Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.37


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian penculikan itu, namun Satria belum bisa menemukan siapa dalang dibalik semuanya. Ini tidak seperti biasanya, karena biasanya orang-orangnya akan dengan cepat memecahkan masalah yang ditangani. Tapi Satria masih berusaha menemukan dalang penculikan itu dan juga masih berusaha mencari bukti tentang pembunuhan Safira.


"Selamat siang, Nona," sapa seseorang berpostur tinggi besar layaknya bodyguard.


Kia memundurkan langkahnya, merasa harus waspada dengan orang yang tak dikenalnya ini. Dia menatap penuh kecurigaan pada dua orang yang baru saja menghadang langkahnya.


"Jangan takut, kami tidak akan berbuat kasar jika Nona bisa bekerja sama dengan kami," ucap orang itu lagi.


Kia tidak mengerti apa maksudnya bekerja sama.


"Ikutlah dengan kami, tuan kami ingin bertemu dengan Anda." Orang itu lalu membuka pintu mobilnya untuk Kia.


Kia masih waspada dengan keduanya. Dia masih diam tak ingin mengikuti arahan orang itu untuk segera masuk. "Siapa tuan kalian?" tanya Kia pada akhirnya.


"Tuan Aditya Wilamar,


beliau ingin bertemu dengan Anda."


Aditya Wilmar, bukankah itu ayahnya Sarah. Untuk apa ia ingin bertemu dengan ku?


"Tuan kami hanya ingin berbincang dengan Anda, beliau tidak akan menyakiti Anda," ucap anak buah Aditya, yang meyakinkan tentang keraguan dan ketakutan Kia.


"Kami mohon ikutlah dengan kami," ucapnya sekali lagi.


Kia pun akhirnya masuk ke dalam mobil mengikuti kata dua orang bodyguard tadi. Tidak ada pilihan baginya untuk menolak karena dua orang ini pasti akan memaksanya seperti perintah tuannya.


Kia dibawa ke kediaman Aditya, semua bisa Kia lihat dari foto pernikahan suaminya dengan Sarah yang di pajang di ruang tengah ketika ia melewatinya. Ini pertama kalinya Kia menginjakkan kaki di rumah istri pertama suaminya itu.


Kia diantar ke sebuah ruangan yang menurut Kia adalah ruang kerja si pemilik rumah. Dua bodyguard itu meninggalkan Kia dan menutup pintunya rapat. Ada sedikit ketakutan, namun Kia berusaha tenang.


"Selamat datang Nona Zakiya," sapa Aditya yang baru saja memutar kursi kebesarannya yang tadi memunggungi Kia. "Silahkan duduk," lanjut Aditya sopan.


Zakiya masih ragu untuk undangan ini, karenanya dia tidak lantas duduk saat Aditya mempersilahkannya. "Ada perlu apa Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Kia yang masih berdiri.


Aditya tersenyum sinis. "Baiklah, tidak perlu berbasa-basi. Aku mengundang mu ke sini untuk memintamu agar meninggalkan menantu ku."

__ADS_1


Kia tercengang dengan permintaan Aditya, ternyata mertua suaminya ini sudah tahu tentang pernikahannya.


"Aku bukan Ayah yang tidak peduli dengan putrinya. Aku tahu seperti apa hubungan Sarah dengan Satria. Aku juga tahu bahwa Satria sudah menceraikan Sarah, dan mereka bertahan hanya demi menjaga kesehatan ku."


Aditya menghela nafasnya.


"Aku juga tahu tentang pernikahan sirri kalian."


Kia masih diam menyimak apa yang akan Aditya ucapkan selanjutnya.


"Aku sangat ingin putriku Sarah bisa bersama dengan Satria. Karena dari dulu seperti itulah harapanku. Namun, rasanya akan jadi sulit karena sekarang Satria lebih memilih mu daripada Sarah. Karena itu aku minta, tinggalkan Satria. Dia akan kembali pada Sarah jika kamu meninggalkannya."


"Atas dasar apa aku harus meninggalkan suami ku?"


"Bukankah kamu menikahinya karena kamu ingin Satria membantu membebaskan kakakmu. Aku bisa melakukannya jika kamu bersedia pergi dari hidup Satria."


"Bagaimana Anda akan membebaskan kakakku jika Anda tidak memiliki bukti untuk membebaskannya?"


"Itu bukan urusanmu, aku punya cara ku sendiri untuk bisa memenuhi keinginanku," jawab Aditya penuh keangkuhan.


"Kau pasti pernah mendengar siapa Aditya Wilmar, aku bisa berbuat apapun untuk memenuhi keinginan putriku. Termasuk membuat kakakmu tidak selamat saat ini juga."


Kia jadi gemetar mendengar ancaman Aditya. Dia pernah mendengar tentang Aditya yang begitu menyayangi putrinya hingga mampu melakukan apapun. Jika hari ini dia bilang akan membunuh kakaknya, bisa jadi itu akan terjadi.


Apa yang harus Kia lakukan sekarang, pergi meninggalkan Satria dan membebaskan kakaknya. Bukankah itu tujuannya, Kia bahkan rela menikah dengan Satria hanya untuk kakaknya. Sekarang tujuannya akan diwujudkan oleh Aditya, lalu apalagi yang Kia tunggu.


"Aku tidak bisa meninggalkan suamiku, aku akan menjaga apa yang yang menjadi milikku. Dan tempatku adalah bersama suamiku. Dia bukan lagi milik putrimu. Maafkan aku." Kia langsung pergi meninggalkan ruangan Aditya, dia tidak ingin lagi bernegosiasi dengan ayah mertua suaminya itu.


Aditya tidak mencegah Kia pergi, dia justru tersenyum miring. "Berani sekali kamu menantangku." Aditya meraih ponsel di sakunya, menghubungi seseorang.


Kia terus berjalan tanpa ingin lagi menoleh, dia takut, dia gemetar telah menantang perang Aditya. Sampai di luar pagar rumah mewah itu, Kia berjongkok untuk menenangkan dirinya. Kakinya terasa lemas.


Kini pikirannya kacau, apa yang harus ia lakukan sekarang. Dia telah melewatkan kesempatan untuk membebaskan kakaknya. Dan lebih memilih bersama Satria, apakah dirinya sudah jatuh cinta. Hingga tak rela jika ia harus melepaskan Satria untuk kembali pada Sarah. Entahlah?


"Mbak, apa Mbak baik-baik saja?"

__ADS_1


Kia melihat siapa yang tengah mengajaknya bicara. Ternyata seseorang yang sedang membawa tumpukan kardus yang terlihat seperti pelayan.


"Iya, saya baik-baik saja." Kia berdiri, dan mengusap wajahnya.


"Syukurlah, saya kira Mbak sakit. Kalau sakit saya bisa bantu Mbak buat istirahat sebentar di dalam."


"Bapak bekerja di sini?" Kia menunjuk rumah di belakangnya.


"Iya Mbak, saya tuang kebun di rumah Nona Sarah. Mbak tau kan, Sarah Wilmar? model yang terkenal itu."


Kia hanya tersenyum mengiyakan. "Itu apa, dan mau dibawa ke mana?" tanya Kia menatap tumpukan kardus yang di bawa tukang kebun itu.


"Ini paket dari penggemarnya Nona Sarah, mau saya buang."


"Kenapa di buang, apa Sarah tidak menyukai hadiah dari penggemarnya?"


"Bukan begitu Mbak, tapi isi hadiah-hadiah ini selalu membuat Nona Sarah marah. Jadi kami disuruh membuangnya."


"Boleh aku lihat apa hadiahnya." Tukang kebun itu pun memberikannya.


Kia membuka satu kotak hadiah, isinya adalah piyama. Tidak ada yang aneh. Kia mencoba mengambilnya, dan membuka piyama itu.Tapi Kia langsung melemparnya ke bawah, Kia kaget melihat piyama itu.


Kia merasa tak enak hati pada tukang kebun itu saat menyadari perbuatannya. Kia lalu mengambil piyama itu lagi dan ada secarik kertas yang tadi ikut terlempar.


Piyama ini akan sangat cantik bila kamu yang menggunakannya.


SR


Pesan dari SR lagi?


Kia memberikan kembali piyama yang tadi ia lempar. "Apakah semua paket itu dari orang yang sama?" tanya Kia.


"Saya rasa begitu Mbak, karena pengirim pesan selalu menuliskan kata SR di akhir kalimatnya," jawab tukang kebun itu. Selama ini dia selalu membuka setiap paket yang diterima meski Sarah tak pernah menginginkannya.


"Ya sudah Mbak, saya mau buang ini dulu sudah pegal tangan saya."

__ADS_1


Kia membiarkan tukang kebun itu pergi meninggalkannya. Kini pikiran Kia mulai berpikir siapa orang yang telah mengirimi paket untuk Sarah. Bila dari kak Erik untuk apa di buang, apa dugaannya selama ini benar. Kalau Sarah dan kak Erik memiliki hubungan spesial hingga dia harus membuang semua kiriman dari kekasihnya agar tidak ketahuan?


__ADS_2