikan lagu ulang tahun untuk Naya. Bertepuk tangan dengan meriah, saat Naya meniup lilinnya. Semua mata tertuju pada keluarga yang kecil itu, betapa bahagianya kehidupan keluarga itu, saat Naya menyuapkan potongan kuenya untuk papa dan mamanya.
Semua membicarakan keharmonisan keluarga Aditya Wilmar, bahkan skandal Sarah yang dulu pernah terungkap, tak membekas sama sekali. Yang terlihat hanya kebahagiaan dan keharmonisan semata. Dari semua raut-raut bahagia itu, ada seorang anak yang menyimpan kesedihannya sendiri.
Dialah, Hiro. Anak itu perlahan-lahan mundur dari ramainya pesta, tanpa Kia sadari. Air matanya menetes, jatuh terbawa angin saat bocah itu mencoba lari dari keramaian pesta. Hiro terus berlari, mencoba menjauh agar tak merasakan sesak yang sekarang memenuhi dadanya.
Hiro akan keluar gerbang, saat seorang security melihatnya. "Kamu mau kemana?" security itu menahan Hiro.
"Pergi," jawab Hiro menahan tangisnya.
"Memang kamu kesini dengan siapa?"
"Sama Mama."
__ADS_1
"Lalu mama, kamu?"
"Masih ada di dalam."
"Ya sudah, ayo Bapak antar ke dalam lagi. Kamu pasti tidak bisa menemukan mama kamu, ya. Pestanya begitu ramai, hingga kamu terlepas dari pengawasan mama kamu. Ayo, Bapak antar." Security itu mengira, Hiro tersesat saat mencari mamanya. Karena memang acara pesta Naya yang begitu ramai, dan begitu luasnya rumah keluarga Aditya.
Security itu, mencoba menggandeng tangan Hiro dan akan membawanya masuk. Tapi ditepis oleh Hiro. "Tidak usah, saya bisa kembali sendiri." Hiro pun kembali, tapi tidak untuk masuk lagi ke rumah itu, apalagi untuk melihat pesta Naya.
Hiro berjalan pelan, saat melintasi taman depan milik keluarga Aditya. Hiro melihat ada bangku di bawah pohon. Diputuskannya untuk menunggu mamanya di taman itu saja. Diapun duduk menyendiri di bangku taman, dengan penerangan temaram itu.
Hiro menatap ke langit, tak ada bintang disana. Bulanpun sembunyi dibalik mendung, yang terlihat hanya kilat yang sesekali menampakkan cahayanya.
Entah kenapa, matanya tiba-tiba berair kembali. Hiro tidak suka dilihat orang saat menangis. Didikan mamanya yang selalu mengajarkan agar Hiro jadi anak yang kuat, membuatnya menjadi anak yang lebih suka menyimpan sendiri kesedihannya. Hiro memaksakan dirinya dewasa dalam berfikir, sebelum waktunya. Sekuat tenaga, Hiro mencoba menahan agar air matanya tidak jatuh. Anak itu sedang mencoba mengobati lukanya sendiri.
"Hiro!"
Panggilan itu membuat Hiro tersadar, setelah cukup lama ia menyendiri menatap gelapnya langit.
.
.
.
.
.
.
Berikan dukungan kalian terus yak untuk selalu
👍Like , dan
🖊️Komen.
Jadikan novel ini masuk ke ❤️Favorite kalian.
__ADS_1
Tengkyu💓💓💓sayang hee