Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.58


__ADS_3

"Bye ... bye ... Pa," Naya melambaikan tangannya pada Satria. Hari ini, Satria sendiri yang mengantar Naya ke sekolah.


Dan, sekitar tiga menit sebelum kedatangannya, Kia baru saja mengantar Hiro. Mungkin takdir belum ingin mempertemukan mereka kembali.


Naya berlari lebih kencang saat melihat Hiro ada di depannya. "Hiro." Naya mengatur nafasnya yang ngos-ngosan setelah berhasil menyusul Hiro. "Selamat pagi," lanjutnya setelah nafasnya mulai teratur.


"Selamat pagi," jawab Hiro lugas, tanpa menoleh. Hiro tetap berjalan menuju kelasnya tanpa ingin menyapa balik Naya yang sudah lelah berlari hanya untuk bisa menyusulnya.


Hiro langsung meletakkan tasnya, dan duduk di bangkunya.


"Apa kamu sudah sarapan?" tanya Naya yang duduk di bangku sebelah Hiro.


"Hemm," jawab Hiro malas.


Naya hanya bisa mencebik dan menggelengkan kepalanya. Tidak mengerti apa yang terjadi dengan Hiro. Naya pun diam, karena ibu guru sudah masuk kelas.


Mereka semua memberi salam, lalu berdoa, yang dipimpin oleh Bu Shinta. Setelahnya, Bu Shinta mengabsen satu per satu siswanya.


"Amar,"


"Hadir Bu," jawab si anak.


" Amelia,"


"Hadir."


Begitulah Bu Shinta mengabsen satu persatu siswanya.


"Hiro."


"____" tak ada jawaban.


"Hiro Putra Buana!" kali ini Bu Shinta lebih mengeraskan lagi suaranya.


Naya menepuk lengan Hiro, yang membuat Hiro sadar dari lamunannya, dan langsung menatap Naya tajam.


Naya membalasnya dengan mengarahkan dagunya menunjuk pada Bu Shinta. Hiro yang mengerti langsung menjawab panggilan gurunya. "Hadir Bu," jawab Hiro.


"Wah ... nama kamu sama ya kayak nama Papaku," ucap Naya, yang berhasil membuat Hiro mengarahkan fokusnya pada Naya. "Papaku bernama Satria Anggar Buana, dan kamu, Hiro Putra Buana. Sama kan?" sambungnya.


Sontak saja Hiro mendelik, tapi tak ditanggapinya ucapan Naya. Hiro kembali menatap papan tulis di depannya, dan memperhatikan pelajaran yang gurunya berikan. Mereka saling diam hingga jam istirahat dimulai.


Seperti biasanya, Hiro akan pergi bermain ke taman sekolah. Tapi kali ini berbeda, biasanya Hiro akan mengajak Naya main bersama. Kali ini, Hiro langsung pergi tanpa mengajak Naya.


Naya yang sedari awal hanya akrab dengan Hiro, tak mau jika ditinggal sendirian. Dia mengikuti kemana pun Hiro pergi.


"Kenapa kemarin kamu tidak menungguku? padahal aku ingin sekali memperkenalkanmu pada Papaku," ucap Naya polos.


Hiro diam saja, tak peduli jika Naya sedang mengajaknya berbicara.

__ADS_1


"Papaku juga ingin sekali berkenalan dengan mu, selama ini aku selalu bercerita tentang kamu pada Papaku." Naya masih berbicara meskipun tak ada tanggapan dari Hiro.


"Aku juga ingin memperkenalkan Tante Kia pada Papa, tapi kamu sudah mengajaknya pergi lebih dulu." Naya menatap Hiro yang dari tadi mengabaikannya.


Hiro masih diam, dia sibuk memainkan bolanya.


"HIRO!!!" teriak Naya seraya merebut bola di tangan Hiro.


Hiro mendelik tajam, menatap marah pada Naya yang telah menggangu keasyikannya. Tak ingin berkata apapun, Hiro merampas kembali bola di tangan Naya, dan pergi meninggalkan Naya.


"HIRO!!!" teriak Naya lagi. Dia kesal karena diabaikan, Naya bahkan tidak tahu apa penyebab sikap Hiro berubah kepadanya.


Rasanya, Naya tak punya salah apapun pada Hiro. Tapi, kenapa teman satu-satunya ini mengacuhkannya?


Sampai jam pulang sekolah tiba, Hiro dan Naya tak saling bicara. Kini, Naya juga ikut marah dengan Hiro.


"Halo sayang," sapa Kia dengan senyuman manisnya.


Naya membalas sapaan Kia dengan tersenyum, lalu melirik tajam pada Hiro yang ada di sebelah Kia. Kia mengikuti kemana sorot mata Naya yang terlihat jengkel itu diarahkan, ternyata berhenti pada putranya yang memasang muka judes pada Naya.


"Naya mau ikut Tante ke restoran?" pancing Kia.


"Tidak." ucap Naya


"Enggak." ucap Hiro


Mereka menjawab bersamaan. Sontak saja Kia tertawa dengan tingkah kedua bocah ini.


"Karena Mama harus nganter Hiro," ucap Hiro.


"Aku sudah dijemput Papa," ucap Naya.


Kembali, mereka menjawab bersamaan. Kia makin tertawa melihatnya.


"Ada apa dengan kalian?" Kia berjongkok, menyamakan tingginya dengan kedua bocah itu. Dia menatap Hiro dan Naya bergantian. Hiro dan Naya saling diam, mungkin tidak ingin lagi bicara bersamaan.


"Katakan sayang, ada apa?" Kia meraih dagu Naya dengan lembut.


Naya kembali melirik Hiro, yang masih terlihat raut judesnya. "Aku tidak suka dengan Hiro, jadi mulai sekarang aku tidak akan ikut Tante lagi ke restoran," jawab Naya jujur.


"Apa yang Hiro lakukan, sampai membuatmu marah?" tanya Kia lembut.


Naya terdiam, dia kembali melirik Hiro.


"Dia mengabaikanku, aku tidak tahu apa alasannya. Tapi, dia ... tiba -tiba saja mendiamkanku."


Hiro tak peduli apa yang Naya katakan pada Mamanya, dia pura-pura tidak dengar. Hiro bahkan memalingkan wajahnya.


"Kenapa sayang?" kali ini Kia memutar tubuh Hiro agar berhadapan dengannya. "Kenapa kamu mengabaikan Naya?" sambungnya.

__ADS_1


Hiro yang tadi menunduk saat Kia memutar tubuhnya, kini mendongak melirik Naya. "Karena aku tidak suka Naya mengabaikan ku," jawab Hiro, yang tentu saja membuat Kia dan Naya keheranan.


Tadi Naya bilang, Hiro yang mengabaikan Naya. Dan, sekarang Hiro bilang, Nayalah yang mengabaikan Hiro. Pasti ada salah paham di antara kedua bocah ini.


Kia menatap Naya, mencoba mencari jawaban atas tuduhan Hiro. Namun, Naya hanya mengangkat kedua bahunya dengan sorot mata kebingungan atas apa yang Hiro tuduhkan padanya.


"Sayang ... kapan Naya mengabaikanmu?" Kia mengelus rambut hitam tebal Hiro.


"Kemarin."


Kia kembali mencari jawaban dari Naya. Dan, sekali lagi Naya mengangkat kedua bahunya, tidak ingat kapan Naya mengabaikan Hiro.


Hiro yang juga memperhatikan Naya, yang menyangkal tuduhannya langsung menyingkirkan tangan Kia yang sedari tadi masih di atas kepalanya. "Kemarin, saat Papamu datang, kamu langsung meninggalkan aku. Saking senangnya, kamu lupa kalau aku ada bersamamu dan harus berlari untuk mengejar mu," jelas Hiro.


Kia mengerti sekarang, ternyata anaknya ini sedang cemburu dengan papanya Naya. Kia pun tersenyum mengingat tingkah polah bocah berusia lima tahun itu. Ada rasa lega juga yang ia rasakan, ternyata kekhawatirannya soal pertemuannya kemarin dengan Satria bukanlah hal yang harus ditakutkan. Hiro tidak tahu siapa Papanya Naya, karena dia belum memberi tahunya. Dan kemarin, adalah pertama kalinya Hiro menatap wajah itu.


Naya juga tersenyum, setelah tahu penyebab Hiro mengabaikannya seharian ini di sekolah. "Maafkan aku," pinta Naya.


"Aku terlalu senang bisa bertemu lagi dengan Papaku, karena itu aku sampai melupakan mu. Tapi ... aku janji, aku tidak akan melakukannya lagi." Naya tersenyum, dia mengangkat jari kelingkingnya untuk membuat janji dengan Hiro.


Dengan senang hati, Hiro, menyambut jari Naya dan menautkannya dengan kelingkingnya. Kedua bocah itu akhirnya bisa tertawa bersama lagi, dan mengakhiri drama saling mengabaikan yang seharian ini mereka lakoni.


Kia pun tak ketinggalan untuk tertawa bersama mereka berdua.


"Ada hal apa yang membuat kalian tertawa begitu senang?"


Suara itu membuat Naya, Hiro, dan juga Kia seketika berhenti tertawa, dan memaksa ketiganya untuk beralih menatap ke arah datangnya suara.


"PAPA," pekik Naya, yang menghambur ke arah Satria.


.


.


.


.


.


.


Dukung karya ini ya gaessss, untuk selalu


👍Like


❤️Favorite


🖊️Komen

__ADS_1


Tengkyu💓 💓💓 sayang hee


__ADS_2