
"Ren, aku mau keluar jemput Hiro dulu, ya. Tolong katakan pada Juna, laporan keuangan bulan kemarin letakkan saja di mejaku." Setelah menitipkan pesan pada Rena, Kia berangkat menjemput putra semata wayangnya.
Sejak kembali dari Singapura, Kia mulai menata hidup barunya. Dia bertahan demi anak dalam kandungannya. Meskipun harus melewati masa-masa kehamilan tanpa seorang suami, Kia masih bisa bersyukur, karena Tuhan memberinya teman-teman yang selalu ada untuknya.
Terutama Wira, kehadirannya seolah menggantikan peran Satria. Wiralah, orang yang selalu direpotkan saat Kia menginginkan berbagai hal, dari makanan ataupun keinginan yang tak masuk akal dengan alasan ngidam.
Pria itu selalu siap siaga memenuhi segala keinginan Kia. Wira, bahkan rela membeli rumah didekat rumah Kia agar bisa membantunya kapanpun dibutuhkan. Karena tidak mungkin untuk Wira, tinggal serumah dengan Kia, sebab itulah dirinya membeli rumah tepat di samping rumah Kia.
Rena, dan Juna pun, tak kalah repot jika menyangkut keinginan ngidam Kia. Entah, demi persahabatan atau karena rasa kasihan, mereka semua selalu menurut saja apa kata Kia.
Dan, setelah Kia melahirkan, mereka bahkan tidur bergantian di rumah Kia untuk ikut menjaga Kia. Hanya Rena, yang akhirnya pindah dari kostnya ke rumah Kia. Sementara, Wira, dan Juna bergantian jadi penjaga untuk Kia.
Saat usia Hiro sudah satu tahun, Wira memberikan modal untuk Kia, membuka usahanya. Bukan dari uang pribadi Wira, tapi dari deposito yang Satria buat atas nama Kia. Satria bukan pria pelit, seperti yang selama ini ditunjukkannya pada Kia. Satria bahkan membelikan beberapa aset atas nama Kia, termasuk rumah yang Kia tempati saat ini.
Membuka sebuah restoran adalah rencana Kia dan kedua temannya, Rena, dan Juna. Mereka sudah merencanakan bahkan saat Hiro baru lahir. Bagaimanapun, Kia tidak bisa kalau harus berdiam diri tanpa penghasilan, sementara dirinya sudah memiliki anak.
Kenapa usaha di bidang kuliner, karena ketiganya punya pengalaman di bisnis itu. Saat ini, Juna menjabat sebagai manager dan Rena, sebagai headwaiter.
Usaha Kia berjalan cukup lancar, meski di awal pembukaannya mereka benar-benar harus bekerja keras untuk memajukan restorannya. Dan sekarang, mereka puas setelah empat tahun restorannya berdiri.
.
.
.
Kia berjalan ke parkiran, di mana mobilnya berjejer dengan mobil pengunjung restoran. Belum sampai langkahnya pada mobil sedan berwarna putih itu, ada seseorang yang menghentikan langkahnya.
"Mau ke mana?" tanya Wira dari dalam mobilnya.
"Jemput Hiro."
"Naiklah, aku akan mengantarmu."
Kia langsung memutar melewati bagian depan mobil, dan duduk di samping Wira.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Kia membuka percakapan.
"Tadinya, mau makan di tempatmu. Tapi, kulihat ini jam pulang Hiro, dan melihat kamu akan menjemputnya jadi sekalian saja aku antar. Lagi pula, aku merindukan Hiro," jawab Wira tersenyum.
Tak lama, Kia sampai di sekolah, karena memang sekolahan Hiro tak jauh dari restoran.
Kia turun dari mobil, dan meminta Wira untuk menunggu saja di mobil.
Hampir semua anak sudah pulang, karena sekolah juga sudah nampak sepi. Hanya tinggal beberapa saja yang masih tertinggal.
Kia mengedarkan pandangannya, mencari di mana putranya berada. Tak ditemukannya. Kia pun berjalan ke kelas Hiro, mungkin anak itu masih di dalam kelas.
Benar saja, Hiro masih duduk di kelas bersama seorang guru di sana.
"Permisi," ucap Kia seraya mengetuk pintu.
__ADS_1
"Silahkan masuk, Bu," jawab Bu Shinta, wali kelas Hiro.
Dengan senyum ramah, Kia masuk dan mendekati putranya. Bukannya senang dan menyapa mamanya seperti biasa, anak itu justru menunduk saja dari tadi.
"Sayang, ayo kita pulang," ajak Kia.
Kia sangat terkejut, saat Hiro mengangkat kepalanya. Ada bekas cakaran di pipinya. Kia mengusap lembut pipi putranya.
"Maafkan atas keteledoran kami dalam mengawasi anak-anak, Bu," ucap Bu Shinta.
"Sayang, boleh Mama bicara dulu dengan Ibu guru?"
Hiro mengerti arti ucapan mamanya, karena itu Hiro pergi keluar kelas.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanya Kia setelah Hiro keluar.
"Tadi Hiro berkelahi dengan Vano. Dari keterangan anak yang lain, karena Hiro ingin membela Naya, dia murid baru di sini.
Jadilah Hiro terkena cakaran dari Vano, tapi kondisi Vano tidak lebih baik dari Hiro karena Hiro memukul Vano juga," jelas Bu Shinta.
"Apakah orang tua Vano, menitipkan pesan untuk saya?"
"Tidak, beliau memahami kondisi ini karena saya sudah menjelaskannya. Tapi yang ingin saya ketahui adalah, apa ada penyebab Hiro bersikap emosional?"
Sejujurnya Kia belum tahu penyebab putranya itu bersikap demikian, bahkan Hiro belum mau bercerita apa penyebab kemarin dia memukul teman satu dojonya.
"Saya minta maaf, dan saya akan lebih fokus lagi dalam mengawasi anak saya."
"Tunggu sebentar, Ma!" Hiro melepaskan tangan Kia, dan berlari menemui seorang gadis kecil yang berseragam sama seperti dirinya.
"Kamu belum dijemput?" tanya Hiro pada gadis berambut panjang nan lurus itu.
Gadis kecil itu hanya menggeleng.
"Ini." Hiro mengulurkan jepit rambut berbentuk bunga dalam genggamannya.
Gadis itu menyambutnya dengan senyum gembira, saat melihat jepit rambut kesayangannya ada tangan Hiro.
"Terima kasih," ucapnya mengambil jepit rambutnya.
Gadis kecil itu terlihat sedih saat melihat bekas cakaran di wajah Hiro.
"Maaf," ucapnya langsung menunduk.
"Tidak apa-apa, ini tidak sakit," jawab Hiro.
Kia yang sedari tadi hanya memperhatikan ikut mendekat juga. "Halo, siapa nama kamu?" sapa Kia pada teman Hiro.
Gadis kecil yang tadinya menunduk itu, memberanikan diri untuk menatap orang yang tengah menyapanya. Tapi, dia tidak menjawab pertanyaan Kia.
"Ini Naya, Ma, dia murid baru di kelas Hiro." Hiro yang menjawab pertanyaan Kia.
__ADS_1
"Oh ... jadi kamu yan bernama Naya. Kamu cantik sekali, apa itu jepit rambutmu?" Kia melirik jepit rambut di tangan Naya.
Naya hanya mengangguk, sebagai jawaban.
"Mau Tante pasangkan?" tawar Kia.
Dengan senyum manisnya, Naya menyerahkan jepit rambut bunga kesukaannya pada Kia.
"Ma, kita di sini dulu ya. Naya belum dijemput, kita temani Naya dulu sampai datang jemputannya ya, Ma."
"Ok," jawab Kia setelah selesai memasang jepit rambut Naya.
Kia, mengajak Hiro dan Naya untuk duduk di bangku yang disediakan sekolah untuk menunggu.
Kia mencoba mengajak bicara Naya juga Hiro tentang apa saja yang mereka kerjakan di sekolah hari ini. Hiro sangat antusias menjawab setiap pertanyaan Kia, sementara Naya masih malu-malu karena ini pertama kalinya bertemu Kia.
"Maafkan, Bibi, Non. Tadi mobilnya mogok di jalan, jadi terlambat jemput Non Naya," ucap seorang wanita berseragam pelayan setelah berlari tergopoh-gopoh.
"Maaf, Ibu siapa?" tanya Kia sopan.
"Saya pengasuhnya Non Naya."
"Oh ...."
"Mari, Non," ajak bibi itu seraya mengambil tas Naya.
"Terima kasih Tante, Hiro, sudah mau menemani aku di sini. Aku pulang dulu ya," pamit Naya.
Gadis kecil itu melambaikan tangannya, dan pengasuhnya tersenyum mengucapkan terima kasih.
Kia dan Hiro menatap kepergian Naya bersama pengasuhnya. Mobil mewah yang membawa Naya dan telihat pengawalan bersamanya, membuat Kia berpikir bahwa Naya adalah putri dari keluarga berada.
Hiro berlari menghampiri Wira, saat melihat pria itu bersandar di mobilnya.
"Om ...." teriak Hiro.
"Halo jagoan," sapa Wira menggendong Hiro.
"Turunkan Om, Hiro malu dilihat orang. Hiro bukan anak kecil lagi," ucap Hiro, meronta.
Kia dan Wira, tertawa bersamaan mendengar ucapan bocah yang katanya bukan anak kecil lagi.
"Jadi, apa sekarang kau sudah jadi pria sejati?" goda Wira yang sudah menurunkan Hiro.
"Hmm, aku adalah pelindung Mamaku!" jawabnya percaya diri.
"Baiklah, jagoan, ayo kita buktikan, apakah kau benar-benar sudah bisa jadi pelindung untuk Mamamu?" Wira mengangkat kembali Hiro dan memasukkannya ke dalam mobil. Tentu saja anak itu memekik dan meronta.
Wira tak mempedulikannya, dia justru menikmati saat-saat menggoda Hiro.
Kia menatap punggung Wira yang sedang berjalan. Pria yang selama ini membantunya. Pria, yang membuat Hiro tak kekurangan kasih sayang dari sosok seorang Ayah.
__ADS_1