Jadi Yang Ke-2

Jadi Yang Ke-2
Bab.26


__ADS_3

Di sebuah kantin kampus, Kia sedang duduk di salah satu bangku dengan menikmati es jeruk pesanannya. Kia sedang menunggu Rena, yang saat ini masih ada mata kuliah.


"Hai ...," sapa seseorang yang langsung duduk di depan Kia.


Kia mendongak menatap siapa yang mengajaknya berbicara, mengingat dia tidak punya teman di kampus ini. Ini bahkan kali pertama Kia menginjakkan kaki di kampus tempat Rena menuntut ilmu.


Kia dan Rena bukan dari kampus yang sama. Hari ini Kia ada janji dengan Rena, dia akan menginap di kostan Rena untuk meminta bantuan Rena mengerjakan tugasnya.


"Masih ingat aku, kan?" tanya pria yang baru saja duduk.


Kia menatap tajam pria di depannya, kemudian mengangguk pelan.


"Kuliah di sini juga?" tanyanya lagi.


"Enggak," jawab Kia lugas.


"Terus, ada perlu apa ke sini? ketemu pacar kamu?"


Kia menggeleng pelan. "Enggak juga, ketemu teman."


Pria bernama Juna, yang dulu Kia temui di Mall itu hanya manggut-manggut.


"Masih lama nggak temennya, kalau masih lama biar aku temani kamu di sini," ujarnya tersenyum menggoda.


"Sebentar lagi mungkin keluar," jawab Kia malas.


"Nama teman kamu siapa, mungkin aku kenal?"


"Rena."


"Rena yang mana, yang anak bahasa?"


Kia asal mengangguk saja. Tidak tahu apakah Rena yang dimaksud Kia sama dengan Rena yang dimaksud Juna.

__ADS_1


Seperti katanya tadi Juna benar-benar menemani Kia sampai Rena datang. Juna bahkan menawarkan tumpangan untuk mengantar kedua gadis itu pulang. Namun baik Kia maupun Rena sama-sama menolak, mereka lebih memilih pulang dengan angkot.


Kostan Rena tidak terlalu jauh dari kampus, karenanya cukup lima belas menit dengan angkot sudah sampai di kostan Rena.


"Masuk, Ki," ajak Rena saat membuka pintu kamar kost-nya. Melepas sepatunya dan meletakkannya di rak sepatu yang sudah ada di luar kamar.


Rena langsung meletakkan tasnya di kursi yang biasa ia pakai untuk belajar. Kamar kost yang tidak terlalu luas itu menjadi tempat tinggal Rena satu bulan terakhir. Kia sendiri langsung duduk di atas karpet yang berada tepat di bawah dekat dengan tempat tidur Rena.


"Sudah lama kamu tinggal di sini, Ren?" tanya Kia.


"Belum, aku baru pindah satu bulan terakhir," jawab Rena yang langsung pamitan ke kamar mandi.


Kia pun mengeluarkan peralatan untuk ia mengerjakan tugasnya. Teringat ia tak membawa laptop, Kia berdiri menghampiri laptop milik Rena yang ada di atas meja.


Kia mengambilnya, berniat akan meminjam laptop itu untuk menyimpan hasil kerjanya hari ini. Kia yang baru saja mendekap laptop itu, kaget, ketika Rena yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menyahut laptopnya.


"Maaf, aku hanya ingin pinjam laptopmu untuk menyimpan tugasku hari ini," ucap Kia merasa bersalah karena belum ijin pada yang punya.


Kia mengangguk paham.


Rena langsung mengajak Kia memulai belajar bersama mereka. Seperti niat awal mereka, Rena membantu Kia mengerjakan tugasnya.


🍁🍁🍁🍁


Sarah berteriak marah setelah ia menanyakan tentang pernikahan sirri yang dilakukan suaminya secara diam-diam, dan dijawab Satria dengan jujur.


Sarah mencengkram krah kemeja yang Satria kenakan. "Kenapa kamu lakukan ini?" ucap Sarah berurai air mata. "Kenapa!" Teriaknya lagi dengan keras.


Satria meraih pergelangan tangan Sarah yang masih mencengkeram kerah kemejanya, dan membawanya turun. "Apa kamu punya hak untuk melarangku?" ucap Satria datar.


Sarah menghapus air matanya dengan kedua tangannya. "Aku istrimu, aku punya hak atas dirimu!" jawab Sarah masih dengan emosi.


Sejak dia mendengar sendiri pengakuan suaminya tentang pernikahan kedua yang dilakukan suaminya, ada rasa sakit di hatinya. Rasa tidak rela. Tidak rela jika ada wanita lain yang memiliki suaminya, apalagi hati suaminya.

__ADS_1


"Kamu masih istriku dua tahun yang lalu, tapi saat ini kamu bukan lagi siapa-siapa bagiku. Kamu sudah kehilangan hakmu saat aku mengucapkan talak padamu."


"Tidak, itu tidak benar. Saat itu kamu bercanda, kan. Kamu mengucapkannya karena kamu sedang marah. Kamu tidak bisa berfikir jernih saat itu," ucap Sarah menolak semua ucapan Satria.


"Aku marah ... aku sangat marah, tapi aku sadar dengan apa yang aku ucapkan, dan talakku saat itu tidak main-main." Satria mengepalkan tangannya saat teringat apa yang menjadi alasan hingga ia mengucapkan talak pada Sarah.


Sarah mengelengkan kepalanya, tidak ingin menerima kenyataan bahwa dirinya telah diceraikan. Saat itu Sarah menganggap Satria sedang marah, karena tahu bahwa diam-diam Sarah menggugurkan kandungannya. Dalam emosi yang memuncak Satria mengucapkan talaknya untuk menceraikan Sarah.


Namun sejak saat itu, Satria tidak pernah mengurus surat perceraiannya dengan Sarah atas permintaan Sarah sendiri. Karena Sarah yakin, Satria akan kembali padanya. Keyakinannya semakin bertambah karena selama dua tahun terakhir, Satria tidak pernah berkencan dengan wanita manapun.


Sarah memang tinggal jauh dari Satria, tapi wanita itu meninggalkan mata-mata yang selalu memberinya kabar tentang suaminya. Kepulangannya kali ini, untuk memastikan berita yang ia dapat dari orang suruhannya.


Awalnya, dia tidak percaya hingga dia memastikan sendiri suaminya itu pulang ke rumah di mana istri keduanya tinggal. Hal yang paling menyakitkan saat itu adalah, saat Satria menolaknya, dan justru pergi menemui istri barunya.


Sarah kembali menatap Satria, memegang kedua pipi suaminya, agar suaminya itu menatapnya. "Katakan kalau kamu masih mencintaiku," ucap Sarah lirih. "Kamu masih mencintaiku, kan?!" tanya Sarah lagi.


Satria diam tak menjawab.


"Jika kesalahanku selama ini membuatmu marah dan menyakitimu, aku minta maaf. Ayo kita mulai lagi dari awal. Aku akan tinggalkan semuanya untukmu, aku akan jadi istri seperti yang kamu mau. Aku akan berubah," ucap Sarah seolah berjanji.


Satria kembali melepaskan tangan Sarah, menatapnya dengan nanar. Satria menarik nafasnya dalam sebelum akhirnya dia memilih pergi meninggalkan Sarah yang masih menangis.


Sungguh, sejujurnya Satria tak pernah tega melihat Sarah menangis. Itu adalah kelemahannya. Sarah, wanita itu adalah cinta pertamanya. Wanita yang mengenalkannya pada cinta, tapi Sarah juga yang mengenalkannya akan sakitnya pengkhianatan.


Entah cinta buta atau apapun namanya, Satria selalu memaafkan apapun kesalahan Sarah. Dan menerimanya kembali saat wanita itu datang dengan air mata. Hal ini kembali membuat Satria bimbang. Air mata Sarah dan janji manisnya.


Satria keluar dari rumah mertuanya, memacu mobilnya dengan kecepetan di luar kebiasaan. Dia mengarahkan mobilnya ke apartemennya.


Di sana ia menghubungi Wira, asistennya untuk datang menemaninya. Wira bukan sekedar asisten, tapi sudah ia anggap seperti saudara. Wira tahu bagaimana hubungan bosnya itu dengan istrinya. Wira juga paham dengan perasaan sakit yang Satria rasakan. Karena selama ini, hanya kepada Wira lah Satria menceritakan permasalahannya. Pemuda itu selalu menjadi pendengar setia atas keluh kesah atasannya.


Terima kasih atas supportnya ....


Tengkyu❤️❤️❤️Sayang hee

__ADS_1


__ADS_2