
Satria POV.
Aku sedang berada dikamarku seorang diri, menangis, menyesali ucapanku malam itu. Malam saat aku menjatuhkan talagh pada Kia, istriku.
Hari itu adalah hari ulang tahun Naya, gadis kecil yang sudah ku anggap seperti putriku sendiri. Karena memang, sejak lahir aku membersamainya, bahkan namanya pun aku yang berikan.
Sebuah kenyataan pahit harus kuterima, saat Sarah mengatakan kebenarannya padaku, tentang status Naya. Anak yang aku rawat itu, ternyata bukan darah dagingku. Naya adalah anak Sarah dengan pria lain. Awalnya, sulit menerima kenyataan itu, karena aku begitu menyayanginya. Tapi, kenyataan tentang status Naya tak merubah kasih sayangku pada anak itu. Bagaimanapun juga, dia adalah anakku. Setidaknya, seperti itulah yang orang tahu.
Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat, gadis kecilku telah berusia enam tahun sekarang. Hanya berbeda beberapa bulan dari Hiro, anak kandungku.
Hari itu, akupun mengundangnya. Aku ingin bisa lebih dekat dengannya, meski aku menyadari, Hiro belum sepenuhnya menerimaku. Mungkin, keberadaan Naya membuatnya cemburu. Itu yang aku tangkap dari sikap yang ditunjukkan Hiro.
Disinilah, aku seolah diuji. Aku tidak bisa mendekati Hiro dengan mengabaikan Naya. Karena itu kuputuskan untuk mendekatinya pelan-pelan, agar aku tak menyakiti kedua anakku.
Aku sudah merencanakan banyak hal yang akan aku kerjakan dengan Hiro. Sejak bersamanya saat camping waktu itu, aku selalu memperhatikan sikapnya. Anak itu, sebenarnya anak yang ceria. Kami hanya belum dekat saja. Untuk itu, aku berencana mengajaknya pergi memancing, bermain layang-layang di pantai, dan juga bermain game bersama. Dengan begitu, kuharap hubungan kami akan jadi lebih baik.
Namun rencana itu tinggallah rencana. Saat aku mengikuti Kia yang pergi ditengah-tengah pesta, aku mendengar pembicaraan antara Kia dan Hiro.
Hatiku terasa sakit, saat kudengar putraku ingin menjauh dariku. Dia begitu terluka dengan sikapku. Hingga menginginkan pergi dariku.
Dan semua kepedihan itu menjadi berkali-kali lipat saat Kia meminta cerai dariku. Padahal sebelumnya sudah ku katakan, bahwa aku akan berjuang untuk pernikahan kami, untuk anak kami. Tapi, Kia justru memilih untuk pergi.
Demi Hiro. Itulah yang ia katakan.
Ya ... aku tahu, Hiro tersakiti karena sikapku pada Naya. Tapi aku sedang berusaha, Kia bahkan belum melihat usahaku. Tapi, dia sudah memutuskan yang katanya terbaik untuk Hiro.
Dia bahkan membuatku berjanji untuk tidak mencarinya.
"Dan berjanjilah, kamu tidak akan pernah mencari kami," ucap Kia.
Hal itu membuat ku semakin erat memeluknya. Sungguh aku tidak bisa jika harus berjanji seperti itu. Bagaimana mungkin aku tidak akan mencari anak kandungku.
Kia memutuskan semua sendiri, tanpa melihat, bahwa bukan hanya dirinya dan Hiro yang terluka, tapi juga aku.
Dia memohon berkali-kali agar aku melepaskannya. Dan sampai detik itu juga, aku pun masih berharap kalau bukan perpisahan ini yang ia minta. Dia begitu keras kepala untuk berpisah.
"Baiklah," itu yang aku katakan padanya.
Aku terdiam, berusaha memikirkan tentang baik-buruk semua ini. Kia hanya ingin Hiro lebih tenang jika jauh dariku, dan perpisahan ini adalah cara terbaik yang Kia pilih. Dan akan lebih mudah juga untuk Kia menjalani kehidupan barunya tanpa status istri sirri.
Aku tidak ingin membicarakan jodoh untuknya kelak, karena aku tidak bisa melihat masa depan. Tapi, jika aku boleh berharap, aku masih menginginkan dia yang menjadi jodohku.
Dengan menahan segala sakit, akhirnya ku ucapkan juga talagh untuk Kia. Dalam hatiku, aku memohon pengampunan berkali-kali. Aku tahu peceraian ini halal, tapi aku juga tahu bahwa perceraian ini juga dibenci oleh Tuhan.
Setelah kuucapkan kalimat yang mungkin akan aku sesali seumur hidupku itu, aku melihat Kia pergi membawa Hiro dalam derasnya hujan. Aku hanya bisa mematung dalam duka. Menangisi perpisahan yang tak pernah aku inginkan ini. Kembali hatiku memohon ampun, telah melakukan perbuatan yang dibenci oleh Tuhan ini. Hatiku benar-benar hancur malam itu.
Dan saat ini, aku hanya bisa berharap dan berdoa, Semoga Tuhan mempertemukan kami kembali. Dan, jika saat itu tiba, aku tidak akan lagi menyerah. Aku akan berjuang untuk mendapatkan kembali cinta istri dan anakku.
__ADS_1
Suara ketukan pintu menyadarkan ku dari keterpurukan ini. Aku segera menghapus air mataku, kudongakkan wajah ku untuk melihat siapa yang datang. Kulihat, Sarah membuka pintu dengan perlahan.
"Boleh aku masuk?" ijinnya padaku.
Kupaksakan senyum sebagai jawabanku.
Sarah mengambil duduk di samping ku, tapi dengan memberi jarak diantara kami.
"Maaf."
Kata itu lagi yang dia ucapakan, entah sudah berapa banyak kata itu keluar dari mulut Sarah.
Aku bisa melihat penyesalan dimatanya.
"Pergilah Satria, kejarlah cintamu." ucap Sarah padaku.
Kutatap Sarah dengan nanar, bagaimana bisa aku meninggalkannya disaat kondisinya seperti saat ini. Ku akui, aku tidak bisa tegas untuk memilih. Karena aku juga tidak bisa begitu saja meninggalkan Sarah.
Dia bukan sekedar mantan istriku. Tapi dia sudah seperti adikku. Aku mengenalnya sejak ia dalam kandungan, aku juga menjaganya saat ia baru lahir. Aku berhutang banyak pada keluarganya. Hutang budi, yang mungkin tak akan bisa aku balas.
Aku sudah pernah mencoba mengabaikan hubungan ini. Saat aku berusaha lari dengan Kia. Tapi, Tuhan tetap ingin aku kembali pada Sarah. Memenuhi janjiku, untuk menjaganya. Sebab itulah, aku tak bisa mengabaikan Sarah begitu saja.
Dan, bukan berarti aku tak memikirkan Kia, juga Hiro. Kalau boleh serakah, aku ingin bisa merawat Sarah, tapi tetap mempertahankan Kia disisiku. Namun, Tuhan tak mengijinkan itu.
"Bagaimana bisa aku meninggalkan mu?" jawabku atas ucapan Sarah.
Kulihat mata Sarah berkaca-kaca.
"Aku membebaskan mu, dari janji mu untuk menjagaku, juga Naya." Sarah mengusap cairan bening yang lolos dari matanya.
"Seperti kata Kia, aku akan berjuang untuk sembuh. Dan, aku akan merawat Naya dengan cintaku."
"Pergilah, Satria. Jangan mengulur waktu lagi!" Sarah memaksaku.
"Naya?" ucapku mengingat anak itu, jika aku pergi.
"Naya akan baik-baik saja denganku, begitupun aku. Aku janji, aku akan sembuh." Sarah tersenyum meyakinkan. "Pergilah."
Aku berdiri, kutatap mata sendu Sarah. Ku kecup keningnya. "Terima kasih," lirihku.
Lalu, aku mulai melangkah meninggalkan Sarah. Baru beberapa langkah menuju pintu, aku berbalik. Sarah menangis, tapi dia tetap tersenyum menatapku. Aku pun pergi meninggalkan Sarah.
Kupacu mobilku, kuarahkan ke restoran milik Kia. Biasanya, dijam seperti ini Kia masih ada di restoran.
Sesampainya disana, tak kutemui siapapun selain pegawai restoran. Pegawai itu bilang, Kia pergi ke bandara diantarkan oleh Wira, Rena, juga Juna.
Kembali, kupacu mobilku, kubawa ke bandara. Sialnya, tinggal beberapa ratus meter lagi untuk sampai di bandara, kemacetan menghadangku. Mungkin karena sedang ada perbaikan jalan, karena beberapa hari lalu saat aku melewatinya sedang ada perbaikan jalan menuju arah bandara. Aku membunyikan klason berkali-kali, agar kendaraan di depanku segera jalan. Tapi mana bisa, bila yang di depan sana masih tak bergerak. Aku menjambak rambutku dengan frustasi, kupukul setir mobil dengan keras. Kemacetan ini, membuatku kehilangan kesabaran.
__ADS_1
Kuputuskan, untuk keluar dari mobil. Aku berlari agar lebih cepat sampai kebandara. Karena waktuku tak banyak lagi. Aku berlari sekuat yang kubisa, kupaksakan kakiku untuk bisa lebih cepat.
Aku berhenti di loby bandara. Kubungkukkan tubuhku, dan memegang lututku. Ku atur nafasku yang terengah-engah. Kuhirup oksigen sebanyak yang ku bisa.
Setelahnya, ku edarkan pandanganku mencari keberadaan Kia dan Hiro. Tapi tak kutemukan. Ku ulangi lagi, kali ini dengan teliti, ku pindai setiap sudut di ruangan itu, akhirnya, aku menemukan Wira.
Tak ingin membuang waktu, aku berlari kembali, menghampirinya.
"Wira," sapaku. Yang membuat Wira, Juna juga Rena secara bersamaan menatapku.
"Dimana, Kia?" tanya ku terengah-engah. "Dimana, Hiro?" sambungku.
Tidak langsung menjawab, mereka bertiga justru saling tatap.
"Dimana mereka?" tanya ku lagi.
"Maaf, Pak. Mereka sudah pergi," jawab Wira.
Aku tersenyum getir disela-sela nafasku yang masih terengah. Air mataku mengalir tanpa ijin.
Ya, Tuhan. Inikah hukuman untukku. Perjuanganku untuk sampai disini, bahkan tak bisa merubah kepergiannya. Kupikir, semua akan mudah untukku bisa kembali dengan anak dan istriku. Tapi, rasanya aku salah.
Dengan langkah gontai, aku berjalan keluar dari bandara. Aku tidak tahu apa yang orang-orang pikirkan saat melihatku yang terlihat seperti orang aneh. Kemarin, Kia pergi diiringi hujan, kali ini pun sama. Langit yang sedari tadi mendung, kini menumpahkan airnya. Aku tak peduli dengan hujan ini, aku tetap berjalan dalam hujan, menyusuri jalan tanpa tujuan.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa untuk
👍Like
🖊️Komen, dan VOTE yak 😀
Tengkyu💓💓💓Sayang hee
__ADS_1