
Masih sama seperti sore kemarin, hujan mengguyur dengan deras. Hiro, sedang berdiri di dekat pintu masuk restoran, seperti yang dilakukannya kemarin. Menatap hampa ke seberang jalan.
"Hiro!" panggil mbak Yanti. "Bantu Mbak, sini!"
Seperti tidak rela meninggalkan tempatnya sekarang ini. Hiro memaksakan langkahnya memenuhi panggilan mbak Yanti.
Setelah selesai mengerjakan tugas yang diberikan mbak Yanti, Hiro kembali ke tempatnya semula. Entah sejak kapan, pintu masuk itu, jadi tempat favorit Hiro. Bocah itu, beberapa hari terakhir, suka sekali berdiri disana. Menatap lengang jalanan yang basah oleh guyuran hujan.
"Siapa yang kamu tunggu?" Kia memegang kedua bahu Hiro dari belakang.
Hiro menoleh. "Tidak ada," jawabnya singkat.
"Mama perhatikan, sejak kemarin kamu selalu berdiri disini menatap keluar. Seperti sedang menunggu seseorang?" Kia menggeser tubuhnya, kini ia berdiri tepat disamping Hiro. Sama halnya dengan Hiro, Kia juga menatap jalanan yang sama, tapi dengan objek yang berbeda.
Seseorang turun dari mobilnya. Dengan payung kecil ditangannya, ia berlari ke arah restoran. Setelah menutup payung yang dibawanya, dan meletakkannya di tempat payung yang tersedia, orang itu ngibas-ngibaskan rambutnya yang sedikit basah, menepuk-nepuk kemeja, serta celananya yang terkena cipratan air hujan.
Kia dan Hiro fokus memandanginya, hingga orang itu masuk dan menyapa keduanya.
"Apa kalian sedang menyambutku?" tanyanya dengan canda.
"Bukan aku, tapi Hiro. Sejak kemarin, dia selalu berdiri di tempat ini, menunggu kedatanganmu," jawab Kia.
"Benarkah?" pria itu tersenyum bahagia. " Kalau begitu, aku akan memberimu hadiah." Marvin merangkul Hiro, dan membawanya masuk. Kia mengikuti mereka di belakang.
Mereka bertiga, terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia, bagi siapapun yang melihatnya.
.
.
.
.
.
.
Siang ini matahari, bersinar dengan sempurna. Seolah, mengganti hari-hari gelap sebelumnya.
Hiro, yang biasa pulang sekolah dijemput oleh Kia ataupun pegawai restoran, kini harus menunggu lebih lama. Karena siang ini, restoran cukup ramai. Dan tadi, gurunya sudah berpesan pada Hiro agar sabar menunggu.
"Hei lihat! anak yatim ini sedang menunggu jemputan." Ucap seorang anak, yang berjalan dengan dua temannya.
Hiro diam saja, berusaha mengabaikan perkataan temannya. Hal seperti ini sudah jadi hal biasa bagi Hiro.
"Teman-teman, ayo kumpulkan sumbangan kalian untuk anak yatim ini, kasihan sekali dia." Anak yang sama meminta uang dari dua temannya, lalu melemparnya pada Hiro.
Hiro menatap tajam satu per satu teman yang berdiri di depannya.
"Kenapa! kamu tidak suka!" tanya anak yang seperti bos itu dengan nada menantang.
"Sudah bagus, kami berbaik hati memberikan sumbangan untuk anak yatim sepertimu. Jadi, jangan berlagak tidak butuh. Ambil saja, anak yatim seperti mu sudah sewajarnya mendapat sumbangan bukan!" sambungnya dengan nada penuh ejekan.
Hiro masih berusaha menahan amarahnya, ia masih ingat pesan mamanya. Untuk tidak menyakiti orang lain, terlebih orang yang dikenal.
__ADS_1
"Kamu bisu!" ucap anak yang lainnya.
"Iya, atau orang tuamu tidak mengajarimu cara berterima kasih, setelah seseorang memberikan bantuan padamu!" ejek yang satunya lagi.
"Bagaimana orang tuanya akan mengajarinya, kalian lupa dia anak yatim!"
Ketiga anak itu tertawa bersamaan, tawa mengejek yang mereka tunjukkan pada Hiro.
Hiro mengepalkan tangannya, dari tadi dia sudah berusaha bersabar. Tapi, dia tidak ingin lagi jadi bahan ejekan. Dengan amarahnya, Hiro berdiri tegap di depan ketiga temannya.
"Hiro!" panggil seseorang yang baru turun dari mobilnya. "Maaf ya, Papa terlambat jemput kamu." Pria itu tersenyum ramah pada Hiro, dan juga ketiga temannya.
"Kalian pasti teman Hiro?"
Ketiga teman Hiro tercengang, menatap pada sosok ayah di depan mereka.
"Perkenalkan, nama Om, Om Satria. Papanya, Hiro. Siapa nama kalian?" Satria menatap satu persatu teman-teman Hiro.
Ketiga teman Hiro, masih tertegun , tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Papa, Hiro?
Anak yang selama ini mereka ejek tidak punya papa, dan menjulukinya anak yatim. Ternyata, punya papa seperti mereka. Bahkan papa Hiro, mungkin lebih tampan dari papa mereka.
Satria, yang sejak pertama kali bertemu Kia saat itu, tidak lantas tinggal diam. Tuhan sudah mengatur jalan pertemuannya dengan Kia, setelah sekian lama. Untuk itu, dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan. Dia harus berusaha untuk mewujudkan keinginannya bersatu kembali dengan anak dan istrinya.
Satria pun, mencari tahu tentang tempat tinggal Kia dan juga dimana sekolah Hiro. Sejak itulah, seperti seorang stalker, Satria selalu mengawasi Hiro dari jauh. Mulai dari sekolah, sampai ke restoran, yang sekaligus jadi rumah untuk Hiro dan Kia.
Dan tadi, saat melihat Hiro sedang dibully. Rasa untuk melindungi langsung memenuhi pikirannya. Tidak lagi pikir panjang, Satria langsung turun dan membela Hiro.
"Siapa nama kalian?" tanya Satria lagi.
"Putu."
"Erwin."
Mereka menjawab satu per satu, seperti sedang diabsen.
"Baiklah, Andi, Putu, dan Erwin, kami pulang dulu ya. Bertemanlah dengan rukun." Satria menyunggingkan senyuman yang penuh kewibawaan seorang ayah.
"Ayo, Hiro. Nanti mama menunggu." Ajak Satria.
Hiro berjalan lebih dulu meninggalkan teman-temannya.
"Kami pulang dulu, ya. Kalian hati-hati dijalan," ucap Satria pada ketiga teman Hiro. Satria segera menyusul Hiro, meninggalkan teman-teman Hiro yang masih terbengong dengan orang yang baru saja mengajak mereka bicara.
Sepanjang perjalanan, Hiro hanya menatap keluar jendela. Tidak ada suara diantara mereka. Satria sendiri merasa canggung, untuk memulai pembicaraan dengan putranya itu.
Ada rasa takut yang menyusup dalam hatinya. Takut, jika apa yang ia lakukan kali ini salah di mata Hiro. Satria benar-benar dibuat mati kutu, jika berhadapan dengan Hiro.
"Apa, Anda sakit?" tanya Hiro memecah suara deru mesin.
Satria bingung, tidak tahu maksud Hiro. Dia menoleh menatap Hiro, mencoba mencari tahu maksud pertanyaan putranya itu. Namun, Hiro tak melihat sedikitpun pada Satria. Fokusnya masih pada tepi jalan yang ia lihat dari jendela.
"Apa kemarin, Anda sakit?" tanya Hiro, lagi. Karena Satria tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Ah ... A-aku." Satria benar-benar gugup.
__ADS_1
"Apa karena kehujanan malam itu?"
Satria masih belum bisa menangkap maksud dari ucapan Hiro. Dia memang sakit, dan kehujanan adalah faktor penyebabnya. Tapi, bagaimana Hiro tahu?
Tidak mungkin kan, Kia menceritakan kejadian malam itu pada Hiro.
"Malam di hari ulang tahunku." Hiro terdiam sesaat. "Malam itu, anda kehujanan, bukan?"
"Apa hal itu, yang membuat Anda sakit? Dan beberapa hari, sejak hari itu, Anda tidak datang lagi ke restoran," sambung Hiro.
"Anda juga, yang mengirim hadiah itu pagi-pagi, benar kan?"
"Hiro." Satria kembali menatap Hiro yang masih belum merubah posisinya. "Maaf, Papa cuma ingin melakukan apa yang belum pernah Papa lakukan untukmu. Papa ingin memberimu kado ulang tahun juga." Satria sangat berhati-hati, dia sangat takut Hiro menolaknya.
"Aku tidak tahu, apa tujuan Anda melakukan semua ini?"
Bersamaan dengan kalimat terakhir Hiro, mobil Satria sudah memasuki area parkir restoran. Satria menghentikan mobilnya.
"Hiro ...." Belum sempat Satria menyelesaikan ucapannya untuk memberi penjelasan. Hiro sudah lebih dulu memegang handle pintu, dan keluar dari mobil.
"Terima kasih," ucap Hiro singkat. Dengan menoleh sekejab pada Satria.
Anak itu berlari meninggalkan Satria tanpa menoleh lagi.
Satria memukul setir mobilnya dengan keras, merasa bodoh karena tidak memanfaatkan kesempatan ini dengan baik. Kesempatan untuk menjelaskan pada Hiro, tentang perasaannya.
"Bodoh ... bodoh ... bodoh!!!" teriaknya saat memukul setir mobilnya.
Satria menjambak rambutnya frustasi.
Suara klakson mobil dari belakang, memaksa Satria segera pergi dari tempat itu. Mau tidak mau, Satria menjalankan mobilnya kembali.
Mungkin, Tuhan, ingin agar Satria lebih bersabar lagi. Lebih berjuang lagi, untuk sesuatu yang pernah ia sia-siakan.
Dari balik pintu restoran, Hiro bersembunyi. Diam-diam, ia memperhatikan mobil papanya yang perlahan hilang dari pandangannya. Air mata Hiro menetes.
.
.
.
.
.
.
Maafkan aku yang selalu mengingatkan untuk,
👍Like, dan
🖊️Komen
Karena aku suka baca komen kalian semua readers kuh terZEYENGGG😍
__ADS_1
Tengkyu💓💓💓sayang hee