
Pukul tiga pagi, Amanda beserta dua orang suruhan Lucas telah sampai di depan bangunan luas nan megah. Bangunan bernuansa modern, dengan pilar-pilar berbahan dasarkan emas.
"Silakan turun, Nona," ucap anak buah Lucas karena Amanda berdiam diri cukup lama di dalam mobil tidak ingin mengikuti mereka.
Gadis itu begitu ketakutan lantaran bayangan-bayangan negatif mengenai Lucas mengusik isi pikirannya. Ia tidak bisa membayangkan, akan bagaimana nasibnya nanti hidup bersama laki-laki tak berhati.
"Nona silakan turun, tuan Lucas sudah menunggu!" sentak anak buah Lucas pada Amanda.
Namun, gadis itu tetap tidak ingin beranjak. Meski anak buah Lucas berkali-kali membentot lengannya. Ia menggeleng-gelengkan kepala. Jangankan untuk tinggal bersama Lucas, melihat wajah si pria bedebah pun ia tak sudi.
Salah satu anak buah Lucas yang mengenakan kaos hitam telah habis kesabaran menghadapi Amanda. Ia membungkukkan badan, kemudian mengangkat tubuh sang gadis dari dalam mobil dan membawanya di atas bahu.
Amanda memberontak, mengayun-ayunkan kedua kakinya memaksa untuk dilepaskan. "Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!"
"Anda terlalu membuang-buang waktu kami, Nona!" sahut orang suruhan Lucas tersebut.
Amanda memukul-mukul punggung pria tersebut. "Lepas! Lepaskan aku!"
Anak buah Lucas bersikukuh membawa Amanda dengan cara memanggulnya. Akan tetapi, bukan Amanda namanya kalau dia tidak berulah. Gadis itu menggigit cuping telinga lelaki tersebut, hingga pegangan tangan terlepas dari tubuhnya.
"Wah... wah... wah... calon istriku memang ganas! Aku jadi makin tidak sabar menunggu esok hari!" ujar Lucas sembari bertepuk tangan dengan menatap penuh damba ke arah Amanda. Matanya menyoroti setiap lekukan tubuh juga dua gundukan yang menjiplak indah dari balik t-shirt tipis.
"Apa lihat-lihat!!" tantang Amanda membulatkan mata. "Lalu, mana Papaku? Aku mau melihat Papaku!" tambahnya lagi berpura-pura garang.
Lucas menyeringai, lantas berjalan satu langkah mendekat. Tangan kanannya menarik pinggang gadis itu dan merapatkan ke dadanya. "Papamu ada, dia aman. Orang suruhanku sudah mengobati semua luka di tubuhnya. Tidak usah cemas!"
"Aku mau bertemu Papa!" bentak Amanda meronta-meronta ingin dilepaskan. Dia sangat risih sebab lelaki tua bangka itu melihat ke arahnya dengan tatapan menjijikkan.
"Apa kamu tuli?" Lucas menarik ujung rambut Amanda hingga kepalanya mendengak. Dia menyecapi ceruk leher gadis itu lalu menghembuskan napas kasar di daun telinga. "Dengarkan aku sekali lagi, Omran baik-baik saja. Dia ada di salah satu kamar rumah ini. Aku tidak akan menyakitinya, kalau kamu tidak memberontak!"
Amanda melirik menggunakan sudut matanya. "Beri jarak denganku, brengsek!! Anda terlalu menjijikkan untuk aku yang masih suci ini!"
Lucas terkesiap, bola matanya berbinar bahagia. "Kamu masih perawan, anak manis? Itu artinya, aku lelaki pertama yang akan memasuki tubuhmu. Menjamah dan menikmati semua yang ada dirimu!"
Amanda menutupi kedua telinga menggunakan telapak tangan, tidak ingin mendengar kata-kata menggelikan yang terucap dari mulut Lucas. "Berhenti! Jangan bicara lagi, aku jijik mendengarnya!!"
Lucas tertawa lalu membelai lembut bibir Amanda. "Baiklah, aku akan berhenti bicara. Biar besok kamu rasakan saja sendiri bagaimana aku akan merampas kesucianmu. Menyatukan tubuh kita berdua. Dan aku pastikan, kamu akan menginginkannya kembali."
"Cuih!!" Amanda meludahi muka Lucas untuk kedua kali. "Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu, bedebah!!"
Lucas terkekeh dan merapatkan wajahnya. "Tenang saja tanganku tidak akan menyentuhmu tapi bibir, lidah dan kejantananku yang mengobrak-obrak tubuhmu. Bersiap-siaplah karena besok akan menjadi malam terindah dan terpanjang untuk kita."
"Lady, antarkan calon istriku ke kamarnya dan ganti semua pakaian bututnya dengan pakaian baru yang sudah kubelikan!" suruh Lucas pada maid di istananya.
__ADS_1
"Baik, Tuan..." jawab Lady menarik lembut tangan Amanda dan menuntunnya menuju kamar yang berada di lantai tiga.
"Siapa ini, Lady? Kenapa datang malam-malam seperti ini ke rumahku? Apa dia saudara suamiku atau tamu penting?" Bellen tiba-tiba muncul dan mencecar pembantunya lantaran merasa curiga kalau gadis yang dibawa Lady adalah perempuan bayaran.
"Saya tidak tahu, Nyonya. Saya hanya diperintahkan Tuan untuk membawa Nona ini ke kamarnya," jawab Lady membungkukkan badan.
"Ke kamarnya?" Kening Bellen mengkerut bingung. "Memangnya dia siapa? Penghuni rumah ini?" cecarnya karena belum mendapatkan jawaban yang tepat.
"Dia Amanda, madumu!" pekik Lucas yang tidak sengaja menguping suara kegaduhan dari dalam rumahnya. "Hari ini dia akan tidur di istanaku dan besok malam, hari pernikahan kami," ungkap Lucas percaya diri.
"Be-besok? Tetapi kenapa kamu baru bilang sekarang, Lucas?" sentak Bellen terkejut. Dia tidak habis kalau Lucas akan merahasiakan hari pernikahan darinya. "Harusnya kamu memberitahuku, aku ini istrimu!" sentaknya lagi.
Lucas tidak menjawab ocehan Bellen. Dia menggandeng Amanda untuk diantarkan ke tempat peristirahatan sementara.
"Perempuan murahan!!" hina Bellen saat Amanda melewati dirinya.
Kedua perempuan tersebut bersitatap, saling menyorot tajam. Peperangan di antara keduanya baru saja memasuki babak pertama. "Aku memang murahan. Sama, 'kan, denganmu perempuan sundal?"
"Apa kamu bilang?" Bellen memekik sebab Amanda berani mengatainya dengan kalimat yang sangat kasar. Dia merentangkan kedua tangan, ingin mencakar wajah Amanda hingga berdarah-darah. Namun, Lucas sigap menahan serangannya kemudian menampar wajah Bellen begitu ringan.
"Bukankah aku sudah pernah bilang, jangan pernah menyentuh wanitaku barang sedikit pun. Kalau ada secuil saja luka lecet di tubuhnya. Akan kubalas dengan sepuluh sayatan. Ingat itu, Bellen!!" Setelah memberi ancaman, Lucas melanjutkan derap kakinya menuju lantai tiga dengan menaiki eskalator seraya merangkul pinggang Amanda. Dia sengaja memprovokasi istri ke empatnya itu.
Bellen menghentak-hentakkan kakinya sembari menyeringai kesal. Wajahnya yang putih, kini bersemu merah. "Awas saja, aku akan membuat hari pernikahan kalian menjadi sebuah musibah. Hancur dan luluh lantah!!"
Bellen
Hai honey!
Leo
(Menguap)
Ada apa malam-malam begini meneleponku?
Bellen
Aku kesal!
Leo
Why, baby?
Bellen
__ADS_1
Lucas besok akan menikah
Leo
Lalu?
Bellen
Dia akan punya istri baru lagi. Can you imagine?
Leo
Masalahnya di mana? Bukankah selama ini Lucas sudah tidak bisa memuaskanmu?
Bellen
(Menghela napas)
Bukan tentang itu, tapi soal harta kekayaan Lucas yang melimpah. Pasti akan terbagi-bagi dengan perempun sialan itu!
Leo
(Terkekeh)
Tidak usah cemas. Kekayaan Lucas tidak akan pernah habis!
Jadi, senyumlah baby!
Bellen
Oke-oke
Tapi aku tidak mau tahu, pokoknya besok malam kita harus bertemu. Aku rindu denganmu, Leo!
Leo
Tentu saya baby! Lucas menikmati malam pertamanya dan kita menikmati malam kita berdua!
Bellen
Baiklah, see you tomorrow
Bye
__ADS_1
...*****...