
Selepas pengadilan memutuskan Lucas bersalah dengan hukuman mati, puluhan anggota keamanan langsung diterjunkan ke markas utama dan istana milik Lucas.
Sejumlah barang bukti yang belum sempat diamankan oleh para anak buah Lucas, berhasil disita lalu dimusnahkan oleh petugas yang berwenang.
Semua tempat digeledah, terutama istana Black Angel. Setiap sudut tempat itu tidak luput dari perhatian polisi termasuk gudang tua yang dijadikan lokasi penyekapan dan pemasungan istri pertama Lucas Denver yakni Allison Elizabeth.
"Kapten, lihat! Ternyata di gudang ini terdapat ruangan tersembunyi!" pekik anak buah Samuel, menemukan kunci rahasia.
Samuel bersigera ke lokasi tersembunyi tersebut. Tangannya meraba-raba mencari tombol lampu untuk menerangi ruang yang gelap gelita itu. "Tempat ini terlihat sempit, tapi rupanya luas dan panjang!"
Pria bernetra cokelat itu berjalan sangat hati-hati, disusul para anak buahnya di belakang. Posisi tangan pun tidak luput dari sikap siaga, dengan satu unit senjata api di genggaman.
"Ternyata di depan sana terdapat tangga yang menurun tajam." Samuel mengacungkan tangan dan berteriak lantang pada anak buahnya. "Berhenti! Kalian harus lebih waspada. Kita tidak pernah tahu, ancaman yang menanti! Bisa saja anak buah Lucas menyiapkan perangkap atau jebakan untuk kita!" ucapnya di ujung tangga.
Bawahan Samuel mengangguk dan mulai mengikuti kembali langkah kaki sang atasan, menuruni deretan tangga yang tipis dan curam. Aroma kematian mulai tercium. Hawa kepedihan dan kesakitan menelusup ke dalam sanubari, seakan turut merasakan bagaimana perasaan para korban yang sudah dihabisi Lucas tanpa ampun.
"Tunggu!!" Lagi-lagi samuel menjeda langkah kaki sebab di hadapannya kini sebuah pintu usang tertutup sangat rapat. Dia membuka pintu tersebut menggunakan ujung sepatu. Pintu pun tiba-tiba ambruk karena kayu-kayunya sudah sangatlah rapuh.
"Awas Kapten!!" Salah satu anak buah, menarik lengan Samuel agar tidak tertimpa oleh reruntuhan pintu tersebut.
"Terima kasih," ucap Samuel yang masih dalam kondisi terkejut.
"Sama-sama, Kapten! Hati-hati, Kapten!" jawab sang anak buah, mengkhawatirkan kondisi atasannya.
Samuel mengangguk tegas, kali ini dia lebih bersikap hati-hati dengan menyalakan sebuah senter. Dan benar saja, berjarak beberapa centi dari ujung kakinya adalah lubang besar tempat pembuangan mayat-mayat korban kekejaman Lucas juga anak buahnya.
"Itu tulang manusia semua?" tanya sang anak buah dengan mulut menganga. "Kita akan bekerja sangat ekstra hari ini," ucapnya. Dia tidak menyadari bahwa di depannya seorang pria tengah menatap tajam.
"Kalau tidak mau bekerja, pulanglah! Dan ganti pakaian kehormatan ini dengan baju daster istrimu!" cibir Samuel yang mendapat respon gelak tawa dari semua anak buahnya. "Kenapa kalian tertawa? Siapa yang menyuruh kalian tertawa?"
Tawa riang membahana, seketika berubah menjadi mengheningkan cipta. Wajah-wajah sumringah berganti dengan leher yang ditekuk.
"Kembali fokus!!" titah Samuel. "Kamu! Mana kantong jenazah yang tadi saya suruh bawa?" tanyanya mengarahkan jari telunjuk pada salah satu anak buah.
__ADS_1
"A-ada Kapten, di luar," jawab sang anak buah ketakutan.
"Kenapa tidak dibawa sekalian...?" erang Samuel.
"Ma-maaf, Kapten!!" jawab sang anak buah lagi.
"Dasar anak buah tidak becus!!" Ambil sekarang kantong jenazahnya. Bukankah perkerjaan kita hari ini akan sangat berat?" cibir Samuel, mendengkus kasar.
"I-iya, Kapten!!" jawab anak buah Samuel yang langsung bergerak cepat sebelum sang atasan marah besar karena kelalaian mereka.
Samuel geleng-geleng kepala karena tingkah para bawahannya yang telah menghambat pekerjaan yang seharusnya bisa diselesaikan hanya dalam satu hari.
"Kalau saya tidak memikirkan anak istri kalian, sudah saya mutasi kalian semua ke pulau tak berpenghuni!" tunjuk Samuel ke arah muka sang anak buah.
Tidak ada yang berani mengangkat kepala apalagi menyahuti amarah Samuel. Semua terdiam, terbungkam dan sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kenapa kalian hanya diam saja?" teriak Samuel karena merasa diabaikan.
"Siap, Kapten!" jawab sang anak buah serempak.
"Karena takdir, Kapten," celetuk salah satu pria yang berdiri di hadapan Samuel.
Pria bernetra cokelat itu hanya menghela napas dan memilih untuk menutup mulut dari pada suasana hatinya semakin hancur.
...***...
"Aku ke luar dulu ya beli makanan, lapar..." rengek Amanda yang sedari pagi berada dalam pelukan sang kekasih. Sementara Allison, nampak sangat kelelahan dan tertidur sangat lelap di atas sofa. Jadi, tidak mengetahui bagaimana kelakuan putranya yang mesum itu.
"Pokoknya kamu tidak boleh ke mana-mana. Titik!!" protes Matthew, mengencangkan pelukannya.
"Ayolah Matthew... perutku lapar sekali. Kamu mau aku sakit?" tekan Amanda, dengan wajah memelas.
Matthew menggelengkan kepala. "Tentu saja aku tidak kamu sakit, sayang. Pergilah, aku setia menunggumu di sini...."
__ADS_1
"Uh... so sweet, darling!" sahut Amanda mengecup bibir Matthew, sekilas. "Tunggu ya, aku tidak akan lama," sambung Amanda melepaskan lengan sang kekasih dari pinggangnya.
"Cium aku sekali lagi!" Matthew memajukan bibirnya seperti seekor bebek ingin kawin.
Amanda terkekeh dan mencomot bibir kekasihnya itu. "Kamu kok makin menggelikan, Matthew?!"
"Biar saja! Aku ingin bermanja-manja denganmu, honey..." Matthew masih berharap, kalau wanita pujaannya itu mencumbu bibirnya kembali. Akan tetapi, harapannya musnah lantaran Amanda turun dari ranjang dan langsung berlari sebelum Matthew menciuminya habis-habisan.
Amanda menutup pintu lalu mengusap-usap dadanya. "Aman-aman."
Gadis itu hendak melangkah, tetapi kedua matanya menangkap sebuah buket mawar merah tergeletak di depan pintu. Dia menggulirkan kepala ke kiri dan ke kanan kemudian berjongkok untuk mengambil buket tersebut. "Bunga? Siapa yang menaruh bunga ini di depan kamar?"
Amanda membuka sebuah kartu ucapan yang berisikan kalimat-kalimat romantis untuk sang kekasih hatinya.
...Dear Matthew,...
...Aku dengar kamu sudah sadar. Aku sangat senang dengan kabar itu. Sebab itulah yang aku harapkan kepada Tuhan selama ini....
...Namamu tidak pernah luput dari doa-doaku. Dan pada akhirnya Tuhan mengabulkan pintaku. Aku bahagia sangat....
...Kamu adalah lelaki yang amat berarti di hatiku setelah daddy. Kuharap kamu memahami maksud dari kalimatku ini....
...With love,...
...Cinta yang tak pernah ada...
"Siapa yang mengirimkan bunga ini?" Amanda bertanya-tanya karena sangat jelas buket tersebut ditujukan untuk kekasih hatinya. "Cinta yang tak pernah ada? Miris sekali..." Amanda memilih untuk melempar bunga itu ke dalam tempat sampah sebab pengirimnya tidak jelas.
Gadis bernetra biru safir itu masa bodoh dengan untaian kalimat yang terkesan menggelikan. Dia melanjutkan langkah menuju kantin untuk membeli santapan makan siang.
Seorang gadis tengah bersungut-sungut, menghentak-hentakkan kaki ke lantai seraya menatap kesal Amanda yang melewatinya tanpa sadar. "Kenapa bungaku malah dia buang? Menyebalkan sekali perempuan ini! Datang-datang merusak hubunganku dengan Matthew saja."
Gadis itu menghela napas lanjut berdiri dan berjalan lemas. Gairah hidupnya seakan musnah, tergerus oleh rasa cinta bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
...*****...